<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484</id><updated>2011-07-16T07:57:24.166-07:00</updated><category term='Lokal'/><title type='text'>abraham</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>95</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-2624811404910329099</id><published>2008-02-01T04:02:00.001-08:00</published><updated>2008-02-01T04:02:57.035-08:00</updated><title type='text'>Kaya dengan Secangkir Kopi Susu</title><content type='html'>Menjadi kaya secara otomatis? Ah, jangan bercanda. Mimpi macam apa lagi. Sesungguhnya ini bukan mimpi atau sejenis sulap. Tentu bukan juga nasihat menjadi kaya dengan mengundang kekuatan gaib dari Gunung Kawi. Kalau begitu, bagaimana mungkin itu bisa terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang di jaman ekonomi lagi sulit seperti sekarang ini, tak salah kalau Anda perlu mendengar banyak petuah dan nasihat. Sudah cukup kalau Anda diberi jalan untuk bisa bertahan hidup. Bagaimana kalau ada nasihat supaya bisa menjadi kaya? Nah, nasihat itu pasti benar-benar sangat berharga. Maka jangan disia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini nasihat untuk menjadi kaya datang dari seorang David Bach. Dia yang empunya jalan bagaimana Anda bisa kaya secara otomatis. Kalau Anda ingin serius menekuni perencanaan keuangan, tokoh yang satu tak bisa dihindari. Di Amerika Serikat, Bach konon sangat terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa buku populer pernah dirilisnya seperti Start Late, Finish Rich, The Automatic Millionaire, Smart Woman Finish Rich, Smart Couples Finish Rich, The Finish Rich Workbook dan The Automatic Millionaire Workbook. Sedikitnya sudah tersebar 3 juta copy dengan berbagai judul tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang terakhirnya, Start Late, Finish Rich, menjadi best seller dan terdaftar sebagai nomor satu di sejumlah surat kabar terkemuka seperti The New York Times, USS Today, dan The Wall Street Journal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga tulisan-tulisan dan wawancaranya mengenai perencanaan keuangan menghiasai berbagai media massa di Amerika Serikat. Tak ketinggalan Bach menjadi kontributor tetap di acara televisi terkenal seperti American Morning (CNN), The View (ABC), Today dan Weekend Today (NBC), Early Show (CBS), The O'Reily Factor (Fox News Channel), Power Lunch dan The Big Idea with Donny Deutsch (CNBC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Anda lebih jauh mengenal nasihat dan tips-tips keuangan melalui buku atau websitenya (www.finishrich.com), sebagai pemanasan Anda diperkenalkan dengan nasihat yang cukup terkenal, bagaimana Anda bisa menjadi kaya dengan cara yang sangat sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bach tak mau rumit dengan urusan menjadi kaya. Dia juga berusaha keluar dari kerumitan persoalan uang. Menurut dia, persoalan uang itu sangat kompleks. Jadi kalau pikiran dan waktu kita disita untuk masalah uang, maka cita-cita untuk mencapai kebebasan finansial malah tidak tercapai. Justru sebaliknya, kita disandra dan diperbudak oleh persoalan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk menjadi kaya, menurut dia, tak perlu harus menghasilkan banyak uang. Tidak perlu juga terlalu pusing dengan masalah disiplin. Sebagai gantinya dia menawarkan sebuah konsep sederhana yang dia sebut sebagai Latte Factor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Bach maksudkan dengan konsep ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang mungkin Anda ketahui latte itu adalah kata Italia untuk susu. Namun kemudian di negerinya George Bush, latte berarti minuman yang terbuat dari kopi yang ditambahkan dengan sedikit susu yang dikukus (steamed milk).Ya... kira-kira sejenis kopi susu yang sangat digandrungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bach kemudian mengambil istilah Latte Factor sebagai metafora yang menggambarkan bahwa cara Anda menjadi kaya harus sesederhana, seperti Anda berusaha mendapatkan kopi itu. Sesederhana dan sedemikian otomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha untuk menjadi kaya, dalam versi Bach itu, harus dilakukan seotomatis mungkin sampai-sampai Anda tidak menyadari bahwa Anda sedang meluangkan waktu dan mengeluarkan sejumlah uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dalam hidup sehari-hari, Anda tidak pernah melakukan banyak pertimbangan ketika harus membeli sebungkus rokok atau semangkuk indomie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya Bach mengeluarkan nasihat yang sangat khas. Dalam membuat perencanaan keuangan, lanjut dia, Anda harus memiliki sistem yang bekerja secara otomatis. Dengan memiliki sistem ini Anda tidak akan gagal, demikian Bach berusaha meyakini. "If your financial plan is not automatic, you will fail."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang terkadang disiplin perencanaan keuangan yang terlalu rumit terasa sangat memberatkan. Misalnya Anda diharuskan mencatat semua pengeluaran yang dilakukan setiap hari. Disiplin seperti ini seringkali menjadi sebab kegagalan bagi orang-orang yang sehari-hari memang sudah sibuk. Apalagi untuk orang yang malas melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah kesibukan dan ketidakdisiplinan itu menjadi alasan bagi Anda untuk tidak mencapai kemapanan finansial? Tentu saja tidak, asalkan sekali lagi, Anda memiliki sistem yang bekerja secara otomatis tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sistem sederhana yang bekerja secara otomatis itu? Atau bagaimana orang menjadi kaya atau miliyuner secara otomatis itu? Dia menganjurkan Anda setiap hari secara rutin menyisikan US$5. Uang sejumlah itu sangat kecil. Dan Anda harus menabung tanpa harus melakukan banyak pertimbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menabung secara rutin dan otomatis setiap hari, hasilnya ternyata cukup menjanjikan. Dengan tabungan sebesar itu, dalam seminggu tabungan Anda sudah mencapai US$35. Dalam sebulan jumlah tabungan bertambah menjadi US$150. Dengan investasi di instrumen yang bisa memberi keuntungan 10%, maka jumlah itu akan berlipatganda dalam beberapa tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jumlah tabungan yang tetap dan tingkat keuntungan yang stabil, dalam setahun uang Anda bertambah menjadi US$1.885. Sepuluh tahun kemudian jumlah itu menjadi US$30,727. Lalu, empat puluh tahun kemudian investasi Anda mencapai angka yang cukup signifikan, yaitu US$948.611 atau sekitar Rp9,48 miliar! Luar biasa bukan? Untuk ukuran Indonesia, dengan jumlah uang sebesar itu, Anda tentu sudah menjadi orang yang mapan secara finansial. Sebuah mimpi yang terwujud setelah sistem itu bekerja selama empat puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bach, kendati langkah ini kecil, tetapi menuntut perubahan pola pikir secara radikal. Dan perubahan itu harus dimulai dari sekarang. Kalau Anda setiap hari bisa membeli secangkir kopi dan sebungkus gudang garam, apa susahnya kalau Anda juga mulai menabung dengan uang sejumlah itu? Daripada untuk beli kopi atau rokok, coba ditabung secara konsisten. Hasilnya ternyata di luar dugaan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda merasa sudah terlambat, ajari anak Anda melakukannya. Ingat empat puluh tahun kemudian, anak Anda akan menjadi seorang milioner hanya dengan mengalihkan duit kopi atau rokok, ke tabungan yang produktif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-2624811404910329099?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/2624811404910329099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=2624811404910329099' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2624811404910329099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2624811404910329099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/kaya-dengan-secangkir-kopi-susu.html' title='Kaya dengan Secangkir Kopi Susu'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-2250583553757727676</id><published>2008-02-01T03:58:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T03:59:26.188-08:00</updated><title type='text'>Ketika Zhongxin Menghentak Dunia (2)</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu, wartawan Bisnis Indonesia Abraham Runga Mali, dan sejumlah wartawan Indonesia berkesempatan mengunjungi kantor, pabrik dan pusat riset perusahaan teknologi komunikasi ZTE di Zhenzen dan Shanghai. Berikut laporannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai persoalan yang dihadapi Huawei ini menjadi kesempatan bagi ZTE untuk tampil lebih meyakinkan sebagai perusahaan teknologi yang patut diperhitungkan di kancah internasional. Kendati sebenarnya keduanya memiliki kekuatan yang berbeda. Huawei sangat kuat di GSM (global system for mobile communications), WCDMA (wideband code division multiple access), NGN (next generation networks) dan optical networks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ZTE kendati memiliki produk yang bervariasi, tetapi lebih fokus pada CDMA dan handset dan teknologi personal handyphone system. Di China, ZTE menguasai 40% pasar PHS dan 20% pasar CDMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan keduanya menembusi pasar tak lain kerena kekuatan produk yang dihasilkannya. Lihat saja apa yang dicatat ZTE tahun lalu ketika berhasil merilis ZTE-F808, telepon selular 3G yang diyakini sebagai salah satu yang terkecil dan teringan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan ponsel CDMA ini menjadi energi bagi ZTE untuk terus memenangi persaingan. Derap langkah dominasinya di bidang CDMA mulai meninggalkan jejaknya di Indonesia melalui ponsel Fren yang dikeluarkan Mobile-8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi ZTE, ini tentu saja ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain persoalan uang, keunggulan riset dan sumber daya manusia merupakan hal yang sangat penting. Itulah sebabnya seperti saudara yang sekaligus pesaing Huawei, ZTE pun menyisihkan 10% pendapatannya untuk riset dan pengembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, misalnya, Huawei memperkerjakan 46% dari 24.000 tenaga kerjanya di bidang riset dan pengembangan, 33% untuk penjualan dan 12% untuk manufaktur. Sementara ZTE merekrut 21.000 karyawan yang bekerja di 33 kantor cabang. Dari total karyawannya itu, lebih dari 10% tenaga asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami yakin perusahaan ini akan maju karena pengembangan teknologinya didukung oleh SDM yang tangguh. Lihat saja lebih dari seribu karyawan kami adalah tamatan master dan PhD dengan usia yang rata-rata masih muda," jelas Zhao.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, demikian dia, dengan produksi secara masal perusahaanya dapat menekan biaya produksinya. Makanya tak mengherankan kalau Hui Pan, Kepala Analis dari Information Gatekkepers Inc, mengatakan dengan teknologi yang sama ZTE dan Huawei bisa menjual produk mereka dengan harga 30% lebih murah dari produk yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang jumlah penduduk yang besar di negera itu sangat memungkinkan kedua perusahaan itu untuk melakukan produksi massal. Kita ambil contoh handset. Menurut perkiraan Deutsches Bank, permintaan handset di negara itu akan mencapai 100 juta tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melayani kebutuhan itu sedikitnya 40 perusahaan telepon bersaing dengan menawarkan 200 juta unit dengan 800 model yang berbeda. Tak heran kalau Motorola mendapatkan 15% penjualan internasional dari China dan menjadi pasar terbesar kedua setelah AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan pesat ZTE dan Huawei bukan tanpa tantangan. Pada saat keduanya sibuk melakukan penetrasi ke seluruh penjuru dunia, para pesaing mereka justru datang menyerbu kampung halaman mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya Alcatel yang pada 2002 berhasil menggaet mitra lokal Shanghai Bell dan membentuk Alcatel Shanghai Bell. Konon satu dari tiga pesawat telepon di China dihubungkan dengan infrastruktur yang dikontrol oleh perusahaan patungan ini. Alcatel Shanghai saat ini menjual 200 produk baik untuk telepon tetap dan bergerak. Bahkan perusahaan ini menjadi pamasok nomor satu teknologi DSL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan Nortel yang pada awal tahun ini berhasil membujuk mitra lokal mendirikan perusahaan patungan yang bergerak di bidang riset, pengembangan, produksi dan penjualan produk 3G. Pada tahun lalu Nortel mencatat pendapatan sebesar US$1,25 miliar dari pasar Asia Pasifik. Sementara pendapatan Lucent dari kawasan ini tahun lalu US$1,696 miliar.&lt;br /&gt; Akankah ZTE atau Huawei keluar sebagai pemenang dalam pertarungan dengan para vendor internasional ini? Menilik ambisi dan etos kerja bangsa China yang tinggi, semangat meniru dan belajar mereka yang kuat membaja serta dukungan pasarnya yang besar, kemenangan itu agaknya bukan sebuah khayalan belaka. Mungkin bukan untuk satu atau dua tahun mendatang. Tapi, yang pasti hentakannya kini kian menggetari pasar dunia. (&lt;a href="mailto:abraham.runga@bisnis.co.id"&gt;abraham.runga@bisnis.co.id&lt;/a&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-2250583553757727676?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/2250583553757727676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=2250583553757727676' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2250583553757727676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2250583553757727676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/ketika-zhongxin-menghentak-dunia-2.html' title='Ketika Zhongxin Menghentak Dunia (2)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-8868714797277980241</id><published>2008-02-01T03:53:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T03:54:30.542-08:00</updated><title type='text'>Ketika Zhongxin Menghentak Dunia (1)</title><content type='html'>Pada akhir September 2005,  saya dan sejumlah wartawan Indonesia berkesempatan mengunjungi kantor, pabrik dan pusat riset perusahaan teknologi komunikasi ZTE di Zhenzen dan Shanghai. Berikut hasil pengamatan atas perkembangan teknologi komunikasi di perusahaan tersebut dan di China secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhongzin Telecom Equipment Corp, atau disingkat ZTE, adalah satu dari sekian perusahaan China yang mendunia. Sebuah kekecualian dari hasil penelitian Francis Fukuyama bahwa banyak unit bisnis di sana yang karena 'saling percaya' yang hanya berkutat di kalangan anggota keluarga tak layak berkembang menjadi multinasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini bukan perusahaan keluarga sejak dari berdirinya," ujar William Zhao, Direktur Penjualan ZTE di kantor pusatnya di Kawasan teknologi Tinggi Nanshan, Zhenzen. Bahkan, perusahaan ini lebih dari hanya sekadar perusahaan biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zhongxin adalah sebuah perusahaan publik setelah mencatatkan sahamnya di bursa Zhenzen (1997) dan bursa Hong Kong (2004). Hanya dari listing di Hong Kong, perusahaan itu meraup sekitar US$400 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 60% dari dana hasil emisi itu dimanfaatkan untuk memperluas jaringan pemasaran internasional, dan sisanya untuk membiayai pengembangan teknologi. Selain dari bursa, ZTE mendapat dukungan dana dari sejumlah perbankan domestik. "Perusahaan yang bagus dan prospektif tak ada persoalan dengan pendanaan. Banyak institusi keuangan yang berebutan melirik kami."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Zhao menjelaskan dengan penuh keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu bukan sebuah keyakinan tanpa dasar. Sejak lima tahun terakhir kinerja perusahaan ini melesat bak meteor. Lihat saja kinerja keuangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau lima tahun lalu pendapatannya masih sebesar US$1,127 miliar, maka tahun lalu sudah mencapai US$2, 747 miliar. Sementara penjualan handsets, base station, switches, software dan broadband pada 2004 tercatat sebesar US$4,1 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara keuntungan tahun ini diperkirakan mencapai US$186 juta atau meningkat dari tahun sebelumnya sebesar US$153,6 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kinerja seperti ini, Presiden ZTE Yimin Yin sangat yakin kalau perusahaan itu akan mampu bersaing dengan perusahaana kelas dunia lainnya seperti Nokia, Samsung dan Motorola. Mereka, demikian Yin, memiliki nama yang lebih besar, tapi, "Saya tidak merasa inferior di hadapan mereka. Tak ada perbedaan yang cukup besar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ZTE memang sudah mendunia. Sudah 60 negara dimasukinya. Tidak terkecuali Indonesia. Tahun lalu ZTE menandatangani kontrak dengan Indonesia untuk membangun jaringan CDMA senilai US$47,6 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, perusahaan tersebut bekerjasama dengan Telkom untuk membangun jaringan NGN-DCL (Digital Loop Carrier) untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan yang terbesar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja di China ZTE bukan yang terbesar. Dia masih berada di bawah bayang-bayang Huawei. Kendati ZTE beroperasi tiga tahun lebih awal, tapi kinerjanya masih lebih kecil dibandingkan Huawei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita sejenak menengok kinerja Huawei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun lalu saja, Huawei mencatat nilai kontrak sebesar US$5,58 miliar atau meningkat 46% dari 2003. Dari penjualan tahun lalu, 60% masih didapatkan dari pasar domestik. Tahun ini diperkirakan menurun menjadi 55,5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, tahun 2008 Huawei menargetkan penjualan di pasar internasional sebesar US$10 miliar, atau 70% dari total penjualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target itu tidak muluk-muluk. Karena sampai saat itu perusahaan teknologi informasi menjadi pemasok produk dan solusi kepada 270 operator di dunia. Bahkan, 22 dari 50 operator paling top di dunia menggunakan produk perusahaan ini. Memang luar biasa. Produknya sudah memasuki begitu banyak kawasan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi masih ada sejumlah ganjalan yang merem laju ekspansi perusahaan ini. Kehadiran Huawei tidak ditanggapi hanya urusan bisnis. Pengembangan teknologinya sering dicurigai sebagai bagian dari strategi militer China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya berkembang beragam spekulasi bahwa berbagai ekspansi dan kegiatan perusahaan ini di berbagai negara juga merupakan bagian dari sttategi militer sehingga harus diwaspadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecurigaan itu terkait hubungan historis perusahaan itu dengan pendirinya Ren Zhengfei yang adalah seorang militer. Tentu saja Huawei membantah spekulasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah spekulasi yang berlebihan. Tapi, spekulasi itu tidak mudah untuk hilang begitu saja. Apalagi perusahaan itu bukan perusahaan publik yang bisa dijamin transpransinya.&lt;br /&gt; Selain itu, langkah Huawei sempat tersendat ketika mengalami perseteruan bisnis dengan Cisco, raksasa teknologi AS. Pada 2003, Huawei America Inc dituduh menggandakan dan menyalahgunakan perangkat lunak IOS milik Cisco termasuk source code-nya. Huawei diseret ke depan pengadilan karena menggandakan dokumen milik Cisco dan sejumlah peralatannya. Atas tuntutan itu, Huawei kemudian harus menarik semua produk yang menimbulkan persoalan itu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-8868714797277980241?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/8868714797277980241/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=8868714797277980241' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8868714797277980241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8868714797277980241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/ketika-zhongxin-menghentak-dunia-1.html' title='Ketika Zhongxin Menghentak Dunia (1)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-3418730413648662046</id><published>2008-02-01T03:30:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T03:31:18.412-08:00</updated><title type='text'>Mati untuk Tuhan</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bangsa ini sibuk mengurusi Azahari, di Amerika Serikat orang ramai membicarakan film baru berjudul Paradise Now. Penggarap film ini, Hany Abu As-saad asal Palestina mencoba menggali motif bunuh diri yang dilakukan para pelaku bom bunuh diri. Dia tidak hanya berusaha memahami pikiran dan perasan para pelakunya, tetapi sekaligus mengkritik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari kita mungkin berusaha memahami kenekatan Azahari dan kawan-kawannya. Tapi, di sisi lain, emosi kemanusiaan kita pun tak tahan menyemburkan kepedihan menyaksikan tubuh yang tercabik-cabik ledakan bom. Apalagi kalau ternyata mayat-mayat yang terbujur kaku itu adalah sanak saudara atau orang-orang yang kita cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara yang unik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari berbagai polemik dan emosi atas aksi Azahari dan kawan-kawan, kematian mereka menyiratkan sebuah cara yang unik. Kematian dengan 'membunuh diri'. Mengorbankan nyawanya untuk sebuah perjuangan. Luar biasa berani dan heroik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan karena gila atau karena kehabisan harapan, tindakan kemartiran itu mesti keluar dari sebuah fondasi pemikiran yang sangat valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Azahari dan kawan-kawan sedang melawan sebuah hegemoni besar, yakni peradaban Barat yang diwakilkan oleh AS. Barat ditentang bukan saja karena mendukung Israel dalam berperang melawan Palestina dan melakukan invasi ke Afghanistan dan Irak, tapi juga karena mereka adalah pemeran utama dalam ketidakadilan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, perjuangan yang sangat heroik ini, demikian keyakinan para pelaku bunuh diri itu, diberi pendasaran pada dogma agama Islam. Mereka sedang melakukan jihad sesuai perintah ayat-ayat Al-Quran. Makanya, mereka disebut pemeluk Islam yang secara fundamental kembali merujuk pada kebenaran agama. Terhadap musuh agama, mereka bersedia mati syahid. Hanya dengan jalan itu, pencapaian surga adalah kepastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlawanan mereka tidak terbuka dan aksi kekerasannya tak langsung mengenai musuhnya. Mereka menyerang pada simbol-simbol musuhnya. Karena itu mereka disebut teroris, karena hanya menebarkan 'rasa takut' dan tak nyaman pada seterunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mark Juergensmeyer dalam bukunya Teror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence, menguak konsep perang kosmis (cosmic war) dalam konteks pemikiran agama-agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam agama, jelas dia, terdapat semacam skenario besar tentang peperangan yang baik dan jahat. Karena peperangan, maka diperlukan pahlawan dan musuh. Untuk mengenyahkan musuh dibutuhkan sikap rela mati dari para pahlawan. Harus ada yang siap mati syahid. Mereka adalah kaum syuhada atau para martir suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi 'bom bunuh diri' ala Azahari bisa dijelaskan dalam bingkai ini. Bahkan, kalau ditelusuri bukan saja hanya metodenya yang lama, tapi akar dan sebab musebabnya pun sudah sangat lama. Dalam bukunya Perang Suci (Dari Perang Salib hingga Perang Teluk), Karen Amstrong meletakkan genealogi kekerasan dan terorisme pada pertarungan dari pengikut tiga agama besar yaitu Yahudi, Kristen dan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga agama itu lahir dari sejarah dan budaya semit yang menyebut tokoh Abraham atau Ibrahim 'Bapak' mereka. Yang menjadi soal, sejarah para pengikutnya adalah sejarah pertarungan yang sangat kompleks. Pertarungan merebut 'Yerusalem' dan pertarungan merebut pengaruh peradaban. Pertarungan menjadi semakin sengit ketika para pengikut agama itu sekaligus berkelompok menurut etnisnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dunia Arab berada di belakang Islam, Barat menjadi pendukung kekristenan dan orang-orang Yahudi adalah pendukung agama Yahudi. Maka jangan heran kalau agama dan politik paling sering dicampuradukan dalam ketiga kelompok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika Zionisme memakai Taurat sebagai landasannya, maka Osama bin Laden, Azahari dan kawan-kawannya juga menggunakan landasan serupa. Tak ketinggalan George Bush, presiden dari negara yang paling sering menggembargemborkan demokrasi sempat terjerembab dalam kesalahan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan dengan politikus senior Palestina Nabil Shaat, Bush mengungkapkan keyakinan berikut, "Saya bertindak dengan misi dari Tuhan. Tuhan berkata kepada saya 'George, perangi dan lawanlah teroris di Afganistan.' Itu saya lakukan. Tuhan berkata lagi kepada saya, 'George, pergi dan hentikan tirani di Irak' Itu saya lakukan. Sekarang saya disuruh membantu Palestina untuk mendapatkan negaranya dan memberi Israel rasa aman.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang berperang atas nama Tuhan sangat sering berulang dan makan banyak korban. Pada abad-abad awal, Yahudi dan kekristenan masuk dan mencabik-cabik budaya dan wilayah Arab. Sejak muncul Mohammad, orang-orang Arab bukan hanya bangkit, tapi mulai berekspansi dan merangsek hingga daratan Eropa. Babak selanjutnya pembantaian terhadap orang Yahudi di Eropa dan pengiriman pasukan perang salib menuju Tanah Suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zionisme merupakan cerita terkini dari perjalanan panjang pertarungan yang sengit. Ketiga elemen yang mewakili komunitas peradaban dan agama hadir lagi dalam konflik Israel-Palestina yang belum menemukan solusi hingga kini. Kapan konflik itu akan berakhir? Walalhualam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mudah untuk mengadili siapa yang salah dan siapa benar. Karena semua kembali merujuk kepada Alkitab. Padahal, bukan tidak mungkin 'ayat-ayat Tuhan' itu bermula dari persoalan identitas dan tanah. Lalu di kemudian hari ketika mereka menemui kesulitan soal tanah dan identitas, Alkitab lagi yang dirujuk. Seperti orang berjalan di terowong tak berujung. Kecuali kita yakin Tuhan menghendaki banyak darah harus tertumpah untuk menghormatiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran waras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya tak ada gunanya juga mengecek mana yang lebih biadab dan beradab. Yang pasti mereka sama-sama membunuh. Mungkin bagi para pengikut yang masih waras, perlu lebih tenang lagi untuk mempelajari kehidupan ketiga tokoh yang pertama mengajarkan agama-agama itu. Musa melarang orang membunuh. Yesus mengharamkan pedang. Muhamad mengajarkan damai. Tak ada anjuran untuk berperang dan bunuh diri dengan tujuan semata-mata membinasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada saling berperang dan membunuh, masih banyak musuh bersama yang perlu dilawan. Selain kemiskinan dan kebodohan, masih ada masalah lingkungan dan persoalan moralitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk Indonesia, bangsa ini masih membutuhkan banyak martir dan pejuang jihad yang berani mati untuk sesama yang menjadi korban korupsi dan ketakbecusan manajemen politik dan birokrasi. Bukankah korupsi dan kemiskinan pun juga musuh Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, kita pun harus melawan hegemoni Barat yang hadir dalam ketidakadilan global. Tapi, bukan dengan bunuh diri. Bunuh diri hanyalah pertanda ketakberdayaan dan kehilangan asa. Kalau bunuh diri menjadi peradababan, maka niscaya yang terjadi bukanlah kekalahan Barat, tetapi sebaliknya, sebuah proses bunuh diri peradadaban sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, senjata utama Barat bukan lagi pedang, tapi ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka untuk melawan mereka, pertama-tama kita harus berjihad dan berani berkorban untuk mendapatkan pengetahuan dan teknologi yang setinggi-tingginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada ikut-ikutan mengurusi Azahari, lebih baik kita berjuang menjadi martir dalam pekejaan dan profesi kita masing-masing. Tak perlu pakai tetesan darah, tapi cukup dengan kerja keras. Atau, kecuali kita sudah sangat merindukan surga!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-3418730413648662046?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/3418730413648662046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=3418730413648662046' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3418730413648662046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3418730413648662046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/mati-untuk-tuhan.html' title='Mati untuk Tuhan'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-6906068584479688135</id><published>2008-02-01T03:25:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T03:26:24.925-08:00</updated><title type='text'>Mewaspadai Euforia Waralaba</title><content type='html'>abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waralaba (franchise) adalah bentuk bisnis yang paling banyak mendapat keuntungan dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Karena dukungan teknologi itu, 'jaringan' yang merupakan kunci dalam bisnis ini bisa bekerja secara optimal. Tapi, justru karena dukungan itu, perkembangan waralaba diakui terlalu pesat sehingga bisa membahayakan. Tak ada cara lain, kecuali Anda mewaspadainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pesatnya waralaba diakui oleh John Naisbit dalam bukunya yang sangat populer Megatrends dua dekade yang lalu. Menurut dia, waralaba merupakan konsep pemasaran yang paling berhasil selama sejarah umat manusia. Itu hanya mungkin karena bisnis ini bekerja dalam jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda pernah mendengar atau bahkan pernah terlibat dalam bisnis MLM (multi level marketing). Kalau MLM adalah sistem pemasaran yang diciptakan agar bisa dijalankan oleh individu, maka waralaba sistem yang dikemas untuk perusasahaan. Waralaba adalah sebuah bentuk jaringan bisnis, jaringan yang terdiri banyak pengusaha yang bekerja dengan sebuah sistem yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marvin Migdol dalam tulisannya Franchise Boom Continues, memperlihatkan perkembangan industri waralaba di dunia yang sangat dasyat. Kalau pada 1980 nilai bisnis yang dijalankan melalui waralaba masih tercatat sebesar US$335 miliar, maka pada 1996 nilainya meningkat menjadi lebih dari US$700 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ambil contoh McDonald, salah satu bisnis waralaba paling besar saat ini. Perusahaan yang didirikan oleh Dick dan Mac Mcdonald bersaudara tahun 1940 ini baru dikemas sebagai usaha waralaba oleh Roy Kroc tahun 1955. Dengan sistem jaringan waralaba, perusahaan yang bermula dari kota kecil San Bernadino itu berkembang ke 122 negara. Sampai tahun lalu McDonald memiliki 30.000 restauran dengan 18.000 terwaralaba (franchisee).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan waralaba di Indonesia juga tidak kalah mengagumkan. Hingga tahun lalu jumlah gerai yang dimiliki oleh perawalaba (franchisor) mencapai 1.978. Dari jumlah gerai tersebut, 1.674 adalah waraba lokal. Amir Karamoy and Asscociate mencatat, selama kurun waktu 1998-2004, waralaba lokal tumbuh rata-rata 14,7 persen, sementara waralaba asing rata-rata 7 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa rahasianya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa perkembangan waralaba itu sangat dasyat? Apa rahasianya? Pietra Sarosa, salah seorang pengamat waralaba mengatakan keunggulan utama waralaba adalah karena sistem yang disediakan. "Dengan demikian seorang pemodal yang akan menjalankan investasi tidak harus memulai lagi dari nol."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang trial and error dalam bisnis itu sangat melelahkan. Banyak penelitian memperlihatkan bahwa 90 persen usaha bisnis itu gagal dalam tiga tahun pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menjalankan bisnis yang sudah memiliki sistem tertentu, seperti yang disediakan waralaba para pebisnis atau investor bebas dari risiko trial and error tersebut. Mungkin karena itu seorang penulis waralaba, Bob Brooke mengatakan keuntungan utama dalam bisnis waralaba adalah risikonya yang sangat minimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu tidak berarti waralaba itu sama sekali bebas dari risiko. Menurut Pietra, risiko terbesar franchise adalah karena terwaralaba tidak memahami sistem yang ditawarkan oleh franchisor (pewaralaba).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inilah kesalahan terbesar yang bisa terjadi, yaitu pihak terwaralaba tidak melakukan investigate before investing. Investigasi yang dilakukan baik terhadap sistem maupun kisah usaha dari pewaralaba," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Amir Karamoy mengingatkan agar calon terwaralaba untuk membaca secara teliti isi perjanjian kerja sama yang disodorkan pihak pewaralaba. Misalnya soal masa kontrak, soal hal apa saja yang dapat membatalkan perjanjian kerja sama, dan juga soal pembagian keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau njomplang atau keuntungan lebih banyak di pihak franchisor, maka calon terwaralaba harus hati-hati," tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip kehati-hatian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehatian-hatian itu, jelas Karamoy karena pewaralaba lokal seringkali terlalu cepat menawarkan bisnisnya kepada konsumen tanpa terlebih dulu memperkuat diri dengan sistem dan manajemen yang teruji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mensinyalir, sekitar 60 persen dari franchisor lokal mengabaikan konsep bisnis yang mantap dan teruji. Apalagi pengawasan dari pemerintah belum dilakukan semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu di tengah menjamurnya waralaba di Tanah Air, investor harus tetap berhati-hati untuk menggandakan uangnya di bisnis tersebut. Karena kendati memiliki sistem, data memperlihatkan bahwa tingkat kegagalan bisnis waralaba masih cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cacatan Amir Karamoy, tingkat keberhasilan waralaba dalam negeri masih sebesar 48 persen. Bandingkan dengan tingkat keberhasilan usaha waralaba di luar negeri yang mencapai 92 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar berhasil dalam waralaba, belum cukup hanya dengan memahami sistem. Masih banyak urusan lain yang harus ditangani dengan mengikuti hukum bisnis biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya soal kemampuan modal, kejelian memilih produk dan lokasi pemasaran serta kemampuan dalam memimpin unit usahanya yang dibeli dengan sistem waralaba tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak berjalan sendirian, sebagai terwaralaba Anda harus yakin bahwa hubungan dengan franchisor bisa berlanjut setelah kontrak ditandatangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Anda bisa mendapatkan bimbingan apabila menghadapi kesulitan. Selain berhungan baik dengan pewaralaba, Anda masih bisa memanfaatkan jasa para konsultan bidang waralaba.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-6906068584479688135?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/6906068584479688135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=6906068584479688135' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6906068584479688135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6906068584479688135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/mewaspadai-euforia-waralaba.html' title='Mewaspadai Euforia Waralaba'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-6301638292674568120</id><published>2008-02-01T03:22:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T03:23:25.472-08:00</updated><title type='text'>Menjadi Kaya dengan Syariah</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tujuan utama syariat adalah memelihara kesejahteraan manusia yang mencakup perlindungan keimanan, kehidupan, akal, keturunan, dan harta benda mereka. Apa saja yang menjamin terlindungya lima perkara ini adalah masalahat bagi manusia dan dikehendaki". (Imam Ghazali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi salah satu tujuan syariat, seperti yang dipikirkan Ghazali, adalah mengatur harta benda, kekayaan, atau uang Anda guna mencapai kesejahteraan. Karena sangat penting, ada baiknya di tengah suasana Ramadhan tahun ini, Anda diajak untuk merenungi tema pengelolaan keuangan secara syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kesempatan refleksi bukan saja untuk menguji sedalam apa pemahaman Anda tentang ekonomi syariah, tetapi terutama untuk mengetahui sejauh mana konsep itu sudah diterapkan dalam kehidupan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli ekonomi dan teologi Islam memberikan banyak alasan mengapa kegiatan ekonomi, bisnis dan pengelolaan keuangan secara syariah mendesak untuk diterapkan. Umer Chapra dalam bukunya Islam dan Tantangan Ekonominya, sekurang-kurangnya memberikan dua alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama alasan eksternal. Dia memperlihatkan betapa sistem ekonomi yang pernah diusung seperti kapitalisme, sosialisme dan konsep negara kesejahteraan yang merupakan kombinasi keduanya ternyata tidak berfungsi secara optimal dalam memperbaiki kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah, demikian ahli ekonomi dari Pakistan yang pernah menjadi penasihat ekonomi Kerajaan Arab Saudi, apa yang dialami umat manusia justru sebaliknya, yaitu ketimpangan ekonomi, kemiskinan dan pengrusakan lingkungan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua adalah alasan internal bahwa ajaran Islam yang bersifat komprehensif dan universal juga tak terhindarkan mengatur kehidupan ekonomi. Karena itu, jelas dia, ekonomi syariah harus tampil sebagai alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirit komersial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi syariah tentu berbeda dengan ekonomi konvensional yang tidak mengindahkan nilai-nilai moral dalam pelaksanaannya. Sebaliknya inspirasi dan petunjuk pelaksanaan ekonomi Islam diambil dari Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan C.C Torrey dalam disertasinya The Commercial Theological Term in the Koran memperlihatkan bahwa Al Quran menggunakan 20 terminilogi bisnis dan mengulangnya sebanyak 720 kali. Itu, kata dia, memperlihatkan betapa Kitab Suci itu mengandung spirit bisnis dan komersial yang sangat kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, spirit itu tidak hanya sekedar tertulis dalam ayat-ayat suci. Dia sudah terbukti menjadi inspirasi dan pedoman dalam kehidupan komunitas muslim awali. Dan hasilnya memang menakjubkan. Komunitas itu dikenal sebagai salah satu komunitas yang terbaik dalam peradaban, termasuk dalam mengurusi ekonomi dan kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan apa sebenarnya diberikan oleh Al Quran dalam mengusung sebuah sistem ekonomi alternatif sebagaimana yang dicita-citakan Islam? Presiden Direktur Karim Business Consultant Adiwarman Karim melansir empat prinsip berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah prinsip tauhid, yaitu keyakinan akan kemahaesaan dan kemahakuasaan Allah di dalam mengatur semuanya, termasuk dalam urusan rejeki. Karena itu seluruh kegiatan bisnis harus ditempatkan sebagai bentuk perhambaan kepada Sang Khalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua prinsip keadilan dan keseimbangan yang menjadi dasar kesejahtaraan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ketiga adalah kebebasan. Anda bebas menjalankan kegiatan bisnisnya asal sesuai dengan ketentuan Allah. Dan keempat, karena bebas, maka Anda juga harus memikul tanggung jawab atas apa yang diperbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah khalifah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal lain yang perlu juga ketahui, yaitu soal kedudukan manusia berikut harta yang dimilikinya. Ahli perencana keuangan syariah Lili Yulyadi menegaskan bahwa pemahaman manusia sebagai khalifah seperti tertuang dalam surat Al Baqarah ayat 30 merupakan hal yang sangat mendasar dalam Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai khalifah, jelas Lili, Anda diberi petunjuk dan instruksi oleh Allah untuk mencapai kesejahteraan, yaitu dengan memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan material dan spiritual, pribadi dan kolektif, dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai khalifah, tujuan hidupnya bukan untuk menenuhi keinginan tetapi untuk mencapai kejayaan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat. Dengan tujuan seperti itu, maka perilaku dan gaya hidupnya yang lain harus disesuaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi manusia yang adalah khalifah, demikian Lili yang adalah komite ahli di Islamic Economic Forum for Indonesian Development (ISEFID), harta dan kepemilikan adalah hanya titipan. Harta adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kata dia, harta harus disucikan melalui zakat kepada orang yang berhak. Al Quran menjelaskan "wa fi amwalihim haqul lisaaili wal mahruum". "Dalam harta mereka (yang mempunyai harta), ada haknya para dhuafa dan orang-orang tak berpunya," tandas Lili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, menurut Chapra, sasaran-sasaran yang dikehendaki Islam secara mendasar bukanlah materiil, tetapi kebahagiaan manusia (falah) dan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) yang sangat mengagungkan aspek persaudaraan (ukhuwah), keadilan sosial ekonomi, dan pemenuhan kebutuhan spiritual manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai semuanya itu, harta, termasuk uang yang Anda miliki hanyalah alat. Dia bukan tujuan pada dirinya. Sudahkah Anda memanfaakan alat itu dengan sebaik-baiknya untuk mencapai kekayaan yang islami? Nilai, prinsip dan pedomannya sudah dikemukakan. Sekarang, tinggal Anda menghayati dan melaksanakannya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-6301638292674568120?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/6301638292674568120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=6301638292674568120' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6301638292674568120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6301638292674568120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/menjadi-kaya-dengan-syariah.html' title='Menjadi Kaya dengan Syariah'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-4701328128256090322</id><published>2008-02-01T03:19:00.001-08:00</published><updated>2008-02-01T03:20:07.821-08:00</updated><title type='text'>Keajabaian Nol</title><content type='html'>Empat ribu lima ratus. Angka 4.500 adalah harga premium terkini. Bagi bangsa ini, angka ini lebih dari sekadar gambaran harga bahan bakar. Dia menceritakan banyak hal. Soal ketakberdayaan pemerintah, tren harga minyak dunia, kesemrawutan manajemen Pertamina, atau kegelisahan masyarakat di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari atau pekan ini, angka-angka menjadi momok yang menakutkan. Apalagi kalau kita giat berkeliaran di pasar. Pematokan harga atas beras, minyak, ikan, ayam, ketela ataupun bayam dengan nominal yang kian membesar, benar-benar menegangkan syaraf kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi ketegangan, untuk sementara mari kita lepaskan dulu angka-angka itu dari urusan minyak dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Kita bercerita soal angka yang sudah digemari sejak zaman dahulu kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya orang Athena, bangsa-bangsa yang mendiami lembah Nil, Tigris, Yangstse, Gangga ataupun Amazon juga sudah terbiasa dengan angka-angka. Bahkan, mereka sudah secara detil menggunakannya untuk ukuran bangunan sekelas Sphinx di Mesir, atau untuk membuat tata kota seteratur Troya atau Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka dan risiko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menurut ahli sejarah manajemen risiko Peter L. Berstein dalam bukunya Against The Gods, bangsa-bangsa tua itu belum pernah menggunakan angka-angka itu untuk menghitung risiko. Setiap kali ada persoalan hidup, mereka tidak pernah mengoptimalkan angka-angka. Mereka malah buru-buru ke orakel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana ada peramal yang menjelaskan hidupnya bukan atas dasar realitas, tapi menurut aturan para dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut keyakinan mereka, ada banyak sekali dewa yang ikut mengurus persoalan hidup manusia. Para dewa ikut memainkan dadu-dadu kehidupan, sehingga mereka tak pernah berpikir menggunakan hitungan peluang atau teori probabilitas. Disiplin itu baru tercipta ribuan tahun kemudian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah peradaban Eropa, urusan angka-angka mulai tampil secara meyakinkan tahun 1202 seiring terbitnya buku Liber Abaci, atau Book of the Abacus. Buku ini pertama kali beredar di Italia melalui penulisnya Leonardo Pisano, atau lebih dikenal dengan nama samaran Fibonacci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, dia memperkenalkan kepada masyarakat Eropa angka nol dan kelipatan sepuluh yang kemudian mempengaruhi imajinasi numeral bangsa itu. Keajaiban angka nol itu bukan temuan Fibonacci. Dia sendiri menyerapnya dari para sarjana Arab ketika dia mengunjungi Bugia, salah satu kota di Aljeria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Arab, saat itu matematika sudah sangat maju. Mereka berhasil menterjemahkan buku-buku matematika Yunani dan mengembangkan ilmu aljabar. Tapi, angka nol itu sendiri tidak lahir di jazirah Arab. Nol diambil dari India ketika Islam melakukan ekspansi ke kawasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di India, nol disebut sunya, lalu menjadi cifr dalam kosa kata Arab. Adalah al-Khowarizmi yang mengembangkan sistem angka dan matematika ini di dunia Arab. Konon kata logaritma berasal dari nama ahli ini. Ahli Arab yang hidup sekitar tahun 825-atau empat ratusan tahun sebelum Fibonacci-inilah yang pertama menciptakan rumusan pengurangan, penjumlahan atau pun perkalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dalam sistem ini, nol tak bersentuhan dengan hidup sehari-hari. Filsuf Inggris Alfred North Whitehead memberi penjelasan berikut: Nol tak pernah kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tak pernah ada orang yang ke pasar untuk membeli 'nol ikan'. Nol hanya dipakai untuk melengkapi angka-angka kardinal dan memaksa kita untuk menyempurnakan model-model berpikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nol dan peradaban&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang betapa terbatasnya pemikiran matematis tanpa nol. Ketiadaan nol terbukti menjadi hambatan luar biasa bagi peradaban Romawi maupun Yunani. Angka sembilan [9] yang sederhana itu harus ditulis dengan agak rumit oleh orang Romawi dengan IX. Mereka juga tak bisa menulis 32 dengan III II. Karena itu bisa ditafsirkan macam-macam, bisa 32, 302, 3020 atau kombinasi lain yang lebih besar dari 3 dan 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem numerik seperti ini jelas sulit dikembangkan untuk sebuah kalkulasi yang rumit. Begitu juga sistem angka dalam peradaban Yunani. Setiap angka dari 1 sampai dengan 9 memiliki abjadnya masing-masing. Misalnya simbol 'pi' dari abjad penta untuk mewakili 5, 'delta' dari abjad 'deca' untuk 10 dan 'rho' untuk 100. Bisa dibayangkan 115 harus ditulis 'rho-deca-penta'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang menyulitkan mengemas sistem angka-angka Yunani dan Romawi sebagai alat untuk menyelesaikan persoalan hidup. Terutama untuk menghitung risiko dengan mengembangkan teori peluang dan probalitas. Tapi, persoalan bukan saja pada kehadiran angka nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bernstein keyakinan bahwa kejadian sehari-hari diatur oleh para dewa tidak menjadi lahan yang subur bagi angka-angka. Yang maju justru kegiatan peramalan di orakel untuk mengetahui nasib dan masa depan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang hampir mirip, menurut dia, terjadi pada masyarakat Arab. Kepercayaan yang luar biasa pada pada takdir Ilahi, membuat keajabaian nol tidak berkembang secara optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keajaiban itu justru terjadi ketika nol yang diambil dari dunia Arab oleh Fibonacci disemaikan dalam alam Renaissance. Dalam semangat Renaissance, masyarakat Eropa diberi kebebasan untuk berpikir dan melihat persoalan hidupnya lepas dari kungkungan Ilahi. Bagi mereka, hidup adalah rentetan hubungan sebab dan akibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hubungan sebab akibat itu, maka manusa bisa meneliti sebab-sebab yang terus berulang. Penelitian atas sebab-sebab ini sangat penting untuk bisa memperkirakan apa yang terjadi di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kepentingan itu, para ahli Barat berusaha menggunakan angka-angka itu untuk menghitung peluang dan kemungkinan. Konon, dengan sebuah kalkulasi dan rumusan yang tepat, manusia bisa menggunakan angka-angka itu meminimalkan risiko hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kepala Pascal, Leibniz dan kemudian John Maynard Keynes, Harry Markowitz dan puluhan kepala lainnya, sistem hitungan dengan keajaiban nol itu berkembang dengan sangat pesat. Termasuk aplikasinya untuk menghitung risiko, termasuk risiko investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori-teori investasi dan diversifikasi yang dikembangkan sarjana Barat tak mungkin terjadi tanpa sistem angka yang dipelajarinya dari dunia Hindu-Arab. Tapi, nol itu tak pernah menjadi benar-benar ajaib tanpa dibarengi sikap bebas, menghargai akal dan lepas dari pengaruhi mistik dan perdukunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Keynes dan kawan-kawan pun sadar kalau hidup tak pernah sepenuhnya dirumuskan dalam angka-angka. Ada misteri, ada keliaran yang tak pernah digenggam secara sempurna oleh otak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Keynes mengingatkan bahwa teori probabilitas hanya bisa menjadi pedoman dalam kehidupan kalau ada keyakinan bahwa tindakan yang didasarkan pada teori ini adalah hal yang rasional, dan ketergantungan padanya dapat memberi manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang keajaiban nol tak bisa menjawab semua persoalan. Apalagi kalau memang angka-angka itu tak pernah dihitung dan dikemas secara benar. Jangan-jangan 'nol' dalam angka 4.500 pun bukan sebuah keajaiban, tapi adalah aib bagi negeri ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-4701328128256090322?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/4701328128256090322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=4701328128256090322' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/4701328128256090322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/4701328128256090322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/keajabaian-nol.html' title='Keajabaian Nol'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-5890269231154396287</id><published>2008-02-01T03:13:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T03:14:11.211-08:00</updated><title type='text'>Modal Percaya</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redemption di reksa dana adalah sebuah fenomena yang layak disimak. Mari kita kaji lebih serius, mengapa para investor reksa dana melakukan penarikan dana (redemption) habis-habisan secara emosional? Jawabannya pun bisa bermacam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif ekonomis mungkin bisa dijelaskan bahwa meningginya suku bunga perbankan lebih menarik bagi pemodal sehingga mendorong mereka berbondong-bondong menghijrahkan uangnya ke sana. Lebih menguntungkan di deposito daripada dana itu bertengger dalam bentuk portofolio di reksa dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mengapa itu dilakukan dalam kepanikan? Bukankah reksa dana adalah investasi jangka panjang? Bukankah agak menyesatkan kalau pemodal menjadikan kenaikan bunga 'saat ini' sebagai rujukan dalam menilai kinerja reksa dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau investornya dianggap tak cakap, maka yang ikut bersalah adalah juga para fund manager. Karena mereka tidak menyertakan pengetahuan yang memadai tentang keuntungan dan risiko yang bisa terjadi di investasi ini saat mereka mengumpulkan uang dari pemodal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bukankah saat menyerahkan dananya ke para fund manager, para investor sudah memahami bahwa pengetahuan mereka memang terbatas sehingga segala keputusan mengenai dana mereka sudah selayaknya ada di tangan para manajer investasi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, pertanyaan mengapa para investor harus panik masih sangat relevan. Jadi, kembali lagi, mengapa para investor itu panik? Mungkin saja dari perspektif ekonomi masih tersedia jawaban. Tapi, ada baiknya kita juga mendengar suara dari disiplin ilmu yang lain, sosiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lintas batas ini kita tidak lagi berkutat pada persoalan 'uang' dan karakternya yang selalu mencari tempat yang menguntungkan, atau mempersoalkan lagi kemampuan para fund manager serta pengetahunan para pemodal. Ada persoalan di sana, yaitu masalah kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama para pelaku pasar, baik investor dan fund manager tidak mempercayai pemerintah. Karena sudah tidak mempercayai, apa pun yang dilakukan pemerintah memang selalu salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih runyam lagi, bahwa setelah tidak mempercayai kebijakan pemerintah, para pemodal ikut-ikut tidak mempercayai kecakapan fund manager. Padahal, dana itu sejak dari awal sudah diserahkan untuk dikelola oleh para manajer investasi tersebut. Lingkaran ketidaksalingpercayaan terekpresi pada kinerja pasar atau industri yang terus terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kepercayaan-diakui atau tidak-sangat berpengaruh bukan hanya pada perkembangan sosial dan kultural, tapi juga kemajuan organisasi ekonomi. Itulah sebabnya ada sejumlah pemikir sosial yang memasukan kepercayaan (trust) sebagai modal yang penting. Kepercayaan adalah modal sosial (social capital), bahkan intisari dari modal sosial itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis modal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pierre Bourdieu, sosiolog Perancis dalam The Forms of Capital membedakan tiga jenis modal dalam kehidupan manusia, yaitu modal ekonomis, modal kultural dan modal sosial. Dalam konteks reksa dana di atas tiga jenis modal itu dengan mudah ditempatkan di mana posisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana para investor dalam portofolio itu adalah modal ekonomis, kemampuan dan ketrampilan mengelola dana baik oleh fund manager maupun oleh pemiliki modal sendiri adalah modal kultural, dan kompleksitas kesalingpercayaan antara pemerintah dan para pelaku bisnis itu adalah sebuah modal sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal modal sosial itu Bourdieu menulis: Social capital is an attribute of an individual in a social context. One can acquire social capital throuh purposeful actions and can transforms social capital into conventional capital gain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, kemampuan seseorang untuk memperoleh dan mengoptimal modal sosial itu sangat tergantung pada kualitas kewajiban sosial, relasi, dan jaringan-jaringan yang tersedia bagi orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, lebih jauh lagi, Francis Fukuyama dalam The Social Virtues and The Creation of Prosperity secara gamblang memperlihatkan kaitan yang sangat nyata antara modal sosial dengan penciptaan kemakmuran sebuah komunitas atau bangsa. Kemakmuran hanya mungkin terjadi karena ada 'saling percaya' di antara anggota komunitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Fukuyama, salah satu nilai yang paling penting dalam dari intensitas jaringan sosial itu adalah kepercayaan. Bahkan, kepercayaan itu fundamen utama dari terbentuknya berbagai jaringan sosial dan kerja sama yang baik di antara para anggota komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepercayaan adalah harapan bersama dalam komunitas bahwa akan terciptanya keteraturan, kejujuran dan perilaku kooperatif yang muncul dalam komunitas itu yang didasarkan pada norma-norma yang dianut bersama oleh para anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa harapan bersama untuk saling mempercayai, modal-modal ekonomi, dan kemampuan individual seseorang dalam komunitas menjadi keropos dan sepertinya sia-sia. Sebuah organisasi sosial atau ekonomi seperti sebuah perusahaan tanpa trust hanya kumpulan aktivitas tanpa energi dan sinergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja benar di perusahaan itu ada pemimpin dan bawahan, ada aturan, ada divisi, ada tata tertib. Tapi di sana tak ada visi bersama, tak ada sinergi. Yang ada hanya kompetisi yang destruktif karena anggotanya saling sikut dan menyudutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga yang terjadi dengan bangsa ini yang hari demi hari tak lepas di dera krisis. Kekayaan melimpah di negeri ini. Banyak doktor dan profesor mengabdi kepadanya. Wacana kebijakan dan UU berseliweran dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mengapa tak ada kemakmuran dan kesejahteraan di sini? Karena kita masih saling mencurigai, saling dendam, saling menuduh dan menyudutkan. Kita kelihatan ramah tapi tidak saling mempercayai, kita hidup bersama-sama tapi sukar bekerja sama, gampang meneteskan air mata tapi susah membangun solidaritas. Sampai kapan? Wallahu a'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-5890269231154396287?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/5890269231154396287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=5890269231154396287' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/5890269231154396287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/5890269231154396287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/modal-percaya.html' title='Modal Percaya'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-434318722585772503</id><published>2008-02-01T03:07:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T03:10:19.211-08:00</updated><title type='text'>Ketika Anjing Memburu Duit</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membisniskan anjing? Kenapa tidak. Mungkin, di telinga orang-orang yang 'berperikebinatangannya' tinggi, lebih sedap kalau dikatakan bahwa Anda bisa memburu uang bersama binatang rumah ini. Tidak percaya? Silahkan mencoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pernah memelihara anjing, Anda pasti tahu kalau binatang ini cerdas dan setia. Itulah sebabnya sudah sejak zaman batu anjing menjadi salah satu sahabat terdekat manusia. Konon binatang yang diduga berasal dari Asia Timur itu pertama kali menjalin persahabatan dengan manusia, saat nenek moyang orang Asia bermigrasi menyeberangi Selat Berling di Rusia menuju Alaska, Amerika Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu anjing menjadi salah satu penjaga dan sahabat manusia. Tapi, itu saja belum cukup. Karena nenek moyang anjing berasal dari serigala seperti yang diteliti Profesor McTaggart Cowan, anjing juga terkenal berani dan kuat berlari. Maka dia juga bukan saja hanya menjadi sahabat manusia di rumah, tapi juga saat manusia memburu binatang-binatang hutan. Bahkan, pada jaman modern ini dia adalah sahabat para polisi dalam memburu penjahat dan pengedar Narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi justru karena sejumlah kemampuan dan keunggulan yang melekat pada binatang ini, Anda bisa juga memanfaatkannya untuk memburu uang. Sebenarnya bisa juga, dan ini paling mudah, Anda mengorbankan sahabat Anda ini dan menghidangkannya sebagai daging. Kendati lezat, tapi pasarnya sangat terbatas. Selain diharamkan, yang terbiasa dengan daging anjing ini hanyalah dari suku-suku tertentu di Indonesia. Lebih dari itu, Anda harus siap-siap menerima kritikan dari para penyayang binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada cara lain yang lebih elegan untuk membisniskan anjing ini, terutama jenis anjing ras. Untuk itu kita perlu mendengar pendapat Boby Sant yang begitu fasih membeberkan peluang bisnis "Snuppy" ini. Membisniskan anjing adalah sebuah peluang bisnis yang tidak bisa dianggap remeh. Bayangkan kalau seekor anjing herder yang paling mahal di Indonesia pernah dijual dengan harga 50.000 euro atau setara dengan Rp 600 juta kalau satu euro ekuivalen dengan Rp12.000. Luar biasa bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena peluang bisnis ini cukup prospektif, Bobby berani merilis web-site khusus dengan nama AnjingKita.Com. Tujuannya, jelas dia, agar memberikan informasi yang lebih akurat dan komprehensif tentang dunia peranjingan. Iklan penjualan anjing, iklan makanan dan aksesorisnya, termasuk pendapat yang berkaitan dengan haram tidaknya anjing dapat dibaca di web-site ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bobby setiap orang memiliki motivasi yang berbeda ketika memelihara binatang rumah ini. Pertama, ada yang memelihara anjing hanya untuk sekadar mencari nama. Misalnya anjing piaraannya diikutkan dalam berbagai pameran dan perlombaan. Sebagai pemiliknya, orang itu tentu sangat berbangga andaikan sahabatnya dipilih sebagai pememang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan asal tahu saja, perlombaan dan pameran anjing ras di Indonesia makin sering dilakukan. Misalnya dari Klub Rottweiler, atau dari jenis anjing ras yang lain seperti anjing gembala Jerman (herder), boxer, pekingese dan lain sebagainya. Sekali perlombaan bisa diikuti oleh ratusan anjing. Tidak main-main, juri-juri yang menilai hasil perlombaan anjing ini berkelas internasional yang sering didatangkan dari luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa karena hobi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi kedua adalah urusan hobi. Dengan memelihara anjing mereka bisa merasa terhibur dan terbebas dari stress dan tekanan rutinitas pekerjaan. Sri Widati mantan Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mengalami hal ini. Konon, dengan mendengar gonggongan anjing, perasaan stress Bu Sri bisa hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, asal Anda cerdas, hobi ini pun bisa dikembangkan untuk mendatangkan sedikit uang. Begitulah yang dilakukan oleh Steven yang belum lama ini menawarkan tiga anak Pittbus berhidung merah. Dua ekor Pittbus betina ditawarkan masing-masing Rp2,5 juta, sementara seekor Pittbus jantan dijual dengan harga tiga juta rupiah. Dia mengakui kalau dia menjual anak-anak anjing ras itu bukan karena pekerjaan utamanya adalah memelihara anjing. Bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu hanya semata-mata hobi. Dan kebetulan ada kelebihan anak-anak Pittbus, maka saya menawarkan kepada orang lain. Dan banyak orang yang melakukan itu hanya sekadar hobi seperti saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi ketiga, jelas Boby, adalah orang yang memelihara anjing karena itu merupakan ladang bisnisnya. Hal ini bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama adalah dengan cara menjual dan membeli anak-anak anjing ras itu. Ya orang itu menjadi pedagang. Cara lain adalah dengan menjadi pembiak dengan memelihara induknya. Supaya lebih hemat, jantannya hanya dikawinkan dengan menyewa pejantan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menjadi pembiak kawakan, Anda akan dicari karena pembeli akan meminta informasi yang sangat detil. Dan biasanya para pembeli akan lebih mantap mendapatkan informasi soal anjing dari pembiak yang berilmu dan berpengalaman daripada hanya dari seseroang pedagang anjing. Ya informasi mengenai sejarah keturunannya, usianya, anatominya dan segala kekhususan mengenai anjing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini baru bisnis jual beli anjing. Masih banyak peluang bisnis lain yang mendukung bisnis ini. Misalnya makanannya, pelatihannya, tempat penitipannya, kandang, termasuk penyelenggaraan pameran dan perlombaan yang akhir-akhir ini makin diminati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh tempat penitipan di Happy Pets Dogs &amp;amp; Cats Hotel yang berlokasi di perumahan BSD, Nusa Loka, Sektor 14. Untuk penginapan semalam, pemilik anjing itu harus membayar Rp 50 ribu. Mereka juga melayani jasa antar jemput untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya dengan pungutan antara Rp50.000 hingga Rp75.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Anda bisa juga membuka toko untuk menjajakan aksesorisnya seperti sampo, pengering bulu rambut, kandang dan sebagainya. Sebagai contoh kandang lipat buatan Taiwan bisa dijual dengan harga Rp325.000, atau sampo jenis Shampoo Nice Coat untuk jenis pembasmi kutu (Formula Flea &amp;amp; Tick) ukuran seribu mili liter dijual dengan harga Rp51.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Anda bisa memilih pada bagian mana dari dunia peranjingan yang bisa Anda geluti. Mungkin saja kalau kehidupan Jakarta yang kian keras dan relasi antar manusia kian renggang, maka kebutuhan untuk menjadikan anjing sebagai sahabat dalam kehidupan sehari-hari kian besar. Mungkin kebutuhan itu tidak setinggi pada masyarakat Eropa dan Amerika yang sangat individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika, menurut catatan American Pet Products Manufactures Association, sedikitnya 62 persen rumah tangga memelihara hewan. Persentasi tersebut meliputi 78 juta kucing dan 65 juta anjing. Konon, pada tahun lalu keluarga-keluarga itu menghabiskan dana Rp320 triliun untuk hewan piaraan mereka. Jumlah ini meningkat Rp20 triliun dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp300 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, khususnya di Jakarta, perkembangan mungkin tidak sepesat itu. Tapi bukan tidak mungkin jumlahnya akan terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobby mengakui minat orang akan anjing dari hari ke hari kian meningkat. Itu terlihat dari jumlah pengunjungi web-site-nya yang rata-rata per hari mencari seribu orang. Kalau begitu, mengapa Anda tidak mencoba memanfaatkan peluang ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-434318722585772503?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/434318722585772503/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=434318722585772503' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/434318722585772503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/434318722585772503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/ketika-anjing-memburu-duit.html' title='Ketika Anjing Memburu Duit'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-254123122386943425</id><published>2008-02-01T03:03:00.001-08:00</published><updated>2008-02-01T03:04:18.550-08:00</updated><title type='text'>Hati-Hati, Ada 'Jin' di Multifinance</title><content type='html'>Belajar dari Kasus Ustad Wana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Wana bin Adun itu kini sepi. Begitu kira-kira suasana dua minggu setelah rumah itu ditinggal pergi pemiliknya yang saat ini sedang 'beristirahat' di Bui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika usahanya masih jalan tempat ini ramai sekali. Begitu juga di halaman musholla, bahkan sampai di kebun-kebun itu," ujar Ajis, tukang ojek, yang mengantar saya ke rumah ini. Sepi rumah pemilik Amanah Motor itu seakan melengkapi kegetiran ribuan nasabah setelah impian mereka ditelan kotak ajaib sang Ustad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pengakuan Ustad Wana, niatnya sangat baik. Melalui Amanah Motornya dia ingin membantu orang-orang yang ingin memiliki mobil dan motor dengan cara kredit. Persyaratan yang dikenakan sangat mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasabah cukup membayar 50 persen dari harga tunai yang akan dibeli. Sisanya lagi akan dicil tanpa bunga dalam satu sampai tiga tahun. Sebuah penawaran yang sangat menggiurkan. Begitu uang muka dibayar, pembeli bisa langsung membawa pulang mobil atau motor yang dipesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat lebih meyakinkan, Ustad Wana mengakui memiliki kotak ajaib. Kotak ajaib ini, demikian pengakuan Dirut Amanah Motor itu, bisa menggandakan uang muka dan anggsuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para nasabah benar-benar diyakinkan dengan kemampuan gaibnya itu. Bahkan, masyarakat di sekitarnya tahu bahwa Wanna adalah pemelihara 'jin' yang yang bisa membantu orang, terutama bagi orang yang ingin berbisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Banyak orang yang sebelum memulai bisnis, membeli jin dari pak Ustad," demikian Andy, warga Bantar Gebang, Bekasi, yang juga menjadi korban dalam kasus ini menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, jelas Andy, pak Ustad Wana sering memanfaatkan agama untuk menjalankan bisnisnya itu. Memang letak musholla yang seakan menyatu dengan rumah Wana bisa memperdayai nasabahnya. Tak mungkin orang 'yang dekat dengan Tuhan' bisa melakukan bisnis 'tipu.tipu', begitulah keyakinan dari sebagian nasabahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal penipuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi justru dari sinilah awal penipuan itu dimulai. Dengan dibantu oleh 30 orang pegawainya Wana mulai beraksi. Dari 30 orang pegawainya, 10 orang adalah mereka yang bertugas untuk pengadaan mobil dan motor. Mereka sebenarnya adalah para calo yang berpengalaman dan memiliki hubungan khusus dengan perusahaan leasing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena kekuatan 'jin' atau karena kebodohan warga, meski bisnis itu tidak masuk akal, perkreditan otomotif yang ditawarkan Wana menarik banyak peminat. Konon, menurut pengakuan dia, sedikitnya sudah 900 mobil dan 3.000-an motor yang sudah dilego melalui Amanah Motor ini. Korbannya merata mulai dari tukang ojek hingga anggota DPRD, para pejabat pemerintahan di Bekasi dan petinggi di jajaran polisi dan militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pihak kepolisian memperkirakan sedikitnya 50 perusahaan pembiayaan di wilayah Jabodetabek menjadi korban petualangan Ustad Wana. Konon ada keterlibatan karyawan perusahaan pembiayaan dalam kasus perkreditan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya tidak berlebihan kalau pihak kepolisian juga akan membongkar sejumlah perusahaan leasing yang ikut dalam jaringan penipuan ala kotak ajaib ini. Karena tidak mungkin perusahaan leasing begitu mudahnya mengucurkan pembiayaan mobil dan motor. Bisa saja benar kalau Sekjen Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia Sebuah (APPI), Dennis D. Firmansyah menolak untuk ikut campur dalam persoalan ini. Tapi, yang pasti dugaan keterlibatan karyawan dari sejumlah perusahaan leasing dalam kasus ini merupakan tantangan bagi industri multifinance tersebut untuk terus berbenah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kecerdasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mike Rini, seorang perencana keuangan, justru melihat rendahnya kecerdasan finansial masyarakat dalam kasus ini. "Salah satu bukti rendahnya kecerdasan ini adalah mudahnya mereka untuk tergiur mendapatkan kredit dengan harga yang murah. Ini jelas tidak masuk akal dan memiliki risiko yang tinggi. Mereka malah lebih percaya pada kekuatan gaib dari pada kekuataan finansial dan perencanaan sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, jelas dia, para nasabah harus mempertanyakan ketika tahu ada kredit murah yang harus dilunasi tanpa bunga. Sebagai nasabah yang cerdas, mereka harus meneliti proposal bisnis atau kredit yang ditawarkan kepada mereka. Begitu juga institusi yang terlibat dalam perkreditan itu harus diketahui reputasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena kendati dealer yang langsung mengurusi kendaraan itu ke perusahaan pembiayaan, pembeli harus ikut mengecek. Kalau tahu insitusi pembiayaannya, mereka tentu tidak menyerahkan cicilannya pada kotak ajaib segala."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus di kelurahan Cikiwul, Bantar Gebang ini, menurut Mike, jelas-jelas merupakan sebuah money game, sebuah modus penipuan bisnis yang paling sering dijumpai masyarakat. Dalam kasus itu Ustad Wana mengumpulkan uang di kotak ajaib dan kemudian memutarnya lagi di aset-aset yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang masyarakat konsumtif yang suka jalan pintas paling mudah menjadi korban penipuan. Mereka tidak menghargai proses berinvestasi dan menggandakana uang secara benar. Sebuah akar yang sama yang bisa menjelaskan mengapa negara ini menjadi sarang koruptor dan para pembohong publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau mereka tahu kalau publik yang hadapinya adalah orang-orang yang suka bermimpi dan bercengkerama dengan makhluk-makhluk dari alam gaib. Hanya kecerdasan finansial yang bisa menghalau 'roh-roh halus' ini. Hati-hati, jin-jin masih bergentayangan, termasuk di perusahaan-perusahaan multifinance.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-254123122386943425?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/254123122386943425/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=254123122386943425' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/254123122386943425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/254123122386943425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/hati-hati-ada-jin-di-multifinance.html' title='Hati-Hati, Ada &apos;Jin&apos; di Multifinance'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-4353459137624922235</id><published>2008-02-01T02:58:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T02:59:12.619-08:00</updated><title type='text'>Kemerdekaan Finansial</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sudah sangat sering Anda mendengarkan dan membaca kata kebebasan finansial. Mengertikah Anda sesungguhnya apa yang dimaksudkan dengan kebebasan finansial? Bersyukurlah kalau sudah. Bagi yang belum memahami, sekaranglah saatnya. Dalam suasana peringatan kemerdekaan negara ini, mari kira arahkan perhatian sejenak pada makna kemederkaan yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kata kebebasan finansial mulai dikenal seiring dengan popularitas buku-buku Rober T. Kiyosaki. Memang dia adalah salah satu yang mempromosikan cita-cita dan pengertian financial freedom ke seluruh dunia. Tentu pertama-tama di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati, sudah lama kata-kata itu bergema di negaran asalnya, belum banyak orang memahaminya. Atau di antara mereka belum sepakat dengan makna kata ini. Itu terbukti pada awal bulan lalu, dalam suasana peringatan deklarasi kemerdekaan Amerika, penasihat keuangan Feffrey D. Voudrie masih perlu menulis soal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sama dengan kaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisannya Let Financial Freedom Ring, dia berkeberatan dengan pendapat banyak orang yang mengartikan kebebasan finansial sebagai memiliki banyak uang dan hidup layak dengan uangnya itu. Karena kalau demikian, bukan hanya tidak mungkin ada orang yang berhasil meraihnya, tapi akan susah mencari batasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seberapa banyak uang yang diperlukan untuk mendukung hidup yang layak itu,” demikian Voudrie bertanya. Pertanyaan itu relevan. Apakah uang itu diperlukan sebanyak kebutuhan, atau sejauh keinginan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kalau mengikuti keinginan manusia yang tidak terbatas itu, maka uang yang diperlukan menjadi tak terbatas pula. Kalau demikian, apakah masih adakah kebebasan finansial itu? Atau, jangan-jangan dia hanya ada secara konseptual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keluar dari kemelut itu, Voudrie maju dengan sebuah rumusan yang lebih sederhana. “Financial freedom is not about spending more, but worrying less. It is more about the relationship between your life style and your income.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu dengan rumusan in, tidak berarti semuanya menjadi terang benderang. Dengan pendapatan seberapa dan gaya hidup seperti apa, orang itu bebas secara finansial? Tak ada yang memberi jawaban yang pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiyosaki hanya mengatakan bahwa kebebasan itu buah dari kecerdasan seseorang dalam bekerja dengan memanfaatkan jaringan. Dalam jaringan, demikian Kiyosaki, seseorang justru memanfaatkan waktu, tenaga dan uang orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, ada passive income. Uang akan terus mengalir ke kantong seseorang dan dia akan terlepas dari segala macam kesulitan finansial. Tapi, sekali lagi apa mungkin seseorang bebas dari persoalan uang kalau dia tidak segera membatasi keinginannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan seseorang yang sudah memiliki kapal pesiar, tapi masih cemas dan harus menguras waktu dan tenaga untuk memburu uang guna membeli pesawat, apakah dia termasuk jenis orang yang menikmati kebebasan finansial? Bukankah tak ada jaminan bahwa setelah pesawat sudah terbeli, dia juga masih cemas dan harus berjuang lebih keras lagi untuk memiliki pesawat kedua, ketiga dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suze Orman berusaha menjawab kecemasan orang-orang yang sudah memiliki banyak uang itu. Karena itu berbeda dari Kiyosaki, ketika berbicara kebebasan finansial dalam bukunya The 9 Steps to Financial Freedom, Suze justru berbicara tentang kemampuan seseorang untuk melepaskan diri (baca: bebas) dari uang pada saat dia memiliki banyak uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan ‘bebas’ seperti ini, demikian Suze, seseorang bisa berkuasa atas uang. Suze yakin inilah makna kebebasan finansial yang sesungguhnya karena seseorang tidak lagi diperbudak oleh uang dan keinginannya. Karena kalau tidak memiliki kebebasan itu, jelas dia, seseorang bisa mengorbankan hal-hal lain yang tidak kalah penting seperti kehidupan keluarga, etika, cinta atau mungkin religiositas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersifat personal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu seorang perencana keuangan seperti Ron Pearson lebih tertarik membicarakan kebebasan finansial sebagai kemampuan seseorang secara personal untuk memenuhi impiannya. Kalau seseorang dalam hidupnya mempunyai impian untuk menyekolahkan anaknya, dan kalau dia berhasil melakukan itu, dia telah memiliki kemerdekaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu dibenarkan oleh perencana keuangan yang lain, Stacy Francis yang menekankan pentingnya seseorang menetapkan tujuan personal dalam dalam hidupnya. Menurut ilmu perencanaan keuangan, tujuan seseorang sudah jelas, yaitu bagaimana menetapkan kebutuhan hidupnya (goals), seperti kebutuhan untuk menjamin risiko hidup melalui asuransi, memenuhi segala kebutuhan hidup sehari-harinya seperti kebutuhan akan rumah, pendidikan anak dan juga termasuk bagaimana merencanakan pensiunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menetapkan tujuan, jelasnya, tahap berikut adalah menghitung segala pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dan impian-impian itu. Baru terakhir adalah membuat perencanaan (plan) dengan tahapan yang jelas bagaimana seseorang harus bekerja, berapa pengeluaran dan berapa tabungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, menurut Francis, faktor yang menentukan apakah Anda akan mencapai kebebasan finansial adalah dengan melihat bagaimana Anda mengatur pengeluaran dan bagaimana Anda menabung. Sesederhana itu, kata Francis.&lt;br /&gt; Kalau demikian, tidak cukup Anda memahami pengertian kebebasan finansial secara konseptual. Yang lebih penting adalah Anda sadar bahwa kondisi kebebasan finansial Anda berbeda dengan yang lain. Dan yang lebih penting lagi, mulai sekarang deklarasikan kemerdekaan finansial Anda. Baru setelah itu, dan ini yang terpenting, Anda berjuang untuk mencapainya. Merdeka!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-4353459137624922235?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/4353459137624922235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=4353459137624922235' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/4353459137624922235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/4353459137624922235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/kemerdekaan-finansial.html' title='Kemerdekaan Finansial'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-4725773760358093559</id><published>2008-02-01T02:52:00.001-08:00</published><updated>2008-02-01T02:52:59.686-08:00</updated><title type='text'>Pemimpin Jaringan</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang penulis yang paling antusias berbicara soal pentingnya jaringan dalam bisnis adalah Robert. T. Kiyosaki. Dalam berbagai bukunya seperti Rich Dad Poor Dad, Rich Dad's CASHLOW Quadrant, Rich Dad's Guide to Investing, atau Business School, penulis campuran Jepang-Amerika ini memberi tempat yang tinggi pada bisnis berkekuatan jaringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan itu kunci sukses finansial, kata dia. Maka bisnis yang paling dianjurkan adalah waralaba dan bisnis jaringan pemasaran atau MLM (Multi Level Marketing). Bisnis jenis ini berbeda dengan cara berbisnis tradisional yang mengajarkan orang untuk menjadi karyawan atau bekerja sendiri untuk mendapatkan uang. Ini cara lama. Benar di sana orang diajarkan untuk bekerja keras. Dan mereka mendapatkan uang dari pekerjaannya itu. Tapi, hasilnya terbatas, sebatas potensi dirinya dan waktu pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sistem jaringan, sistem yang sering digunakan oleh oleh pengusaha dan investor, hasilnya jauh lebih optimal. Bahkan, pada saatnya, bisnis dan uang itu akan dibiarkan bekerja untuk pemiliknya. Tentu dengan memanfaakan uang dan waktu orang lain. Makin banyak orang dilibatkan dalam jaringan itu, makin besar uang yang mungkin didapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengam maksud membangun sebuah jaringan yang solid dan efektif, Kiyosaki juga kerap bicara soal pentingnya kepemimpinan dalam menentukan keberhasilan bisnis jaringan pemasaran. Anda harus berhasil menginsipirasikan orang lain untuk menemukan kehebatan pribadi mereka. Termasuk dengan menggali impian mereka yang paling liar sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pemimpin berarti Anda harus mampu menggerakkan orang lain untuk berjuang menggapai apa yang mereka impikan. Di MLM, pekerjaan rutin Anda adalah menginspirasikan, menggerakan, memotivasi orang lain. Itu pekerjaan kepemimpinan. Masing-masing orang harus menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di MLM, orang belajar menjadi pemimpin. Bahkan, banyak program pendidikannya, diakui sebagai pelatihan bisnis dan pengembangan kepemimpian terbaik. Ada keyakainan di sana, "uang selalu mengalir kepada pemimpin. Kalau kamu menginginkan lebih banyak uang, cukuplah menjadi lebih dari seorang pemimpin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini, orang-orang MLM boleh bertukaran pengalaman dengan sebuah organisasi atau jaringan yang lain. Jaringan Jesuit, atau Serikat Jesuit. Karena di sana pun, kepemimpinan atau menjadi pemimpin mendapat tempat terhormat. Bahkan, itu adalah nilai yang turut menentukan keberhasilan organisasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Christ Lowney melalui bukunya Heroic Leadership: Best Practises from a 450-Year-Old Company Thet Changed the World (2003) yang memperkenalkan paradigma dalam memahami arti kepemimpinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya terkesan kepemimpinan dalam Serikat Jesus (SJ). Coba sebutkan perusahaan, organisasi, atau lembaga yang mendapat kriteria sebagai organisasi paling sukses dan bisa bertahan selama 465 tahun atau hingga sekarang? Tidak banyak untuk mengatakan tidak ada, kecuali SJ. Di antara organisasi keagamaan sesama Katolik, Jesuit adalah champion," ujar Lowney kepada surat kabar Kompas belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Heroic Leadership saat ini berada pada peringkat pertama di Amerika Serikat dan menjadi finalis dalam Book of the Year Award Majalah Foreward. Alasannya, buku ini berhasil menggali pengalaman dari sebuah serikat atau jaringan dalam mengedepankan kultur kepemimpinan yang baru, sebuah manajemen baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serikat ini didirikan oleh Ignasius Loyola pada 1954. Sampai saat ini, di organisasi itu terdapat 21.000 personel yang mengelola 2.000 lembaga, terutama lembaga pendidikan yang tersebar di sedikitnya 112 negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga sekolah yang dikelolanya sudah berhasil mendidik banyak tokoh di dunia. Termasuk di antaranya Bill Clinton, Francois Mitterand, Fidel Castro, aktor AS peraih Oscar Denzel Washington, Presiden Meksiko Vicente Fox, manta Ketua NBC yang kini menjadi Ketua Sony Corporation Robert C. Wright, mantan PM Kanada Pierre Trudeau dan sekitar 40 orang yang kini menjadi anggota di Konggres AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu termasuk tokoh dunia terkenal lain semisal penjelajah Benedetto de Goes, ahli lignuistik Matteo Ricci, serta pakar matematika dan astronomi Christopher Clavius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan yang diperkenalkan di antara anggota Jaringan Jesuit memang lain. Di sana ada pemimpin, tetapi dia memimpin tidak dalam model konvensional, yaitu menentukan jalan organisasi dan anggota yang lain bergantung pada komando satu orang ini. Tidak. Sebaliknya, setiap orang harus menjadi pemimpin di mana pun dia berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insting Jesuit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah insting Jesuit yang membuat kelompok ini berhasil. Kepemimpinan dan kepahlawan ada pada setiap orang. Nilai-nilai itu harus digali dan dikembangkan secara optimal dalam diri setiap orang sehingga kehadirannya dalam jaringan juga berfungsi optimal. Lowney memperlihatkan empat pilar yang mendasari kepemimpinan para Jesuit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, setiap Jesuit harus memiliki kesadaran diri sendiri (self-awareness). Dia harus mengenal kekuatan dan kelemahan dalam dirinya, memiliki nilai dan pandangan sendiri. Kedua, setiap Jesuit juga memiliki ingenuity (keunikan), yaitu kemauan melakukan inovasi dengan keyakinan dan mau menyesuaikan diri dengan perubahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, setiap Jesuit harus memiliki cinta (love). Cinta ini yang memampukan seorang Jesuit untuk berrelasi dan berinteraksi dengan pihak lain dengan pandangan dan cara yang positif. Hanya dengan itu, seseorang yang adalah pemimpin itu bisa membuka potensi yang ada pihak lain juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat adalah heroisme, yaitu kemampuan mengoptimalkan potensi diri dan potensi orang lain dengan semangat heroik dan disertai keinginan dari masing-masing dan bersama-sama untuk mencapai keinginan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat pilar itu yang membuat Jaringan Jesuit menjadi kelompok yang kuat yang memiliki kultur perusahaan tersendiri. Kultur itu di kalangan internal jaringan mereka disebut modo de proceder (cara kita melakukan banyak hal, the way we do things). Jadi tak perlu heran kalau dalam seperti ini, mereka juga berhasil secara finansial. Uang memang mengalir kepada pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, kalau kita mau berhasil membina jaringan atau mengembangkan organisasi yang baik, belajarlah dari para Jesuit. Kultur mereka sudah teruji. Mereka sudah terbukti berhasil membangun serikat dan jaringan. Caranya hanya satu, setiap orang harus menjadi pemimpin dalam jaringan tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-4725773760358093559?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/4725773760358093559/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=4725773760358093559' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/4725773760358093559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/4725773760358093559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/pemimpin-jaringan.html' title='Pemimpin Jaringan'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-7532674179117532983</id><published>2008-02-01T02:48:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T02:49:00.768-08:00</updated><title type='text'>Jembatan Emas</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat pernah mengajukan tesis yang cukup mengguncangkan. "Anda percaya bahwa Tuhan itu mahakuasa". Begitu kira-kira pertanyaan pemanasan sebelum dia keluar dengan gagasan yang sangat provokatif itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya mengajukan perkara keimanan saya, dia lebih dulu nyerocos dengan pendapatnya."Hanya ada satu yang tidak bisa dikuasai oleh Tuhan Anda yaitu kebebasan. Anda bebas untuk menerima atau menolak kuasa Tuhan dalam kehidupan Anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah Anda orang yang percaya pada eksistensi Tuhan". Saya balik bertanya. "Tidak," jawab dia. "Lalu, bagaimana Anda menjelaskan segala keterbatasan Anda". Saya kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, mengapa karena kerbatasan itu, lalu Anda harus mengakui bahwa Ada Yang Tak Terbatas". Sahabatku tak mau mengalah. "Bebas atau tak bebas, Yang Tak Terbatas itu ada begitu saja. Dia tidak butuh pengakuan. Menolak eksistensi Yang Tak Terbatas itu hanya ada dalam konsep Anda. Dalam pengalaman sehari-hari, Anda tak pernah bebas mengelakannya," saya berusaha untuk meyakinkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku itu tentu tak sepakat. Dia malah makin liar dengan pemikirannya. Mengapa manusia tidak cukup langsung menerima bahwa dia memang hidup dan tersiksa dalam kefanaan dan kerbatasannya. Bukankah pengakuan akan adanya "kehidupan dan kekuasaan yang tak terbatas, itu hanya solusi akal budi ketika menghadapi rahasia alam dan kehidupan yang tidak bisa dipahaminya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih aneh lagi, begitu dia melanjutkan, ketika Yang Tak Terbatas itu diberi nama Theos, Tuhan. Dia seolah-olah pribadi yang hidup dan memiliki otoritas dengan memberikan sejumlah perintah dan larangan. Solusi seperti ini, jelas dia, makin menyudutkan keterbatasan manusia. Manusia yang sudah dirundung keterbatasan, malah semakin diperpuruk dalam kungkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah dasar pemikiran yang menyulut orang-orang seperti Friedrich Nietsche untuk memproklamirkan kematian Tuhan. Ide-ide tentang Tuhan seolah-olah menghambat cita-cita manusia untuk menjadi makhluk unggul, manusia super dan merdeka. "Tuhan mati dan kita telah membunuh Dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan&lt;br /&gt;Pertarungan antara kebebasan manusia dan otoritas Tuhan sudah berlangsung lama. Erich Fromm dalam Escape From Freedom, melihat kisah manusia pertama di Taman Firdaus sebagai awal pembrontakan itu. Semula Adam dan Siti Hawa hidup dalam keharmonisan yang sempurna antara satu dengan yang lain dan dengan alam. Namun, tak ada pilihan, tak ada kebebasan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keharmonisan itu mulai retak ketika manusia-manusia itu mulai membrontak dengan memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Inilah permulaan dari kebebasan manusia. "Tindakan ketidakpatuhan sebagai suatu tindakan kebebasan itu adalah permulaan dari akal budi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitos penciptaan kemudian secara detil memaparkan konsekuensi-konsekuensi dari pemberontakan itu. Manusia harus bertarung satu sama lain, bertarung dengan alam. Kebebasan itu adalah kutukan. Manusia bebas dari penghambaan surgawi yang manis, namun ia tak bebas mengatur dirinya sendiri. Dia merdeka dari pengayoman Tuhan, tapi dia tak merdeka untuk merealisasikan individualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya dalam kaca mata kaum determinis kebebasan adalah khayalan semata. Holbach mengatakan para pemimpi kebebasan itu seperti lalat yang berada di atas tonggak sebuah kereta raksasa. "Seorang manusia yang membayangkan dirinya bebas adalah seekor lalat yang membayangkan ia dapat memindahkan alam semesta, padahal tanpa menyadarinya ia sendiri terbawa olehnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor bawaan dan lingkungan menyebabkan manusia tak bisa berbuat lain, kata Schopenhauer. Segala sesuatu terjadi dengan niscaya, tegas Voltaire. Tentu saja ironi kaum determinis bukan tanpa cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuhnya, kaum liberian, menuduh bahwa dengan membajak kebebasan itu manusia ingin berlari dari tanggung jawab. Kalau semua sudah ditentukan, di manakah kehendak bebas manusia dan tanggung jawab? Tak ada ruang yang cukup bagi manusia untuk berbicara soal moral dan etika. Padahal bagi hukum moral, kebebasan dan akal budi adalah syaratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari kemandekan&lt;br /&gt;Tapi demikianlah pemikiran manusia, selalu ada jalan untuk keluar dari kemandekan berpikir. Benar kebebasan itu terbatas. Tapi, manusia bukan batu, kayu, atau tikus yang serba ditentukan. Benar, manusia selalu dihadapkan dengan segala keterbatasan dan pembatasan, belenggu dan pembelengguan. Tapi, dengan akalnya dia bisa menimbang-nimbang, memilih dan bertanggung jawab atas pilihan untuk berusaha keluar dari keterbelengguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seolah-olah ditakdirkan bukan hanya untuk mendambakan kebebasan itu, tapi memperjuangkannya. Termasuk ketika penjajahan membelenggu bangsa ini. Manusia-manusia Indonesia berjuang untuk merdeka. Tapi seperti tak terhindarkan pula, ketika merdeka, menurut alur pemikiran para penganjur "kontrak sosial", kita menyerahkan sebagian dari kebebasan kita kepada institusi negara ini untuk mengatur dan mengurusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu setelah 60 tahun, semakin bebaskah kita? Bagaimana dengan kemiskinan, keterbelakangan dan manajemen negara yang kian membelenggu dan mencemaskan warganya" Masihkah kita harus berteriak merdeka"&lt;br /&gt; Jangan-jangan benar bahwa kemerdekaan itu hanya khayalan. Atau memang kita dikutuk untuk terbelenggu, kemudian berjuang, terbelenggu lagi dan berjuang lagi" Atau mungkin benar kata Pak Karno, kemerdekaan 60 tahun lalu adalah jembatan emas. Tapi seberapa panjang lagi jembatan emas itu akan dibangun" Jangan-jangan kita pun terkutuk untuk terus membangun jembatan emas itu. Tak pernah selesai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-7532674179117532983?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/7532674179117532983/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=7532674179117532983' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7532674179117532983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7532674179117532983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/jembatan-emas.html' title='Jembatan Emas'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-4868336117609429304</id><published>2008-02-01T02:40:00.002-08:00</published><updated>2008-02-01T02:43:36.263-08:00</updated><title type='text'>Membaca Tren Harga Minyak Dunia (3)</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di Bisnis Indonesia edisi 19 Mei 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tulisan sebelumnya diceritakan tentang sikap OPEC yang sulit mengambil keputusan penambahan kapasitas produksi hingga 500.000 barel per hari. Sikap OPEC bahkan berubah-ubah. Perubahan itu terutama setelah 17 Maret 2005 ketika harga minyak menembus posisi US$57 per barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara negara-negara anggota OPEC memang tidak sepakat mengenai hal itu dan menundanya hingga Mei. Tetapi sampai saat ini terlihat tanda-tanda bahwa negara-negara itu akan mencapai kebulatan pendapat soal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Menteri Perminyakan Aljazair Chakib Khelil, misalnya, pada akhir Maret menegaskan OPEC tidak perlu menaikkan produksi sebanyak 500.000 barel menjadi 27,5 juta barel per hari. Alasannya, pasokminyak dunia diniliai sudah mencukupi. Padahal, dua minggu sebelumnya, dalam pertemuannya yang ke-135 di Isfahan, Iran, organisasi itu sudah sepakat meningkatkan kuota guna mengerem kenaikan harga minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ganti membuat aksi yang jelas dan tegas, OPEC malah lebih sibuk melempar kesalahan itu pada masalah geolopolitik dan spekulasi yang menyebabkan lonjakan dan fluktuasi harga minyak. Padahal, banyak pihak sudah sampai pada konklusi bahwa pasok minyak menjadi sebab utama dan terutama karena tidak mampu melayani permintaan negara-negara konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi Menteri Perminyakan Arab sebenarnya pernah melontarkan niat untuk mendongkrak produksi minyak pada semester kedua 2005 guna mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut. Tetapi itu bukan kebijakan institusional OPEC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan keragaman sikap OPEC, banyak pihak malah balik menuduh bahwa organisasi itu memang tidak transparan dengan kondisi yang sebenarnya terjadi. Ketidaktransparan itu seakan melengkapi kenyataan bahwa data-data mengenai persediaan, suplai, dan permintaan minyak dunia memang serba tidak pasti. Jadi, tak usah mengherankan bila antara prediksi yang satu bisa bertolak belakang dengan prediksi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun, pendapat negara-nega-ra OPEC soal faktor di luar suplai tidak sepenuhnya salah. Faktor politik yang terkait dengan negara-negara penghasil minyak itu merupakan salah satu faktor yang menyebabkan fluktuasi minyak dunia. Ini terutama situasi politik yang menimpa dua negara anggota OPEC, yaitu Irak dan Venezuela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Invasi AS ke Irak diikuti dengan penghancuran sejumlah ladang minyak di wilayah selatan Irak menyebabkan produksi minyak di negara itu menjadi tidak pasti. Bahkan upaya memproduksi minyak dengan jumlah yang sama seperti sebelum Perang merupakan hal yang sangat sulit dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga yang terjadi dengan Venezuela. Carut-marut politik berupa aksi demontrasi dan mogok di negera itu sejak Desember 2002 turut mempengaruhi kemampuan Venezuela mensuplai minyak dunia. Peristiwa tersebut tidak hanya menyusutkan pendapat bruto negera itu tetapi juga produksi minyak nasionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut EIA, pada 2003 produksi nasional mencapai 2,6 juta barel per hari, atau turun 10% dari total produksi sebelum krisis politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan situasi yang menimpa Nigeria yang sampai sekarang masih terlibat konflik antarsuku dan kelompok. Ketidakstabilan politik di negara itu tentu turut mempengaruhi persediaan suplai minyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal spekulasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan suplai, dinamika politik, dan ketidaktransparanan OPEC dan negara-negara produsen minyak lainnya merupakan ladang yang subur bagi para spekulan dalam mempermainkan harga minyak dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan tahun lalu, Sekjen OPEC Maizar Rahman memperkirakan spekulasi harga minyak turut menaikkan harga sekitar US$10-US$15 per barel. Perkiraan yang hampir serupa juga pernah dilansir oleh Financial Times edisi 21 Agustus 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang yang sangat mencemaskan soal spekulasi harga minyak adalah Presiden The Fed, Alan Greenspan. Dalam kesaksiannya di depan Komite Bujet di Kongres AS, dia menyebutkan secara terang-terangan bahwa spekulasi merupakan salah satu sebab yang mendongkrak harga minyak dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jelas Greenspan, spekulasi yang berkaitan dengan penambahan permintaan minyak yang langsung berurusan dengan potensi penemuan ladang-ladang baru. Kedua adalah investor dan spekulan yang mengambil untung dari posisi harga futures minyak mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk spekulasi yang pertama pernah dibantah oleh EIA. Perhatikan laporan EIA September 2004 bertajuk Short-Term Energy Outlook. Laporan itu memperlihatkan perkembangan harga saham di AS dan negara-negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, kendati diumumkan bahwa penemuan dan proyek-proyek baru di negara-negara maju mengalami penurunan sehingga tidak bisa mengimbangi kenaikan permintaan, ternyata harga saham justru menurun dari September 2004 hingga Maret 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, menurut lembaga itu, yang terjadi mestinya sebaliknya. Kalau saja pernyataan Greenspan soal spekulasi jenis pertama benar, maka mestinya tidak demikian yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, EIA tetap berkeyakinan bahwa spekulasi tidak terjadi pada tataran yang pertama ini. Artinya, demikian lembaga penelitian itu, spekulasi lebih terjadi pada transaksi derivatif yang bernama futures harga minyak mintah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wall Street Journal memperlihatkan terjadi kenaikan volume perdagangan yang cukup signifikan di pasar futures dalam periode terakhir ini. Sebuah indikasi bahwa spekulasi di harga minyak itu benar-benar memberi kontribusi pada lonjakan harga komoditas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spekulasi pada transaksi derivatif ini turut diperparah oleh fluktuasi mata uang global, terutama yang berkaitan dengan tiga mata uang kuat dunia, yaitu dolar AS, euro, dan yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan dari sejumlah negara agar transaksi minyak juga di-transaksikan dalam euro dan yuan, selain dolar AS, seakan menjadi spekulasi jenis lain yang turut menamaikan permainan harga minyak di bursa minyak internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian yang terjadi, har-ga minyak dunia di masa depan semakin sukar dikendalikan dan diprediksikan, termasuk oleh produsen yang sudah kesulitan meningkatkan kapasitas produksinya. Karena itu, mulailah membiasakan diri dengan harga minyak yang cenderung berfluktuasi ke tingkat yang lebih tinggi. Kalau itu adalah hal yang luar biasa, maka sekurang-kurangnya membiasakan diri untuk berhemat energi dan mencari solusi dengan energi alternatif.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-4868336117609429304?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/4868336117609429304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=4868336117609429304' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/4868336117609429304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/4868336117609429304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/membaca-tren-harga-minyak-dunia-3.html' title='Membaca Tren Harga Minyak Dunia (3)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-832978462782639487</id><published>2008-02-01T02:36:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T02:37:56.461-08:00</updated><title type='text'>Membaca Tren Harga Minyak Dunia (2)</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;(Dimuat di Bisnis Indonesia pada edisi 18 Mei 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, permintaan minyak dunia secara berturut-turut Amerika Serikat (25%), Negara Eropa yang tergabung dalam OECD (19%), China (8%), Jepang (7%), India (3%), dan sisanya dikomsumsi oleh negara-negara lain sebesar 34%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut perhitungan Energy Information Administration (EIA), khusus untuk permintaan China pada 2003, menyumbang hampir 40% dari pertumbuhan permintaan minyak dunia selama empat tahun terakhir. Jumlah yang dikonsumsi tahun itu mencapai 5,6 juta barel per hari. Pada 2005, jumlah konsumsi di negara tersebut bisa menembus angka 7,4 juta-7,7 juta barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara India yang pada 1995 masih mengkonsumsi 1,6 juta barel, meningkat menjadi 2,2 juta barel pada 2003. Dan sejak 2000 negara itu memenuhi kebutuhannya dengan mengimpor sebesar 27% dari kebutuhan minyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depan, pertumbuhan permintaan minyak dunia diprediksi terus meningkat. Mengutip IEA, diperkirakan permintaan minyak dunia meningkat 60% antara 2002 hingga 2030.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan permintaan dari dua negara yang pertumbuhan ekonominya menakjubkan, yaitu India dan China, tentu memberikan kontribusi paling signifikan. Misalnya, permintaan minyak China yang pada 2002 sebesar 5,2 juta barel per hari, akan menjadi 13,3 juta barel pada 2030. Sedangkan India yang pada 2002 mencatat permintaan 2,5 juta barel akan meningkat menjadi 5,6 juta barel per hari tahun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, menurut perkiraan IMF, permintaan minyak China mencapai 19 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan transpotasi yang memang meningkat tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pada 2002 jumlah kendaraan bermotor di negara itu hanya 21 juta unit, maka pada 2030 meningkat menjadi 390 juta unit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah suplai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya, terhadap permintaan yang terus meningkat itu tidak bisa diimbangi dengan pasok yang cukup. Selain karena produksi perusahaan minyak yang sudah di ambang batas, produksi baru-melalui penemuan ladang-ladang baru-juga jarang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hunter Herron, Presiden Petrolium Equty dalam artikelnya The Looming Crisis In Worldwide Oil Supplies, mengatakan 90% dari produksi minyak saat ini berasal dari sumur yang sudah berusia 20 tahun, dan 70% berasal dari sumur yang usinya sudah mencapai 30 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kalkulasi dia, pada 1998 produksi minyak mencapai 807 miliar barel dari kapasitas maksimal 1,8 triliun barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jumlah itu yang sedang diproduksi saat ini adalah 830 miliar barel dan yang masih bisa diproduksi lagi sebesar 995 barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi seperti itu, apabila konsumsi per tahun sekarang rata-rata mencapai 25 barel, maka dari sisa yang masih diproduksi sebesar 995 miliar barel itu hanya akan mensuplai hingga 40 tahun. Itu diasumsikan kalau rata-rata konsumsi berlaku konstan. Padahal, kenyataannya konsumsi minyak dunia makin hari makin tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan analisis ExxonMobil, dalam 10 tahun mendatang permintaan minyak meningkat sekitar 2% setahun, sementara produksi dari ladang-ladang minyak terus menurun sekitar 3%-5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data dari BP Statistical Review of World Energy memperlihatkan 18 negara produsen minyak besar-dengan kontribusi hampir 29% dari total produksi dunia-saat ini mengalamai penurunan kapasitas produksi dan secara rata-rata penurunan itu mencapai satu juta barel pada 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentu belum termasuk kondisi beberapa negara lain yang baru mengalami penurunan produksi dalam beberapa tahun mendatang. Terutama Meksiko dan China. Perusahaan minyak nasional Meksiko, Pemex, misalnya, sudah mengumumkan bahwa produksi dari ladang minyak Cantarell, salah satu kilang minyak terbesar dunia, akan menurun hingga 16% mulai 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusia pun berjanji tidak akan ada penambahan produksi pada 2005. Selain hasil penjualan minyak digunakan untuk menutupi utangnya, yang mencapai US$114 miliar pada posisi Desember 2004, sebagian dana itu juga dipakai untuk membiayai kebutuhan dalam negeri. Hal yang juga dilakukan oleh Arab Saudi dan negara-negara lain yang kertergantungan pada minyak sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan juga dengan data dari Asosiasi Perminyakan Indonesia (API) yang mengatakan bahwa saat ini sekitar 70% sumur minyak di Indonesia berusia tua. Sumur-sumur ini menghasilkan 88% dari total produksi minyak di negara ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kebutuhan untuk investasi baru adalah tuntutan yang mendesak. Tapi persoalannya, biaya yang dikeluarkan juga sangat besar. Untuk menjaga keseimbangan baru antara permintaan dan penawaran dibutuhkan investasi sebesar US$ 1.000 miliar dengan dukungan sekitar 350.000 teknisi dan tenaga ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar dari hasil riset Oil Depletion Analysis Centre (ODAC) yang bermarkas di London, dari 2004 hingga 2010 terdapat sedikitnya 68 mega proyek baru yang akan menambah suplai sebesar 12,5 juta barel per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jumlah proyek itu, 56 akan berproduksi pada tiga tahun mendatang, 7 mulai berproduksi pada 2008, tiga lagi pada 2009, dan 2 proyeknya baru berproduksi tahun 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chris Skrebowski, seorang ahli dari ODAC, mengatakan lebih dari setengah hasil produksi itu akan menggantikan penurunan produksi dari sumur minyak yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, apabila pertumbuhan permintaan sebesar 2% setahun maka produksi di atas tidak akan mencukupi total kebutuhan pada 2010 yang mencapai lebih dari 2 juta barel per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan penambahan permintaan yang cukup rendah saja, hasil studi kami memperlihatkan akan terjadi ketimpangan antara permintaan dan suplai setelah 2007," tegas Skrebowski yang juga editor pada majalah Petrolium Review.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tetap yakin penurunan kapasitas produksi pada sumur-sumur lama merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada keseimbangan antara suplai dan permintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukulan bagi OPEC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketuaan sebagian besar sumur minyak dunia dan ketidakmampuan menemukan ladang baru merupakan sebuah pukulan bagi negara-negara pengekspor minyak, terutama mereka yang tergabung dalam OPEC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kartel para produsen minyak, OPEC disinyalir tidak memiliki lagi kekuatan yang bisa mempengaruhi harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi negara-negara itu dinilai kurang konsisten dalam mengambil sikap terhadap harga minyak yang terus melambung, melampaui target dalam patokan OPEC, sekitar US$22-US$28 per barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lamban dan kaburnya sikap lembaga ini sampai-sampai mengundang tuduhan kalau OPEC memang berkepentingan agar harga minyak tetap tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini OPEC hanya menuduh kalau harga itu selalu dimainkan oleh para spekulan. Apakah memang demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo Drollas dari Centre for Global Energy Studies mengatakan Arab Saudi sejak 2004 menghendaki agar harga minyak tidak lebih rendah dari US$30 per barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara itu, menurut dia, membutuhkan banyak dana untuk pembangunan dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi hasil penjualan minyak tidak segemilang dulu. Benar bahwa harga minyak memang tinggi tetapi melemahnya nilai dolar menyebabkan penghasilan itu tidak berarti apa-apa bagi negara tersebut. Ini karena harga transaksi semuanya dalam dolar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya tidak terlalu mengejutkan bila OPEC hingga saat ini tidak bisa membuat keputusan apakah perlu menambah kapasitas produksi hingga 500.000 barel per hari. Bahkan terkesan pendapat soal itu bukan hanya berbeda dari negara yang satu dengan dari yang lain, tetapi juga berubah-ubah dari satu waktu ke waktu yang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-832978462782639487?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/832978462782639487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=832978462782639487' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/832978462782639487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/832978462782639487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/membaca-tren-harga-minyak-dunia-2.html' title='Membaca Tren Harga Minyak Dunia (2)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-7958040964905772619</id><published>2008-02-01T02:06:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T02:07:51.263-08:00</updated><title type='text'>Memprediksi Tren Harga Minyak Dunia (1)</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dimuat di Bisnis Indonesia pada  17 Mei 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nothing happened," kata-kata itu meluncur dari mulut Carl Larry, analis Barclays Capital, awal bulan ini ketika menyaksikan harga minyak mentah dunia kembali menyelinap ke posisi di atas US$50 per barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pekan setelah pernyataan itu, harga minyak turun bahkan menyentuh ke posisi yang lebih rendah lagi, yaitu US$48, 29 per barel. Itu berarti terjadi penurunan sebesar 16% dari rekor tertinggi yang dicapai pada 4 April di New york Mercantile Exchange, yaitu US$58,28 per barel. Hingga 16 Mei, harga minyak berada di bawah US$48 per barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi US$48 per barel adalah harga terendah sejak 18 Februari ketika harga emas hitam itu seakan tak mau beranjak dari angka psikologis di atas US$50. Tapi, ke mana harga minyak selanjutnya akan bergerak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bloomberg pada akhir pekan kemarin menurunkan hasil pengumpulan opini dari 59 analis dan ahli strategi perminyakan dunia. Hasilnya cukup menggembirakan. Sebanyak 36 orang, atau 61% berpendapat kalau harga minyak akan terus menurun, sekurang-kurangnya untuk satu atau dua pekan mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larry kembali menguatkan keyakinannya bahwa apa yang terjadi akhir bulan lalu itu hanya sebuah spekulasi. Fondasi realitasnya masih sama, yaitu permintaan minyak dunia yang kian menguat, sehingga mengangkat harga itu jauh di atas harga keranjang yang ditetapkan OPEC pada awal Januari, yaitu US$22-US$28 per barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai Maret saja, organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC), masih berusaha tenang dan meyakinkan dunia bahwa dia masih berkuasa mengendalikan harga minyak dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang analis lain dari Goldman Sachs, Arjun N. Murti, pada akhir Maret segera memecahkan ketenangan OPEC. Dia melontarkan prediksi yang menggegerkan bahwa harga minyak mentah akan terus menguat dan segera menyentuh US$105 per barel pada 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, angka ini adalah hasil revisi dari perkiraan yang pernah dibuat sebelumnya bahwa harga minyak mentah akan bergerak di level US$50-US$80 per barel. Mungkin karena angka itu masih terlau rendah sehingga banyak orang seakan tak mempedulikan lontaran per-kiraan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murti sebenarnya menda-sarkan perkiraannya pada ketimpangan antara permintaan dan penawaran. Permintaan minyak yang lebih tinggi dari persediaan adalah penjelasan di balik kenaikan harga minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenaikan permintaan minyak dan pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi, khususnya di Amerika Serikat dan China, benar-benar menghentakkan kita," tulis laporan Goldman Sachs itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tentu tidak semua orang sependapat dengan Arjun Murti. Banyak yang menuduh Murti terlalu berani melansir laporan itu dan terkesan ingin berspekulasi dan memainkan harga saham sektor energi dan minyak di Wall Street.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja Tim Evans, analis energi dari Thomson Financial. Dia keberatan dengan prediksi atas lonjakan harga minyak sefantastis itu. Hal itu, menurut Evans, hanya mungkin kalau negara-negara di dunia, seperti AS, tidak akan berbuat sesuatu. Atau kecuali Arab Saudi menghancurkan semua cadangan minyak mentahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evans malah sebaliknya memperkirakan kalau harga minyak bakal turun hingga US$30 per barel. Harapan dia merujuk pada laporan Departemen Energi AS bahwa negara itu akan memproduksi minyak mentah hingga 314,7 juta barel tahun ini, meningkat 8%. Bukankah itu sebagian dari cara untuk memenuhi permintaan minyak dunia? Begitulah keyakinan Evans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun bantahan atas Murti, yang pasti harga minyak dunia saat ini sudah cukup mengkhawatirkan. Bahkan sudah banyak pihak yang mengingatkan bahwa era minyak murah di dunia memang sudah berakhir. Coba simak pernyataan Saghuran Rajan dari departemen riset IMF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati tidak sedrastis Murti, dia juga punya perkiraan sendiri. Menurut Saghuran, harga minyak akan naik secara bertahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2030, harga minyak mentah berada di kisaran US$67-US$96 per barel. Karena itu Saghuran mengingatkan agar dunia harus memulai membiasakan diri dengan harga minyak yang semakin mahal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah harga minyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar kalau lonjakan harga minyak yang terjadi akhir-akhir ini bukanlah satu-satu yang pernah dalam sejarah harga energi itu. Pada peristiwa Yon Kippur-Mesir dan Suriah menyerang Israel pada 5 Oktober 1973-harga per barel minyak mendadak naik dari US$3 pada 1972 menjadi US$12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1974 hingga 1978 harga per barel minyak mentah cukup stabil dan bergerak di kisaran US$12,21 hingga US$13,55 [setelah disesuaikan dengan harga dolar tahun 2000]. Namun stabilitas harga itu tidak berlangsung lama. Karena kemudian muncul krisis baru pada 1979 dan 1980.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadinya Revolusi Iran, suplai minyak dari negara itu menurun sekitar 2 juta-2,5 juta per barel per hari antara November 1978 hingga Juni 1979. Sementara pada 1980, ketika berkecamuk perang Iran-Irak, produksi minyak Irak turun 2,7 juta per barel dan produksi minyak Iran terkikis 600.000 barel per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kombinasi dua peristiwa penting itu kembali menggerek harga ke tingkat yang cukup tinggi. Dari US$14 per barel pada 1978 melonjak hingga US$35 per barel pada periode 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi setelah itu harga kembali stabil. Hal ini membenarkan keyakinan bahwa efek politik atas minyak berlaku untuk jangka pendek. Untuk sebuah alasan ekonomi-yaitu kelebihan permintaan atas suplai, bisa berlangsung lama. Dan itulah yang terjadi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai yang satu ini-juga kalau kita kembali merunut pada sejarah-mestinya tidak perlu membuat para pelaku dan pengamat perminyakan terkaget-kaget. Jauh-jauh hari sebelum Murti, Herber King pernah membuat perkiraan serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisannya pada 1952, Herber mengatakan akan terjadi krisis minyak dunia lantaran krisis pasok. Krisis itu, lanjutnya, diperkirakan terjadi pada tahun 2000-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, menarik disimak angka-angka yang menjelaskan hubungan permintaan dan penawaran minyak dunia. Hingga 1995 permintaan minyak dunia bergerak di jenjang yang sangat tipis, yaitu pada 66 juta barel-68 juta barel hari. Setelah itu, permintaan minyak dunia menembus angka 70 juta dan melangkah hingga 82,4 juta barel per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemicu permintaan paling tinggi adalah pertumbuhan ekonomi di Asia, terutama China dan India. Permintaan China menyentuh angka 7.7 juta barel per hari dan me-nempatkan negara Tirai Bambu itu sebagai pengguna minyak nomor dua terbesar setelah AS.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-7958040964905772619?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/7958040964905772619/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=7958040964905772619' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7958040964905772619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7958040964905772619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/memprediksi-tren-harga-minyak-dunia-1.html' title='Memprediksi Tren Harga Minyak Dunia (1)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-2210448068758441708</id><published>2008-02-01T02:03:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T02:04:27.971-08:00</updated><title type='text'>Masyarakat tanpa Sekolah</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deschooling society. Masyarakat tanpa sekolah. Itulah pemikiran yang dilontarkan Ivan Illich. Ekstrim memang. Maklum, itu adalah protes seorang tokoh yang menyuarakan pembebasan dari Amerika Latin bersama Gustavo Guttierez, Leonardo Boff, Juan Luiz Segundo dan masih banyak yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Guttierez dan kawan-kawan sibuk mengkutak-katik pemahaman teologis terhadap realitas kemiskinan di Amerika Selatan, maka Illich lebih menyoroti soal pendidikan. Tapi, mereka sama dalam satu hal, yaitu memakai pisau analisa Karl Marx dalam memahami realitas sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sudah bisa ditebak arah perjuangannya, yaitu menentang para pemilik modal dan bentuk-bentuk penindasan. Termasuk gereja yang sering berselingkuh dengan pemilik modal menjadi sasaran mereka. Itulah sebabnya bersama rekan-rekanya seperti Boff dan Guttierez yang juga pastor, Illich harus terus berkonfrontasi dengan pemimpin tertinggi mereka di Vatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu Illich tak ambil pusing. Dia tetap menyulut pemikiran bahwa sekolah sudah diperalat oleh para penindas. Sekolah sudah dikorupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, baik murid maupun guru di Amerika Latin adalah orang-orang frustasi. Frustasi dengan biaya sekolah yang tinggi. Mereka tertindas. Karena itu harus segera dibebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Illich yakin penindasan itulah yang akan dilanggengkan melalui insitusi yang bernama sekolah. Karena terbukti sekolah tak mengubah apa-apa. Kalau berubah, itu hanya pola hidup konsumtif yang ujung-ujungnya melanggengkan kemiskinan orang Amerika Latin. Orang kaya tetap makin kaya, orang miskin menjadi semakin miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah tak memberikan pemikiran alternatif. Yang ada hanya tumpukan informasi. Tak ada kritik. Dengan pemikirannya yang digodok di CIDOC (Centre for Intercultural Documentation) yang didirikannya di Puerto Rico tahun 1960-an, dia ingin mencair kebekuan itu dan membebaskan orang-orang miskin dari belenggu sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggagas 'to de-school' (tanpa bersekolah), dia ingin menghancurkan kekuasaan orang yang mewajibkan orang lain untuk melakukan 'pertemuan' di sekolah. Siapa yang mewajibkan mereka? Atas kuasa dan kepentingan apa mereka menyelenggarakan sekolah? Informasi seperti apa yang berlalu lintas di lembaga tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritiknya terhadap sekolah menyangkut beberapa hal berikut. Pertama, adalah kritik terhadap sekolah sebagai proses institusionalisasi. Proses ini sering menghancurkan kepercayaan diri dan kapasitas diri individu dalam memecahkan persoalan. Proses ini seperti parasit dan kanker yang membunuh kreativitas anggota masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adalah kritik terhadap para ahli dan keahlian yang dihasilkan lembaga pendidikan formal ini. Menurut Illich, mereka itu lebih banyak memberikan kerusakan dari pada manfaat bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menganalisa situasi politik dan sekaligus mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Mereka mengontrol produksi informasi dan menentukan mana yang valid dan mana yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, para profesional dan institusi yang terlibat dalam institusi sekolah menjadikan proses belajar sebagai komoditas. Untuk mengambil keuntungan, mereka memonopoli produksi informasi, mereka membatasi distribusinya dan mereka menentukan harganya. Tak mengherankan kalau biaya sekolah di Amerika Latin saat itu sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah yang demikian, harus segera diumumkan kematiannya. Tak perlu ada sekolah lagi. Karena yang penting dalam pendidikan menurut dia adalah proses penyadaran diri. Konsientisasi. Anak didik harus dibimbing untuk menyadari dengan kondisi hidupnya yang tertindas. Dan itu tak perlu harus berlangsung di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses konsientisasi bisa terjadi di mana-mana. Tentu tidak berhenti di situ. Yang terpenting adalah kemampuan untuk mengubah kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani, nelayan dan buruh pertama-tama harus memahami kondisi mereka masing-masing. Mereka yang lebih mengerti kondisinya. Tak harus diajari orang lain. Mereka harus bisa merumuskan kebutuhan dan langkah-langkah yang perlu untuk perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, menurut dia, adalah motivasi bagi seseorang untuk mencari informasi yang penting bagi dirinya untuk perbaikan hidupnya. Jadi belajar seumur hidup (long life learning) sangat dianjurkannya. Masyarakat itu adalah sekolah tempat kita belajar tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembrontakan Illich berujung pada sebuah solusi. Dari proklamasi 'masyarakat tanpa sekolah', Illich sampai pada keyakinan bahwa 'masyarakat adalah sekolah'. Sampai di persimpangan ini, Illich yang sosialis bertemu dengan Robert T. Kiyosaki, seorang ahli keuangan Amerika Serikat yang tentu sangat kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu lain Illich, lain Kiyosaki. Kalau yang pertama mencetuskan 'kebebasan dari' penindasan ekonomi, maka yang kedua berbicara soal 'kebebasan untuk' mencapai sebuah stabilitas ekonomi. Sama-sama bermimpi tentang kehidupan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, keduanya pun sepakat bahwa mimpi itu bisa diraih tanpa harus dibelenggu pada persoalan institusi yang namanya sekolah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-2210448068758441708?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/2210448068758441708/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=2210448068758441708' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2210448068758441708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2210448068758441708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/masyarakat-tanpa-sekolah.html' title='Masyarakat tanpa Sekolah'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-3039282739750445363</id><published>2008-02-01T02:01:00.001-08:00</published><updated>2008-02-01T02:02:28.381-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Anda Harus Punya Rumah Sendiri?</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Home sweet home. Setiap orang merindukan pengalaman hidup yang indah dalam sebuah rumah. Keindahan yang hanya mungkin tercapai apabila kasih sayang menjiwai kehidupan para penghuninya. Kualitas hidup seperti itu merupakan bagian dari 'cara berada' manusia (to be). Tak ada sangkut pautnya dengan cara seseorang memiliki rumah itu (to have). Jadi, baik di rumah sewaan maupun di rumah 'milik sendiri', kebahagiaan itu bisa saja diraih asal diperjuangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar bahwa tinggal di rumah yang layak adalah idaman banyak orang. Tapi, itu tidak berarti rumah itu adalah milik sendiri yang harus segera Anda punyai pada saat Anda memasuki kehidupan berumah tangga. Karena itu pertanyaan di atas tetap relevan untuk diajukan. Haruskah Anda memiliki rumah sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak. Mungkin saja Anda terganggu dengan anggapan yang sudah terpatri di tengah masyarakat bahwa rumah itu simbol keberhasilan dan gaya hidup orang-orang berduit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda punya rumah sendiri berarti Anda berhasil dalam pekerjaan dan memiliki banyak uang. Sebaliknya menyewa rumah (baca: kontrak) adalah pertanda bahwa Anda belum berhasil secara finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya hanya segelintir saja yang karena banyak uang membeli rumah tanpa harus bersusah-susah dulu. Biasanya mereka membeli secara tunai. Jumlahnya pun bisa lebih dari satu. Apalagi berdasarkan hasil riset Nielsen Media Research belum lama ini properti adalah pilihan investasi paling pertama orang berduit di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, mereka yang memiliki uang pas-pasan biasanya membeli rumah dengan cara meminjam uang dari bank yang lebihselama ini dikenal dengan nama KPR (kredit pemilikan rumah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaratnya pun tentu tidak mudah. Pertama-tama Anda harus meyakinkan pihak bank bahwa Anda memiliki penghasilan tetap sehingga dapat mencicil utang itu secara rutin setiap bulan untuk jangka waktu yang agak panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu bank berkepentingan untuk mengetahui slip gaji atau pengahasilan Anda setiap bulan. Pihak bank harus meyakini dulu bahwa cicilan KPR Anda bersama cicilan yang lain seperti untuk kartu kredit, mobil dan kewajiban rumah tangga lainnya tak boleh lebih dari 30 persen dari total penghasilan per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, masih ada sisa sekitar 70 persen dari penghasilan itu yang bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Kalau penghasilan Anda sebesar Rp6 juta per bulan, maka cicilan utang Anda per bulan, yaitu KPR bersama cicilan kredit yang lain hanya boleh Rp2 juta. Artinya, kalau Anda tidak punya utang lain maka maksimal jumlah cicilan KPR adalah Rp2 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiplin perencanaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu gambaran pengelolaan uang secara garis besar saja. Karena disiplin perencanaan keuangan punya pertimbangan yang lebih detil lagi. Coba simak apa yang disampaikan Doni Istyanto Hari Mahdi, penasihat keuangan dari Global Financial Services.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah itu, jelas Doni, seperti mobil dan pendidikan anak adalah kewajiban (liabilities) keluarga yang dalam skala prioritas pengeluaran berada pada urutan ketiga. Jumlah yang dianjurkan pun hanya 20 persen dari pendapatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skala prioritas pertama adalah pengeluaran yang berkaitan dengan manajenen risiko, yaitu asuransi yang menjami hilangnya atau berkurangnya pendapatan karena kematian. Jumlahnya adalah 10 persen dari total pendapatan keluarga. Termasuk di sini adalah tabungan untuk dana darurat (emergeny fund) yang dianjurkan sebesar enam kali penghasilan sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah asuransi, pengeluaran pada urutan kedua adalah untuk persiapan pensiun. Besarnya adalah 25 sampai 30 persen dari pendapatan. Terakhir sekali, kalau pun masih ada sisa uang, baru digunakan untuk gaya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau urutan pengeluarannya seperti itu, maka Anda harus mempertimbangkan kembali niat untuk membeli rumah melalui KPR. Sudah cukupkah biaya hidup Anda sehari-hari setelah pengeluaran untuk asuransi dan dana pensiun? Kalau belum, kesimpulannya Anda tidak harus memiliki rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, mengambil KPR menguras uang yang tidak sedikit. Anda harus menyiapkan uang tunai untuk itu. Kalau Anda membeli rumah seharga Rp60 juta, maka uang muka yang harus disetor secara tunai ke bank adalah 30 persen, yaitu Rp20 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain uang muka, Anda juga harus menyiapkan biaya administrasi untuk KPR seperti biaya Akta Pengakuan Utang dan Perjanjian Kredit, biaya Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT), biaya Akta Jual Beli, biaya balik nama sertifikat, biaya jasa notaris PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) dan Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, selain biaya tersebut, jelas Mieke Rini, perencana keuangan dari Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk &amp;amp; Rekan, seseroang harus juga menyiapkan biaya tak terduga untuk kebutuhan rumah sejumlah tiga sampai enam kali dari pengeluaran rumah tanggal dalam sebulan. "Ini untuk menyiapkan biaya tak terduga seperti biaya pindahan rumah, renovasi, membeli gorden baru, perbaiki ledeng dan seterusnya," ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, jelas dia, jangan terburu-buru membeli rumah sebelum mempersiapkan keuangan secara matang. Jangan sampai untuk uang muka KPR saja Anda sudah mengambil dari dana darurat (emergency fund) keluaga. Padahal dana darurat itu tetap penting kalau ada kematian atau ada anggota keluarga yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewa rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda belum siap memiliki rumah dengan KPR, maka Anda tak perlu ragu-ragu untuk memiliki alternatif yang lain, yaitu menyewa rumah. Ingat menyewa rumah itu selain biayanya relatif murah juga memiliki fleksibilitas untuk berpindah-pindah tempat tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memilih alternatif ini tinggal Anda pintar-pintar memilih lokasi, memperhitungkan harga sewa dan cara pembayaran, meneliti fasilitas rumah dan kondisi bangunan serta memperhatikan perjanjian kontrak sewa rumah secara seksama. Jadi jangan memaksa diri untuk punya rumah. Anda pun bisa hidup bahagia di rumah sewaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-3039282739750445363?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/3039282739750445363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=3039282739750445363' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3039282739750445363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3039282739750445363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/mengapa-anda-harus-punya-rumah-sendiri.html' title='Mengapa Anda Harus Punya Rumah Sendiri?'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-6215498928817798244</id><published>2008-02-01T01:50:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T01:51:27.370-08:00</updated><title type='text'>Ketika Mereka Keluar dari Rambu-Rambu Investasi</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Soal kelas menengah Jakarta yang royal dalam membeli mobil, Muhamad Ichsan dari PrimePlanner, punya komentar sendiri. "Itu kebutuhan yang sesuai dengan gaya hidup mereka," ujar konsultan yang sudah malang melintang di bidang perencanaan keuangan keluarga itu.&lt;br /&gt;Sebagai gaya hidup, jelas Ichsan, selain urusan kenikmatan personal, juga memiliki aspek demonstratif, memamerkan kepada orang lain. Mobil itu, menurut dia, karena bisa dibawa kemana-mana, merupakan alat paling pas untuk diperlihatkan kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja penuturan pengacara kondang Ruhut Sitompul dan artis penyanyi Krisdayanti kepada sebuah majalah ibu kota awal tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, Ruhut menghabiskan Rp 8 miliar uangnnya untuk memiliki sebuah Ferrari, sementara penyanyi yang akrab disapa KD itu harus menyisihkan Rp 650 juta dari koceknya agar bisa menikmati Mercedes New Eyes E260.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu keduanya bisa saja berkelit bahwa ini bukan hanya urusan gaya hidup, tetapi juga tuntutan pekerjaan. Sebagai pengacara, Ruhut harus tampil prima saat harus bertemu dengan klien-kliennya. Begitu juga profesi KD sebagai artis yang mau tidak mau membutuhkan mobil mewah yang bisa mendongkrak kepercayaan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, memperhatikan porsi 52% dari pendapatan yang dirancang kelas menengah untuk masa depan mereka, Ichsan lebih lanjut menegaskan bahwa itu merupakan hal yang positif. "Saya malah surprised dengan hasil riset tersebut. Itu hal yang bagus sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya, belum lama ini dia sempat dibuat terkejut oleh hasil riset yang juga dilakukan oleh Nielsen Media Research yang menempatkan kalangan atas Jakarta sebagai kelas yang cenderung sangat konsumtif dibandingkan kelompok yang sama dari kota-kota lain di Asia pada tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hasil Asian Target Market Survey itu, dari sisi pendapatan kelas atas di tujuh ibu kota di Asia, yaitu Jakarta, Hong Kong, Taipei, Manila, Bangkok , Singapura dan Kualalumpur, pendapatan orang kaya di Jakarta berada di posisi paling rendah, yaitu US$7.000 per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara yang menempati peringkat pertama dari sisi pendapatan adalah orang kaya yang berdomisili di Hong Kong dengan pendapatan US$65.000 dan diikuti Singapura US$41.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk investasi, peringkat teratas adalah warga kaya dari Singapura dengan rata-rata US$222.000 atau setara dengan Rp1,9 miliar. Sedangkan untuk urusan investasi kelompok kaya dari Indonesia berada pada nomor buncit dengan nilai rata-rata US$876 (Rp739 juta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan investasi orang kaya di Jakarta juga berbeda dengan rekan-rekannya dari kota besar lainnya. Kalau kelompok kaya di kota lain pertama-tama memilih investasi pada asuransi dan dana pensiun, maka orang kaya Jakarta paling banyak berinvestasi pada properti rumah (52%). Kemudian baru investasi di bidang asuransi dan dana pensiun (43%), properti untuk penanaman modal (33%), logam mulia emas dan platina (30%), saham (11%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas investasi seperti di atas, menurut Doni Istyanto Hari Mahdi, penasihat keuangan dari Global Financial Services, bisa dipahami karena masyarakat Indonesia masih tergolong saving society (masyarakat menabung) bukan investing society (masyarakat berinvestasi). Pada masyarakat seperti ini, jelasnya, pertimbangan investasi bukan pertama-tama soal keuntungan (return). "Mereka menabung semata-mata hanya kerena ada kelebihan dana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skala prioritas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, urutan pengeluaran yang benar berdasarkan seni perencanaan keuangan adalah sebagai berikut. Pertama, adalah pengeluaran yang berkaitan dengan manajemen risiko, yaitu investasi untuk menjamin hilang atau berkurangnya pendapatan karena risiko kematian. Produk investasinya adalah asuransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adalah investasi yang terkait dengan rencana pensiun. Ketiga, pengeluaran untuk membiayai kewajiban dalam keluarga seperti mobil, rumah, dan keempat, pengeluaran untuk membayar gaya hidup (life style).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak kelas menengah-atas di Indonesia, menurut Doni, yang tidak mengikuti prinsip skala prioritas tersebut. Sering kali, jelasnya, pengelaruaran mereka dirancang pertama-tama untuk membiayai gaya hidup dan kewajiban-kewajiban utang seperti rumah dan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gaya hidup itu terbawa-bawa sampai pada memilih asuransi. Jadi mereka melakukan investasi di asuransi lebih karena gaya hidup daripada terdorong oleh kalkulasi investasi yang matang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu, jelasnya, terlihat dari kesalahan mereka dalam memilih asuransi. "Saya berani mengatakan 90% kelas menengah-atas yang salah dalam mengambil posisi asuransi," demikian perencana keuangan yang lama bekerja pada sebuah perusahaan agen asuransi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan itu terlihat dari sebagian produk asuransi yang dipilih adalah unit link dan asuransi jiwa whole life (asuransi keseluruhan, yaitu tanggungan kematian berjalan sepanjang kehidupan tertanggung dan selama premi dibayar sesuai ketentuan di dalam polis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tegas Doni, kedua produk asuransi itu belum bisa memberi proteksi secara lengkap. Masih ada alternatif asuransi lain seperti asuransi yang berdasarkan kontrak (endowment insurance) atau asuransi berjangka (term insurance) dimana benefit kematian akan dibayarkan hanya apabila tertanggung meninggal dalam kurun waktu yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Porsi pengeluaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, demikian Doni berpendapat, dari pengalaman memberi nasihat keuangan selama ini, merupakan hal yang ideal kalau 10% dari pendapat dimanfaatkan untuk manajemen risiko, 25%-30% untuk pensiun, dan kewajiban (liability) seperti untuk sewa rumah dan biaya pendidikan disisihkan 20% dari total pendapatan. Sisanya baru untuk biaya gaya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pembagian seperti itu, jelasnya, mudah dinilai apakah kelas menengah-atas ini sudah menggunakan uangnya secara tepat atau tidak. Misalnya saja dalam perencanaan pensiun. Biasanya, jelas Dony, mereka hanya mengikuti kewajiban minimal yang dianjurkan pemerintah yang hanya menyisihkan 5% dari total pendapatannya untuk pensiun, yaitu 3% ditanggung pemberi kerja dan 2% ditanggung oleh karyawan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memperhitungkan tingkat investasi sebesar 6% dan inflasi dengan tingkat yang hampir sama, yaitu 6%, maka sama sekali tidak terjadi pertumbuhan uang pada skema investasi tersebut. "Pertumbuhannya nol. Itu sangat tidak cukup untuk membiayai kehidupan pada masa pensiunnya nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita membuat perhitungan sederhana. Andaikan saat ini seseroang berumur 35 tahun dengan pendapatan Rp100 juta per tahun. Itu berati masa kerjanya masih tersisa 25 tahun lagi. Dengan menyisihkan hanya 5% sebagimana investasi ke dana pensiun yang normal, maka hasilnya hanya cukup untuk membiayai pengeluarannya saat pensiun nanti tidak lebih dari 15 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dengan pendapatan Rp100 juta per tahun, berarti 5% dari total pendapatan yang disisihkan untuk pensiun berarti hanya Rp500.000. Itu berarti 25 tahun nanti hanya terkumpul dana sekitar Rp150 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini tentu jauh dari cukup karena hanya cukup untuk kehidupannya sekitar 15 bulan. Kalau saja usia pensiunnya berlangsung 20 tahun, bagaimana dia menutup kekurangan di masa pensiun yang sangat panjang itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hal, jelas Dony, kalau dengan menghitung faktor penurun (inflasi 6%) saja, maka 24 tahun lagi, dengan pengeluaran saat ini Rp100 juta, minimal pada saat pensiun pengeluaran menjadi Rp400 juta. Itu berarti selama sisa masa kerja 20 tahun, sedikitnya investasi yang harus dilakukan untuk pensiun mencapai sekitar Rp8 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah yang luar biasa besar. Sebagian dari kita mungkin terkejut. Atau ada yang mungkin saja sudah memperkirakan angka itu, tetapi mereka tidak peduli. Soal pensiun, demikian mereka berprinsip, itu urusan nanti, yang penting sekarang menikmati hidup dulu. Kalau tidak, mestinya pembelian mobil bukan pada pilihan nomor satu. Atau, orang Indonesia sudah terbiasa dengan dana siluman lain, sehingga urusan mobil oke dan persiapan dana pensiun yang Rp8 miliar juga tak diabaikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-6215498928817798244?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/6215498928817798244/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=6215498928817798244' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6215498928817798244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6215498928817798244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/ketika-mereka-keluar-dari-rambu-rambu.html' title='Ketika Mereka Keluar dari Rambu-Rambu Investasi'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-8221931935932317769</id><published>2008-02-01T01:47:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T01:48:45.447-08:00</updated><title type='text'>Menguak Prioritas Kebutuhan Masyarakat Ibu Kota</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Mobil Dulu yang lain Belakangan)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah kenyataannya. Kelas menengah atas di Jakarta ternyata punya kebutuhan favorit, serupa yaitu membeli mobil. Buktinya, biarpun mereka sudah punya penghasilan rata-rata Rp17,9 juta per bulan-artinya sudah terlalu mudah urusan beli-membeli mobil-namun kalau ditanya "Apa kebutuhan Anda yang paling favorit?" Ternyata jawabnya: membeli mobil! Bukan membeli rumah atau membuka usaha baru. Salahkah keputusan mereka?&lt;br /&gt;Simak saja hasil survai Citibank dan AC Nielsen tentang perilaku perbankan di kalangan kelas menengah atas di Ibukota baru-baru ini. Mereka yang disurvai bukanlah kelompok masyarakat sembarangan karena terdiri dari kalangan profesional, manager, eksekutif dan businessman (PMEB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia mereka masih muda-muda yaitu berkisar 30-45 tahun tetapi mereka telah berpenghasilan rata-rata Rp17,9 juta. Bahkan responden yang dari kalangan businessman, ada yang punya penghasilan sampai Rp20,7 juta per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang menarik dari hasil survai yang dirancang untuk mengetahui pola pengelolaan keuangan (keluarga) dan penggunaan sarana perbankan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Karmelita Nurdjalim, Direktur Customized ACNielsen yang menjadi penanggung jawab survei tersebut, banyak hal menarik yang bisa diperoleh. Dari 150 orang dari kalangan PMEB yang terjaring dalam survai, ternyata mereka telah menyisihkan hampir sepertiga dari pendapatan bulanannya (tepatnya 26%) untuk ditabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisanya 18% untuk keperluan anak, 8% untuk keperluan investasi, 6% untuk keperluan orang tua, 4% untuk membayar kredit properti/rumah dan 40% untuk menutup ongkos kebutuhan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari angka-angka di atas, jika dicermati lebih lanjut, tampak bahwa lebih dari setengah (52%) dari pendapatan bulanan mereka telah disisihkan untuk keperluan masa depan seperti ditabung (26%), keperluan anak (18%) dan investasi (8%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau para PMEB telah mengalokasikan lebih dari setengah untuk keperluan masa depan, tentu mereka punya rencana jangka panjang atau paling tidak rencana jangka menengah yang ingin dicapai. Apa gerangan rencana jangka menengah tersebut? Nah ini yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil survai yang melibatkan 150 responden dengan pendapatan bulanan terkecil Rp15,2 juta dan terbesar Rp20,7 juta tersebut, lanjut Karmelita, ternyata mereka masing-masing telah memiliki program jangka lima tahunan yang sudah jelas. Dan untuk merealisasikan program 'Repelita' itu, mereka mengaku harus mengumpulkan dana minimal Rp20 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu program 'Repelita' apa yang paling favorit bagi mereka? Ternyata 64% dari 150 responden menjawab: program membeli mobil! Ya membeli mobil, tidak terlalu jelas, membeli mobil baru apa bekas. Pokoknya mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan program membeli rumah, buka bisnis kecil-kecilan atau program menyekolahkan anak? Oh itu belakangan. Program menyekolahkan anak memang termasuk favorit, namun masih kalah favorit dibandingkan program membeli mobil. Begitu juga program memulai bisnis baru atau membeli rumah. [Lihat tabel]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika boleh disederhanakan, tampaknya para PMEB yang bergaji rata-rata Rp17,9 juta per bulan itu tampaknya punya pikiran yang sama, "Yang penting mobil dulu, yang lain belakangan!" Belum jelas benar faktor apa yang mendasari mereka menyusun skala priroritas kebutuhan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merealisasikan kebutuhan favorit tersebut, menurut Karmelita, para PMEB tampaknya tidak main-main. Sebanyak 83% responden menyatakan telah menyusun rencana yang lengkap dan terjadual, walaupun sekitar 22% responden mengaku mereka tidak akan punya dana cukup untuk mengejar target secara tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengejar target itu, mereka umumnya mengandalkan tabungan. Karena itu sebagian dari kelompok PMEB itu mengaku telah melakukan kegiatan menabung secara teratur dan terencana. Tetapi ada pula dari mereka yang mengejar target dengan cara mencari pinjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar-wajar saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi perencanaan keuangan keluarga, apakah penyusunan skala prioritas kebutuhan semacam itu bisa diterima? Bagaimana pandangan dari pakar perencana keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya kira itu hal yang wajar-wajar saja. Apalagi jika survai itu dilakukan di Jakarta," kata pakar perencana keuangan Safir Senduk mengomentari hasil riset yang dilakukan pada 1-12 April 2004 dengan metode wawancara tatap muka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi siapapun yang lahir, tumbuh dan besar di Jakarta, jelasnya, masalah transportasi memang bukan masalah mudah, kalau tidak boleh dibilang masalah ruwet. Sistem transportasi di Jakarta sangatlah tidak nyaman. Maka wajar-wajar saja jika kelompok masyarakat kelas menengah atas Ibukota punya skala prioritas kebutuhan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi orang yang lahir, tumbuh dan besar di Jakarta, maka mobil memang nomor satu. Mobil adalah kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan mungkin lebih penting dari pendidikan anak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lain hasilnya jika survai ini dilakukan di kota-kota yang memiliki sistem transportasi lebih baik dari Jakarta misalnya di Yogyakarta, Semarang atau Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui juga siapa yang menjadi respondennya. Jika respondennya sebagian besar adalah bapak-bapak, ya jelas, jawabannya pasti begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan ibu-ibu yang banyak mencurahkan pikiran pada masalah rumah dan pendidikan anak, pikiran bapak-bapak di Jakarta lebih didominasi bagaimana bisa menjalankan tugas dan pekerjaannya dengan nyaman. Maklum hidup di Jakarta banyak faktor yang bisa menjadi stressor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Senduk, mereka sangat membutuhkan sarana transportasi yang nyaman. Maka bisa dimengerti, biarpun si bapak sudah punya kendaraan sedan Toyota Soluna, tetapi bisa saja si Bapak segera menganti dengan BMW agar lebih nyaman. Mereka memang membutuhkan kenyamanan di jalan, selain juga perlu gengsi dan reputasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari sudut perencanaan keuangan (financial planning), apakah penyusunan skala prioritas kebutuhan yang seperti ini tidak salah karena terlihat terlalu konsumeristik? Menurut Senduk, tidak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang perencanaan keuangan, tidak ada skala prioritas kebutuhan yang paling benar. Bapak X mungkin memiliki prioritas kebutuhan membeli rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Bapak Y, membeli mobil, sedangkan Bapak Z menyekolahkan anak. Ketiganya tidak ada yang salah, tetapi juga benar, karena masing-masing tergantung kepada situasi dan kondisi yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, dan lain-lain tampaknya ikut berpengaruh di sini. Makanya jangan heran jika survai terhadap kalangan PMEB di Jakarta itu menghasilkan gambaran yang demikian. Itu wajar-wajar saja. Beda jika survai ini dilakukan di Semarang atau Surabaya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Jakarta memiliki karakteristik yang agak berbeda dengan masyarakat di daerah. Mereka sangat memperhatikan masalah kenyamanan sarana transportasi karena buruknya sistem transportasi di Jakarta. Sayangnya, kadang-kadang sebagian dari mereka hanya membeli mobil karena urusan prestise semata-mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah ini memang sudah menjadi kelemahan orang-orang di Jakarta," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun hasil survai itu masih wajar. Inilah kenyataannya. Kelas menengah atas di Jakarta tetap getol membeli mobil. Mobil adalah kebutuhan favoritnya, paling tidak untuk lima tahun ke depan. Soal rumah, membuka usaha atau pendidikan anak, itu belakangan. Yang penting mobil dulu, baru yang lain. Gitu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-8221931935932317769?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/8221931935932317769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=8221931935932317769' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8221931935932317769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8221931935932317769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/menguak-prioritas-kebutuhan-masyarakat_01.html' title='Menguak Prioritas Kebutuhan Masyarakat Ibu Kota'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-8076186334218316825</id><published>2008-02-01T01:43:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T01:45:17.135-08:00</updated><title type='text'>Menguak Prioritas Kebutuhan Masyarakat Ibu Kota</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil Dulu yang lain Belakangan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah kenyataannya. Kelas menengah atas di Jakarta ternyata punya kebutuhan favorit, serupa yaitu membeli mobil. Buktinya, biarpun mereka sudah punya penghasilan rata-rata Rp17,9 juta per bulan-artinya sudah terlalu mudah urusan beli-membeli mobil-namun kalau ditanya "Apa kebutuhan Anda yang paling favorit?" Ternyata jawabnya: membeli mobil! Bukan membeli rumah atau membuka usaha baru. Salahkah keputusan mereka?&lt;br /&gt;Simak saja hasil survai Citibank dan AC Nielsen tentang perilaku perbankan di kalangan kelas menengah atas di Ibukota baru-baru ini. Mereka yang disurvai bukanlah kelompok masyarakat sembarangan karena terdiri dari kalangan profesional, manager, eksekutif dan businessman (PMEB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia mereka masih muda-muda yaitu berkisar 30-45 tahun tetapi mereka telah berpenghasilan rata-rata Rp17,9 juta. Bahkan responden yang dari kalangan businessman, ada yang punya penghasilan sampai Rp20,7 juta per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang menarik dari hasil survai yang dirancang untuk mengetahui pola pengelolaan keuangan (keluarga) dan penggunaan sarana perbankan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Karmelita Nurdjalim, Direktur Customized ACNielsen yang menjadi penanggung jawab survei tersebut, banyak hal menarik yang bisa diperoleh. Dari 150 orang dari kalangan PMEB yang terjaring dalam survai, ternyata mereka telah menyisihkan hampir sepertiga dari pendapatan bulanannya (tepatnya 26%) untuk ditabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisanya 18% untuk keperluan anak, 8% untuk keperluan investasi, 6% untuk keperluan orang tua, 4% untuk membayar kredit properti/rumah dan 40% untuk menutup ongkos kebutuhan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari angka-angka di atas, jika dicermati lebih lanjut, tampak bahwa lebih dari setengah (52%) dari pendapatan bulanan mereka telah disisihkan untuk keperluan masa depan seperti ditabung (26%), keperluan anak (18%) dan investasi (8%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau para PMEB telah mengalokasikan lebih dari setengah untuk keperluan masa depan, tentu mereka punya rencana jangka panjang atau paling tidak rencana jangka menengah yang ingin dicapai. Apa gerangan rencana jangka menengah tersebut? Nah ini yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil survai yang melibatkan 150 responden dengan pendapatan bulanan terkecil Rp15,2 juta dan terbesar Rp20,7 juta tersebut, lanjut Karmelita, ternyata mereka masing-masing telah memiliki program jangka lima tahunan yang sudah jelas. Dan untuk merealisasikan program 'Repelita' itu, mereka mengaku harus mengumpulkan dana minimal Rp20 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu program 'Repelita' apa yang paling favorit bagi mereka? Ternyata 64% dari 150 responden menjawab: program membeli mobil! Ya membeli mobil, tidak terlalu jelas, membeli mobil baru apa bekas. Pokoknya mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan program membeli rumah, buka bisnis kecil-kecilan atau program menyekolahkan anak? Oh itu belakangan. Program menyekolahkan anak memang termasuk favorit, namun masih kalah favorit dibandingkan program membeli mobil. Begitu juga program memulai bisnis baru atau membeli rumah. [Lihat tabel]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika boleh disederhanakan, tampaknya para PMEB yang bergaji rata-rata Rp17,9 juta per bulan itu tampaknya punya pikiran yang sama, "Yang penting mobil dulu, yang lain belakangan!" Belum jelas benar faktor apa yang mendasari mereka menyusun skala priroritas kebutuhan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merealisasikan kebutuhan favorit tersebut, menurut Karmelita, para PMEB tampaknya tidak main-main. Sebanyak 83% responden menyatakan telah menyusun rencana yang lengkap dan terjadual, walaupun sekitar 22% responden mengaku mereka tidak akan punya dana cukup untuk mengejar target secara tepat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengejar target itu, mereka umumnya mengandalkan tabungan. Karena itu sebagian dari kelompok PMEB itu mengaku telah melakukan kegiatan menabung secara teratur dan terencana. Tetapi ada pula dari mereka yang mengejar target dengan cara mencari pinjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar-wajar saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi perencanaan keuangan keluarga, apakah penyusunan skala prioritas kebutuhan semacam itu bisa diterima? Bagaimana pandangan dari pakar perencana keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya kira itu hal yang wajar-wajar saja. Apalagi jika survai itu dilakukan di Jakarta," kata pakar perencana keuangan Safir Senduk mengomentari hasil riset yang dilakukan pada 1-12 April 2004 dengan metode wawancara tatap muka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi siapapun yang lahir, tumbuh dan besar di Jakarta, jelasnya, masalah transportasi memang bukan masalah mudah, kalau tidak boleh dibilang masalah ruwet. Sistem transportasi di Jakarta sangatlah tidak nyaman. Maka wajar-wajar saja jika kelompok masyarakat kelas menengah atas Ibukota punya skala prioritas kebutuhan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi orang yang lahir, tumbuh dan besar di Jakarta, maka mobil memang nomor satu. Mobil adalah kebutuhan yang sangat mendasar, bahkan mungkin lebih penting dari pendidikan anak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lain hasilnya jika survai ini dilakukan di kota-kota yang memiliki sistem transportasi lebih baik dari Jakarta misalnya di Yogyakarta, Semarang atau Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui juga siapa yang menjadi respondennya. Jika respondennya sebagian besar adalah bapak-bapak, ya jelas, jawabannya pasti begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan ibu-ibu yang banyak mencurahkan pikiran pada masalah rumah dan pendidikan anak, pikiran bapak-bapak di Jakarta lebih didominasi bagaimana bisa menjalankan tugas dan pekerjaannya dengan nyaman. Maklum hidup di Jakarta banyak faktor yang bisa menjadi stressor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Senduk, mereka sangat membutuhkan sarana transportasi yang nyaman. Maka bisa dimengerti, biarpun si bapak sudah punya kendaraan sedan Toyota Soluna, tetapi bisa saja si Bapak segera menganti dengan BMW agar lebih nyaman. Mereka memang membutuhkan kenyamanan di jalan, selain juga perlu gengsi dan reputasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari sudut perencanaan keuangan (financial planning), apakah penyusunan skala prioritas kebutuhan yang seperti ini tidak salah karena terlihat terlalu konsumeristik? Menurut Senduk, tidak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang perencanaan keuangan, tidak ada skala prioritas kebutuhan yang paling benar. Bapak X mungkin memiliki prioritas kebutuhan membeli rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Bapak Y, membeli mobil, sedangkan Bapak Z menyekolahkan anak. Ketiganya tidak ada yang salah, tetapi juga benar, karena masing-masing tergantung kepada situasi dan kondisi yang sedang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Faktor demografis seperti usia, jenis kelamin, dan lain-lain tampaknya ikut berpengaruh di sini. Makanya jangan heran jika survai terhadap kalangan PMEB di Jakarta itu menghasilkan gambaran yang demikian. Itu wajar-wajar saja. Beda jika survai ini dilakukan di Semarang atau Surabaya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Jakarta memiliki karakteristik yang agak berbeda dengan masyarakat di daerah. Mereka sangat memperhatikan masalah kenyamanan sarana transportasi karena buruknya sistem transportasi di Jakarta. Sayangnya, kadang-kadang sebagian dari mereka hanya membeli mobil karena urusan prestise semata-mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah ini memang sudah menjadi kelemahan orang-orang di Jakarta," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun hasil survai itu masih wajar. Inilah kenyataannya. Kelas menengah atas di Jakarta tetap getol membeli mobil. Mobil adalah kebutuhan favoritnya, paling tidak untuk lima tahun ke depan. Soal rumah, membuka usaha atau pendidikan anak, itu belakangan. Yang penting mobil dulu, baru yang lain. Gitu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-8076186334218316825?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/8076186334218316825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=8076186334218316825' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8076186334218316825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8076186334218316825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/menguak-prioritas-kebutuhan-masyarakat.html' title='Menguak Prioritas Kebutuhan Masyarakat Ibu Kota'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-1942426105836201800</id><published>2008-02-01T01:37:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T01:39:28.141-08:00</updated><title type='text'>Menimbang Reaksi Pasar atas SBY-Kalla</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tulisan ini pernah dimuat di Bisnis Indonesia pada 8 Juli 2004&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan paket capres-cawapres tahap pertama sudah usai. Kendati penghitungan suara belum rampung, para pakar politik dan ahli statistik sudah mulai menebak hasilnya. Dari hasil kalkulasi sementara, paket SBY-Kalla berada pada peringkat pertama dan hampir pasti akan bertarung melawan Megawati-Hasyim Muzadi pada putaran kedua yang berlangsung 20 September.&lt;br /&gt;Yang menarik adalah membaca reaksi pasar, khususnya pergerakan indeks di lantai bursa. Sehari setelah pilpres 5 Juli, perdagangan saham di BEJ menggeliat. Begitu juga rupiah. Mata uang Indonesia itu ditutup menguat dan menembus posisi psikologis Rp9.000/US$ dari penutupan pekan lalu sebesar Rp9.317/US$. Sementara indeks BEJ menguat 23,23 poin (3,12%) menjadi 768,25. Reaksi yang sangat positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada peristiwa politik sebelumnya, para analis dari perusahaan investasi pun ikut beropini. Misalnya saja Stuart Goh dari Pacific Asset Management Ltd. yang mengelola dana senilai US$117 juta di Singapura. Menurut dia, figur SBY-Kalla adalah calon pemimpin yang diterima pasar. Dia menilai SBY sebagai orang kuat yang mampu mengendalikan sejumlah perbedaan di Indonesia. Sebuah pujian yang sangat tinggi bagi mantan Menko Polkam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pujian itu tidak terlalu mengejutkan. Karena sejak April, saat duet SBY-Kalla baru terbentuk, para analis pasar modal dalam negeri pun mengganggap kedua tokoh itu sebagai pasangan yang paling ideal dan diterima pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian itu sekurang-kurangnya dilakukan oleh JP Morgan. Rizal B. Prasetijo, analis perusahaan manajemen investasi itu, dalam analisa pasarnya bertajuk Indonesian Stratetgy, SBY + Kalla = This is it!, edisi 21 April, bahkan sempat membuat prediksi yang sangat optimistis. Kalau pasangan itu terpilih, kata dia, indikator perdagangan saham di BEJ akan menembus angka 1.000. Sebuah prediksi yang sangat fantastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya sederhana. Kedua figur itu, demikian Prasetijo, memiliki kemampuan yang saling melengkapi. SBY dinilai memahami dinamika sosial-ekonomi di wilayah barat Indonesia, dan Kalla mengerti tentang kondisi Kawasan Indonesia Timur. Sebuah deskripsi yang kurang detil untuk figur sekelas presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tingkat publik, deskripisi itu, terutama SBY, kemudian hanya dikaitkan pada figurnya yang kelihatan 'tampan', cerdas dan 'korban' dari sebuah penzaliman. Alasan pilihan yang tidak terkait langsung dengan kualitas kepemimpinan yang benar-benar sudah teruji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korelasi pemilu dan IHSG 1999-2004&lt;br /&gt;Tgl. pemilu IHSG sebelumnya IHSG sesudahnya Perubahan&lt;br /&gt;7 Juni 1999 612.378 (4 Juni) 686.947 (8 Juni) +74.569&lt;br /&gt;5 April 2004 750.652 (2 April) 771.548 (6 April) +20.569&lt;br /&gt;5 Juli 2004 745.030 (2 Juli) 768.255 (6 Juli) +23.947&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, mirip pilihan publik kepada penyanyi Akademi Fantasi Indosiar (AFI) yang tidak didasarkan pada kualitas vokalnya-khususnya pada AFI I- tetapi lebih pada rasa simpati karena kerendahan hati, kesederhanaan dan latar belakang kemiskinan sang kandidat. Ini tentu sebuah kerancuan argumentasi dalam mendasari sebuah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, gambaran SBY-Kalla memicu ekspektasi yang luar biasa karena dipertentangkan dengan kelemahan dan kegagalan pemerintahan Megawati yang saat ini sedang berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan dan kegagalan Presiden Megawati-yang juga dibantu oleh SBY-Kalla sebagai menteri koordinator saat itu-dianggap tidak optimal sehingga harus diganti dengan pemimpin baru yang diharapkan dapat mengubah wajah Indonesia. SBY-Kalla adalah salah satu dari pilihan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja laporan Bloomberg pada hari pemilihan awal pekan ini. Laporan tentang hasil lembaga polling yang lebih mengungguli SBY dikaitkan dengan kegagalan Megawati dalam menciptakan iklim investasi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam laporan itu disinyalir bahwa dalam enam tahun terakhir, terjadi pelarian modal ke luar negeri sebesar US$10,76 miliar, dengan sekurang-kurangnya US$751 juta terjadi pada tahun ini. Realitas buruk tersebut diperjelas dengan laporan posisi utang luar negeri yang mencapai US$135 miliar serta utang perusahaan dan bank swasta kepada kreditor sebesar US$54 miliar. Belum lagi ditambah dengan kinerja indeks BEJ yang masuk dalam posisi delapan indeks terjelek selama tahun ini. Menjadi lengkaplah kegagalan dan kelemahan Megawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bloomberg sekali lagi mengutip pernyataan M. Chatib Basri bahwa bangsa ini membutuhkan investasi. Dan Megawati, dalam logika para ekonom dan analis investasi tersebut, gagal menciptakan reformasi hukum dan perbaikan birokrasi yang mendukung iklim investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kekagagalan Megawati di satu pihak, dan ada ekspektasi pada SBY-Kalla di pihak lain. Tapi, pertanyaan yang muncul, adilkah Megawati diminta harus menyelesaikan persoalan bangsa yang luar biasa besar dalam tempo tiga tahun? Lalu mampukah SBY-Kalla, kalau kemudian terpilih, memenuhi harapan yang tidak dilakukan Megawati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meletakkan harapan bangsa ini hanya dengan melihat naiknya harga saham dan menguatnya rupiah agaknya berlebihan dan bisa menyesatkan. Karena pasar pun bereaksi sama saat PDIP (yang dipimpin Megawati) menang dalam Pemilu 1999. Begitu juga saat Abdurrahman Awahid (Gus Dur) tampil sebagai presiden pada Juli 1999, pasar pun bereaksi demikian. Partai Golkar me-nang dalam pemilu legislatif April lalu pun, indeks BEJ juga menguat.(Lihat Tabel).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata indeks BEJ hanyalah sentimen sesaat yang tidak berurusan dengan kinerja seorang presiden untuk masa lima tahun. Karena itu, terlalu naif kalau kemenangan SBY-Kalla pada putaran pertama disambut berlebihan dengan menyertakan reaksi pasar yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehati-hatian untuk menaruh harap-an yang berlebihan pada SBY-Kalla didasarkan pada sejumlah pertimbangan berikut. Pertama, mesin politik Partai Demokrat yang mengusung SBY sebagai capres dinilai kurang kuat, karena hanya meraih 7% dalam pemilu legislatif. Tambahan dukungan dari PBB dan PKPI pun tak cukup signifikan, karena keduanya bukan partai yang cukup berpengaruh. Kenyataan itu akan memaksa SBY-Kalla, se-andainya terpilih sebagai presiden, melakukan 'dagang sapi' dalam membentuk birokrasi yang kuat. Negosiasi politik seperti ini akan menyulitkan keduanya dalam mengarahkan dan mengontrol pemerintahan yang tangguh dan juga tidak mudah bagi keduanya memaksa parlemen untuk mendukung segala kebijakan politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, figur SBY yang tidak tegas akan dengan mudah dikendalikan oleh 'orang kuat' di sekitarnya yang sebagian besar adalah bekas militer. Kenyataan ini akan menyulitkan SBY yang memang berlatarbelakang militer menciptakan pemerintahan sipil yang kuat sebagaimana tuntutan sebuah negara yang demokratis. Ingat, salah satu tuntutan reformasi yang menandai berakhirnya rezim Orba adalah berakhirnya rezim yang militeristis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, hampir susah dibayangkan SBY-Kalla akan terhindar dari praktik KKN karena keduanya tidak didukung parpol dengan mesin uang yang memadai. Berbagai donasi dari konglomerat dalam mensukseskan pencalonan keduanya sebagai capres-cawapres akan membuat mereka harus 'membalas budi' kebaikan tersebut. Kerja sama yang menjadi lahan subur bagi benih KKN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, posisi Kalla sebagai pengusaha juga harus diwaspadai karena akan menimbulkan konflik kepentingan. Selentingan yang mengkaitkan Kalla dengan sejumlah kasus korupsi seperti tender Bukaka, Bulog, impor beras dan impor mobil Mercedes saat dia menjadi menteri-kendati tidak pernah terbukti-meninggalkan catatan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pertimbangan tersebut sengaja diangkat agar bisa menjadi pertimbangan terhadap ekspektasi yang berlebihan dari para analis pasar modal yang ditandai oleh pergerakan indikator perdagangan. Karena menguatnya indeks tersebut lebih merupakan pergerakan normal yang didasarkan pada sentimen sesaat ketimbang karena sebuah prospek fundamental ekonomi-politik yang segera diletakkan para pemimpin bangsa yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, kemenangan SBY-Kalla dalam putaran pertama ini harus disikapi dengan wajar. Boleh saja menggantungkan harapan kepada keduanya. Tapi, harapan yang terlalu tinggi akan menghilangkan sikap kritis terhadap kualitas dan kinerja mereka. Sebuah kampanye politik yang bisa menyesatkan masyarakat. Lebih lagi, kalau saja mereka terpilih dan akhirnya juga gagal, harapan itu tidak meninggalkan rasa sakit yang mendalam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-1942426105836201800?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/1942426105836201800/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=1942426105836201800' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/1942426105836201800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/1942426105836201800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/menimbang-reaksi-pasar-atas-sby-kalla.html' title='Menimbang Reaksi Pasar atas SBY-Kalla'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-7674940839679658551</id><published>2008-02-01T01:33:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T01:36:14.418-08:00</updated><title type='text'>Pemilu dan Indeks Saham</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan Seru antara Politisi dan Pemodal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;em&gt;(Dimuat di Bisnis Indonesia pada 30 Maret 2004, menjelang Pemilu)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is economy, stupid! Begitulah kalimat bertuah yang dipakai Bill Clinton untuk menyerang lawan politiknya dalam kampanye 1992. Pesaingnya, Paman Bush senior, yang baru saja menghamburkan uang untuk Perang Teluk dianggap mengabaikan pembangunan ekonomi negara itu. Kesalahan serius itu harus dibayar mahal. Bush harus menyerah kalah dan menyerahkan tampuk kekuasaaan AS kepada Clinton dari Partai Demokrat.&lt;br /&gt;Lalu, apakah tema ekonomi yang diusung Clinton itu juga menjadi urusan penting bagi partai dan capres dalam kampanye pemilu di negeri ini? Secara prinsip, mestinya ya. Bahwa partai-partai dan calon pemimpin di negara ini belum menyusun program ekonomi yang jelas itu urusan lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja, karena begitulah seharusnya substansi sebuah kontrak sosial antara pemimpin politik dan warganya, mereka terpaksa cukup berteriak-teriak soal kesejahteraan orang banyak. Padahal, motivasi mereka tunggal, yaitu kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung saja masih ada para pengamat dan pelaku ekonomi membuat pernyataan yang sedikit menghibur, yaitu kalau saja Pemilu 2004 ini berhasil, maka pertumbuhan ekonomi akan berjalan baik. Seolah-olah ada hubungan sebab-akibat di sana. Kalau memang ada hubungan-sekali lagi tentu bukan hubungan kausalitas-hal yang menarik disimak adalah ukuran keberhasilan pemilu di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, apakah pemilu nanti dinilai 'berhasil' kalau PDIP dan Partai Golkar-karena memang kedua partai itu paling berpeluang-menang, dan Megawati dan Akbar Tandjung kembali berkuasa seperti sekarang? Lalu, akan berbedakah cara mereka 'berkuasa' sebelum dan sesudah pesta demokrasi hanya karena mereka mengantungi legitimasi yang lebih optimal dan otoritas yang lebih penuh akibat pemilihan secara langsung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir pasti tidak. Mengubah watak pemimpin politik-baik itu eksekutif maupun legislatif yang berjuang dalam pemilu kali ini-yang sudah diketahui kinerjanya, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi urusan penegakan hukum yang mestinya bisa memagari 'kelakuan' para pemimpin di negeri ini belum bisa diandalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kalau harapan hanya sekedar 'pemilu yang aman-aman' saja, bukankah selama ini pelaksanaan pemilu memang demikian adanya? Apalagi, bukankah pada masa Orde Baru, pemilu berjalan ekstra aman. Alhasilnya, nasib bangsa ini toh tidak lebih baik. Sebagai ganti, justru datang krisis multi-dimensi yang mendera bangsa ini. Lebih ironinya lagi, malapetaka itu datang justru pada saat bangsa ini baru saja menyelesaikan Pemilu 1997.&lt;br /&gt; Lalu untuk apa ritus politik yang bernama pemilu di negeri ini? Jawaban normatifnya adalah untuk menciptakan tatanan sosial-politik yang lebih demokratis, termasuk dalam urusan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencapai tujuan itu membutuhkan jalan yang panjang dan melelahkan. Ingat nasihat Francis Fukuyama, tak ada demokrasi tanpa orang-orang demokrat. Jadi urusannya bukan hanya soal politik, tetapi kultur. Bukan hanya hukum, tetapi juga etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, untuk sebagian besar bangsa Indonesia yang secara ekonomis masih memprihatinkan, menggantungkan harapan yang berlebihan pada manfaat pemilu berikut demokrasi jelas sangat tidak dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bangsa ini memang masih jauh dari praktik demokratis, secara empiris, korelasi positif antara demokrasi dan pembangunan pun ternyata masih diperdebatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;India dan Cina sering dijadikan contoh untuk mengkaitkan kedua hal tersebut. Bahkan, seorang Amartya Sen membandingkan kedua negara itu dalam urusan korelasi antara pembangunan dan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ekonom sekaligus filsuf yang pernah mendapat hadiah Nobel tahun 1998 itu, Cina yang pada akhir 1958-1961 membunuh 30 juta warganya dan menembak mahasiswanya dalam pristiwa Tianamen, membukukan pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih gemilang dari India. Cina yang tidak demokratis tentu melangkah lebih jauh dalam urusan pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Sen dalam tulisannya Democracy as a Universal Value (Journal of Democracy 1999), menghibur dan memberikan nasihat visioner bagi bangsanya. India, kata dia, tidak perlu terlalu peduli dengan angka-angka perekonomian. Yakinlah, demikian Sen, pada jalan demokrasi yang sudah dirintis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan kalau negara itu lebih sibuk mengurus pendidikan yang baik bagi warganya. Dengan pendidikan yang baik masyarakat mengerti hak dan kewajibannya dan berjuang membebaskan diri dari ketergantungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, menurut Sen, untuk jangka pendek, India secara statistik pasti tidak memperlihatkan pembangunan yang mempesonakan. Sen seperti seorang nabi bagi perekonomian India yang lebih berpikir secara apokaliptik. Dia memberi harapan bahwa demokrasi itu bermanfaat, kendati hasilnya dicapai pada masa akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspektasi terhadap masa depan India yang lebih baik selalu mendapat peneguhan setiap kali bangsa itu melakukan pemilu. Karena terbersit harapan bahwa setiap Pemilu muncul pemimpin baru yang mengisi ruang demokrasi dengan pembangunan yang lebih menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Positif bagi bursa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, peristiwa pemilu dalam 24 tahun terakhir di India selalu menjadi berita positif bagi bursa di negara itu. Dua atau tiga bulan sebelum dan sesudah pesta demokrasi di negara itu, indeks bergerak positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah indikasi bahwa para investor-yang selelau menghitung prospek-menaruh harapan bahwa setiap pemilu membawa sebuah perubahan, kendatipun kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan Rajiv Nagpal dan Arshdeed Sehgal dari Time News Network dalam laporan Why Markets Love Elections '04, dari pemilu 1 Januari 1980 hingga 26 September 1999, hanya sekali saja, yaitu pada 1 Desember 1989 indeks bursa di India terpuruk ketika para investor bereaksi negatif terhadap tampilnya V.P. Singh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemilu yang dimulai 20 April nanti, pemodal menaruh ekspektasi yang cukup besar pada saham, terutama di sektor konstruksi, infrastruktur dan energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bisa dipahami karena pemerintah memberi perhatian cukup besar pada pembangunan di tiga sektor tersebut. Total investasi di India meningkat dari US$ 120 miliar tahun 2004 menjadi sekitar US$208 miliar tahun 2007. Dari jumlah itu, investasi di sektor energi akan meningkat sebesar 114% dan eksplorasi minyak menjadi 80%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain India lain Indonesia. India memang memiliki para pemimpin dan inteletual yang bervisi dan berkomitmen tinggi sekelas Sen dan Mahatma Gandhi. Kendati tertatih-tatih, demokrasi India terus berkibar. Indonesia yang sejak abad pertama mengkonsumsi filsafat dan kebudayaan India juga tidak ketinggalan mulai belajar berdemokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama sejak terbukti bahwa perekomian masa Orde Baru era Soeharto yang mengabaikan fundamen demokrasi memang keropos. Hanya saja, sejak krisis 1997, Indonesia harus memikul beban sangat berat sehingga tidak memiliki cukup energi untuk bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menimba inspirasi bagi sebuah harapan, bangsa ini perlu belajar dari pemodal di lantai bursa seperti yang terjadi di India. Berdasarkan catatan, dalam setiap pemilu di negeri ini digelar juga selalu membawa harapan baru bagi pemodal di lantai bursa. Ekspektasi terhadap Indonesia yang lebih baik itulah yang selalu menggeret indeks perdagangan BEJ ke tingkat yang lebih tinggi pada saat-saat menjelang pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korelasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita simak korelasi indeks dan pemilu sejak 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Pemilu 23 April 1987, indeks BEJ berada pada posisi 75,02. Sebulan sebelumnya (23 Maret 1987) indeks berada pada posisi 72,93 atau mengalami perubahan sebesar 2,87% (Lihat tabel). Kenaikan yang sama juga terjadi pada Pemilu 9 Juni 1992. Indeks untuk perdagangan sehari sesudah pemilu (10 Juni) berada pada posisi 329,66 atau mengalami kenaikan 14,21% dari posisi sebulan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korelasi pemilu dan indeks terus terjadi pada Pemilu 29 Mei 1997. Pada hari itu indikator perdagangan BEJ menyentuh 689,59. Indeks pada posisi itu merupakan peningkatan sebesar 6,53% dari posisi sebulan sebelumnya (29 April). Bahkan saat Pemilu berlangsung indeks naik 16,999 poin dari 672,499 hari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak krisis mengikis ekspektasi pemodal pada Agustus 1997, indeks mengalami kecenderungan menurun. Dari posisi 721,772 pada 1 Agustus 1997, indikator perdagangan BEJ menurun sangat cepat dan menyentuh tingkat terendah pada posisi 339,536 pada 15 Desember 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penurunan indeks terus berlangsung selama 1998 yang bergerak pada rentang 542,098 pada 27 Maret dan 258,106 pada 6 Oktober. Pergerakan indeks selama periode ini dipengaruhi situasi politik dalam negeri yang sangat tidak stabil, terutama sejak kerusuhan 12 hingga 15 Mei 1998 hingga berakhirnya pemerintahan Soeharto pada 21 Mei 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama masa pemerintahan transisi yang dipegang oleh Habibie dari Mei 1998 hingga Pemilu Juni 1999 ekspektasi pemodal terhadap prospek Indonesia sangat rendah. Indikator perdagangan BEJ tetap melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru menjelang Pemilu 7 Juni 1999 yang membawa duet Abdurrahman Wahid -Megawati ke puncak pimpinan Indonesia, terbersit lagi harapan itu. Indeks BEJ kembali menguat. Kalau Januari hingga April 1998 masih di bawah posisi 495,222 (30 April), maka sebulan sebelum pemilu indeks secara teknis mulai memperlihatkan tanda-tanda penguatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal Mei 1999 indeks menyentuh 523,358 dan tepat sebulan sebelum pemilu indeks berada pada posisi 575,118 (7 Mei 1999). Setelah berfluktuasi hingga tinggal 517, 067 pada 27 September akhirnya indeks ditutup pada 676,919 pada perdagangan akhir tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merosot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duet Abdurrahman Wahid-Megawati yang kurang kuat dan manajemen kepemimpinan Gus Dur yang kurang terurus terus membayangi kemerosotan indeks pada tahun 2000 hingga pertengahan 2001. Pada tahun 2001, indeks bergerak antara titik terendah 342,858 (20 April 2001) hingga posisi tertinggi 470,229 (23 Juli 2001), tepat pada saat Gus Dur diturunkan dari kursi kepresidenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mulailah duet Megawati-Hamzah Haz pertengahan Juli 2001 sampai sekarang. Pada tahun 2002, indeks masih melemah dan bergerak mendatar mulai dari kisaran tertinggi 551,607 (16 April) dan terendah 337,475 (14 Oktober).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2003, indeks bergerak sangat cepat dan mengalami kenaikan kinerja dan menyentuh posisi 693,033 per 29 Desember 2003. Posisi tersebut merupakan kenaikan sebesar 63% dibandingkan posisi tahun sebelumnya, yaitu pada tingkat 424,945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerja bursa 2003 yang sangat positif ini bisa dipahami. Pertumbuhan ekonomi periode itu tercatat 3,8% atau meningkat dibandingkan tahun 2002 sebesar 3,66%. Suku bunga SBI turun dan mencapai angka 115 pada 2003. Belum lagi masuknya sejumlah BUMN pada tahun tersebut sehingga menambah kesemarakan transaksi di bursa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan indeks BEJ di tahun 2004? Ketika Presiden Megawati membuka perdagangan bursa awal tahun (2 Januari)-sebuah kampanye kecil menjelang Pemilu 5 April 2004-indeks melaju hingga ke titik 704,498 dari penutupan 691,895 pada akhir 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspektasi terhadap kinerja ekonomi Indonesia yang mulai membaik pada 2003 mendapat pasokan energi baru dari peristiwa pemilu. Indeks mencapai posisi tertingi pada 26 Januari pada posisi 786,874. Tepat sebulan sebelum pemilu, indeks berada pada tingkat 778,010 (5 Maret 2004). Bisa saja, saat pemilu nanti atau beberapa hari perdagangan sesudahnya-kalau proses pemilu berjalan lancar menurut jadwal dan tentu aman-indikator perdagangan BEJ mengalami trend menguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hal, kendati angka-angka ekonomi makro positif, ekspektasi hanya untuk alasan perekonomian makro Indonesia tentu berlebihan. Realitas perekonomian pada tataran mikro mestinya mencemaskan. Investasi yang lamban, angka pengangguran sebesar 40 juta, utang negara plus swasta sekitar US$200 miliar merupakan alasan yang kuat untuk sebuah kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi untuk urusan penegakan hukum, insentif perpajakan dan ekspansi kredit perbankan-ketiga hal yang substansial untuk investasi di sektor yang riil-negara ini masih harus terus belajar membenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, kendati IHSG melemah dibandingkan sebulan sebelumnya, kinerja perdagangan BEJ masih saja semarak. Ritus demokrasi pada 5 April tetap menjadi inspirasi untuk sebuah harapan akan Indonesia yang lebih baik. Kendati harap tetap diingat bahwa seperti para investor, warga bangsa ini menabur harapan dengan sebuah risiko, yaitu datangnya para pemimpin baru yang oportunis dan fatalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang demikian tidak saja tidak mampu memberi harapan, tetapi dalam dirinya tidak memiliki harapan. Mereka sudah pasti tidak pernah serius untuk sebuah reformasi dan cenderung menapaki jalan tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian, harapan tinggal harapan. Pemilu datang, pemilu pergi, yang tinggal hanyalah secercah harapan. Mungkin perlu kita menghibur diri dan terus belajar dari para investor melalui petuah Romawi kuno: dum spiro spero, selama saya bernapas, saya berharap. Selamat datang pemilu 2004!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-7674940839679658551?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/7674940839679658551/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=7674940839679658551' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7674940839679658551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7674940839679658551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/pemilu-dan-indeks-saham.html' title='Pemilu dan Indeks Saham'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-486428632077379088</id><published>2008-02-01T01:30:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T01:32:16.529-08:00</updated><title type='text'>Ambil Untung dari Maraknya Hostile Take Over</title><content type='html'>Comcast, perusahaan media dunia, membuat kejutan pada 11 Februari lalu. Melalui penggagasnya yang juga CEO perusahaan itu, Brian Roberts, perusahaan tersebut berhasil mengakuisisi Walt Disney dengan harga tinggi, yaitu US$66 miliar.&lt;br /&gt;Keberhasilan itu menempatkan Comcast-Disney pada jajaran teratas dari lima perusahaan media terbesar di samping News Corp., Time Warner, Viavom, dan NBC. Transaksi itu sekaligus merupakan pukulan terhadap raksasa media, Rupert Murdoch, yang sebelumnya membeli DirectTV dan menjadikan perusahaan medianya dengan kekayaaan US$39 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transaksi bisnis dalam dunia media itu hanya sekedar contoh dari semaraknya akuisisi dan penggabungan dunia usaha akhir-akhir ini. Apalagi, akuisisi dengan watak memakasa, artinya yang diakuisi tidak berdaya secara finansial (hostile take over).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otak dibalik take over tingkat global itu adalah lembaga-lembaga finansial yang memang bertugas sebagai penasihat dalam setiap transaksi. Sebut saja Morgan Stanley, Goldman Sachs dan sejumlah perusahaan sekuritas lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, dalam transaksi Comcast-Disney, Walt Disney Corporation merekrut para ahli keuangan dari Goldman Sachs dengan tugas khusus membatalkan ambil-alih secara paksa tersebut. Pada ujung cerita, Goldman Sachs gagal menangkis serangan bisnis ala Roberts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan Dan Lonkecih dari Bloomberg, hingga saat ini Morgan Stanley adalah sekuritas dengan reputasi teratas dalam urusan menyelamatkan serangan bisnis melalui akusisi atau ambil-alih paksa. Pada tahun lalu, perusahaan finansial itu berhasil menggagalkan empat rencana hostile take over dengan nilai US$33,3 miliar (Lihat tabel 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita keberhasilan Morgan Stanley terakhir adalah pada Maret tahun lalu. Saat itu Iberdrola SA, perusahaan listrik berbasis di Madrid mendapat ancaman dari Gas Natural SDG SA yang bermarkas di Barcelona dengan nilai ambil-paksa sebesar US$29 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat ancaman seperti itu, CEO Iberdrola Jose Ignacio Sanches berpaling kepada Andres Esteban dan Jorge Lucaya yang memimpin tim investasi dari Morgan Stanley. Kedua orang ini harus mondar-mandir Madrid-London untuk memberikan pencerahan kepada pemagang saham utama Iberdrola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendrik Hijink, pemilik 2% saham Iberdrola melalui Putnam Investments, memberi kesaksian soal kerja keras para ahli investasi dari Morgan Stanley. Merekalah, kata Hijink, yang berhasil meyakinkan para pemegang saham Iberdrola bahwa perusahaan mampu meningkatkan pendapatannya tanpa harus diakuisisi pihak lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus tim Morgan Stanley tidak sia-sia. Para pemegang saham Iberdrola akhirnya menolak akuisisi dan pada akhirnya Natural Energi Commission Spanyol turun tangan dan membatalkan rencana akuisisi itu pada Mei 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut perkiraan Lonkevich perusahaan sekuritas akan terus disibukkan dengan transaksi jenis ini yang mengalami peningkatan sejak 2003. Tahun lalu transaksi ambil-paksa meningkat menjadi US$98,8 miliar tahun sebelumnya US44,8 miliar. Jumlah transaksi itu diperkirakan 7,4% dari total akuisisi dan merjer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan jumlah hostile take over seiring dengan makin banyaknya perusahaan yang tidak berhasil mempertahankan kinerjanya. Situasi kinerja perusahaan seperti itu yang sangat kondusif untuk dicaplok secara paksa karena posisi tawarnya yang sangat rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi perusahaan investasi, maraknya merjer dan akuisisi membawa keuntungan yang luar biasa. Pasti, untuk pekerjaan yang berat seperti menggagalkan serangan lawan bisnis melalui hostile take over mendatangkan fee yang sangat besar pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan pada tahun 2003 bank-bank investasi itu memperebutkan fee sebesar US$10,1 miliar untuk seluruh merjer senilai US$1,22 triliun atau meningkat dari tahun sebelumnya US$1,12 triliun. Goldman mendapat fee paling besar, yaitu US$1,13 miliar, diikuti Morgan Stanley US$925 juta dan Merrill Lynch US$744 juta.&lt;br /&gt; Menurut perkiraan, pada 2004 bank-bank investasi akan mendapat rejeki dari transaksi sejenis akuisis dan merjer, termasuk akuisisi melalui pengambialihan secara paksa. Sampai dengan 11 Februari 2004, total transaksi mencapai US$283,2 miliar atau meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-486428632077379088?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/486428632077379088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=486428632077379088' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/486428632077379088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/486428632077379088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/ambil-untung-dari-maraknya-hostile-take.html' title='Ambil Untung dari Maraknya Hostile Take Over'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-3520359097561416821</id><published>2008-02-01T01:27:00.001-08:00</published><updated>2008-02-01T01:28:09.367-08:00</updated><title type='text'>Mengintip Reformasi Finansial Cina (3)</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;Jurus Sang Naga menuju raksasa ekonomi&lt;br /&gt;( Bagian terakhir dari tiga tulisan, dimuat di Bisnis Indonesia, 13 Maret 2004 )&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Reformasi sektor pasar modal juga sangat mendesak, terutama setelah Beijing menggenjot privatisasi perusahaan milik negara. Pasalnya saat ini kendati sudah 20 tahun melakukan pembaruan ekonomi, pemerintah Cina masih memiliki 96,1% dari 187 perusahaan terbesar di negara itu.&lt;br /&gt;Usia pasar modal Cina memang relatif sangat muda. Bursa Shanghai dan Shenzen baru beroperasi pada 1990. Sementara lembaga pengawas pasar modalnya (China Securities Regulatory Commission) baru berdiri 1992. Tapi dalam satu dekade itu perkembangan pasar modalnya cukup mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut data pemerintah, sampai September 2002, kapitalisasi pasar mencapai 4,4 triliun yuan, atau 50% gross domestic product (GDP), terbesar ketiga setelah Tokyo dan Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data CSRC juga menyebutkan perusahaan di Cina menyerap 135,8 miliar yuan (YS$16,4miliar) dari pasar modal domestik dan global pada 2003, naik 41,2% dari 2002. Transaksi di pasar Sanghai dan Shenzen mencapai 3,2 triliun yuan (US$386,4 miliar), naik 14,7% dari 2002. Menurut data itu, hingga Desember 2003 sebanyak 1.287 perusahaan tercatat di bursa, dengan kapitalisasi 4,2 triliun yuan (US$507,2 miliar), yang melibatkan 70 juta investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan pesat itu menuntut sejumlah perubahan seperti perbaikan transparansi, menambah instrumen perdagangan dan meningkatkan likuiditas perdagangan yang dinilai masih sangat rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal transparansi misalnya, pada Juli 2001 pasar modal Cina diguncang skandal Yin Guang Xia yang mirip kasus Enron di bursa New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan teknologi itu diketahui menggelembungkan rapor keuangannya guna melecut kenaikan harga saham. Kasus tersebut menyeret indikator perdagangan hingga terkoreksi 20% dari angka tertinggi 2.200, menjadi sekitar 1.400.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpan kelemahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibalik angka-angka besar itu, Pasar modal Cina juga menyimpan kekurangan serius. Stephen Green dalam artikel di Business China berjudul The Truth About China's Stock Market, 26 Oktober 2001, membongkar mitos pasar modal Cina yang dibungkus angka-angka besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya mengenai kapitalisasi pasar. Angka itu sangat semu karena 65% saham yang tercatat tidak bisa diperdagangkan. Dia menduga kapitalisasi yang riil hanya 1,84 triliun yuan (US$222 miliar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Green, rasio kapitalisasi pasar di bursa Cina juga cuma 20% dan jauh dari realitas pasar modal yang sudah berkembang seperti Jepang, dimana kapitalisasi pasarnya mencapai 140% GDP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah investor, lanjutnya, juga hanya berkisar 6 juta sampai 9 juta. Jumlah itu cuma 0,3% total penduduk Cina, atau 3% dari 200 juta warga kota yang punya pengetahuan memadai soal investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Green juga mengungkap dana yang diraup dari pasar modal masih sangat tertinggal dari perbankan. Pada 2001, perbankan menyalurkan 1,3 triliun yuan kredit baru, sementara dana segar dari pasar modal 100 miliar yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, yang paling banyak berurusan dengan pasar modal adalah BUMN. Pemerintah berkepentingan membenahi perusahaan yang bobrok melalui pasar modal, sehingga menguasai 59% total saham di lantai bursa. Pemegang saham utama dari 75% perusahaan yang tercatat di bursa Cina adalah BUMN, atau perusahaan terkait BUMN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, banyak perusahaan Cina yang mencari dana dengan mencatatkan sahamnya di Hong Kong (saham H). Perusahaan pertama yang mencatatkan saham di bursa Hong Kong adalah Tsingtao Brewery pada 1993. Sampai kini, 59 perusahaan Cina terdaftar di sana, mencakup 7% saham yang beredar di Hong Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pembenahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan likuiditas, mulai Desember 2002 lembaga pengawas pasar modal Cina membolehkan investor asing melakukan transaksi di saham A, yang semula hanya 'milik' pemodal domestik. Sedikitnya terdapat 1.200 perusahaan penerbit saham A senilai US$500 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pembelian saham A diperbolehkan hanya kepada pemodal asing berkualitas melalui skema qualified foreign institutional investors (QFIIs).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pemodal asing, investor institusi lokal seperti perusahaan asuransi dan dana pensiun termasuk National Security Fund (NSSF) juga didorong masuk bursa. Peraturan baru juga memungkinkan NSSF menginvestasikan 40% dananya di pasar saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain saham A, pasar modal Cina juga mengenal saham B. Saham jenis ini hanya mewakili 3% total kapitalisasi pasar dan 7% total dana yang diserap melalui bursa saham. Sejak 1992 saham B dikhususkan bagi pemodal asing yang akan membeli saham Cina. Perusahaan asing itu mencatatkan sahamnya di bursa negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akhirnya banyak pemodal asing meninggalkan saham B yang bernilai US$13 miliar, karena saham-saham jenis itu memiliki kualitas rendah dan sering merugi. Akhirnya sejak 2001 pemodal domestik juga boleh melakukan transaksi saham jenis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Oktober 2003, CSRC juga membaharui sejumlah persyaratan pencatatan. Misalnya, sebuah perusahaan hanya boleh melakukan IPO (initial public offering) minimal tiga tahun setelah menjadi sebuah perseroan terbatas. Begitu juga IPO baru boleh dilakukan minimal tiga tahun setelah mencatat keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal bulan lalu CSCR meluncurkan paket reformasi atau blue print untuk pasar modal. Paket itu mencakup prinsip pengembangan pasar modal hingga ke wilayah provinsi serta koordinasi dalam memperbaiki dan menegakkan regulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dibentuk dua papan perdagangan. Papan pertama dikhususkan untuk saham-saham utama, sedangkan papan kedua memperdagangkan saham modal ventura, obligasi dan produk futures.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paket reformasi juga menyentuh persoalan lain seperti good corporate governance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, Cina juga belum mengembangkan pasar obligasi secara optimal. Pada 2002, total pasar obligasi mencapai 2,8 triliun yuan, di mana 69%-nya adalah obligasi Treasury, 29% obligasi keuangan dan obligasi korporasi kurang dari 2%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan lagi, 25% dari jumlah itu adalah obligasi yang diterbitkan untuk tidak diperdagangkan yang dikenal dengan nama voucer obligasi Treasury. Sehingga pasar obligasi sesungguhnya hanya 2,2 triliun yuan atau 25% GDP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar obligasi kurang berkembang juga lantaran tingkat suku bunga perbankan yang tidak stabil. Sejak 1996, suku bunga dipotong selama sembilan kali, dari 10,98% hingga 1,98%. Saat ini, obligasi dengan jangka waktu 30 tahun ditransaksi dengan tingkat imbal balik 3,7%, jauh lebih rendah dari obligasi Treasury AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh solusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kendala di sektor finansial yang dihadapi Cina itu perlu diatasi agar aliran dana masuk serta dana masyarakat bisa dimanfaatkan secara efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat tabungan masyarakat di Cina juga sangat besar. Menurut Tong Daochi, Ketua CSRC, tingkat tabungan masyarakat mencapai 38% dari GDP Cina, sekitar 10 triliun yuan. Selain itu aset dana pensiun pada 2001 mencapai 243 miliar yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan perkiraan Bank Dunia yang dikutip Xin Wang, periset China International Capital Corp, total aset dana pensiun per 2003 bisa mencapai US$1,8 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut riset Xia Bin, staf senior di People's Bank of China, sekitar 7000 perusahaan manajer keuangan beroperasi di Shanghai, Shenzhen dan Beijing. Mereka mengakui bisa memperoleh keuntungan 10% hingga 50%, jauh di atas bunga deposito per tahun (2,25%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Xia malah menduga seluruh perusahaan sekuritas mengelola sedikitnya 200 miliar yuan (US$24 miliar). Bersama seluruh perusahaan manajemen aset lainnya, total dana kelolaan bisa mencapai 700 miliar yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan populasi 1,3 miliar, dana masyarakat merupakan potensi luar biasa untuk menggerakkan pasar modal Cina. Apalagi, 1.200 perusahaan di negara itu sedang antri mencari dana segar dari lantai bursa, termasuk sejumlah perusahaan milik negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Cina mampu mengoptimalisasi pasar modal dan sektor finansial, tentu akan sangat menentukan masa depan perekonomiannya. Tetapi, Cina masih memiliki setumpuk persoalan lain seperti masalah hukum, terutama soal hak cipta, korupsi dan kesenjangan ekonomi pedesaan dan perkotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak mudah menjadi raksasa ekonomi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-3520359097561416821?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/3520359097561416821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=3520359097561416821' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3520359097561416821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3520359097561416821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/mengintip-reformasi-finansial-cina-3.html' title='Mengintip Reformasi Finansial Cina (3)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-3413475217314580924</id><published>2008-02-01T01:23:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T01:25:30.878-08:00</updated><title type='text'>Mengintip Reformasi Finansial Cina (2)</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus Sang Naga menuju raksasa ekonomi&lt;br /&gt;(Bag. 2 dari 3 tulisan dimuat pada edisi 12 Maret 2004)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemerintahan Cina menyadari betul pentingnya urusan reformasi sektor finansial. Kesadaran tersebut menggerakkan Presiden Cina Hu Jintao membentuk tim pengawas yang diketuai Liu Mingkang, yang ketika itu menjabat sebagai Dirut Bank of China.&lt;br /&gt;Kondisi sektor perbankan di Cina memang sangat parah. Kredit macet di Bank of China, bank terbesar di negara itu, mencapai 20%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di tiga bank besar lainnya, Bank Industri dan Perdagangan, Bank Pembangunan (China Construction Bank) dan Bank Pertanian, kredit macetnya mencapai 21%, atau setara dengan US$200 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan para pengamat asing memperkirakan jumlah kredit macet jauh lebih besar dari angka resmi yang diumumkan pemerintah, yakni antara 40% hingga 50%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bisa dipahami. Karena dalam perjalanannya, bank-bank di Cina lebih berperan sebagai pengelola dana yang melayani kepentingan partai komunis di negara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengherankan kalau Desember tahun lalu, pejabat tinggi Partai Komunis Cina, Wang Xuebing dijatuhi hukuman penjara 12 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, selama tujuh tahun memimpin Bank of China, tercatat US$700 juta dana raup tanpa bekas. Kejadian itu merupakan pertanda keseriusan raksasa ekonomi tersebut dalam melakukan reformasi di sektor finansial guna mendukung pertumbuhan ekonominya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cina pada Januari lalu mengucurkan masing-masing US$22,5 miliar dari kas cadangan devisanya untuk China Construction Bank dan Bank Of China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan negara itu siap mengucurkan sekitar US$100 miliar untuk menyelamatkan bank dari lilitan kredit macet. Hal yang tentu saja bisa dilakukannya karena besarnya cadangan devisa yang dimiliki mencapai US$450 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam regulasi terbaru yang diumumkan China Banking Regulatory Commission (CBCR), seluruh bank komersial di negara itu harus memenuhi persyaratan rasio kecukupan modal 8% pada 1 Januari 2007, seperti ditetapkan Bank for International Settlements (BIS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diakui oleh seorang pejabat CBCR, rasio kecukupan modal perbankan Cina saat ini sangat rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini, lanjutnya, akan menyulitkan perbankan dalam mengontrol ekspansi bisnisnya yang begitu pesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun lalu total kredit perbankan Cina mencapai 2,77 triliun yuan. Total kredit itu diperkirakan sedikit menurun pada tahun ini, yaitu 2,6 triliun yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari upaya reformasi, pada Desember tahun lalu, CBCR memperbolehkan sejumlah investor asing menguasai 20% saham perbankan Cina dan investor individu luar negeri boleh membeli 15% saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain merupakan tuntutan internal, urusan reformasi perbankan harus dilakukan untuk menjawab tuntutan eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai akhir 2006-sesuai dengan janjinya saat masuk WTO-negara itu akan membuka seluas-luasnya sektor tersebut terhadap masuknya perbankan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sektor perbankan Cina harus dibenahi secara optimal agar bisa bersaing dengan perbankan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi perbankan, terutama perbaikan kinerja Bank of China dan China Contruction Bank, memang tidak bisa ditawar-tawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan otoritas moneter keuangan negara itu mengakui kalau urusan melepaskan patokan yuan terhadap US$ baru bisa dilakukan setelah pembenahan di kedua bank tersebut tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal mata uang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal mata uang yuan merupakan persoalan lain yang perlu dicarikan jalan keluar. Sejak awal Cina menganut sistem mata mengambang terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sejak krisis finansial Asia tahun 1997, Cina melakukan pengetatan melalui manajemen pengendalian (kontrol devisa). Kebijakan yang akhirnya membuat Cina tidak ikut terpuruk bersama negara Asia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Cina mematok mata uangnya pada 8,28 yuan untuk 1$US. Saat ini, banyak kalangan di AS, Jepang dan Eropa menilai patokan sebesar itu terlalu rendah karena akan mematikan daya saing ekspor mereka. Karena itu Cina terus didesak untuk segera mengapresiasi mata uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain pemerintahan Cina berkali-kali menegaskan bahwa Cina tidak membutuhkan penguatan nilai yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, media lokal di Cina mengingatkan bahwa desakan AS dan Jepang itu merupakan sebuah konspirasi untuk memblokade pertumbuhan ekonomi Cina dengan orientasi pasar ekspor sebagai penggeraknya. (Lihat tabel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bisa dipahami. Chi Hung Kwan, peneliti senior pada Researach Institute of Exconomy, Trade and Industry, Japan, mengatakan ada tiga alasan mengapa Beijing sangat berat melepaskan patokan yuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, suskes Cina ketika tidak terkena dampak krisis finansial yang menerpa Asia pada tahun 1997-1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kondisi perekonomian Cina yang tengah kondusif, sehingga menahannya untuk tidak tergesa-gesa melakukan perubahan ekonomi makro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kuatnya kelompok pendukung yang menikmati keuntungan dari tingkat yuan yang rendah. Kelompok ini adalah para pengekspor Cina yang menikmati marjin yang besar, ketika produk Cina memiliki daya saing yang tinggi di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, barang-barang impor yang murah lantaran rendahnya nilai yuan juga akan membawa dampak yang buruk bagi sektor pertanian dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Cina dipaksa untuk memiliki perspektif yang lain. Negara itu perlu memperhatikan kepentingan komunitas internasional, terutama Jepang, Eropa dan khususnya AS, yang mengalami defisit perdagangan dengan negara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak, Cina harus terus mengeluarkan energi untuk merem kenaikan yuan dalam konteks friksi perdagangan dengan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, karena cadangan mata uang yang besar, mau tidak mau memaksa Cina untuk mengontrol suplai uang dan ekspansi yang agresif di sektor-sektor yang konsumtif seperti real estate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, jelas Kwan, reformasi kebijakan mata uang merupakan hal yang perlu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fluktuasi yang tajam terhadap dolar dan kenyataan banyak negara Asia mengemas mata uang secara mengambang juga akan menimbulkan ketidakstabilan dalam lalu lintas perdagangan dengan negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, mobilitas dana yang besar ke Cina semakin menyulitkan otoritas moneter negara itu mengontrol suplai dan tingkat bunga. Suatu kondisi yang sangat mungkin menimbulkan inflasi dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, kondisi perkekomian Cina yang cukup kondusif saat ini merupakan kesempatan untuk melakukan sejumlah perubahan, termasuk soal yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perspektif lain itu akhirnya memunculkan spekulasi bahwa Cina akan segera melakukan perubahan kebijakan mata uangnya pada tahun ini juga, kendati dari sisi Beijing selalu menegaskan bahwa reformasi bidang itu -kalaupun dilakukan-bukan karena atas desakan dari luar negeri, tetapi lebih merupakan kebutuhan internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, Cina akan mempertimbangkannya dengan hati-hati. Dan sekarang ini yang menjadi prioritas masih pada penguatan sektor perbankan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-3413475217314580924?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/3413475217314580924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=3413475217314580924' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3413475217314580924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3413475217314580924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/mengintip-reformasi-finansial-cina-2.html' title='Mengintip Reformasi Finansial Cina (2)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-5523426175840276228</id><published>2008-02-01T01:18:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T01:20:42.301-08:00</updated><title type='text'>Mengintip Reformasi Finansial Cina (1)</title><content type='html'>Oleh Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurus Sang Naga menuju raksasa ekonomi&lt;br /&gt;(Bag. 1 dari 3 tulisan)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Beijing saat ini sedang berlangsung Kongres Rakyat Cina yang dimulai akhir pekan lalu. Selain penegasan atas kepemilikan wilayah Taiwan dan peningkatan kekuatan militer, kongres tersebut membahas kebijakan ekonomi, termasuk kebijakan mengubah paradigma pembangunan ekonomi dengan lebih memperhatikan pengembangan wilayah miskin di pedesaan yang selama ini terabaikan.&lt;br /&gt;Untuk memajukan kesejahteraan para petani, Perdana Menteri Wen Jiabao berjanji akan meningkatkan investasi di wilayah pertanian sebesar 20%, mengurangi beban pajak pertanian hingga 7 miliar yuan dan memberi subsidi kepada penghasil bahan makanan hingga US$1,2 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, penerbitan obligasi untuk pembangunan yang tahun ini dikurangi dari 140 miliar yuan (US$16,9 miliar) menjadi 110 miliar yuan juga akan lebih banyak dimanfaatkan untuk pengembangan wilayah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Wan di hadapan peserta kongres mengedepankan kebijakan fiskal yang pro-aktif dan mengupayakan pembayaran internasional yang seimbang dan menjaga mata uang yuan dalam tingkat yang seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arahan Wan memang menggembirakan. Tetapi, akankah Cina dengan mudah merealisasikan janji-janji reformasinya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak. Pasalnya, pertama-tama negara itu harus menyelesaikan sebuah pekerjaan rumah maha penting, yaitu reformasi finansial yang sampai saat ini amburadul. Potret raksasa ekonomi dengan fundamen perekonomian yang masih terus dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raksasa ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2050, Cina bersama India diproyeksikan masuk dalam kelompok tiga besar perekonomian dunia bersama Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekayaan alam, besarnya populasi, keberhasilan kaum migrannya, keterbukaan pada pasar dunia, serta etos kerja masyarakat yang dilandasi nilai-nilai filsafat Taoisme dan Hindu-Budhisme yang mendalam, memungkinkan kebenaran proyeksi para ekonom tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyeksi itu tidak berlebihan. IMF Survey, 15 Desember 2003, di bawah judul: A Tale of Tio Giants: India and China, juga menurunkan laporan tentang dua raksasa ekonomi Asia itu. Laporan itu kembali mengutip Lord Meghnad Desai dari London School of Economy, yang berbicara dalam sebuah konferensi bulan sebelumnya di New Dehli.&lt;br /&gt;Menurut dia, kalau satu generasi sebelumnya orang mempertanyakan apakah kedua negara itu mampu memberi makanan kepada penduduknya, maka saat ini temanya lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, Cina dan India yang penduduknya merupakan 40% populasi dunia, berhasil mencatat 20% output global. Desai bahkan lebih jauh ikut meyakini kalau Cina akan menjadi kekuatan ekonomi raksasa dan India akan menjadi sebuah masyarakat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lee Kuan Yew, tokoh senior Singapura pun turut membuat perkiraan tentang Cina. Dalam pidatonya dengan judul China - An Economic Giant, di sebuah Global Forum Lunch seperti dimuat di Fortune, 29 September 1999, dia mengakui kalau pada 2050 Cina secara sempurna merampungkan tiga perubahan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan itu adalah dari ekonomi terencana menjadi ekonomi pasar, dari ekonomi agraris menjadi ekonomi industri dan dari ekonomi sentralistis menjadi perekonomian yang merangkum seluruh potensi wilayah pinggiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyeksi tampilnya Cina dalam percaturan ekonomi dunia bukan tanpa dasar. Pada 1980, India-menurut terminologi besarnya PDB dibandingkan daya beli mata uangnya-menduduki posisi nomor lima ekonomi dunia, sementara Cina berada pada posisi ke sembilan. Pada 2001, Cina meloncat ke posisi kedua setelah AS, sementara India berada pada posisi keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan Cina memang lebih fantastis dibandingkan India. Awalnya adalah liberalisasi yang dikemas Deng Xiaoping pada 1978. Pertumbuhan itu kian mencengangkan sejak Cina mendekatkan diri pada pasar global dengan bergabung dalam keanggotaan WTO pada 11 Desember 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total perdagangan luar negeri Cina pada 2002 mencapai US$620,8 miliar, menduduki peringkat kelima dunia. Ekspor 2003 bertumbuh 34,6%, sementara impor 39,9%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beijing berhasil melakukan hubungan dagang dengan sejumlah mitra utamanya seperti Jepang, AS, Hong Kong, Korsel, Taiwan, Jerman, Malaysia, Singapura, Rusia dan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai dagang dengan 10 mitra utamanya mencapai US$581,5 miliar atau 68% dari total perdagangan. Ekspor meningkat dari sekitar US$10 miliar pada tahun 1978 menjadi US$125 miliar pada tahun 2001. Tahun 2003 total nilai ekspor Cina tercatat sebesar US$438,4 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang utang luar negerinya juga lumayan besar, yaitu US$182,6 miliar pada Juni 2003, meningkat 8,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari angka tersebut, 65% merupakan utang jangka panjang dan menengah dan 35,2% merupakan utang jangka pendek. Perbandingan utang terhadap ekspor (debt sevice ratio) per 2002 adalah 7,89% atau masih jauh di bawah tingkat kecemasan konvensional sebesar 20%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tahun lalu pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 9,1%, tahun ini diperkiraan mencapai 7% hingga 8%. Lalu terlontar pertanyaan dari mana biaya yang menopang perekonomian negara Tirai Bambu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Banjir' investasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tentu sepakat kalau pertumbuhan ekonomi Cina didukung aliran dana global dan cadangan devisanya yang besar. Per Desember 2003 cadangan devisa Cina mencapai US$403,3 miliar, terbesar kedua di dunia setelah Jepang (US$673,5 miliar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu perhatikan besarnya pembiayaan ekonomi Cina dari aliran dana global. Pada 2003, proyek yang disetujui dengan pembiayaan dari luar bertambah 20,2% menjadi 41.081, sementara kontraknya bertambah 39,% (US$115,1 miliar) dan utilisasi naik 1,4% (US$53,5 miliar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cina juga akan mengalami gambaran serupa tahun ini. Sebab aliran dana global ke pasar-pasar yang sedang berkembang (emerging market) melonjak luar biasa besar. Laporan Institute of International Finance (IIF) memperkirakan aliran dana global tahun ini naik dari US$196miliar menjadi US$187 miliar dan US$124 miliar pada 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya dana global, terutama dana investasi langsung ke Cina tidak bisa dilepas dari peran para perantuannya (chinese overseas) yang tersebar di sentero dunia. Bahkan, menurut perkiraan Thomas Merkhoff dan Solvai Gerke dalam bagian pengantar buku Chinese Entrepreneurship and China Business Networks, 80% dari total dana investasi langsung itu berasal dari para migran Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perhitungan yang tidak mengada-ada. Bayangkan, kalau kalkulasi itu benar, pada awal 1990-an diperkirakan "GNP" dari total 50 juta perantauan Cina, termasuk Hong Kong dan Taiwan, mencapai US$450 miliar atau lebih besar dari "GNP" negara Cina sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan total aset likuid-tidak termasuk ekuitas-para migran itu senilai US$1,5 triliun-US$2 triliun (The Economist, 7/8/1992 dan 11/27/1993). Jumlah itu sangat dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Cina tidak menyia-nyiakan tetesan dana global dan ikatan emosional dengan kaum migrannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah-daerah potensial mulai dikembangkan secara optimal. Sejak 1985 lebih dari 85% pasokan dana global itu disalurkan ke zona-zona pembangunan khusus (special economic zones) seperti Shanghai, Beijing dan dua wilayah di provinsi selatan seperti Hainan dan Guangdong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisi gelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aliran dana global yang besar menuntut kesiapan internal yang matang. Salah satu yang saat ini terus dilakukan adalah pada sektor finansial. Tanpa didukung sektor finansial yang kuat, Cina tidak mampu menyerap dan mengelola dana global secara optimal. Itulah sebuah sisi gelap dibalik kemegahan pembangunan Cina dengan proyeksi yang menggiurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut laporan Bank Dunia dalam Managing Capital Flows in East Asia (1996), dari dana investasi langsung bersih pada awal 1990-an terus mengalami perembesan ke luar negeri (capital fligtht), ditengarai akibat lemahnya pengelolaan permodalan. Puncaknya pada 1993, dimana rembesan modal keluar mencapai US$10 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investor kala itu mulai mencoba menghindari risiko mata uang dan berbagai risiko dalam negeri Cina, termasuk sektor perbankan yang lebih banyak menyalurkan kredit ke sektor-sektor properti yang menyebabkan terjadinya gelembung ekonomi (bubble economic).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran dana yang sudah masuk ke luar kembali untuk mencari return yang lebih tinggi di luar negeri. Kejadian itu seiring dengan kenyataan adanya depresiasi yuan terhadap US$ sebesar 21% pada 1990, 10% pada 1991 dan 8% antara 1992-1993.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, reformasi sektor finansial, baik perbankan, mata uang dan pasar modal, merupakan soal sangat mendesak bagi Beijing. Kalau tidak, aliran dana masuk akan menjadi bencana besar seperti dipertontonkan dalam krisis ekonomi Asia 1997.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-5523426175840276228?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/5523426175840276228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=5523426175840276228' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/5523426175840276228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/5523426175840276228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/mengintip-reformasi-finansial-cina-1.html' title='Mengintip Reformasi Finansial Cina (1)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-7685113513074561608</id><published>2008-02-01T01:13:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T01:14:47.887-08:00</updated><title type='text'>Menyongsong Runtuhnya Hegemoni Petro-Dolar (3)</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar pengakuan menteri energi Qatar, Abdullah bin Hamad al-Attiya, bahwa negara-negara produsen minyak sangat mencemaskan melemahnya dolar yang turun hampir menyentuh level 1,3 (tepatnya 1,2898 ) terhadap euro pada pertengahan Januari.&lt;br /&gt;Namun demikian, menurut dia, melakukan perubahan dari dolar ke euro bukanlah sebuah keputusan yang mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerumitan itu juga diakui Ramzi Salman, Penasihat Menteri Pertambangan dan Energi Qatar yang juga mantan sekjen OPEC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, persoalan minyak dan devaluasi dolar adalah tema yang terus dibahas dan dicarikan solusinya di OPEC sejak awal berdirinya lembaga itu. Bahkan persoalan minyak dan devaluasi mata uang jauh lebih tua lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memberikan contoh pada 1930, Menkeu Irak Sassoon Kheduri pernah meminta Inggris mengaitkan pound sebagai mata uang resmi dalam transaksi minyak dengan emas. Hasilnya, beberapa tahun kemudian, ketika mata uang Inggris merosot, para produsen minyak di Timur Tengah tidak harus mengalami kerugian.&lt;br /&gt;Harga basket OPEC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stabilisasi harga minyak dalam kaitannya dengan mata uang dan inflasi juga sudah dibahas dalam berbagai pertemuan mulai dari Caracas, Beirut, sampai Genewa sejak periode 70-an hingga 90-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keputusan cukup penting terjadi pada 28 Juni 1979 di Genewa ketika OPEC untuk pertama kali menetapkan sebuah kisaran harga. Saat itu, harga ditetapkan US$18 per barel dengan premium US$2 per barel dan harga maksimal US$23,5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikuti dolar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Salman, fluktuasi harga minyak seperti komoditas barang dan jasa lainnya memang harus mengikuti dolar. Menurut dia, justru tidak masuk akal kalau orang mempersoalkan dolar dan menginginkan euro sebagai gantinya. "Bukankah AS adalah importir terbesar minyak. Lalu siapa yang untung kalau minyak dihargakan dalam euro."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak akhir 1986, OPEC menetapkan harga rujukan US$18 per barel. Harga rujukan itu diperbesar menjadi US$21 per barel pada 27 Juli 1990 dan akhirnya ditetapkan dalam kisaran US$22-US$28 per barel pada Maret 2000. Bahkan, pada saat itu juga sudah ditetapkan kisaran harga dalam euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalkulasi politis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salman malah berpendapat menggantikan dolar ke euro-mengubah petro-dolar ke petro-euro-sebagai mata uang resmi seperti dipelopori Saddam Husein semata-mata merupakan kalkulasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salman bisa saja benar. Tetapi harap diingat bahwa tekanan untuk menggeser hegemoni petro-dolar bukan hanya kalkulasi bisnis semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak negara sudah muak dengan keangkuhan AS yang sering kali mempraktikkan imperalisme dengan bungkusan demokrasi. Tetapi perlu dicatat, menggeser hegemoni petro-dolar akan melibatkan kepentingan banyak negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja pengakuan Javad Yarjanis terhadap faktor Inggris dan Norwegia. Andaikan saja dua negara pengekspor minyak Eropa itu juga memilih euro, akan sangat mendukung pergeseran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau faktor Cina dan Jepang. Ekonomi Cina, misalnya, yang menurut prediksi Lehman Brothers tumbuh 8% tahun ini, tentu butuh energi sangat besar. Menurut laporan International Energy Agency, Cina kini mengkonsumsi minyak 5,8 juta barel per hari, menggeser posisi Jepang sebagai konsumen minyak nomor dua terbesar di dunia setelah AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu banyak spekulasi yang mengaitkan kedekatan ideologis Cina dengan Rusia dan Venezuela, sehingga negara itu lebih cenderung mendukung upaya menggantikan dolar dengan euro sebagai alat dalam transaksi minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, hubungan dagang AS dan Cina juga tidak kalah hebatnya. Apalagi, AS masih memiliki kartu cukup penting setelah mencaplok Irak, yang memiliki cadangan minyak terbesar kedua di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi militer AS itu, sedikitnya memberikan tekanan psikologis kepada pemimpin negara lain yang mengikuti aksi Saddam memilih euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dengan melepaskan Irak yang bisa mengekspor minyak 2 juta barel perhari dari kungkungan OPEC, AS memiliki posisi tawar dalam memainkan harga minyak dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kompleksitas tarik menarik kepentingan demikian, mudah-mudahan saja terjadi sebuah solusi yang menguntungkan semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar bahwa perubahan dari petro-dolar ke petro-euro akan mengubah tata dunia seperti ditulis Bernd Kling dalam artikelnya Der Euro als Wunderwaffe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi akan lebih baik lagi, kalau transaksi minyak diperdagangkan dalam sejumlah mata uang kuat seperti euro, dolar, yen dan yuan. Itu akan menjadi sebuah solusi yang diharapkan bisa mereduksi hegemoni AS dengan petro-dolarnya, sekaligus mencegah hegemoni baru kalau hanya sekadar menggantikan dolar dengan euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dengan demikian, perubahan menuju dunia yang lebih adil lebih dimungkinkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-7685113513074561608?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/7685113513074561608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=7685113513074561608' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7685113513074561608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7685113513074561608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/menyongsong-runtuhnya-hegemoni-petro_9384.html' title='Menyongsong Runtuhnya Hegemoni Petro-Dolar (3)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-7575672387900437390</id><published>2008-02-01T01:11:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T01:12:07.605-08:00</updated><title type='text'>Menyongsong Runtuhnya Hegemoni Petro-Dolar (2)</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lain Inggris lain reaksi Rusia, yang dikenal sebagai pengekspor minyak nomor dua terbesar setelah OPEC yang menentang invasi AS ke Irak, dalam merespons euro.&lt;br /&gt;Selain untuk menyelamatkan Lukoil, perusahaan minyaknya yang pada 1997 melakukan kontrak menggarap ladang minyak di Qurna Barat, Irak, kedekatan Rusia dengan negara-negara kawasan euro-zone bisa dipahami karena hubungan ekonomis yang kental dengan negara-negara di wilayah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prancis dan Jerman memiliki investasi yang cukup besar di Rusia, terutama dalam urusan produksi minyak. Maka terbentuklah poros Paris-Berlin-Moskow yang dikenal sebagai penentang utama dalam serangan ke Bagdad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya berhenti di situ. Rusia dibawah Vladimir Putin bahkan terus berupaya menyatu dengan negara-negara Eropa dengan menjadi anggota komunitas negara pengguna euro, dengan langkah sejumlah negara bekas Uni Sovyet yang tidak lama lagi segera bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Rusia, kendati tidak mudah, menjatuhkan pilihan untuk memihak Eropa dan euro adalah pilihan rasional. Rusia seperti kata Youssef Ibrahim, Direktur Manajemen dari Strategic Energy Investment Group di Dubai, memainkan peran yang sangat besar. Putin, katanya, memiliki sebuah kartu yang menentukan dalam sebuah meja perjudian ekonomi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Youssef itu menanggapi Putin saat bersama kanselir Jerman mengunjungi Yekaterinburg, kota di pegununggan Ural, Rusia, Oktober 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, Putin mengatakan bahwa Rusia belum sampai pada keputusan menggunakan euro dalam transaksi minyaknya. Menurut dia, rencana itu adalah kepentingan negara-negara pengguna mata uang euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sebenarnya Rusia seperti ditulis Catherine Belton pada Moscow Times (Putin: Why not Prices Oil in Euros?), 10 Oktober 2003, melalui Putin sudah mengajukan proposal untuk menggunakan euro pada Oktober 1999 dalam pertemuan para pemimpin Uni Eropa di Helsinki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip Alexander Rahr, ahli Rusia di Jerman, Belton mengatakan Rusia di bawah Putin, yang sangat bergantung pada ekspor minyak, memilih kepentingan yang besar untuk mengubah struktur OPEC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dia tidak bisa melakukan hal itu dengan mudah tanpa melibatkan AS. Sebuah tarik menarik kepentingan yang tidak memungkinkan Rusia memainkan kartu seenak perutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pendukung Putin adalah ekonom dan penasihat ekonominya, Yevgeny Gavrilenko. Menurut dia, keputusan itu sangat mungkin kendati lebih menguntungkan negara Eropa dari pada memberikan manfaat langsung bagi Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Vice President Lukoil Leonid Fedun menyambut baik proposal Putin. "Kalau pemerintah melakukan hal itu, kami mendukungnya. Dari sudut ekonomi hal itu memang tidak masalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bersuara lain dari Rusia dalam urusan minyak dan dolar itu adalah Valery Nestorov, analis investasi dari Troika Dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, kalau pun peralihan transaksi minyak dari dolar ke euro akan terjadi, maka masih membutuhkan waktu yang lama. Pasalnya, kalau saja pasca pengalihan ke euro, perekonomian AS lebih baik dari Eropa, akan sangat berbahaya bagi Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan itu wajar. Apalagi perekonomian negara adi kuasa itu akhir-akhir ini mulai memperlihatkan tanda-tanda perbaikan. Karena sebagai importir minyak dan barang serta jasa terbesar, AS masih bisa memainkan perannya di peta perekonomian dunia. Dengan memainkan langkah itu, hubungan dagang AS dan Rusia akan mengalami kegoncangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggantungkan harapan sepenuhnya pada Eropa, bukanlah pilihan yang terbaik bagi Rusia. Karena sampai saat ini pasar minyak Rusia ke negara-negara tersebut baru 16%. Rusia memang masih membutuhkan AS untuk memasarkan minyaknya. Dan memang dari hari ke hari angka ekspor minyak Rusia ke AS terus meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterpecahan OPEC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPEC sendiri juga tidak seragam dalam upaya mengalihkan transaksi minyak dari dolar ke euro. Sampai saat ini, sedikitnya tiga negara anggota OPEC yang berterus-terang menyatakan ketidaksetiaannya pada dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama adalah Iran yang berniat meminang euro sejak 1999. Pada 2002, negara yang dicap "jangkar setan" oleh AS itu mengkonversikan sejumlah cadangan mata uangnya ke euro. Bahkan proposal untuk menjual minyaknya dalam euro sudah disetujui parlemen dan bank sentral sejak tahun tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara kedua adalah Venezuela di bawah komando Presiden Hugo Chavez, yang berideologi marxis. Chavez pada September 2000 pernah mengusulkan sebuah sistem komputerisasi antara negara-negara anggota OPEC yang memungkinkan barter langsung minyak dengan barang dan jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pada Maret 2001, seorang diplomat Venezuela yang bertugas di Rusia, Francisco Mieres-Lopez, secara terbuka mengusulkan transaksi minyak dalam euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Venezuela memang bersungguh-sungguh kendati belum mendapat restu dari bank sentralnya. Sejak 2002, negara itu sudah melakukan 13 kali barter minyak, termasuk dengan Kuba, salah satu musuh utama AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Venezuela membayar dalam bentuk minyak kepada Kuba yang membantu perbaikan sarana kesehatan di desa-desa Venezuela. Tidak mengherankan, saat terjadi kudeta militer pada pemilihan Chavez yang kedua pada April 2002, AS diketahui berada di belakang kaum oposan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga dan yang terpenting adalah Irak. Pada Oktober 2000, Saddam Husein menjual minyaknya dalam euro saat mata uang bersama Eropa itu masih senilai 82 sen per US$.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga memindahkan cadangan senilai US$10 miliar dari dolar ke euro. Sebuah keputusan yang bisa jadi menjadi alasan terpenting serangan militer AS ke negara tersebut setelah soal weapons of mass desctruction (WMD) hingga saat ini menimbulkan perseteruan opini intelijen di Inggris dan AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebagai institusi OPEC belum pernah mendiskusikan secara serius rencana para anggotanya tersebut. Pada pertemuan di Aljazair 11 Februari lalu juga tidak terjadi diskusi semacam itu, kendati aspirasi tersebut terus menguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Pertambangan RI yang juga Presiden OPEC, Poernomo, hanya mengakui bahwa diksusi soal itu masih terbatas pada sejumlah anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar kalau pada April 2002 Javad Yarjani, kepala bagian analisa pasar OPEC di Spanyol pernah mengangkat persoalan tersebut secara terbuka. Dia mengatakan, rencana tersebut harus memperhitungkan kondisi riil saat ini, terutama menyangkut kekuatan ekonomi AS yang hingga beberapa waktu mendatang belum berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, sampai dengan akhir 1990-an, 80% transaksi mata uang dunia masih dalam dolar. Begitu juga setengah dari ekspor dunia dilakukan dalam mata uang itu. Lebih lagi, lanjut Yarjani, cadangan mata uang dunia dalam dolar empat kali lebih besar dari nilai perdagangan global AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, kata Yarvani, haruslah diperhitungkan bahwa AS selain memproduksi sendiri minyaknya, juga pengimpor terbesar di dunia. Walaupun kalau dicermati, kata dia, kawasan negara euro-zone merupakan pegimpor minyak dan produk-produk berbasis minyak yang tidak kalah besar dibandingkan AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, negara OPEC dengan cadangan minyak terbesar seperti AS di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, Emirat Arab dan Oman memiliki kertegantungan yang sangat besar pada AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, untuk sementara lupakan saja nasihat mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad kepada raja Arab pada awal tahun lalu agar negara yang 75% pendapatan negaranya bergantung pada minyak menukar minyaknya langsung dengan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja rajutan kepentingan minyak antara AS dan Arab Saudi. Menurut catatan US-Arabian Business Council, selain sebagai pengimpor, negara Paman Sam menjadi pemasok barang dan jasa bagi industri minyak dan gas di Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pasok untuk kebutuhan fasilitas teknologi mencapai sekitar 70%, AS juga menjadi pemasok sekitar 75% manajemen proyek dan disain pasar untuk produksi minyak dan gas bumi negara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, sejak 2000 hingga 2007, perusahaan minyak terbesar dunia milik Arab Saudi, Aramco, akan mengucurkan dana US$10 miliar untuk proyek gas dan minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 2000 hingga 2002 setiap tahun perusahaan yang memiliki cadangan minyak 259,1 juta barel dan cadangan gas 204,4 triliun kubik (tcf) itu berencana mengucurkan dana US$2,56 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek yang akan dikerjakannya antara lain Hawiyah Gas senilai US$2 miliar. Yang dipercayakan sebagai manajer proyek untuk industri di Hawiyah itu adalah Parson Corporation dari AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga untuk proyek gas yang baru di Haradh. Dalam proyek senilai US$2,6 milar dengan kapasitas per hari 1400 juta kubik kaki tersebut akan dikontrakkan kepada Foster Wheeler dari AS sebagai manajernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dengan Aramco saja, kelihatan betapa jalinan kepentingan minyak antara Arab Saudi dan AS negara gurun itu. Selain itu masih ada Texaco, Exxon, Mobil, Chevron dan sejumlah perusahaan AS yang berkepentingan di negara tersebut seperti Kellogg Brown &amp;amp; Root, The Parsons Corp., Betchel, Stone &amp;amp; Webster Enginering, ABB Lumnus Global dan sejumlah perusahaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa OPEC tidak mudah distel dalam satu nada guna menyuarakan perubahan yang maha dahsyat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-7575672387900437390?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/7575672387900437390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=7575672387900437390' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7575672387900437390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7575672387900437390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/menyongsong-runtuhnya-hegemoni-petro_01.html' title='Menyongsong Runtuhnya Hegemoni Petro-Dolar (2)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-6982335497320682893</id><published>2008-02-01T01:06:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T01:08:39.738-08:00</updated><title type='text'>Menyongsong Runtuhnya Hegemoni Petro-Dolar (1)</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dimuat di Bisnis Indonesia edisi 26 Februari 2004&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;Akhir pekan lalu Menteri Energi Rusia Igor Yusufov angkat bicara. Apalagi kalau bukan urusan dolar dan minyak yang tidak kondusif bagi perekonomian negara yang sangat bergantung pada ekspor emas hitam itu, menyusul pertemuan G7 yang membahas pasar uang global di Florida dan OPEC di Aljazair awal bulan ini.&lt;br /&gt;Aksi OPEC yang akan memangkas produksinya hingga 1,5 juta barel per hari dan mengurangi kuota sebanyak 1 juta barel, menurut Yusufov, akan menaikkan harga mi-nyak yang tentu akan membawa inflasi bagi negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di pihak lain, Rusia harus terus menyesuaikan harganya guna mengkonpensasikan penurunan dolar terhadap euro yang hingga saat ini belum diprediksi kapan berakhir. Keluhan yang normal dari sebuah negara pengekspor minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga posisi terakhir kemarin dolar memang sedikit menguat ke posisi 1,2533 euro. Sementara yen berada pada posisi 108,60 setelah pekan lalu sempat menguat ke tingkat 105,83 per $US sebagai reaksi atas intervensi pemerintah ke pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan sebelumnya otoritas moneter negara Sakura itu telah mengucurkan 7,15 triliun yen (US$67,7 miliar) untuk menangkal keterpuru-kan kinerja dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan opini Rusia, Menteri Keuangan AS John Snow sangat optimistis pertemuan G7 di Boca Rato membawa hasil positif. Pasar bereaksi positif dan sejak pertemuan itu dolar sempat menguat 0,16% terhadap euro dan 2,6% terhadap yen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dolar yang kuat menguntungkan bagi AS. Kami mempercayai pasar dan dolar akan memperhatikan kepentingannya sendiri," ujarnya seperti dikutip Bloomberg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Cina-yang saat ini terus melakukan perdebatan internal dan ditekan pihak internasional-diperkirakan mengubah kebijakan mata uangnya tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk urusan melobi Cina itu, kemarin tiba rombongan dari AS yang dipimpin David Loevinger, wakil Snow, guna berbicara dengan bank sentral, menemui sejumlah institusi finansial serta bertukar pikiran dengan para pemim-pin politik setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Snow sendiri yakin pada janji Cina yang akan mengubah patokan mata uangnya setelah melakukan regulasi perbankan dan kebijakan moneter yang saat ini memang sedang dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tren menguat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, soal harga minyak memang memperlihatkan tren menguat. Harga minyak mentah yang dipersiapakan untuk jatah April mengalami kenaikan 5 sen atau 0,1% menjadi US$34,63 per barel, sementara harga kontrak sudah mencapai US$34,58 per barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat posisi dolar yang masih relatif rendah dan harga minyak yang kian meroket seperti ini, kerisauan Yusufov bisa dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan dolar yang masih kecil sebenarnya belum meredakan kecemasan para petinggi dari Arab Saudi, Qatar dan Libya yang sejak akhir tahun lalu mengkhawatirkan daya jual minyak dari para produsen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mereka menjual minyak dalam dolar, tetapi membeli barang dan jasa dari mata uang lain seperti euro dan yen. Realitas tersebut mestinya mengantar kita pada tema yang sentral dan sensitif, yaitu keterkaitan antara dolar dan minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi Yusufov secara terang-terangan menyatakan kesediaan negaranya untuk menggantikan transaksi mi-nyak dengan euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang terasa sangatlah tidak lengkap kalau kita lalai mengaitkan kinerja dolar yang melemah selama ini dengan urusan minyak yang menjadi komoditas utama du-nia. Karena, sepakat atau tidak, minyaklah yang selama ini menjadi penopang utama hegemoni dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati dolar mulai diperkenalkan Thomas Jeferson pada 1792, baru dua abad kemudian mulai menancapkan hegemoninya setelah OPEC, organisasi negara produsen minyak yang mensuplai dua pertiga kebutuhan dunia, menjadikan mata uang AS itu sebagai alat transaksi resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1792 dolar ditetapkan pada nilai yang setara dengan 371,2 grain perak atau 24,75 grain emas. Ketentuan itu tidak bertahan. Patokan terhadap perak dilepas pada 1873. Tahun 1934, terjadi devaluasi dan nilai dolar mero-sot terhadap emas. Sejak saat itu nilai 35 dolar ditetapkan sepadan dengan 1 ounce emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hegemoni dolar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif historis, para ahli internasional membagi hegemoni AS dalam tiga tahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap pertama, adalah dari tahun 1945 hingga tahun 1973. Pada bagian pertama itu, di bawah sistem yang dikemas di Bretton Wood, ne-gara itu tampil sebagai ke-kuatan ekonomi raksasa setelah menang dalam perang dunia II dan menggantikan peran Inggris sebagai raksasa ekonomi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata uang dolar dan industri-industri di AS sejak saat itu memperlihatkan kinerja yang gemilang dengan dukungan cadangan emas yang kuat. AS segera mencanangkan Marshal Plan dengan kredit dolar dalam jumlah besar untuk membangun Eropa dari puing-puing keruntuhan Perang Dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai organisasi militer dan institusi keuangan mulai dari NATO hingga Bank Dunia dibentuk guna menopang peran yang dimainkan dalam perekonomian global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan 1960-an ekonomi Eropa menguat dan tumbuh sebagai eksportir baru. Tampilnya Eropa saat itu bersamaan dengan kemandekan ekonomi AS yang baru saja melancarakan perang Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak akhir 1960-an, negara Eropa, khususnya bank-bank Prancis mulai memborong emas dari AS untuk mendukung cadangan dolarnya. Sejak saat itu, cadangan emas AS merosot dan pada Agustus 1971, Washington mulai mengembangkan sistem mengambang bebas terhadap dolarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, sejak saat itu dolar tidak lagi didukung oleh cadangan emas dan dibiarkan beredar di pasar berdasarkan kekuatan permintaan dan penawaran pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, harga minyak negara-negara anggota OPEC pada tahun 1973 mulai menguat akibat terjadinya perang Yom Kippur. Maka mulailah periode hegemoni AS tahap dua yang ditopang oleh sistem petro-dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara pengimpor minyak sejak saat itu mulai memborong dolar supaya bisa membeli minyak untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara AS yang juga membutuhkan banyak minyak dari Timur Tengah dan anggota OPEC lainnya tinggal mencetak dolarnya sebanyak mungkin. Hegemoni tahap kedua itu berlangsung hingga 1999 sejak munculnya mata uang euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi semuanya kemudian berubah, ketika gedung World Trade Center di New York sebagai simbol kebesaran eko-nomi AS dihunjam bom, tepatnya pada 11 September 2001. Sejak peristiwa pemboman gedung WTC itu, AS mulai mengembangkan tahap hegemoni baru yang disebut imperialisme demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyu terorisme dan fundamentalisme Islam mulai dikemasnya untuk menghancurkan lawan-lawan yang berniat menghentikan langkahnya. Akankah Paman Sam berhasil melanggengkan hegemoninya pada tahap ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti saat ini AS, yang mengemas hegemoninya dengan topangan petro-dolar, harus menghadapi penantangnya dari Eropa yang mulai memberlakukan euro sebagai mata uang tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahannya hegemoni AS selanjutnya tergantung dalam keberhasilannya membendung euro yang mulai mem-perlihatkan geliatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan dolar dan euro secara terbuka tersingkap sejak Saddam Husein pada Oktober 2000 mulai menggantikan transaksi minyaknya de-ngan euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mentransfer cadangannya senilai US$10 miliar dari dolar ke euro. Aksi pembangkangan terhadap dolar ini mengundang amarah AS dan menjatuhkan hukuman melalui aksi militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agresi militer itu mendapatkan reaksi yang berbeda dari berbagai negara seturut kepentingannya masing-masing. Inggris, misalnya, sebagai negara penghasil minyak di kawasan Eropa Barat yang belum bersedia menerima euro secara emosional masih dekat dengan AS mendukung agresi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan primordial itu terbaca ketika dalam serangan Irak tahun 2001, negara yang dikomandoi Blair secara membabi buta mendukung AS kendati harus melakukan rekayasa informasi intelijen untuk meminta dukungan dari warganya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-6982335497320682893?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/6982335497320682893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=6982335497320682893' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6982335497320682893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6982335497320682893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/menyongsong-runtuhnya-hegemoni-petro.html' title='Menyongsong Runtuhnya Hegemoni Petro-Dolar (1)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-5317565876323829370</id><published>2008-02-01T00:07:00.001-08:00</published><updated>2008-02-01T00:08:54.463-08:00</updated><title type='text'>Mengeruk Untung dari Penny Stock</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Paling aman pilih blue chips." Begitulah pesan yang sering dilontarkan para penasihat investasi kepada investor di pasar modal kita. Blue chips seringkali dinilai sebagai pilihan paling bijak saat ini dengan berbagai alasan.&lt;br /&gt;Misalnya, argumentasi karena dukungan fundamental dan teknikal yang solid, saham-saham tersebut berpeluang mencapai level harga baru. Premis argumentasi ini, blue chips akan mudah rebound setelah ditimpa aksi profit taking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tak ada yang salah dengan keyakinan tersebut. Namun kalau tidak berhati-hati, terutama dengan de-ngan memasukan kata 'paling bijak', pesan yang hendak disampaikan menjadi kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan bernuansa menyesatkan para pelaku pasar. Mengapa? Karena de-ngan frase seperti itu, para penasihat investasi seakan memberi sinyal kepada investor yang tidak memilih blue chips, sebagai orang yang tidak bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, benarkah pesan seperti itu? Tentu saja, tidak! Mengapa? Karena pengalam-an para investor beken seperti Warren Buffett, Mario Gobelli, Glenn Greenberg, Robert H. Heilbrunn, Seth Klarman, Michael Price, Paul. D. Sonkin, Walter dan Edwin Schloss dan lainnya membuktikan bahwa berinvestasi pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar yang kecil (microcap) di bursa New York dapat menjadi sumber 'gain'.&lt;br /&gt; Microcap ialah saham dengan kapitalissi pasar di bawah US$100 juta dan yang rendah harganya (penny stock) berharga kurang dari US $5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sederet nama di atas, Paul D. Sonkin merupakan orang yang paling sukses mengeruk gain dari saham-saham kecil dan rendah harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sebagai pe-laku pasar modal yang pernah menjadi profesor matakuliah bisnis di Columbia, Sonkin amat menghargai buku karya bersama Benjamin Graham dan David Dodd berjudul Security Analysis (1934).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama edisi revisi ketiga (1954) yang diperkaya dengan pengalaman Graham sendiri akan masa depresi ekonomi tahun 1929. Sonkin juga mengapresiasi surat-surat yang ditulis Graham kepada para investor di per-usahaan mitra antara Gra-ham - Newman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Sonkin berpandangan teori investasi Graham itu kurang aplicable. Sebab, dalam praktek di pasar, ba-nyak investor kewalahan menerapkannya karena harus berhadapan dengan banyak investor yang sama-sama cerdas dan punya banyak informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari fakta demikian, Sonkin memfokuskan perhatiannya pada 'permainan' (baca: transaksi saham) yang pesertanya sedikit. Pasalnya, semakin sedikit pemain semakin mudah membaca strategi lawan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kombinasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari observasi dan pegalaman berinvestasi, Sonkin berkesimpulan bahwa transaksi yang pesertanya sedikit hanya terjadi atas saham-saham dari perusahaan yang kecil dan tidak dipedulikan oleh para analis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bermain di 'arena' yang diabaikan para analis maka Sonkin mau tak mau harus melakukan analisis secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana caranya? Caranya ialah dengan mengombinasikan metode analisis fundamental ala Graham, dan menggali nilai pada neraca perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, neraca harus dibedah karena di sana tersimpan data mengenai posisi asset, kas dan jumlah uang yang dapat ditagih. Data tersebut amat menentukan apakah sebuah perusahaan bernilai atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dengan cara itu Sonkin dapat menentukan secara akurat saham perusahaan kecil mana saja yang layak diinvestasi. Dengan begitu dia dapat menekan risiko rugi dan mendatangkan gain bagi portofolio investasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sonkin pun menyadari bahwa sejumlah investor menghendaki portofolio yang terpusat; menaruh semua telur pada satu keranjang. Sementara, investor lainnya menginginkan portofolio yang terdiversifikasi; menaruh telur pada banyak keranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sikap Sonkin terhadap dua tren itu? Sekali lagi, dia memakai jalan kombinasi atas. Makanya, portofolio yang dia jalankan terbagi atas dua bagian besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pertama, membentuk portofolio setelah menyeleksi saham secara tradisonal sebagaimana ditunjuk oleh Graham. Dalam hal ini, mula-mula dia membuat daftar saham-saham perusaha-an kecil tetapi memiliki nilai tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saham-saham tersebut diabaikan oleh analis dan pemain di bursa saham, maka dia mengalokasikan dana investasi ke saham-saham tersebut. Kemudian, dia menempatkan dananya pada saham-saham yang berada pada harga terendah, namun memiliki kondisi fundamental yang baik. Seperti memiliki kas di bank, aset-aset nyata, atau pendapatan yang sudah dinormalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian lain, Sonkin membentuk portofolio berpedomankan pada jenis situasi arbitrase. Dia mengartikan arbitrase dalam pengertian luas. Tapi satu hal kunci yang dipegangnya ialah bahwa suatu peristiwa korporasi selalu berpengaruh pada harga sahamnya di lantai bursa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, pengumuman tentang take-over, likuidasi, spin-off, restrukturi-sasi perusahaan merupakan peluang emas untuk menerapkan prinsip high return on investment and low level of risk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkeyakinan bahwa pembentukan portolio investasi melalui dua proses dan dua maksud yang berbeda merupakan suatu kombinasi yang tepat agar terhindar dari keputusan berinvestasi pada saham-saham kecil yang memang busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, tidaklah salah bila pengalaman Sonkin dijadikan acuan oleh para investor di bursa nasional. Dengan kata lain untuk menjadi pelaku pasar modal yang bijak dan sukses meraup gain seorang investor tak mesti masuk dan berdesakan di pasar blue chips yang crowded, tapi cobalah menyusup ke pasar yang microcap dan penny stock yang longgar. Selamat mencoba!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-5317565876323829370?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/5317565876323829370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=5317565876323829370' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/5317565876323829370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/5317565876323829370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/02/mengeruk-untung-dari-penny-stock.html' title='Mengeruk Untung dari Penny Stock'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-1022284441172855525</id><published>2008-01-31T23:57:00.000-08:00</published><updated>2008-02-01T00:01:26.649-08:00</updated><title type='text'>Bush 'Bonceng' Diplomasi Dolar di Forum G7</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dimuat di Bisnis Indonesia edisi 6 Februari 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kebetulan pertemuan G7 hari ini digelar di Florida, kampung halaman Presiden AS George W. Bush. Tapi, adalah kepastian pertemuan di Boca Raton itu jadi ajang diplomasi mendukung Bush yang mengincar kursi presiden kedua kalinya dalam pemilu November.&lt;br /&gt;Agenda negara industri maju anggota G7 (AS, Jerman, Jepang, Prancis, Kanada, Italia dan Inggris) dan interest Bush bersatu dalam urusan dolar yang nilainya terus melorot selama dua tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin dolar diperdagangkan pada 1,2538 euro, sedikit melemah dari rekor tertinggi 12 Januari pada kisaran 1,2898. Yen yang mencapai titik terendah sejak September 2000 bertengger pada 105,52 per US$. Sementara yuan tetap aman melalui patokan 8,3 per US$.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diduga sebelumnya, para peserta G7 akan menekan Cina membuka patokan mata uangnya terhadap dolar. Pasalnya dengan posisi kini, terjadi ketimpangan transaksi perdagangan G-7 dengan Cina, lantaran ekspor mereka ke Cina menjadi tidak kompetitif. Defisit perdagangan AS terhadap Cina yang baru mencapai US$103 miliar pada September, menggelembung jadi US$120 miliar hingga posisi terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerja dolar juga menohok kepentingan Jepang dan Eropa yang tergabung dalam zona mata uang euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu otoritas moneter Jepang diketahui melakukan intervensi ke pasar sekitar 20 triliun yen (US$187). Tahun ini, Tokyo mempersiapkan dana 21 triliun hingga 100 triliun yen untuk mengamankan pasarnya. Seakan belum yakin, Jepang juga akan memotong suku bunganya hingga 0% untuk menangkal serangan dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara para pejabat keuangan di Eropa masih hanya meratapi dan belum melakukan kebijakan konkrit. Bagi zona euro, posisi dolar yang sudah terjungkal sangat mendalam akan terus menekan tingkat kompetisi ekspor mereka kendati meraup currency's gain sekitar US$8 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para eksportir Eropa beberapa pekan terakhir mengeluhkan sulitnya menembus pasar luar negeri. Di pihak lain, pasar Eropa dibanjiri barang-barang murah dari luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas tersebut bisa membahayakan perusahaan di sana yang pada gilirannya akan mendongkrak tingkat pengangguran hingga 8,8%. "Ketegangan antara kawasan antar-Atlantik itu demikian dramatis," ujar seorang pengusaha manufaktur yang dikutip Businessweek pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang untung &amp;amp; buntung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau terus dirunut, dampak dolar juga merembes ke kawasan lainnya. Misalnya, Timur Tengah yang mengekspor minyak dan gas dalam dolar, tetapi mengimpor barang Eropa dalam euro. "Kami sudah menderita. Dan penderitaan ini akan semakin merana kalau kejatuhan dolar kian dalam," keluh Sultan Emirat Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling banyak menangguk untung dari melemahnya dolar adalah Cina. Selain mengangkat daya saing ekspor, melemahnya dolar membuat Cina kebanjiran modal asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Victor L.L. Chu, Ketua dan CEO First Eastern Investment Group yang berbasis di Hong Kong, memperkirakan investasi langsung ke Cina akan meningkat dari US$52 miliar tahun lalu menjadi US$150 miliar pada 2004. Aliran dana itu, jelas Hu, akan tetap deras kalau Cina berhasil mempertahankan ikatan yuan dengan dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya Beijing mulai cemas menghadapi tekanan G7 untuk membuka ikatan yuan dan mengaitkan mata uangnya dengan sejumlah mata uang asing, termasuk euro. Kalau itu yang terjadi, awalnya yuan mungkin akan menguat. Tapi pada akhirnya akan membuat euro menjadi satu-satunya mata uang yang terus menguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal penguatan euro yang berlebihan juga bukan berita gembira bagi Eropa. Kinerja ekonomi Eropa yang kurang kuat akan memaksa otoritas keuangan dan moneter di Uni Eropa mencari solusi, agar depresiasi euro bisa segera terwujud. Pasalnya Bank Sentral Eropa (ECB) belum melakukan intervensi guna mengatur pasarnya seperti Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sempat tersiar, berdasarkan usulan pejabat otoritas keuangan Italia, Gianluigi Magri, ECB berupaya mendepresiasi euro dengan memotong suku bunganya dari 2% menjadi 1,5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal itu tidak mudah dilakukan karena akan memacu inflasi. Karena itu Presiden ECB Jean-Claude Trichet dalam pertemuan World Economic Forum di Davos belum lama ini mengurungkan niatnya menerapkan kebijakan khusus menekan laju euro. Kalau begitu, delegasi Eropa di Boca Raton barangkali cuma bisa melobi AS untuk mengerem laju penurunan dolar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pun tidak mudah dilakukan karena Washington berkepentingan mempertahankan posisi dolar seperti sekarang guna mempertahankan kinerja ekspor AS. Karena itu banyak pengamat menduga pertemuan Florida akan menuai kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi tekanan Eropa, pejabat AS Bidang Perdagangan Grant Aldonas sebaliknya meminta Eropa memperbaiki fundamental ekonomi ketimbang mengurus dolar. Bagi AS melemahnya dolar lebih menguntungkan perekonomiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor ekonomi dari Princento University Alan S. Blinder bahkan menegaskan depresiasi dolar merupakan realitas yang tidak bisa dihindari lantaran defisit anggaran dan perdagangannya. Bukan tidak mungkin posisi dolar akan terus dibiarkan melemah dari posisi sekitar 1,27 hingga 1,28 Euro menjadi antara 1,40 hingga 1,50 euro pada awal 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, pertemuan Florida juga menjadi ajang bagi Bush untuk diplomasi ekonomi-politis. Targetnya jelas, mempertahankan kinerja ekonomi menjelang pemilu November.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan di Flrodia memungkinkan Bush menutup defisit, yang diproyeksikannya turun jadi US$264 miliar pada 2009, jauh di bawah tahun ini yang US$521 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi tim ekonomi Bush saat ini terus diserang lawan politiknya dari Kelompok Demokrat, untuk mengatasi persoalan pengangguran yang menjadi salah satu momok, yang bisa saja mematikan ambisinya menjadi presiden kedua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinyal awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, tanda-tanda dolar akan dibiarkan melemah terlihat dari kebijakan Federal Reserve mempertahankan suku bunga bulan lalu pada tingkat 1%, level terendah sejak 45 tahun terakhir. Sebagian pengamat pasar uang memperkirakan bank sentral itu baru menaikkan suku bunganya Juni mendatang atau sekurang-kurangnya tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebagian lain memperkirakan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee) di bawah komando Alan Greenspan, yang berada di pihak Republik-partai pendukung Bush-tidak akan menaikkan suku bunga hingga 1,5% sampai dua tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, juga bukan tidak mungkin, AS akan melakukan sebaliknya, yaitu menurunkan suku bunga dari 1% hingga 0,75% untuk menurunkan defisit perdagangan, selain defisit anggaran belanjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal kebijakan The Fed ini sebaiknya kita belajar dari David Frost, salah satu staf bank sentral pada 1990, seperti dikutip Martin Meyer dalam bukunya The Fed: The Inside Story of How the World 's Most Powerful Financial Institution Drives the Markets. Frost mengatakan AS tetap merasa lebih nyaman dengan apa yang dianggap baik oleh Federal Reserve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi seorang Greenspan tidak buta dengan perkembangan fundamental ekonomi AS yang kian membaik. Misalnya data manufaktur keluaran Institute of Supply Management yang memperlihatkan kenaikan indeks menjadi 64 dari 63,4 pada Desember tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu berarti kegiatan ekonomi riil mulai hidup dan bisa memberikan solusi bagi masalah pengangguran yang menjadi ancaman negara adikuasa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang data tenaga kerja sampai Juli memperlihatkan hanya tersedia 278.000 lapangan kerja, dengan pertumbuhan lapangan kerja 150.000 sampai 200.000 per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pertumbuhan ekonomi AS, yang digerakkan depresiasi dolar, meyakinkan sejumlah ekonom bahwa angka pengangguran akan menurun menjadi 5,5% hingga akhir 2004 dari 5,7% Desember lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan besar di Paman Sam yang mengeruk keuntungan dari penurunan dolar seakan memberi dukungan terhadap keyakinan tersebut. Misalnya Nike Inc., perusahaan sepatu terbesar, yang membukukan keuntungan 18% pada kuartal kedua. Untuk pasar Eropa, perusahaan itu hanya mencatat penjualan 9%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setali tiga uang, perusahaan raksasa General Motor merasa sangat nyaman dengan posisi dolar saat ini. Itulah sebabnya, bos General Motor Rick Wagoner terus mengulang keyakinan pendahulunya, Charles E. Wilson, yang pada 1953 membuat pernyataan: "Sekian lama saya yakin bahwa apa yang baik bagi negara kita juga baik bagi General Motors, dan sebaliknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian prinsip AS, maka Trichet dan kolega Eropa-nya bakal menemui kesulitan besar di Florida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan diplomasi itu gagal, akankah mereka bergabung dengan George Soros dari Budapest yang berniat mematikan langkah Bush dan melakukan serangan terhadap pasar AS, Oktober mendatang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana yang tidak mudah, karena AS bukan Indonesia atau Thailand yang pernah diporak-porandakannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-1022284441172855525?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/1022284441172855525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=1022284441172855525' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/1022284441172855525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/1022284441172855525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/bush-bonceng-diplomasi-dolar-di-forum.html' title='Bush &apos;Bonceng&apos; Diplomasi Dolar di Forum G7'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-1206253058296004942</id><published>2008-01-31T23:49:00.000-08:00</published><updated>2008-01-31T23:54:00.144-08:00</updated><title type='text'>WEF, Korporasi dan Evolusi Bisnis</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tulisan ini didasarkan  pada  inspirasi  pertemuan WEF ketiga&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;World Economic Forum (WEF) yang berlangsung di Davos, Swiss dari 16 Januari berakhir kemarin. Suara protes antikapitalis dan gerakan antiglobalisasi yang dimulai di Mumbai, India, pekan lalu masih menggema di sana.&lt;br /&gt;Euforia kelompok akar rumput ini kian memojokkan peran korporasi besar yang menjunjung tinggi moral kapitalis. Benarkah perusahaan multinasional akan mati kutu karena tak ikut bermimpi menciptakan dunia yang lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak. Adanya forum yang berbasis di Jenewa sebenarnya sebuah ekpresi kemauan dari perusahaan multinasional untuk selalu memperbaiki diri dalam menciptakan dunia yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dukungan dari 1.000 perusahaan terkemuka di dunia, pemain ekonomi global memperlihatkan komitmen mereka dalam menyelesaikan berbagai agenda global melalui forum yang dimulai sejak 1971.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengambil tema Partenering for Prosperity and Security di Davos, ketua WEF Klaus Schwab mengatakan dunia kini labil dan tidak pasti. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tak terjadi jika dunia tak aman. Sebaliknya, dunia tak bakal aman, kalau tak ada prospek kemakmuran. Maka Schwab tak ragu-ragu memperkenalkan formula WEF: security plus prosperity equals peace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral kapitalis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui semangat WEF dibangun di atas basis moral kaum kapitalis yang yakin kapitalisme adalah satu-satunya sistem moral sosial yang bisa bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal langgengnya sistem ini, Robert W. Tracinski dalam artikelnya The Moral Basis of Capitalism, mengatakan sistem ini adalah satu-satunya yang menaruh hormat pada kebebasan para produsen untuk berpikir dan sekaligus menghargai kebebasan individu untuk berkereasi demi mencapai kebahagiaan pribadi. Pada tataran korporasi, prinsip itulah yang memotori pencapaian tujuan maksimalisasi keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap para lawan yang mengutuknya, insan kapitalis mengatakan sistem yang mengorbankan pribadi untuk kepentingan masyarakat adalah sistem perhambaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, karena cenderung memaksa orang lain untuk mengabdi pada kebersamaan, kaum kapitalis meyakini sistem yang diperjuangkan lawan-lawannya berujung pada brutalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik disimak adalah atas kritik terhadap realitas global yang tak adil, kelompok multinasional terus membuka diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menerapkan prinsip kapitalismus semper reformandus (kapitalisme senantiasa mengubah diri), mereka berupaya agar sistem dan moral yang diperjuangkan itu tetap bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, untuk menampung aspirasi ketidakpuasan dari gerakan antikapitalis dan antimultinasional, mereka mengundang seterunya menghadiri WEF agar lebih intens berdiskusi guna mencari solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika dalam WEF di Davos yang dihadiri sedikitnya 2.100 orang dari 94 negara, mereka menjelaskan agendanya dalam melakukan reformasi. Hadir dalam pertemuan itu sedikitnya 30 kepala negara, 75 menteri kabinet, 28 pemimpin agama, 18 ketua asoasiasi, dan lebih dari 50 ketua LSM terkenal di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada pertemuan WEF sebelumnya mereka meyakinkan dunia bahwa perusahaan multinasional telah dan terus berupaya mengubah wajah kapitalis menjadi lebih manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survai WEF melalui lembaga Global Corporate Citizenship Initiative (GCCI) dan bekerja sama dengan Internasional Business Leaders Forum (IBLF), menceritakan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarakan survai, 70% CEO yakin dan memihak pada isu yang dikeluhkan investornya, terutama dari investor institusional seperti dana pensiun dan asuransi. Mereka juga menerima jika investor berharap pengawasan yang lebih intens terhadap masa depan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekanan investor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tekanan dari akar rumput, aspirasi dari dana pensiun dan asuransi sebagai shareholders diakui paling bepengaruh pada perubahan sikap para pemain bisnis kelas dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bisa dimalumi karena dua investor itu adalah institusi yang langsung mewakili kepentingan individu, para pekerja serta masyarakat (stakeholders), yang kepentingannya dianggap paling sering dikangkangi perusahaan multinasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diakui Richard Samans, direktur WEF, aspek lingkungan hidup dan sosial merupakan kepentingan yang harus diperhatikan perusahaan. Menurut dia, analis investasi dan manajer portofolio makin memperhatikan persoalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan itu membenarkan David Bushnell, direktur manajer dan kepala bagian risiko dari Citigroup Global Corporate and Investment Bank saat dia mengatakan isu sosial dan lingkungan jadi bagian integral dalam analisa risiko dalam transaksi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari laporan survai setebal 32 halaman yang dilakukan terhadap pemimpin mutlinasional dengan judul Values and Value: Comminicating the Strategic Importance of Corporate Citizenship to Investor dan didiskusikan dalam WEF di Davos, terungkap betapa tema tanggung jawab sosial perusahaan merupakan tema penting yang harus diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan itu mencontohkan bagaimana sejumlah pengusaha treasuri dan trustee yang bertanggung pada sejumlah dana pensiun besar dan berpengaruh di AS tak hanya mendesak perubahan governance di NewYork Stock Exchange, tapi juga bekerja sama dengan kelompok pejuang lingkungan hidup dan fund manager yang melakukan investasi dengan tanggung jawab sosial (sosially responsible investement/SRI) mendorong investor memperhatikan risiko dan peluang berdasarkan perubahan cuaca global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertemuan puncak di New York, November 2003, perusahaan treasuri Phil Angelides berkomentar "Dalam iklim global yang kian panas, kita menghadapi risiko yang besar terhadap investasi di perekonomian AS dan dana-dana besar lainnya karena infomasi tentang itu diabaikan Wall Street Berdasarkan beberapa contoh skandal perusahaan AS pada beberapa tahun lalu makin jelas investor harus memberi perhatian pada praktik perusahaan yang memiliki pengaruh jangka panjang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan dengan risiko itu, dia mengingatkan agar investor harus bisa mengidentifikasi perubahan iklim global, meminta informasi, dan mendesak aksi menghadapi perubahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Februari 2003 Asosiasi Perusahaan Asuransi di Inggris yang beranggotakan 400 institusi dengan transaksi 95% pada transaksi asuransi di negara tersebut dan memiliki investasi lebih dari 20% di London Stock Exchange menelurkan petunjuk mengenai ketebukaan berkaitan dengan SRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara federasi pekerja di AS dan konggres organisasi industri di negara itu yang mewakili kepentingan 13 juta pekerja yang tergabung dalam asosiasi dan berurusan dengan investasi senilai US$6 triliun di bidang kesehatan dan dana pensiun mengkampanyekan capital stewardship dengan sasaran agar pemegang saham tak hanya memperhatikan keuntungan jangka pendek, tapi juga harus menciptakan nilai keberlangsungan jangka panjang pada perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan SRI pada 2003 terus meningkat. Menurut Forum Investasi Sosial, antara 2001 dan 2003, dana untuk perlindungan sosial naik 6,5%. Begitu juga dana untuk advokasi pemegang saham pada periode yang sama naik 15%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama dilakukan pada urusan transaksi pasar modal dan pasar uang. Indeks untuk menakar komitmen sosial perusahaan go public seperti Dow Jones Sustainability Index dan FTSE4Good-indeks yang dikerjakan Financial times dan London Stock Exchange-terus dikembangkan untuk menghadapi kritik bahwa perusahaan besar tak punya etika sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorongan terhadap perubahan korporasi terus bergerak seiring lahirnya aneka gerakan investor seperti International Corporate Governance Network (ICGN), The Carbon Diclosure Project, Pharmaproject.org, Just Pensions dan Investor's Statement on Transparancy in the Extractives Sector. Sasarab mereka jelas, yaitu tanggung jawab sosial yang harus dikerjakan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai misal Just Pensions. Gerakan itu inisiatif investor yang memberi perhatian pada dampak sosial dan lingkugan hidup dari perdagangan dan investasi internasional di negara-negara berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja sama dengan dengan Forum Investasi Sosial di Inggris yang memiliki lebih dari 250 anggota, Just Pensions melakukan riset pada produk industri khusus untuk 12 FTSE di sektor itu. Lembaga ini mengerluarkan juga indikator untuk mengukur apakah keputusan investasi dari dana pensiun memenuhi syarat sosial, lingkungan hidup, dan etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi hukum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reformasi juga berlangsung di bidang hukum dan persyaratan pencatatan emisi di sejumlah bursa internasional yang memperhatikan kinerja nonfinansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan Sarbanes-Osley Act dan SEC Mandate on Proxy Voting Guidelines di AS memberi perhatian besar pada kepentingan warga perusahaan dan corporate governance.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang terjadi juga berlangsung pada norma dan konvensi internasional, termasuk yang dikembang sendiri oleh PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah aksi pada tingkat internasional pada tahun lalu seperti pendatanganan United Nation Convention against Corruption dan Norms on the Responsiliblities of Transnational Corporation and Other Business Enteprises with Regard to Human Rights patut diacungi jempol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi sejumlah inisiatif suka rela yang berkaitan dengan sektor finansial. Misalnya yang baru diluncurkan tahun lalu adalah Equator Principles, yaitu perjanjian antara 14 bank ternama pemberi finansial yang bekerja sama dengan International Financial Corporation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip yang diperjuangkan adalah persyaratan tanggung jawab sosial dan perhatian pada lingkungan hidup yang harus dipenuhi sebelum memberi proyek pada pekerjaan yang akan didanai bank-bank tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan London Principles of Sustainable Finance yang diluncurkan oleh Corporation of London pada 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah prinsip yang mengikat 50 institusi finansial yang memberi perhatian pada prinsip pembangunan yang berkelanjutan sehingga tak hanya memberi fokus pada keuntungan material, tapi juga memperhatikan tanggung jawab sosial seperti lingkungan hidup dan hak-hak asasi. Hal yang sama juga diperjuangkan oleh berbagai forum lain seperti Global Reporting Initiative (GRI), UN's Global Compact.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen berbagai multinasional terhadap lingkungan dan persoalan sosial memang kian menguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Russel Reynolds Associates mewancarai 400 investor institusi di AS, Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, Cina, terpetik hasil cukup menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investor di Prancis dan Jerman mengatakan seharusnya CEO memiliki tanggung jawab sosial (89% dan 79%). Di AS, investor yang mengharapkan hal itu 53%, sisanya 47% masih berharap keuntungan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survai Deloitte bersama CSREurope dan EuroNext tahun lalu mengatakan IRO (investment relation officers) perusahaan multinasional yakin bahwa kinerja sosial dan lingkungan yang baik akan mempengaruhi reputasi perusahaan (69%), kinerja ekonomi (46%), dan nilai pasar sebuah perusahaan (36%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil itu sesuai dengan survai lain yang dikerjakan SAM Sustainable Asset Management pada 2003 terhadap 1.000 perusahaan mengenai opsi yang dilakukan perusahaan untuk memantapkan strategi keberlangsungan perusahaan dan tingkat kompetisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya meningkatkan reputasi dan kemampuan untuk menjaga lingkungan merupakan pilihan tertinggi dibandingkan akses pada modal dan kemampuan melakukan inovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai rekaman penelitian itu terungkap kebenaran bahwa berbagai ketidakadilan, pengabaian hak asasi manusia, dan perusakan lingkungan hidup harus jadi perhatian perusahaan multinasional jika mau bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, nilai etis itu yang menjadi penggerak evolusi bisnis masa kini. Evolusi yang menjadi keharusan seperti diungkapkan Robert Dunn, ketua Business for Social Responbility.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayang-bayang evolusi bisnis seperti itulah yang terus ditiup dalam setiap WEF, terutama di Davos. Evolusi yang terus menggerakkan perusahaan multinasional untuk mengubah wajah kapitalisme agar lebih sosial dan humanis seperti diimpikan kaum sosialis yang giat menyuarakan aspirasinya dari baik jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, perlu terus diingatkan bahwa niat baik perusahaan multinasional itu tak mungkin terjadi kalau evolusi yang dimaksudkan digerakkan dengan prinsip membinasakan yang lemah ala Charles Darwin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-1206253058296004942?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/1206253058296004942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=1206253058296004942' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/1206253058296004942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/1206253058296004942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/wef-korporasi-dan-evolusi-bisnis.html' title='WEF, Korporasi dan Evolusi Bisnis'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-2370271313599373435</id><published>2008-01-31T23:47:00.000-08:00</published><updated>2008-01-31T23:49:06.483-08:00</updated><title type='text'>Dari Mumbai ke Davos, Menggugat Sepak Terjang MNC</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk kesekian kalinya gaung protes terhadap tata ekonomi global mencuat ke permukaan. Yang paling mutakhir adalah dari Forum Sosial Dunia (World Social Forum) ke tiga  (2004) yang berlangsung di Mumbai, India. Sedikitnya 2.400 aktivis anti-globalisasi yang didukung oleh 75.000 demonstran menyerukan perlawanan terhadap sepak terjang perusahaan multi nasional.&lt;br /&gt;Tema yang diusung Another World is Possible dalam pertemuan tersebut seakan mengingatkan kita pada buku Alternatives to Economic Globalization: A Better World Is Possible dengan editor John Cavanagh dan Sarah Anderson yang terbit November 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua penulis dari lembaga Forum Internasional untuk Globalisasi di bawah payung Institute fo Policy Studies mengumpulkan tulisan dari 17 penulis yang berisikan kritikan pedas terhadap institusi ekonomi global seperti IMF, Bank Dunia dan WTO serta mengajukan usulan perombakan atas lembaga-lembaga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raksasa MNC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cavanagh dan Anderson melalui Corporate Watch adalah orang yang paling getol mengamati perusahaan multinasional (MNC) yang menguasai dunia saat ini. Sejak 1996 keduanya secara periodik mengeluarkan sebuah komparasi antara penjualan perusahaan raksasa tersebut dengan GDP negara-negara di dunia. Hasilnya memang mencengangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai 2000, misalnya, hasil penjualan 200 MNC raksasa ternyata lebih besar dari gabungan perekonomian 182 negara, atau perekonomian seluruh dunia dikurangi 9 negara besar seperti AS, Jepang, Jerman, Prancis, Inggris, Italia, Cina, Brazil, dan Kanada. 200 MNC secara bersama-sama membukukan penjualan $US7,1 triliun, sementara gabungan 182 negara hanya memiliki GDP US$6,9 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philip Morris yang pada 2000 mencatat penjualan US$61,751 miliar menjadi institusi yang lebih menguntungkan dibandingkan Selandia Baru. Pada tahun yang sama, penjualan Wal-Mart mengungguli penghasilan gabungan dari 161 negara, termasuk Israel, Polandia dan Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi raksasa mobil Mitsubishi yang memiliki kekayaan yang lebih besar dari GDP Indonesia. Itochu lebih unggul dari Austria, dan penjualan Mitsui dan General Motor lebih besar dari GDP gabungan Denmark, Portugal dan Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, 200 perusahaan raksasa yang sebagaian besar dikendalikan dari kantor pusatnya di Eropa Barat, AS, Kanada dan Jepang itu mempekerjakan hanya sekitar 18,8 juta orang dari sekitar 5,5 miliar penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, Forum Sosial Dunia menuduh mereka bertanggung jawab terhadap nasib para pekerja internasional karena sering dipekerjakan dengan upah sangat rendah. Bahkan, untuk menekan biaya, anak-anak dan kaum perempuan pun dipaksa untuk bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, demikian data Corprate Watch, di dunia saat ini beroperasi sedikitnya 400.000 perusahaan dengan sedikitnya 250.000 cabang di berbagai negara. Betapa mereka mengontrol dunia dengan prinsip maksimalisasi keuntungan sebesar-besarnya sebagaimana yang dikumandangkan oleh kelompok neo liberalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan multi nasional itu bukan hanya dikecam karena memarjinalkan tenaga buruh dan merusak lingkungan, tetapi menjadi pengontrol paling dominan terhadap kebijakan ekonomi-politik internasional untuk melayani kepentingana mereka. Institusi-institusi seperti IMF, Bank Dunia dan WTO tidak lebih dari pelayan yang mengabdi kepentingan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lobi liberalisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengurangi hambatan dalam perdagangan dan arus modal, sejak lama MNC raksasa tersebut rajin melakukan lobi di berbagai fora internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya pasar tunggal Eropa, NAFTA (North American Free Trade Agreement), Putaran Uruguay (Uruguay Round) dan GATT (General Agreement in Tariffs and Trade) merupakan hasil lobi MNC tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun dalam bidang politik. Aksi AS melakukan invasi ke Guatemala (1954) dan menggembos pemerintahan Salvador Allende tidak lepas dari kepentingan ekonomis perusahaan multi nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1970, International Telephone and Telegraph (ITT) diketahui menawarkan sekitar US$1 juta untuk mengalahkah pencalonan Allende.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi berita yang aktual soal lobi perusahaan minyak AS yang hingga saat ini membutakan mata para pemimpin politik negara tersebut untuk memporak porandakan stabilitas politik wilayah kaya minyak seperti Timur Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hegemoni MNC yang menggandeng kepentingan Eropa dan AS serta Jepang itu seakan membangkitkan kesadaran historis para penentangnya hingga menelusuri jauh ke era imperialisme. Kalau dulu kolonialisme dilakukan oleh bangsa dengan kekuatan senjata, saat ini pelakunya adalah korporasi dengan kekuatan modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat era Perang Dunia II berakhir-menandai berakhirnya sebagian besar praktek kolonialisme bangsa terhadap bangsa-para penganut paham neo liberal meneruskan aksinya dengan imperialisme gaya baru dalam bentuk modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahirnya institusi IMF dan Bank Dunia di Bretton Wood pada 1944 dan dimulainya program Marshall Plan merupakan cikal bakal lahirnya sebuah era kemenangan kepentingan negara maju yang berlangsung hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya bisa dipahami euforia para aktivis anti-globalisasi di Mumbai yang terus mengkampanyekan jurus anti WTO yang menuai kegagalan dalam pertemuan puncak di Cancun, Meksiko belum lama ini. Pekan lalu Robert Zoellick lagi-lagi tidak berhasil menyukseskan misi perdagangan bagi AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AS belum lama ini juga gagal memaksa Australia dan Maroko memandatangani perjanjian free trade zone (FTAA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan yang sama dialami ketika negara adikuasa itu dalam pertemuan di Monterrey juga tidak mampu menekan Brazil untuk meneken perjanjian yang sama yang direncanakan pemerintahan Bush mulai Januari 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara akar rumput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kenyataan tersebut memperlihatkan bahwa gerakan akar rumput untuk menekan negara-negara maju, termasuk AS tidaklah main-main. Bahkan, bukan hanya dari level akar rumput. Ekonom Joseph Stiglitz yang hadir dalam pertemuan WSF sudah berkali-kali mencerca negara-negara maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraih hadiah Nobel Ekonomi 2001 dari pengalamannya sebagai Kepala Ekonom Bank Dunia itu mengakui globalisasi yang dimotori berbagai institusi internasional gagal menciptakan wajah dunia yang lebih manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu dalam sebuah wawancara saat dia meninggalkan Bank Dunia setelah berseteru dengan Menteri Keuangan AS Larry Summer, Stiglitz meminta agar sikap paternal negara-negara yang termasuk Kelompok Utara harus segera ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini suara Stiglitz bersatu dengan suara para aktivis anti-globalisasi dalam Pertemuan Sosial Dunia di India dari 16 hingga 21 Januari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan yang sengaja di Mumbai-nama lain untuk kota perdagangan tradisional Bombay-seakan mengantisipasi sebuah pertemuan lain, yaitu the World Economic Forum di Davos, Swiss dari 21 hingga 25 Januari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir pasti teriakan protes ala Mumbai akan menginspirasi pertemuan di Davos. Lain dengan di Mumbai, pertemuan Open Forum Davos 2004, diselenggarakan oleh LSM dan organisasi nir laba, termasuk lembaga sosial yang dikoordinasikan oleh gereja di negara-negara maju, terutama lembaga Bread for All dan Federasi gereja Protestan Swiss. Di Davos, pertanyaan yang hendak dijawab tertera dalam tema pertemuannya, yaitu Globalisation or Deglobalisation for the Benefit of the Poorest?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbersit harapan agar kritikan terhadap institusi dan pemain global makin mengental dalam pertemuan yang menurut rencana juga dihadiri Joseph E. Stiglitz, Ketua ILO, Juan Somavia dan CEO sejumlah perusahaan raksasa. Sebuah antitesa terhadap realitas global yang kian carut marut saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, negara maju dan MNC diserukan untuk lebih mengedepankan tanggung jawab terhadap hak-hak masyarakat dan demokrasi dari pada hanya mengeruk keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula, mereka harus memperhatikan pemeliharaan lingkungan hidup yang selama ini dikorbankan demi meraup keuntungan yang berlipat ganda. Sebuah seruan suci yang tidak mudah diikuti oleh raksana-raksasa ekonomi yang dalam benaknya sudah dirasuki dengan tujuan maksimalisasi keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya lebih akurat, pertemuan itu bahkan dilengkapi dengan survai tentang realitas dunia berikut prediksinya yang dilakukan oleh Gallup International. (Lihat ilustrasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Survai dengan judul Voice of the People yang disebar ke 43.000 orang dari 51 negara menghasilkan jawaban yang mengambang tentang masa depan dunia. Misalnya terungkap sebuah keraguan terhadap pertanyaan apakah dunia di masa mendatang semakin makmur atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertiga (34%) optimis bahwa dunia akan menjadi lebih baik. Sepertiga lainnya (35%) pesimis dan sisanya bungkam. Mungkin itu juga sebuah pertanda keraguan terhadap lahirnya sebuah sintesa menuju sebuah tata global yang lebih adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, lebih baik kalau kita turut bergabung dengan pekikan harapan yang disoraki para aktivis di Mumbai dan Davos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu sembari mencari terobosan seperti diharapkan novelis India, Arundahti Roy, ketika dia berteriak di hadapan masa di Mumbai, "Tidak baik kalau kita hanya berteriak jeetenge, bhai jeetenge (kita menang, kita akan menang), tetapi saatnya kita harus berbuat sesuatu."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-2370271313599373435?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/2370271313599373435/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=2370271313599373435' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2370271313599373435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2370271313599373435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/dari-mumbai-ke-davos-menggugat-sepak.html' title='Dari Mumbai ke Davos, Menggugat Sepak Terjang MNC'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-3476010353622069146</id><published>2008-01-31T23:43:00.000-08:00</published><updated>2008-01-31T23:45:01.711-08:00</updated><title type='text'>Menunggu Diplomasi Dolar dari Boca Raton</title><content type='html'>Abraham RungaMali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tulisan ini pernah dimuat di Bisnis Indonesia tanggal 15 Januari 2004&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mendekatnya posisi dolar AS (US$) pada batas psikologis 1,30 terhadap euro memicu kecemasan yang kian mendalam di antara para pelaku bisnis dunia.&lt;br /&gt;Terbetik sebuah pertanyaan mendasar, ke manakah arah pertarungan bisnis antara negara ekonomi kuat di dunia akan berjalan? Sebab dibalik sentimen sejumlah mata uang dunia tersimpan sebuah peta persaingan ekonomi antara perekonomian Amerika, Jepang, Uni Eropa, Cina dan Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan itu layak diamati karena akan memetakan kekuatan ekonomi yang akan menggiring negara-negara ekonomi lemah, termasuk Indonesia untuk terlibat dalam pertarungan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergerakan The Big Four-US$, yen, euro dan yuan-merepresentasikan dinamika persaingan pusat-pusat perkonomian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpuruknya nilai US$ pada tahun terakhir menyusutkan keyakinan banyak pihak terhadap dominasi mata uang tersebut. Hal itu sekaligus memudarkan kekuatan perekomian AS yang memposisikan dan mendukung perannya sebagai polisi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas yang tentunya ditunggu banyak pihak yang sudah muak dengan tontonan kedigdayaan Paman Sam dengan orkestra demokrasi dan Ham-nya yang sangat sering terdengar sumbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya kekuatan baru ekonomi Uni Eropa dan ekspektasi kedatangan Cina sebagai raksasa baru di bidang ekonomi merupakan berita yang terus menggertak para ekonom, pebisnis dan politisi AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2003 misalnya, depresiasi US$ terhadap euro mencapai 20% setelah menyentuh level 1,27. Sementara upayanya untuk menjaga keseimbangan dengan melepas patokan yuan pada posisi level 8,3 untuk setiap US$ tidak mudah dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya AS mencari dukungan pada yuan dan yen bisa dipahami karena kedua negara tersebut secara bersama-sama memiliki cadangan mata uang asing dalam komposisi global mencapai lebih dari 50%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya sejak lama, tertekannya US$ mengundang kegundahan yang luar biasa, termasuk dari ekonom sekelas Paul Krugman. Menulis artikel di New York Times, 4 November 2003 berjudul This Can't Go On, Krugman menyarankan agar pengambil keputusan di Washington segera keluar dari kondisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motif politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para politisi di AS malah sudah lebih awal berteriak. Pada 18 Juli 2003, senator Charles Schumer menuduh Cina merupakan penyebab kemandekan dan defisit perekonomian di negara itu. Industri manufaktur AS, tegasnya, bisa terkapar oleh kekukuhan Cina mempertahankan mata uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senator Elisabeth Dole juga mengatakan bahwa devaluasi mata uang Cina menyebabkan rendahnya harga barang yang menyulitkan ekspor AS untuk berkompetisi. Lain lagi senator Lindsey Graham yang bahkan meminta agar Menkeu AS melobi Beijing supaya tidak melanjutkan kebijakan yang bersifat devaluatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merespons desakan para politisi itu, Menkeu AS John Snow pun dalam lawatannya ke Asia mendesak Cina untuk membiarkan nilai yuan mengikuti harga pasar. Namun Beijing tidak menanggapi secara serius permintaan AS, justru berbasa-basi dengan mengatakan pengambangan yuan merupakan Agenda pemerintah Cina, tetapi bukan suatu kebijakan yang akan dilakukan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa gagal melobi Cina dan Jepang, AS segera mendekati para menteri keuangan dari tujuh negara industri maju yang tergabung dalam G7 untuk menekan kedua negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) di Dubai, 23-24 September, para Menkeu G7 mengeluarkan pernyataan bersama yang mendorong penerapan sistem nilai tukar mengambang bebas dan mengritik intervensi bank sentral yang berlebihan di pasar uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan Dubai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunike bersama itu membuat Jepang, yang merasa menjadi sasaran pertemuan G-7-selain Cina-mencak-mencak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi sepekan sebelum pertemuan Dubai itu, Jepang melalui Gubernur Bank Sentralnya, Bank of Japan, Toshihiko Fukui melakukan intervensi untuk menahan penguatan mata uangnnya agar ekspornya tetap kompetitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan yang sama juga ditujukan untuk melepaskan pematokan yuan yang sudah berlangsung hampir satu dasa warsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain G7, IMF juga diminta turun tangan agar yuan dan mata uang Asia lainnya dibiarkan terapreasi terhadap US$. Kalau tidak, stabilitas perekonomian global bakal terancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kenneth Rogoff, ekonom dari IMF, kalau saja Asia menolak untuk membiarkan mata uangnya mengalami apresiasi, maka dampak buruk akan menghantam dunia, terutama Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagian pengamat mengatakan alasan tersebut belum terlalu tepat, mengingat sekitar 60% ekspor dari kawasan Uni Eropa masih dipasarkan untuk kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja lobi Dubai tidak mencatat hasil yang optimal kalau tidak disebut gagal. Karena setelah itu, US$ masih terus terpuruk. Bahkan hingga awal perdagangan tahun ini membengkaknya defisit neraca dan anggaran AS terus menekan US$.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Kamis pekan lalu, US$ sempat menguat dan mencapai level 1,27 terhadap euro dan 107 hingga 108 terhadap yen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi setelah AS mengumumkan angka lapangan kerja yang jauh dari ekspektasi pasar, pada transaksi Jumat, US$ kembali melemah ke posisi 106,8 yen dan 1,28 per euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang para analis pasar uang masih optimistis terhadap kinerja US$. Defisit anggaran AS, harga komiditas bahan baku yang tinggi dan kebijakan luar negeri AS yang kontraproduktif masih bisa diimbangi dengan eskepktasi pertumbuhan perkonomian negara tersebut yang kian membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para analis bahkan merevisi perkiraan mereka terhadap pertumbuhan ekonomi AS. Berdasarakan pendapat 50 ekonom di negara tersebut, perkiraan pertumbuhan Produk Domestik Bruto Paman Sam disepakati mencapai 4,6%. Sebuah angka pertumbuhan yang cukup besar sejak 1984 yang mencapai 7,2%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi The Fed masih memiliki kartu as untuk menaikkan suku bunga yang diperkirakan terjadi pada kuartal kedua tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu yang terjadi, dana yang tertarik keluar dari AS akan kembali berimigrasi ke negeri asalnya dan segera membelanjakan US$. Hal itu diperkirakan akan menjadi sentimen positif yang mendongkrak kinerja mata uang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi Masyarakat Uni Eropa tidak sepenuhnya meraup keuntungan dengan penguatan euro. Banyak pihak yang mengatakan 1,30 euro untuk 1US$ merupakan batas priskologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kalau tidak produk dari kawasan tersebut akan tidak kompetitif. Haruslah diakui bahwa kinerja ekonomi Eropa tidaklah sekuat yang dibayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Jerman sendiri tentu tidak terlalu bermasalah. Karena untuk tahun lalu negara yang menjadi motor perekonomian di Eropa mengalami surplus perdagangan. Apalagi ekspor Jerman ke AS hanya mencapai 10%, sementara 50% adalah untuk kawasan Eropa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, Eropa bukanlah Jerman. Ketidakkompakan antar negara Uni Eropa dan kerentanan perekonomian sejumlah negara di kawasan tersebut diperkirakan tidak akan menjadi basis yang cukup tangguh untuk menopang kinerja mata uang kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pergerakan mata uang global saat ini berada dalam titik yang membahayakan. Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Jean Claude Trichet, seusai pertemuan para bankir dari bank sentral negara G-10 mengatakan melemahnya US$ berada pada titik yang membahayakan. Eropa, lanjutnya, tidak menghendaki kemerosotan mata uang AS yang semakin tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Perdana Menteri Prancis Jean-Pierre Raffain mendesak otoritas moneter Eropa untuk membawa euro pada tingkat yang lebih seusai dengan kondisi perekonomian Eropa dan AS. Karena persoalannya bukan hanya kedua kawasan tersebut, tetapi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan Boca Raton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai peringatan para pemimpin ekonomi dan negara tersebut seakan mempersiapkan sebuah pertemuan G7 yang segera digelar di Boca Raton, Florida, Februari mendatang. Pada pertemuan tersebut, AS diperkirakan akan kembali melobi negara yang tergabung dalam kelompok G7 untuk kembali menekan Gubernur Sentral Zhou Xiachuan untuk melakukan reformasi terhadap rejim mata uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stephen Jen, ahli strategi valas dari Morgan Stanley seperti dikutip sebuah kantor berita, yakin Eropa dan Jepang akan mendukung AS dalam upaya tersebut. Berbagai kecemasan dan lobi tersebut seakan meyakinkan analis dari Goldman Sachs bahwa Cina dalam kuartal pertama tahun ini akan merevaluasi mata uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati kebutuhan revaluasi yuan untuk mendukung stabilitas mata uang dunia sebesar 10%, fund manager itu memperkirakan untuk tahap pertama hal itu akan dilakukan sebesar 2,5%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam prediksi terakhir, Goldman Sachs lebih jauh meyakini bahwa Cina kemungkinan juga akan mereformasi sistem mata uangnya dari pematokan secara langsung dengan US$ pada level 8,3 menuju sistem keranjang yang mengaitkan yuan dengan sejumlah mata uang lainnya, termasuk yen dan euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah prediksi itu menjadi kenyataan? Kita tunggu lobi AS dalam pertemuan G7 di Boca Raton. Lebih dari itu, kita berharap G7 melakukan peran yang lebih besar, tidak sekadar menjaga stabilitas mata uang negara ekonomi kuat yang saat ini terlibat dalam sebuah pertarungan, melainkan terciptanya sebuah arsitektur ekonomi dunia yang lebih adil bagi negara-negara miskin yang tertimpa utang dan pasarnya gampang diintervensi pemain-pemain global. Sebuah harapan yang panjang, dan bukan tidak mungkin pula menjadi sekadar impian yang terus bertiarap.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-3476010353622069146?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/3476010353622069146/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=3476010353622069146' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3476010353622069146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3476010353622069146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/menunggu-diplomasi-dolar-dari-boca.html' title='Menunggu Diplomasi Dolar dari Boca Raton'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-5951292592348545258</id><published>2008-01-31T23:39:00.000-08:00</published><updated>2008-01-31T23:40:56.230-08:00</updated><title type='text'>Kontroversi Batam &amp; Konsistensi Rezin Investasi</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hari-hari di penghujung 2003 dilewati pelaku ekonomi Batam dengan kegembiraan yang tak terkira. Mengapa tidak? Kendati baru sebatas isu, berita akan disahkannya RUU Kawasan dan Pelabuhan Bebas Batam (Free Trade Zone) menjadi UU oleh Komisi V DPR pada awal tahun ini seakan membangunkan kembali harapan bahwa upaya Batam mengikuti jejak Shenzen, Cina, dan kawasan-kawasan bisnis yang menarik lainnya semakin mendekati kenyataan.&lt;br /&gt;Tapi, mimpi itu harus dikuburkan dalam-dalam. Bahkan, untuk sekadar menjadikan Batam semenarik Labuan (Malaysia Timur), Subic (Filipina) atau Jebel Ali (Dubai) makin tak ter-bayangkan. Apalagi berangan-angan menjadi seperti Cayman Island, Karibia dan Singapura agaknya masih jauh panggang dari api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, terbersit harapan agar pengesahan UU tersebut menjadi gong yang mengakhiri pencanangan 2003 sebagai Tahun Investasi. Tapi, justru sebaliknya, Otorita Batam dan pelaku bisnis di kawasan tersebut harus menghadapi kenyataan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemicunya adalah Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2003, tentang pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) di Batam, yang sudah sejak beberapa tahun lalu ditunda, sehubungan dengan status hukum daerah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui PP itu, terhitung sejak 1 Januari 2004 pemerintah mengenakan PPN dan PPn-BM atas kendaraan bermotor beroda dua atau lebih, rokok dan hasil tembakau lain dan minuman beralkohol (Pasal 4 ayat 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tahap kedua, mulai 1 Maret 2004, dikenakan pajak atas barang-barang elektronik yang menggunakan baterai dan listrik (Pasal 4 ayat 2). Selain itu, komoditas lainnya bisa saja dikenakan PPN dan PPn-BM berdasarkan keputusan Menkeu paling lama setiap enam bulan (Pasal 4 ayat 3). Begitu juga, menyangkut pengenaan PPN berkaitan dengan pemasukan barang dari daerah lain di luar Batam (Pasal 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, keluarnya PP 63/2003 itu menandai sebuah kecemasan baru yang kian mendalam. Persoalannya bukan sekadar pengenaan pajak dalam PP tersebut, tetapi lebih kepada visi dan konsistensi pemerintah dalam mengatur Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlalu mengherankan jika sejumlah asosiasi pengusaha sepakat membentuk tim khusus yang akan memperjuangkan pembatalan PP itu. Kendati, harus diakui, PP tersebut keluar bukan tanpa alasan, karena diharapkan dapat menggenjot penerimaan negara dan mendongkrak ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Abdul Karim Lesar, konsultan bisnis internasional dari Abda Capital Investco, maraknya berita tentang penyelundupan kendaraan bermotor di sekitar Batam serta tidak satunya visi dan misi para pengusaha serta pengelola kawasan itu mengenai FTZ, dimanfaatkan pemerintah untuk menunda pembahasan RUU-nya dengan DPR, walau ada rencana pada 16 Januari 2004 mulai dibahas di DPR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, pemerintah telah lima kali menunda penerapan PPN dan PPnBM agar tidak ada kesenjangan waktu menjelag berlakunya Undang-Undang FTZ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kevakuman tersebut, munculah PP yang menimbulkan reaksi kontroversial. Itulah sebabnya, sejumlah kalangan me-nilai terbitnya PP tertanggal 31 Desember 2003 itu sebagai bom waktu yang bisa me-mukul para pengusaha di Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas pengusaha memang secara langsung tidak terkena peraturan tersebut. Tapi, hubungannya yang luas dengan berbagai pengusaha di luar kawasan industri dikhawatirkan akan meningkatkan biaya, terutama dari bidang jasa di luar industri yang dikerjakan oleh para UKM yang saat ini mencapai 10.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, mereka yang banyak menggunakan spareparts dari barang impor akan menaikkan biaya karena menggunakan komponen eks luar negeri yang akan terkena pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok penentang PP ini berargumen kalau hanya untuk menunjang ekspor, bukan hanya soal pajak yang berpotensi menambah Rp500 miliar ke kocek pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mendesak adalah pembenahan pelabuhan sebagai sarana penunjang yang saat ini belum memadai, sehinga ekspor barang Indonesia masih banyak bergantung pada Singapura. Pengangkutan barang oleh Daily Express dari Batam melalui Singa-pura merupakan kenyataan yang susah disangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara soal kecemburuan daerah lain mengenai pembayaran pajak bisa ditepis dengan kenyataan lain bahwa pada 2002, Batam mampu menghasilkan pajak penghasilan Rp907 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, pada 2003 penerimaan pajak dari kawasan itu menembus Rp1 triliun. Artinya, walaupun Batam selama ini dibebaskan dari PPN dan PPnBM, kawasan itu tetap mencatat tax ratio tertinggi, yaitu 20%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hengkang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, pemerintah tampaknya yakin penerapan PP itu tidak akan mempengaruhi keputusan investor asing untuk hengkang dari Batam. Pasalnya, menurut Adjat Djatmika, kepala Kantor Pelayanan Pajak Batam, industri yang berorientasi ekspor akan tetap mendapatkan fasilitas bebas pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, pengusaha yang selama ini mengandalkan produk impor diperkirakan akan melakukan substitusi dengan barang lokal. Pemerintah juga berjanji akan memberikan insentif, antara lain kemudahan mengurus izin kepada menkeu sebagai kawasan berikat bagi pengelola kawasan industri paling lambat 90 hari sejak penerapan PP itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, menurut Agussahiman, kepala Dinas Pendapatan Daerah Batam, jika PP berhasil diterapkan, Batam akan mendapat kompensasi Dana Alokasi Umum (DAU) Rp450 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, Menko Perekonomian Dorojatun Kuntjoro-Jakti berjanji bahwa pemerintah akan menyelesaikan RUU FTZ Barelang (Batam-Rempang-Galang) pada masa sidang terakhir DPR. Itu berarti pemerintah dan DPR memberi sebuah harapan bahwa RUU itu akan selesai sebelum Pemilu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah letak persoalannya. Janji ini, serta keluarnya PP 63/2003 tersebut, justru mencuatkan pertanyaan atas keseriusan dan kecerdasan pemerintah pusat dalam memformulasikan visi Batam di tengah arus persaingan ekonomi global dan tuntutan otonomi daerah yang kian tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal keseriusan ini mempengaruhi tingkat kepastian hukum dan konsistensi kebijakan yang merupakan syarat fundamental bagi sebuah keputusan investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditelusuri, sejak 1992 keluar Kepress mengenai kawasan Bon-ded Zone yang mencakup wilayah Batam, Rempang, Galang dan Galang Baru serta 39 pulau kecil di sekitarnya, di bawah suatu Badan yang disebut Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam (Otorita Batam). Sejak saat itu, kawasan tersebut mendapat insentif pembebasan PPN, PPn BM dan BM untuk menunjang aktivitas bisnis dan mendorong ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketidakpastian status Batam mencuat ke permukaan sejak April 2000 karena pemerintah akan memberlakukan PP-39/1998 yang menghapus semua pengecualian perlakuan pajak setelah mantan Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent yang disodorkan IMF.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal ini memancing resistensi dari komunitas Batam sehingga berkali-kali ditunda hingga Desember 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpastian kian menguat ketika pada 1999 diberlakukan UU No. 22 tentang otonomi daerah yang mendorong terbentuknya pemerintahan kota (Pemkot) Batam yang selanjutnya membawa kawasan tersebut pada perseteruan konsep yang berkepanjangan lantaran sering berbeda pendapat dengan Otorita Batam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontroversi kian memuncak saat pemerintah pada pertengahan tahun lalu merekomendasikan FTZ hanya secara enclave atau hanya pada kawasan industri saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih wacana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pihak boleh mengklaim telah berjuang untuk membangun Batam. Yang pasti investasi sekitar Rp12 triliun untuk membangun kawasan tersebut melalui Otorita Batam, hasilnya saat ini belum optimal. FTZ, apapun bentuknya, masih sekadar janji dan wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang terbetik harapan, agar anggota DPR dan pemerintah yang tenggelam dalam hiruk pikuk Pemilu masih menyisakan ruang dan waktu untuk merampungkan RUU FTZ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, Singapura, negara tetangga yang juga berkepentingan dengan geostrategis selat Malaka, sudah beraksi jauh meninggalkan Batam yang masih berkutat soal visi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan ketika pada 6 Mei 2003 di ruang timur Gedung Putih, Washington DC, George Bush dan Goh Cok Tong menandatangani Perjanjian Perdagangan Be-bas antara kedua negara (USS-Free Trade Agreement), yang menghapus beban tarif pabean kedua negara US$33 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AS juga akan memberikan fasilitas istimewa berupa pembebasan bea masuk terhadap 92% impor dari Singapura dan sisanya akan dihapus dalam waktu delapan bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu pihak, Batam, Bintan dan kawasan sekitarnya akan mendapatkan manfaat positif dari perjanjian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, di pihak lain Batam dan Kepulauan Riau akan semakin tergantung pada Singapura sebagai pusat distribusi perdagangan dan perniagaan. Ini merupakan pukulan telak bagi negara besar dan potensial seperti Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ini mirip kekalahan Majapahit tempo dulu dalam merebut persaingan di wilayah itu dari kesultanan Malaka yang baru menerima agama Islam tetapi bersedia me-minta perlindungan dari penguasa Cina untuk mengamankan kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah awal keruntuhan Majapahit karena pedagang pesisir Utara Jawa dan dari wilayah lain Nusantara lebih berorientasi ke Malaka dari pada harus membawa upeti ke pusat kerajaan yang berada di pedalaman dengan birokrasi yang lamban, feodal dan sentralistis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-5951292592348545258?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/5951292592348545258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=5951292592348545258' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/5951292592348545258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/5951292592348545258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/kontroversi-batam-konsistensi-rezin.html' title='Kontroversi Batam &amp; Konsistensi Rezin Investasi'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-7075207402430346028</id><published>2008-01-31T23:35:00.000-08:00</published><updated>2008-01-31T23:37:05.290-08:00</updated><title type='text'>BEJ di Tengah Pertarungan Dana Global</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;em&gt; &lt;br /&gt;Tulisan ini dibuat pada 13 Januari 2004, saat Bursa Efek Jakarta membukukan kinerja yang mantap.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu bursa mencatat kinerja yang menakjubkan. IHSG (Indeks harga saham gabungan) di Bursa Efek Jakarta bertengger di posisi tertinggi dalam sejarah pasar modal Indonesia, yaitu 753,69. Berbagai spekulasi merebak untuk mencari faktor pemicu paling signifikan yang mendongkrak bursa ke tingkat yang sangat meyakinkan.&lt;br /&gt;Sejak perdagangan dibuka awal tahun, indeks sudah memperlihatkan kinerja yang bagus, sudah menyentuh posisi 725,47, yang merupakan angka tertinggi sejak 1999. Kebetulah saat itu perdagangan dibuka oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Seolah-olah faktor kunjungan politis juga turut meransang kinerja bursa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang pada saat kunjungan itu, sejumlah petinggi perusahaan BUMN yang sudah go public yang menyertai kunjungan Presiden berkesempatan menyampaikan proyeksi kinerja perusahaan yang prospektif. Misalnya Telkom, Indosat dan sejumlah perusahaan blue chips lainnya. Serta-merta transaksi di sejumlah perusahaan itu memicu kenaikan indeks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sejak 2003 BEJ sudah memperlihatkan kinerja yang memuaskan, dengan meroketnya IHSG sebesar 62,82% dari posisi 424,94 pada penutupan perdagangan akhir 2002 menjadi 691,90 pada penutupan pasar akhir 2003. Itu berarti Presiden hanya memanfaatkan momentum untuk mendongkrak kinerja pribadinya yang sebenarnya belum memperlihatkan hasil yang optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kendati kondisi makro ekonomi Indonesia cukup memuaskan, hal itu tidak mencerminkan realitas perekonomian secara keseluruhan. Meskipun target pertumbuhan ekonomi mencapai 4,8% dan inflasi berhasil ditekan sebesar 6,5%, angka pengangguran dan target ekspor serta realisasi investasi belumlah memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor global&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami kinerja BEJ, argumentasi lain yang harus dikemukakan adalah kinerja bursa global dan regional. Bursa Indonesia sebagai emerging market mendapat suntikan yang luar biasa dari situasi regional dan global. Dalam konteks ini, peran fund manager asing tak bisa diremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pelaku pasar Indonesia jeli, sebenarnya sejak 2003 aliran dana (capital flow) ke sejumlah bursa negara berkembang sudah dimulai. Tidak kurang Anne O. Krueger, direktur IMF, pada akhir November tahun lalu sudah memperkirakan hal tersebut. Hal itu terungkap dalam pidatonya pada 20 November dengan judul Maintaining the Miomementum: Emerging Market Policy Reform in 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, tingkat pertumbuhan global yang dilansir pada September 2003 mengalami kenaikan 3,25%, kemungkinan akan naik menjadi 4% pada 2004. Seperti yang ditulis Financial Times, 5 Januari 2004, kawasan yang menjadi dinamo bagi pertumbuhan ekonomi tersebut tidak lain adalah Asia Timur, terutama Cina, Korea Selatan dan Taiwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua negara besar, yaitu Jepang dan Amerika Serikat (AS) yang berada dalam satu kawasan Asia Pasifik bersama Cina akan memberi dukungan yang sangat besar. Apalagi, pertumbuhan ekonomi dua negara itu membaik dibandingkan periode sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asia Tenggara, tulis John Edward, tentu mendapat imbas positif. Karena kompetisi perekonomian Jepang dan Cina akan mencari mitra strategis di kawasan terdekat yang juga sangat potensial. Itulah sebabnya Jepang sangat bersemangat mengusahakan perjanjian perdagangan dengan Korea Selatan, Thailand, Malaysia dan Filipina setelah melakukan perjanjian Free Trade dengan Singapura. Sementara Cina yang telah melakukannya dengan Thailand akan melakukan hal serupa dengan sejumlah negara Asia Tenggara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan ekonomi di kawasan itu akan menarik aliran dana global ke sejumlah kawasan. Karen itu, tidaklah mengherankan jika harga saham di bursa Asia menguat sehingga menggangkat indeks MSCI Asia-Pasifik. Indeks Morgan Stanley Capital Internasional (MSCI) Asia Pasifik pada 2003 menguat 38% menjadi 89,01.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas itulah yang meyakinkan Steven Koh, ahli strategi ekuitas Asia di Standard and Poor's, bahwa bursa di kawasan Asia akan bertumbuh 15% hingga 20% pada 2004. Hal itu, jelasnya, terutama dipacu oleh kinerja pasar Hong Kong, Indonesia, Korea Selatan dan Malaysia. Realitas perekonomian di kawasan tersebut seakan mengabaikan berbagai isu negatif seperti serangan teroris, SARS maupun persaingan dagang antara Cina dan AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara global, menurut perhitungan Institute International Finance, Inc, aliran dana (net private capital flows) ke emerging market telah meningkat dari US$121 miliar pada 2002 menjadi US$162 miliar pada 2003. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi US$186 miliar pada tahun ini seiring membaiknya perekonomian sejumlah negara utama, termasuk AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk investasi portofolio (net portfolio equity) yang masuk ke pasar negara berkembang pada tahun lalu mencapai US$13 miliar. Sementara pada 2002 justru terjadi aliran dana ke luar sebesar US$1 miliar. Pada 2004 aliran dana portofolio yang masuk diperkirakan US$17 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk pasar Asia Pasifik, dana aliran portofolio ini mencapai US$11 miliar pada 2003, atau naik dibandingkan 2002 yang hanya US$2,6 miliar. Pada tahun ini jumlahnya diprediksi mencapai US$13,3 miliar, di mana Cina dan Korea akan menyerap sekitar US$10 miliar. Cina juga menyerap 85% dari total nilai investasi langsung sebesar US$60 miliar pada 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor pemilu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat aliran dana global tersebut, amat disayangkan kalau kita tidak mengambil bagian untuk mendapat keuntungan yang optimal. Dana yang masuk tersebut tentu akan diperebutkan oleh sejumlah pasar modal di dunia. Karena itu perlu diwaspadai agar peristiwa pemilu nanti tidak menjadi faktor negatif yang akan merecoki para investor global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri pada awal tahun ini seharusnya menjadi ajakan yang bagus untuk semua politisi dan petinggi di negara ini agar bahu-membahu menjadikan Pemilu sebagai momentum yang tepat untuk meningkatkan citra bangsa ini sebagai negara yang benar-benar demokratis dan bebas dari KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Negara yang demokratis dengan tingkat kepastian hukum dan politik yang tinggi merupakan jaminan bagi sebuah investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan lebih dari itu, untuk jangka panjang, para politisi dan pemimpin negara perlu segera menciptakan pasar modal agar lebih memberi manfaat kepada lebih banyak orang di Indonesia. Pasar modal tidak sekadar alat untuk mencari dana global dan kemudian memberi pendanaan pada sejumlah perusahaan dan mencetak gain kepada investor asing serta segelintir orang di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, selain berkepentingan menciptakan pasar yang likuid dan transparan, pemerintahan hasil Pemilu 2004 harus ikut mempromosikan pasar modal. Dengan demikian, semakin banyak orang ikut menikmati keuntungan, termasuk investor lokal dan perusahaan kecil yang beroperasi di berbagai pelosok Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak demikian, pasar modal Indonesia tidak jauh berbeda dari bursa yang dikembangkan pada era penjajahan Belanda dahulu. Pada masa VOC, Belanda pun sudah menjadikan bursa Jakarta sebagai sarana mencari dana global untuk mendanai kegiatan kolonialismenya. Inilah tantangan buat Megawati dan para capres yang bertarung pada Pemilu 2004. Jangan sampai indeks BEJ dan kenaikannya hanya jadi indikator bagi investor global dan segelintir orang di negara ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-7075207402430346028?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/7075207402430346028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=7075207402430346028' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7075207402430346028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7075207402430346028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/bej-di-tengah-pertarungan-dana-global.html' title='BEJ di Tengah Pertarungan Dana Global'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-2930654001172058441</id><published>2008-01-31T22:52:00.001-08:00</published><updated>2008-01-31T22:52:51.018-08:00</updated><title type='text'>In God We Trust</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pertapa Budha, Vidya,  melintasi pinggir kota Bangkok. Dia harus menjalani askese dengan menjadi pengemis di penggiran kota itu. Mengemis supaya bisa makan dan minum secukupnya seturut aturan Vihara..&lt;br /&gt;Latihan hidup seperti itu pada awalnya tidak mudah dihayati. Apalagi, Vidya sudah terbiasa memiliki cukup uang. Maklum, dia pernah menjadi direktur di sebuah bank swasta di kota tersebut.&lt;br /&gt;Menjadi tidak punya uang dan menggelandang tentu tidak mudah  bagi  Vidya. Karena itu, kendati harus terus mengosongkan dirinya dari segala macam persoalan, pertanyaan soal uang terus menghantui dirinya. Suatu ketika dia menemui gurunya dan menanyakan  makna latihan laku tapa itu.&lt;br /&gt;“Uang bukan segalanya-segalanya dalam hidupmu. Tinggalkan itu dan kosongkanlah dirimu,” begitu gurunya berpesan.&lt;br /&gt;Kita bukan pertapa seperti Vidya. Tetapi, kemampuan memperlakukan uang secara bijak tidak hanya milik Vidya. Kita juga. Dan pasti juga  tidak mudah. Apalagi pada jaman yang kental dengan semangat kapitalis-materialis.&lt;br /&gt;Karena kesibukan mencari uang, kita sering kehabisan tenaga dan waktu untuk mempersoalkan sikap kita terhadap uang. Padahal, yang terakhir ini bisa saja lebih menentukan kualitas hidup seseroang.&lt;br /&gt;Dalam ilmu spiritualitas dikenal dengan disposisi bathin, kesiapan hati dalam menyikapi realitas, termasuk terhadap uang. Soal kecondongan bathin dan cara pandang kita tentang uang. Kalau terlalu terpaut, uang malah meracuni. Itulah sebabnya, banyaknya uang dan ketepatan dalam mengaturkan keuangan tidak bebanding lurus dengan kebahagiaan.&lt;br /&gt;Apakah kita lalu harus memuja kemiskinan dan penderitaaan. Tentu tidak. Karena kemiskinan dan penderitaan pun sering kali menjadi alasan yang kuat bagi seorang untuk mengutuki Tuhan dan membenci sesamanya.&lt;br /&gt;Tentu lain hasilnya, kalau penderitaan hidup dan kemiskinan mendorong Anda untuk berpasarah pada Tuhan, membuka diri dan menjalin kerja sama dengan sesamanya. Orang-orang beragama menganut pandangan ini.&lt;br /&gt;Konon, menurut pengalaman dan ajaran guru-guru agama, di sinilah letak kebahagiaan. Manusia menjadi tahu diri, dari mana asalnya dan ke mana perginya. Dia lalu paham bahwa hidupnya adalah sebuah ziarah bersama dengan yang lain menuju  Penciptanya.&lt;br /&gt;Kendati demikian, pendapat kaum spiritualis dan agamawan ini tidak bebas dari oposisi. Banyak pemikir  yang  tidak sepaham dengan pendapat ini. Salah satunya adalah Frederick Nietsche.&lt;br /&gt;Menurut dia, orang-orang yang sering terus berpasrah itu bermental budak. Mereka tidak memiliki vitalitas yang bisa menentukan hidupnya sendiri, tanpa campur tangan otoritas lain, termasuk Tuhan. Memang Tuhan itu sudah mati, kata dia. Kehendak, otonomi diri, itu paling penting. Jadi, berjuang dan atur dirimu baik-baik, demikian pesan sang filsuf. Tak perlu ada otoritas ilahi yang mengatur langkahmu.&lt;br /&gt;Kita sering tidak sepakat dengan Nietsche. Tapi terkadang, watak kita lebih keras dari sang filsuf ini. Hanya saja mungkin  kita malu-malu  berteriak bahwa Tuhan sudah mati. Tapi, dalam kenyataan, kita meminggirkan peran Tuhan. Penggantinya adalah Uang. Uang  menjadi ‘sebab’ dan ‘tujuan’ dari segala tingkah laku dan perbuatan kita. Uang berbicara, uang menyelenggarakan semuanya. Kita telah ‘menuhankan’ dia. Kita adalah pengabdinya yang setia.&lt;br /&gt;Sebagai orang yang mengakui beriman, bathin pun bergulat. Maklum, kita tidak bisa mengabdi pada dua tuan. Harus memilih, Tuhan atau  Uang. Pasti Tuhan, demikian pilihan orang beriman. Itu lihat cucu-cucunya Lincoln di Amerika Serikat. Sebagai bukti keyakinannya kepada Tuhan, mereka tulis “In God We Trust” dalam mata uangnya.&lt;br /&gt;Asal saja tolong diingat kalau itu bukan solusi. Pegulatan bathin jalan terus. Setiap kali, setiap hari.  Anda tetap masih harus memililih dan bersikap. Semoga Anda berada pada jalan yang benar!.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-2930654001172058441?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/2930654001172058441/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=2930654001172058441' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2930654001172058441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2930654001172058441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/in-god-we-trust.html' title='In God We Trust'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-2506342083752107115</id><published>2008-01-31T22:46:00.000-08:00</published><updated>2008-01-31T22:47:46.107-08:00</updated><title type='text'>Sol Invictus</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Renungan meyambut Hari Natal dan Tahun Baru&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari raya Natal, 25 Desember, orang Kristen memperingati ‘dies natalis’  (hari kelahiran) Yesus.  Setelah itu, delapan hari sesudahnya, 1 Januari, dirayakan hari baru pada awal tahun yang ditetapkan berdasarkan tampilnya Yesus dalam pentas sejarah umat manusia. Perhitungan waktu yang didasarkan pada kelahiran Yesus sebagai Mesias atau Masehi itu meruapakan  alasan mengapa kalender yang dipakai hingga saat ini disebut  kalender  masehi.&lt;br /&gt;Tapi, mengkaitkan perhitungan waktu ‘sejarah’  dengan peristiwa kelahiran Yesus itu justru mendatangkan pertanyaan yang sukar dijawab. Karena kemudian muncul pertanyaan, mengapa kedua hari itu tidak jatuh pada tanggal yang sama?  Mengapa kelahiran Yesus tidak jatuh pada 1 Januari?  Mengapa Natal  yang pada 25 Desember tidak dijadikan awal perhitungan kalender?&lt;br /&gt;Persoalannya, Alkitab yang menjadi sumber kesaksian utama kehidupan Yesus itu tidak banyak membantu untuk menguak fakta kelahiran Yesus. Maklum, Alkitab itu bukan buku sejarah.  Dia adalah buku pengalaman iman. Dari awal,  para murid Yesus tidak tertarik pada persoalan sejarah kehidupan Yesus. Termasuk murid-murid yang yang sempat menulis kesaksian itu.&lt;br /&gt;Bagi mereka, kelahiran Yesus bukan titik tolak pengalaman. SebalikNya, kematian dan penderitaanNya. Itulah sebabnya kisah penderitan dan kematian Yesus merupakan bagian yang paling awal ditulis dari semua episode Perjanjian Baru. Bahkan, menurut sejumlah ahli kekristenan,  bagian Alkitab inilah yang paling mendekati  kebenaran sejarah. Yaitu peritiwa sekitar perjalanan Yesus menapaki ‘via dolorosa’ (jalan penderitaan) saat memanggul salib hingga kematianNya di bukit Golgota.&lt;br /&gt;Pada bagian ini  cerita tentang Yesus tampak sangat detil. Sedangkan tentang bagian kehidupan yang lain—termasuk kisah kelahiran dan maa kecilNya—hanyalah penguat penjelasan tentang makna penderitaan dan kematian Dia.&lt;br /&gt;Memang dalam kekristenan bagian yang harus terus dikenang adalah ‘perjamuan terakhir’—menjelang kematianNya--saat Dia membagikan roti dan anggur kepada para muridNya.&lt;br /&gt;Karena di sinilah secara simbolis Dia menjelaskan ‘makna paling dalam’ kehidupanNya. Dia hidup untuk membagikan diriNya kepada sesama. Roti adalah ‘tubuh” dan anggur adalah ‘darah’ yang harus siap dihidangkan kepada sesamja. Dia meminta para pengikutNya untuk meneladani Dia dengan menjadi ‘roti’ dan  ‘anggur’ bagi orang  yang membutuhkan.&lt;br /&gt;Permintaan yang tidak mudah dijalankan. Karena itu pada peristiwa Natal orang Kristen diingatkan akan teladan utama ini. Dia datang dalam kesederhanaan. Sebuah cerita awal dari seluruh hidupNya yang datang untuk melayani, solider dengan sesama. Tidak lebih dari itu.&lt;br /&gt;Terkadang pesan ini dikaburkan dengan perayaan Natal yang gemerlap. Sebuah suka cita akan kedatangan Mesias yang terkadang mendekati foya-foya. Natal, terutama kemeriahan perayaannya saat ini lebih merupakan sebuah kebudayaan yang  ditambahkan kemudian.&lt;br /&gt;Konon, hingga abad ke empat orang Kristen merayakan Natal pada 6 Januari yang hingga sekarang masih dipertahankan oleh kalangan Kristen Ortodoks. Pada 315 M, Constantinus mengeluarkan peraturan keagamaan yang mengadaposi tradisi agama asli orang-orang Roma yang menyembah Dewa Matahari. Tanggal 25 Desember yang merupakan hari peringatan Dewa Matahari yang dikenal sebagai Sol Invictus. Lalu hari Matahari (Sun-day) juga diusulkan menggantikan hari libur yang diberlakukan hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;Jadi bukan hanya penetapan tanggalnya saja, tetapi cara merayakan lebih merupakan urusan tradisi dan kebudayaan bangsa Eropa. Hampir tak terkait sama sekali dengan sosok historis Yesus berbangsa Semit dan merupakan pemilik pertama tradisi  pengakuan monoteisme melalui Yahweh yang mereka sembah. Selanjutnya Natal menjadi sedemikian ceria karena embel-embel di sekitarnya seperti lagu Natal, pohon dan gua Natal, sandiwara, kartu, hadiah, pakaian  dan Sinterklas.&lt;br /&gt;Ujung-ujungnya, Natal bukan hanya urusal ritual  keagaamaan dan kebudayaan, tapi juga urusan ekonomi keluarga Anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-2506342083752107115?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/2506342083752107115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=2506342083752107115' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2506342083752107115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2506342083752107115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/sol-invictus.html' title='Sol Invictus'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-2342552881584419739</id><published>2008-01-31T22:39:00.000-08:00</published><updated>2008-01-31T22:40:32.416-08:00</updated><title type='text'>Masyarakat tanpa Sekolah</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deschooling society. Masyarakat tanpa sekolah. Itulah pemikiran yang dilontarkan  Ivan Illich. Ekstrim memang. Maklum, itu adalah protes  seorang tokoh yang menyuarakan pembebasan dari Amerika Latin bersama Gustavo Guttierez, Leonardo Boff, Juan Luiz Segundo dan masih banyak yang lain.&lt;br /&gt;Kalau Guttierez dan kawan-kawan sibuk mengkutak-katik pemahaman teologis terhadap realitas kemiskinan di Amerika Selatan, maka Illich lebih menyoroti soal pendidikan. Tapi, mereka sama dalam satu hal, yaitu  memakai pisau analisa Karl Marx dalam memahami realitas sosial.&lt;br /&gt;Karena itu, sudah bisa ditebak arah perjuangannya, yaitu menentang para pemilik modal dan bentuk-bentuk penindasan. Termasuk gereja yang sering berselingkuh dengan pemilik modal menjadi sasaran mereka. Itulah sebabnya bersama rekan-rekanya seperti Boff dan Guttierez yang juga pastor, Illich harus terus berkonfrontasi dengan pemimpin tertinggi mereka di Vatikan.&lt;br /&gt;Tentu Illich tak ambil pusing. Dia tetap menyulut pemikiran bahwa sekolah sudah diperalat oleh para penindas. Sekolah sudah dikorupsi. Menurut dia,  baik murid maupun guru di Amerika Latin adalah orang-orang frustasi. Frustasi dengan biaya sekolah yang tinggi. Mereka tertindas. Karena itu harus segera dibebaskan.&lt;br /&gt;Illich yakin penindasan itulah  yang akan dilanggengkan melalui insitusi yang bernama sekolah.  Karena terbukti sekolah tak mengubah apa-apa. Kalau berubah, itu hanya pola hidup konsumtif yang ujung-ujungnya melanggengkan kemiskinan orang Amerika Latin. Orang kaya tetap makin kaya, orang miskin menjadi semakin miskin.&lt;br /&gt;Sekolah tak memberikan pemikiran alternatif. Yang ada hanya tumpukan informasi. Tak ada kritik. Dengan pemikirannya yang digodok di CIDOC (Centre for Intercultural Documentation)  yang didirikannya di Puerto Rico tahun 1960-an,  dia ingin mencair kebekuan itu dan membebaskan orang-orang miskin dari belenggu sekolah.&lt;br /&gt;Dengan menggagas ‘to de-school’, (tanpa bersekolah), dia ingin menghancurkan kekuasaan orang yang mewajibkan orang lain untuk melakukan ‘pertemuan’  di sekolah.  Siapa yang mewajibkan mereka? Atas kuasa dan kepentingan apa mereka menyelenggarakan sekolah? Informasi seperti apa yang berlalu lintas di lembaga tersebut?&lt;br /&gt;Kritiknya terhadap sekolah menyangkut beberapa hal berikut. Pertama, adalah kritik terhadap sekolah sebagai proses institusionalisasi. Proses ini sering menghancurkan kepercayaan diri dan kapasitas diri individu dalam memecahkan persoalan. Proses ini seperti parasit dan kanker yang membunuh kreativitas anggota masyarakat.&lt;br /&gt;Kedua, adalah kritik terhadap para ahli dan keahlian yang dihasilkan lembaga pendidikan formal ini. Menurut Illich, mereka itu lebih banyak memberikan kerusakan dari pada manfaat bagi masyarakat.&lt;br /&gt;Mereka menganalisa situasi  politik dan sekaligus mengambil keuntungan dari situasi tersebut.. Mereka mengontrol produksi informasi dan menentukan mana yang valid dan mana yang tidak.&lt;br /&gt;Ketiga,  para profesional dan institusi yang terlibat dalam institusi sekolah menjadikan proses belajar sebagai komoditas. Untuk mengambil keuntungan, mereka memonopoli produksi informasi, mereka membatasi distribusinya dan mereka menentukan harganya. Tak mengherankan kalau biaya sekolah di Amerika Latin saat itu sangat  tinggi.&lt;br /&gt;Sekolah yang demikian, harus segera diumumkan kematiannya. Tak perlu ada sekolah lagi. Karena yang penting dalam pendidikan menurut dia adalah proses penyadaran diri. Konsientisasi. Anak didik harus dibimbing untuk menyadari  dengan kondisi hidupnya yang tertindas. Dan itu tak perlu harus berlangsung di sekolah.&lt;br /&gt;Proses konsientisasi bisa terjadi di mana-mana. Tentu tidak berhenti di situ. Yang terpenting adalah kemampuan untuk mengubah kondisinya. Para petani, nelayan dan buruh pertama-tama  harus memahami kondisi mereka masing-masing. Mereka yang lebih mengerti kondisinya. Tak harus diajari orang lain. Mereka harus bisa merumuskan kebutuhan dan langkah-langkah yang perlu  untuk perubahan.&lt;br /&gt;Selanjutnya, menurut dia, adalah motivasi bagi seseorang untuk mencari informasi yang penting bagi dirinya untuk perbaikan  hidupnya. Jadi belajar seumur hidup (long life learning) sangat dianjurkannya. Masyarakat itu adalah sekolah tempat kita belajar tanpa henti.&lt;br /&gt;Pembrontakan Illich berujung pada sebuah solusi. Dari proklamasi ‘masyarakat tanpa sekolah’,  Illich sampai pada keyakinan bahwa  ‘masyarakat adalah sekolah’. Sampai di persimpangan ini, Illich yang sosialis bertemu dengan Robert T. Kiyosaki, seorang ahli keuangan Amerika Serikat yang tentu sangat kapitalis.&lt;br /&gt;Tentu lain Illich, lain Kiyosaki. Kalau yang pertama mencetuskan ‘kebebasan dari’ penindasan ekonomi, maka yang kedua berbicara soal ‘kebebasan untuk’ mencapai sebuah stabilitas ekonomi. Sama-sama bermimpi tentang kehidupan yang lebih baik. Dan, keduanya pun sepakat bahwa mimpi itu bisa diraih tanpa harus dibelenggu  pada persoalan  institusi yang namanya sekolah. U&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-2342552881584419739?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/2342552881584419739/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=2342552881584419739' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2342552881584419739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2342552881584419739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/masyarakat-tanpa-sekolah.html' title='Masyarakat tanpa Sekolah'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-8098096570123342095</id><published>2008-01-31T22:29:00.000-08:00</published><updated>2008-01-31T22:31:10.103-08:00</updated><title type='text'>Anda adalah Pemimpin</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tulisan ini dibuat sebagai komentar atas pendapat Maxwell tentang pemimpin dan kepemimpinan&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Memahami  buku John C. Maxwell The Irrefutable Laws of Leadership (21 Hukum Kepemimpinan Sejati, 1998)  tak boleh dipisahkan dengan buku-bukunya lain. Beberapa buku Maxwell yang bisa disebutkan di sini adalah Leadership 101: What Every Leader Needs to Know (2002), Failing Forward: How to Make the Most of Your Mistakes (2000), Attitude 101 (2002), Running with the Giants: What Old Testament Heroes Want to Know about Life and Leadership (2002), The Differencer Maker: Making Your Attitude Your Greatest Asset (2206).&lt;br /&gt;Sesuai latar berlakang penulis yang adalah pemimpin rohani, pendekatan buku ini sangat psikologis spiritual. Dia mengambil nilai-nilai spiritual yang dijadikan dasar dan prinsip dalam pengembangan kemampuan memimpin.&lt;br /&gt;Inti dasar dari nilai-nilai kepemimpinan tersebut adalah kemampuan mengembangkan relasi sosial dengan orang lain. Pada saat Anda bisa mempengaruhi ‘sesama’, Anda adalah pemimpin. Anda tida perlu menunggu  menjabat sebuah posisi atau memangku sebuah status untuk disebut sebagai pemimpin.&lt;br /&gt;Perhatikan apa yang ditulis  Maxwell dalam bukunya ‘Our ability to build and maintain human relationships is the single most important factor in how wo get along—in every area of our life. (Winning With People).&lt;br /&gt;Setiap orang, Anda dan saya,  harus menjadi ‘pemimpin’ agar bisa lebih efektif mencapai apa yang dicita-citakan dalam kehidupannya. Karena tak bisa dihindari, Anda membutuhkan ‘orang di sekitar Anda’. Anda harus mampu mempengaruhi mereka untuk mendukung apa yang ingin diraih. Anda harus berusaha meraih kemenangan dengan dan  bersama mereka.&lt;br /&gt;Demikianlah  sejumlah nilai kultur kepemimpinan yang hendak disampaikan Maxwell dalam buku 21 Hukum Kepemimpinan Sejati. Di sana  terdapat 21 nilai atau prinsip hidup yang harus dihayati seseorang untuk memiliki kemampuan ‘memimpin’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat lebih mudah memahami buku ini, pertama-tama  mari kita lihat dimensi yang terkait dengan kepemimpinan. Kemudian  kita akan dengan mudah melihat bahwa  21 prinsip atau nilai kepemimpinan itu melekat pada masing-masing dimensi tersebut. Kendati tidak menulis secara sistematis, tapi dimensi-dimensi tersebut dengan jelas terlihat dalam pemikiran Maxwell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mulai memasuki area kepimpinan kalau Anda memiliki visi tentang kehidupan yang lebih baik.  Anda harus tahu, ada sesuatu yang ‘lebih’  yang menggerakakkan Anda untuk berubah, maju dan meninggalkan status quo. Visi kepemimpinan adalah semangat dan kemampuan melihat yang lebih baik dari yang ada sekarang. Maxwell menyebutnya dengan hukum katup (hukum 1). Keterbukaan katup, memperlihatkan kemampuan untuk melihat kebaikan di seberang sana. Energi hidup Anda digerakkan untuk mencapai itu. Katup yang tertutup adalah kebekukan hati dan pikiran yang ingin tinggal dalam kekinian, puas dengan apa adanya, merasa cukup. &lt;br /&gt;Visi perubahan itu harus dirumuskan dalam tujuan. Seorang pemimpin harus mengetahui kemana kehidupan ini harus dituju. Bagaimana orang-orang disekitar Anda mau digerakkan dan dipengaruhi, kalau Anda tidak tahu kemana energi Anda dan orang-orang disekitar Anda harus diarahkan? Dalam Hukum Navigasi (hukum 4) dan Hukum Prioritas (hukum 17), Maxwell membicarakan hal tersebut. Tak mungkin seorang navigator tak mengetahui kemana kapal ‘kehidupannya’ akan berlabuh. Dari sanalah Anda bisa menentukan skala prioritas, mana yang penting dan tidak, mana yang mendesak atau tidak. Kalau Anda tahu tujuan, maka Anda akan tahu  kapan Anda disebut pemenang. Kalau tujuan itu belum tercapai, hari dan pikiran  Anda akan terus terganggu. Anda akan terus mencari jalan, karena Anda tidak mau disebut sebagai pecundang. Itulah Hukum Kemenangan (hukum 15)&lt;br /&gt; Sebelum mempengaruhui orang lain, Anda harus memiliki sejumlah kualitas tertentu. Jangan bermimpi mempengaruhui orang lain secara optinal, kalau kualitas personal Anda tidak  meyakinkan. Maka ada nilai-nilai  personal yang Anda harus miliki agar Anda lebih mampu mempengaruhi orang lain. Maxwell menyebut beberapa nilai penting seperti: memiliki kehormatan (hukum 7),  mempunyai karakter yang kuat yang bisa menjadi landasan yang mantap (hukum 6), memiliki semangat berkorban (hukum 18). Anda juga harus memilki hubungan yang baik dengan orang lain (hukum 10), bergaul dengan orang-orang tepat yang  bisa mendukung tujuan Anda dan orang-orang Anda pimpin dalam sebuah komunitas (hukum 11).  Selain itu, Anda harus menjadi pribadi yang simpatik, menarik orang lain dan memiliki kesatuan antara kata dan perbuatan, bisa dipercayai janji-janjinya, ide dan pikiran Anda didengarkan karena keluar dari komptensi dan keseriusan untuk mencapai kepentingan bersama, bukan mememanfaat orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Maxwell membicarakan hal-hal tersebut dalam Hukum Daya Tarik (9), Hukum  E.F Hutton (5),  Hukum Kepercayaan (14).&lt;br /&gt;Kalau Anda memiliki kualitas personal seperti di atas, maka Anda akan mudah mensinergikan kemampauan rekan-rekan dalam komunitas itu untuk mencapai tujuan bersama. Seroang pemimpin mestinya bisa memberdayakan orang lain (hukum 12). Agar pemberdayaan itu lebih optimal, Anda harus bisa menciptakan banyak pemimpin dalam komunitas Anda. Maxwell menyebutnya sebagai Hukum Reproduksi (13). Dengan semakin banyak orang yang terlibat untuk mencapai kemenangan bersama melalui banyak pemimpin-pemimpin itu,  maka akan tercipta sebuah pertumbuhan yang eksplosif (hukum 20).&lt;br /&gt;Kepemimpinan itu tidak terjadi dalam ruang hampa. Kepemimpinan berlangsung dalam ruang dan waktu tertentu. Untuk mencapai  tujuan,  bersama orang-orang yang Anda pimpin, kemampuan untuk bersabar dalam proses (hukum 3) sangatlah diperlukan. Selain itu,  Anda harus pandai mencermati peluang untuk tampil pada saat yang tepat serta menggunakan momentum  yang benar. Maxwell menyebutnya sebagai Hukum Waktu Yang Tepat (19)  dan Hukum Momentum Besar (16). Pengalaman Anda dalam proses kepemimpinan serta kemampuan membaca peluang dalam situasi berdasarkan informasi yang selektif akan membawa Anda pada kemampuan memiliki intuisi. Seorang pemimpin harus memiliki intuisi (hukum 8).  Dan terakhir, yang tidak kalah penting adalah kualitas kepeminan Anda sangat ditentukan oleh kemampuan untuk menyiapkan pengganti Anda. Berhenti memimpin pada saat yang tepat, adalah bagian dari kemampuan memimpin. (Hukum 21)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-8098096570123342095?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/8098096570123342095/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=8098096570123342095' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8098096570123342095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8098096570123342095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/anda-adalah-pemimpin.html' title='Anda adalah Pemimpin'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-5351073382830320790</id><published>2008-01-31T22:26:00.001-08:00</published><updated>2008-01-31T22:27:19.695-08:00</updated><title type='text'>Jakarta Bukan Surga bagi Pensiunan</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal orang Indonesia yang mengadu nasib di negeri seberang, itu tentu  bukan cerita baru. Kesuksesan dan tragedi yang mereka alami  di Malaysia dan Timur Tengah misalnya sudah cukup menyita perhatian media massa tanah air. Tidak perlu lagi ada litani yang memperpanjang kisah mereka.&lt;br /&gt;Yang justru tidak kalah menarik adalah bahwa negeri tetangga bukan saja menggiurka bagi pencari kerja, tetapi juga bagi mereka yang sudah tua dan memasuki usia pensiun dan ingin menikmati hidupnya secara lebih menyenangkan. Maka mulailah kisah tentang migrasi orang kaya Indonesia ke sejumlah negara tetangga. &lt;br /&gt;Sebagai contoh, kita sebut saja namanya Pak Fredi. Di usianya yang ke 57, dia masih menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Setelah menyekolahkan dua anaknya di Canberra sejak 1995, tahun lalu dia memutuskan untuk membeli sebuah apartemen di sana. Sekarang, dia sering berhubungan dengan perusahaan penasihat keuangan untuk mempersiapkan perencanaan pensiun di negeri Kanguru.&lt;br /&gt;Lain lagi cerita seorang pengusaha yang sejak krisis moneter 1997 membeli sebuah rumah di Singapura. Kendati masih menjalani bisnis di Indonesia, dia harus pulang pergi Singapura-Jakarta, karena semua keluarganya sudah berada di sana. “Mencari uang boleh di Jakarta, tetapi lebih enak hidup dan meyekolahkan anak di sana”, begitu kira-kira prinsip yang diyakininya&lt;br /&gt;Ada cerita lain tentang pak Damanik yang bekerja di Frankfurt, Jerman. Sebenarnya saat pensiun tahun 1996 dari pekerjaannya di NATO untuk urusan Logistik dan Keuangan, dia bisa saja  kembali ke Indonesia dan menikamati hari tuanya di sini. Tapi, hal itu tidak pernah dilakukan karena dia selalu kuatir pada ketidapkastian di bidang ekonomi dan hukum di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firdaus bagi pemburu harta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kisah di atas membenarkan pendapat sementara orang bahwa Indonesia, khususnya Jakarta, adalah surga bagi orang kaya atau bagi mereka yang sedang memburu kekayaan. Tapi, saat mereka sudah mapan dan harus menikmati kekayaan yang dimilikinya, Indonesia yang sebelumnya bak kebun firdaus itu, berubah menjadi neraka.&lt;br /&gt;Hal itu sekurang-kurangnya diakui oleh Tri Joko, Ketua  Financial Planning Association Indonesia (FPAI).  Mungkin menikmati kekayaan dalam arti menghambur-hamburkan uang untuk sebuah kenikmatan dan kegemerlapan duniawi seperti seks dan kekuasaan, demikian Tri Joko, bolehlah Anda masih berada di negeri ini.&lt;br /&gt;“Tapi kalau orang sudah mulai tua dan masuk usia pensiun, pertimbangan sudah lain lagi. Mereka lebih mementingkan ketenangan dan lingkungan yang sehat,” ujar Dirut Panin Life itu.&lt;br /&gt;Bagi mereka yang berduit, mengenal kenyamanan tinggal di luar negeri sudah dimulai sejak mereka masih aktif mengumpulkan uang alias masih bekerja. Biasanya bermula saat mereka mengirim anaknya di sekolah luar negeri. Atau perkenalan itu sudah dimulai ketika mereka melakukan investasi dengan membeli rumah atau apartemen  di sana.&lt;br /&gt;Apalagi kebetulan sekali agen-agen perguruan tinggi dan properti dari luar negeri sangat agresif mengincar orang kaya di negeri ini. Lihat saja apa yang dilakukan agen seperti Brady Property Consulatancy Indonesia.&lt;br /&gt;Itulah sebabnya tidak mengherankan kalau dari tahun ke tahun jumlah anak orang kaya yang belajar ke luar makin bertambah banyak.  Selain mutu yang lebih baik,  tarif perguruan tinggi dalam negeri yang tidak lebih murah, mendorong mereka untuk hengkang ke sana. Belum lagi ada negara seperti Jerman yang membebaskan uang sekolah bagi para mahasiswanya.&lt;br /&gt;Untuk investasi di  properti pun, pasar di luar negeri juga menjanjikan kemudahan dan tarif kredit yang lebih murah. Di Singapura misalnya, bunga kredit yang hanya sekitar 4 persen per tahun jauh lebih murah daripada yang ditawarkan dalam negeri  dengam tingkat 11 persen hingga 16 persen per tahun.&lt;br /&gt;Di Australia misalnya, bank-bank menyediakan kredit dengan plafon antara 80 persen hingga 90 persen dengan jangka waktu kredit 25 hingga 30 tahun. Padahal di dalam negeri konsumen  masih dibebani  uang muka dan cicilan kredit yang berat.&lt;br /&gt;Tidak berhenti si situ. Negara-negara tetangga seperti Singapura dan Australia  tidak hanya menjejali orang kaya dalam negeri dengan urusan pendidikan dan properti. Soal kenyamanan hidup orang pensiunan akhir-akhir ini pun semakin gencar dipromosikan. Bahkan, langsung oleh instansi pemerintah  negara yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Perhatikan saja tawaran isentif pajak yang diberikan pemerintahan Australia kepada warga Indonesia yang sudah sekian tahun bekerja di negara itu dan hendak menikmati pensiun di sana.&lt;br /&gt;Atas nama Australian Taxation Office, Anda pasti dengan mudah menjumpai iklan di sejumlah harian berbahasa Inggris yang dirilis dalam bahasa Indonesia. Untuk melancarkan segara urusan administrasi, orang Indonesia yang tidak memahami bahasa Inggris, disediakan jasa penterjemah.&lt;br /&gt;Di bawah judul Pemberitahauan Bagi Orang yang Berpenghasilan di bawah Aus$40.000, sebuah iklan pemerintah negara Kanguru itu berjanji mentransfer dana ke rekening pensiun seseroang apabila penghasilannya kurang dari Aus$40.000 setahun .&lt;br /&gt;Dan apabila penghasilan Anda kurang dari Aus$27.500 setahun maka pemerintah akan menyamai kontribusi pensiun pribadi dengan perhitungan berdasarkan satu dolar berbanding satu dolar sampai Aus$1.000. Bantuan itu berlaku bagi mereka yang berusia di bawah 71 tahun dan telah menerima kontribusi pensiun dari perusahaan selama tahun tersebut.&lt;br /&gt;Menurut Tri Joko soal bantuan itu merupakan salah satu contoh yang diperlihatkan betapa sejumlah negara yang sudah maju, termasuk Australia dan Singapura, memperlakukan para pensiun secara lebih terhormat. Belum lagi menyinggung soal fasilitas kesehatan bagi orang tua seperti rumah sakit, rumah jompo dan transportasi yang tentu tidak perlu diragukan lagi.&lt;br /&gt;Menurut dia, perhatian kepada orang tua dari sejumlah negara maju, bisa dipahami karena dari sudut demografi, mayoritas penduduk di negara itu adalah orang tua.&lt;br /&gt;Beda dengan penduduk Indonesia yang sebagian besar adalah anak-anak dan orang muda sehingga prioritas pemerintah masih pada urusan keluarga berencana, pendidikan dan penciptaan lapangan kerja.&lt;br /&gt;Saking banyaknya jumlah, untuk urusan orang tua dan pensiun menyita perhatian yang luar biasa besar dari pemerintah  negara maju. Masih ingat contoh pemerintah Jerman di bawah Gerhard Schroder yang belum lama ini mengalami kesulitan dalam melakukan reformasi sistem pensiun.&lt;br /&gt;Tentu banyak orang tidak meragukan  negara Jerman yang memang sangat terkenal dalam urusan jaminan sosial, termasuk untuk orang tua, karena memang sudah dirintis sejak pemerintahan Otto von Bismark tahun 1880.&lt;br /&gt;Tapi sejak menjelang Natal tahun lalu, kanselir Jerman Gerhard Schroder harus mengambil langkah yang pahit dalam sejarah jaminan sosial Jerman. Dia harus melakukan penghematan dalam sistem pensiun.&lt;br /&gt;Kalau sebelumnya 50 persen premi asuransi ditanggung negara, maka sekarang para pensiun harus membayar sendiri. Sementara umur pensiun hanya bisa dinaikkan dari 63 tahun menjadi 65 tahun.&lt;br /&gt;Perubahan yang hampir sama juga dialami oleh sejumlah negara seperti Jepang, Belanda dan Italia dalam dua tahun terakhir. Sebuah reformasi yang menggambarkan bahwa di sejumlah negara maju--karena jumlah usia tua yang semakin banyak--membuat mereka sangat kesulitan dalam pemberian subsidi kepada para orang tua yang hendak menjalani usia pensiun.&lt;br /&gt;Menurut Tri Joko beban yang harus ditanggung di negara maju itu mendorong mereka untuk menggaet orang-orang kaya dari negara lain untuk pindah ke negara mereka agar ikut meringankan beban tersebut. Walaupun sebenarnya, lanjut dia, faktor penolakan dalam negeri memberi kontribusi yang jauh lebih signifikan.&lt;br /&gt;Dia mencontohkan makin banyak jumlah orang miskin di tanah air, yaitu 35,7 juta berdasarkan data Depsos 2002, dan rendahnya fasilitas publik—karena minimnya anggaran pemerintah yang disiapkan--mendorong orang kaya untuk lebih memilih meninggalkan Indonesia dan menikmati hari tua di negara lain.&lt;br /&gt;Kemiskinan, kepadatan penduduk serta minimnya birokrasi pemerintah menjadikan Jakarta dan sejumlah kota-kota besar di Indonesia lahan subur bagi kriminalitas dan polusi.  Jakarta dari hari ke hari semakin dibanjiri kaum urban yang tidak memberikan pengaruh prositif bagi tingkat kemakmuran. Maka terdesaklah  orang beruang yang mendambakan kenikmatan hidup, terutama pada usia tuanya. Memang Jakarta bukan surga bagi orang pensiunan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-5351073382830320790?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/5351073382830320790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=5351073382830320790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/5351073382830320790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/5351073382830320790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/jakarta-bukan-surga-bagi-pensiunan.html' title='Jakarta Bukan Surga bagi Pensiunan'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-8131897651562024098</id><published>2008-01-29T02:06:00.000-08:00</published><updated>2008-01-29T02:12:23.072-08:00</updated><title type='text'>Jejak Soeharto di lantai bursa</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tulisan ini dibuat dalam rangka mengenang mantan presiden RI Haji M. Soeharto yang meninggal pada 27 Februari 2007.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA: Menghubungkan mendiang mantan Presiden Soeharto dengan pasar modal mengingatkan saya pada tahun 1995, menjelang go public PT Bimantara Citra. Karena  perusahaan itu bagian dari Grup Bimantara—milik Bambang Trihatmodjo, putera Pak Harto—nuansa politisnya mencuat sangat kuat.  &lt;br /&gt;Sebagai jurnalis yang meliput bidang pasar modal saat itu, kami disodorkan kuisioner dari sebuah perusahaan public relations yang ikut terlibat dalam proses go public tersebut. Salah satu pertanyaan yang masih melekat dalam ingatan saya adalah dengan menjadi perusahaan publik, akankah hilang pula aroma ‘cendana’ dari Bimantara? &lt;br /&gt;Jawabannya, aroma ‘cendana’ itu tidak serta-merta menguap. Bukan apa-apa, jumlah saham yang dilepas ke publik cuma segelintir. Lagi pula terendus sangat kuat saat itu bahwa  perusahaan berbau ‘cendana’ tersebut pergi ke lantai bursa hanya untuk merias citra menjadi perusahaan yang lebih transparan.&lt;br /&gt;Saat melaksanakan initial public offering, Bimantara Citra menjual 200 juta lembar saham baru dengan denominasi Rp500 per saham. Jumlah saham yang dijual itu ekuivalen dengan 20% dari modal disetor.&lt;br /&gt;Dengan mengambil momentum 50 tahun Indonesia merdeka, manajemen perseroan—dengan duet Bambang-Rosano Barack—meyakinkan masyakat bahwa tujuan utama Bimantara ke bursa bukan untuk mencari dana, tetapi ingin mengubah citranya sebagai perusahaan tertutup.&lt;br /&gt;Sebelum PT Bimantara Citra dicatatkan di bursa pada Juli 1995, perusahaan keluarga Cendana lain yang dilepas melalui pasar modal adalah PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP).&lt;br /&gt;Perusahaan milik Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut) yang  bergerak di bidang infrastruktur jalan tol itu  go public pada awal 1995 lewat pelepasan 122 juta saham dengan nilai nominal Rp500. Jumlah ini setara dengan 24,4% dari seluruh saham yang diterbitkan.&lt;br /&gt;Baru dua tahun kemudian, Desember 1997, PT Humpuss Intermoda Transportasi—milik  Hutomo (Tommy) Mandala Putera—mendapat giliran go public. Anak perusahaan Grup Humpuss yang mengoperasikan pengapalan bahan bakar minyak dan gas tersebut hanya segelintir dari bisnis  yang dikelola salah seorang putera mantan penguasa Orde Baru  itu.&lt;br /&gt;Humpus Intermoda bahkan satu-satu perusahaan keluarga  inti Cendana yang masih eksis di pasar modal hingga saat ini. Dua perusahaan yang lebih dulu listing di bursa, CMNP dan Bimantara, saat ini sudah berpindah tangan.&lt;br /&gt;Sejak Soeharto lengser dari kursi kepresidenan pada 21 Mei 1998, kepemilikan saham keluarga Cendana di CMNP  terus menyusut. Tutut melepas seluruh kepemilikannya di perusahaan pengelola tol itu. Kepemilikan perusahaan ini kemudian jatuh ke tangan pengusaha Harry Tanoesudibyo.&lt;br /&gt;Harry juga membeli saham Bambang di Bimantara lalu mengubah namanya menjadi PT Global  Mediacom.  Bila sebelum go public  Bambang menguasai 50%, berdasarkan komposisi kepemilikan saham terakhir di lantai bursa, kini putera Soeharto itu tinggal memegang 12% lewat anak perusahaan di bawah kendalinya, yaitu PT Asriland.&lt;br /&gt;Peralihan kepemilikan itu mengundang banyak selentingan di pasar. Banyak spekulasi mengatakan kepemilikan Harry di dua perusahaan itu, CMNP dan Bimantara, hanya proxi yang mengelola dana keluarga Cendana—sebuah tuduhan yang tidak  mudah dibuktikan.&lt;br /&gt;Tuduhan yang sangat simplistis seolah-olah orang dengan enteng mengatakan peralihan kepemilikan saham Bambang di PT Chandra Asri dan PT Try Polyta ke pengusaha Prajogo Pangestu dilakukan dengan tujuan ‘persembunyian’ itu.&lt;br /&gt;Spekulasi seperti ini tentu menarik bagi para penggiat pencari harta kekayaan mantan Presiden Soeharto. Banyak data yang disodorkan oleh para penggiat tentang  keberadaan harta keluarga Cendana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bahkan dengan fasih menyebut properti yang dimiliki keluarga Soeharto dari Boston, Los angeles, London, Australia hingga sejumlah gedung dan perhotelan mewah di dalam negeri. Ada pula yang meyodorkan data  bahwa banyak bank investasi, seperti Credit Suisse dan UBS, dipercayakan mengelola harta keluarga Cendana.&lt;br /&gt;Dana-dana itu disimpan di Swiss, New York, dan entah di  kota mana lagi. Sekali lagi itu semua masih spekulasi yang tidak mudah dibuktikan. Dengan mengganti pemilik saham  dengan nama perusahaan dari British Virgin Island saja, misalnya, orang  akan susah  melacaknya.&lt;br /&gt;Di tengah pencarian kekayaaan keluarga Cendana, kepada kita Grup Humpuss—yang dikomandoi Tommy Soeharto—paling transparan [melalui websitenya: &lt;a href="http://www.humpuss.com/"&gt;www.Humpuss.com&lt;/a&gt;) mengungkapkan bisnisnya. &lt;br /&gt;Melalui induk usaha itu,  selain  memiliki perusahaan publik Humpuss Intermedia, mereka masih mengelola sejumlah bisnis lain. Di sana ada PT Gatari Air Services yang menangani bisnis penerbangan dengan jalur khusus.&lt;br /&gt;Kemudian ada PT Humpuss Pengelolaan Minyak yang mengelola migas dan petrokimia. Lalu ada PT Rante Mario yang mengelola hutan HPH seluas 114.000  di Mamuju, Sulawesi.  Setiap tahun Rante Mario memprofuksi sedikitnya 28.000 m3 kayu.&lt;br /&gt;Selain itu, ada PT Humpuss Aromatik yang mengelola, memproduksi, dan mendistribusikan migas. Terakhir adalah PT Humpuss Trading yang menjual hasil pengelolaan komoditas utama seperti migas dan kayu.&lt;br /&gt;Kecuali lewat sejumlah perusahaan itu, keluarga Cendana sebenarnya pernah terlibat di pasar modal melalui perusahaan sekuritas, yaitu PT Pentasena Arthatama. Meski kecil, pada tahun 1990-an perusahaan sekuritas yang dimiliki  Siti Hediyati Haryadi (Titiek) itu pernah memainkan peran cukup besar di pasar modal.&lt;br /&gt;Perusahaan sekuritas inilah yang menjadi underwriter PT Tambang Timah—bersama Niaga Securities dan BZW Ltd—ketika go public pada Oktober 1995. Itulah sebabnya pada 1994-1995, sekuritas ini menjadi salah satu perusahaan lokal swasta papan atas bersama Makindo, Bhakti Investama, Trimegah Securities, Lippo Securities, Niaga Securities, BT Prima Securuties, Danamon Securities, dan Bumi Daya Securuties.&lt;br /&gt;Keterlibatan Titiek  di pasar modal bukan hanya dalam urusan bisnis di PT Pentasena. Dia pernah menjabat sebagai komisaris PT Bursa Efek Jakarta bersama Fuad Bawazir saat I Putu Gde Ary Suta menduduki posisi Ketua Bapepam.&lt;br /&gt;Lebih dari itu bahkan. Pada masa inilah Titiek menjabat sebagai Ketua Masyarakat Pasar Modal (Capital Market Society/CMS) Indonesia. Lembaga nirlaba ini sempat membuat visi pasar modal dan mensosialisasikannya.&lt;br /&gt;Dalam rangka memperingati 20 tahun pasar modal pada 1997, CMS di bawah komandan Titiek dengan gairah sangat besar mengadakan pameran bursa saham. Soeharto yang berada di ujung kekuasaan pun di undang ke sana.&lt;br /&gt;Titiek melalui  lembaga itu berkali-kali mengutarakan visinya tentang pasar modal Indonesia yang akan jadi terbesar di Asia Tenggara pada 2020. Besar karena banyak pemodal lokal yang terlibat, besar karena banyak perusahaan yang memanfaatkan pencarian dana lewat pasar modal.&lt;br /&gt;Sebuah visi yang hingga satu dekade kemudian ternyata tidak berhasil dielaborasi secara serius oleh Bapepam, otoritas bursa, dan pelaku bursa saat ini. Mereka hanya lebih suka  asyik-masyuk memperhatikan turun-naiknya indeks dan mereguk keuntungan.&lt;br /&gt;Sangat terlambat&lt;br /&gt;Keterlibatan dan perhatian anak-anak Pak Harto di pasar modal memang sangat terlambat. Mereka aktif di bursa saham—bukan tempatnya di sini untuk  mempersoalkan apa motivasi dan siapa yang mengajak mereka—baru 20 tahun setelah Soeharto memaparkan visi besar tentang pasar modal, yaitu  pada 1977 saat mengaktifkan kembali kegiatan bursa saham.&lt;br /&gt;Kalau disimak, bukan hanya anak-anaknya, Soeharto sendiri bahkan terlambat. Kendati berkuasa sejak 1968, Pak Harto  yang membangun bangsa ini dengan ideolologi kapitalis-liberal, baru pada 10 Agustus 1977 meresmikan perdagangan di Bursa Efek Jakarta.&lt;br /&gt;Pada saat itu,  mantan penguasa Orde Baru tersebut dengan tegas mengatakan pasar modal diminta menjadi agen pemerataan ekonomi. “….perusahaan-perusahaan diberi kesempatan untuk menjual sahamnya kepada masyarakat, dan masyarakat diberi kesempatan untuk membeli saham-saham tersebut.”&lt;br /&gt;Pasar modal diharapkan menjadi salah satu alat pencapaian demokrasi ekonomi. Sayangnya, visi dan kesadaran terhadap pentingnya bursa saham itu tidak segera direalisasikan oleh Sang Jenderal Besar TNI.&lt;br /&gt;Selama periode pertama, 1977-1987, pasar modal mengalami kelesuan, meskipun pemerintah telah memberikan fasilitas kepada dunia usaha yang memanfaatkan dana dari bursa efek. Berbagai fasilitas itu di antaranya perpajakan untuk merangsang masyarakat agar mau terjun dan aktif di bursa.&lt;br /&gt;Soeharto, melalui tim ekonominya saat itu,  belum  mampu mengatasi tersendatnya perkembangan pasar modal selama periode tersebut. Hal ini disebabkan oleh beberapa masalah di antaranya mengenai prosedur emisi saham dan obligasi yang terlalu ketat, adanya batasan fluktuasi harga saham, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Baru satu dekade kemudian, pemerintah mengeluarkan deregulasi yang berkaitan dengan perkembangan pasar modal, yaitu Paket Kebijakan Desember 1987, Paket Kebijakan Oktober 1988, dan Paket Kebijakan Desember 1988.&lt;br /&gt;Pakdes 1987 merupakan penyederhanaan persyaratan proses emisi saham dan obligasi dengan menghapuskan biaya yang sebelumnya dipungut Bapepam, seperti biaya pendaftaran emisi efek. Selain itu, dibuka kesempatan bagi pemodal asing untuk membeli efek maksimal 49% dari total emisi.&lt;br /&gt;Paket ini juga menghapus batasan fluktuasi harga saham di bursa efek dan memperkenalkan bursa paralel. Ini merupakan pilihan bagi emiten yang belum memenuhi syarat untuk memasuki bursa efek.&lt;br /&gt;Pakto 88 ditujukan bagi sektor perbankan, tetapi  berdampak terhadap perkembangan pasar modal. Paket kebijakan ini berisikan tentang ketentuan 3 L (legal, lending, limit) dan pengenaan pajak atas bunga deposito.&lt;br /&gt;Pengenaan pajak itu berdampak positif terhadap perkembangan pasar modal. Hal ini karena dengan keluarnya kebijakan itu berarti pemerintah memberi perlakuan yang sama kepada sektor perbankan dan pasar modal.Sementara itu, Pakdes 88 pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih jauh kepada pasar modal dengan membuka peluang bagi swasta untuk menyelenggarakan bursa. Karena tiga regulasi itu, pasar modal menjadi aktif pada periode 1988 hingga sekarang.&lt;br /&gt;Itulah jejak mantan Presiden Soeharto dan anak-anaknya di pasar modal. Jejak itu mungkin saja kurang nyata, mungkin pula terlambat. Namun, lebih baik kabur dan terlambat daripada tidak sama sekali.&lt;br /&gt;Soal keterlambatan Pak Harto memang bisa dipahami. Di bawah pengaruh tim ekonominya saat itu, Soeharto yang sangat dekat dengan AS, lebih senang memanfaatkan aliran modal langsung, baik melalui utang maupun investasi langsung perusahaan raksasa sekelas Freeport atau ExxonMobil.&lt;br /&gt;Membangun Indonesia dengan mengandalkan utang dan investasi langsung (direct investment), tanpa pengendalian diri dan sistem yang kuat, bakal menimbulkan kebocoran di  sini sana. Dan Soeharto akhirnya jatuh juga pada kegiatan pembangunan yang kental dengan jalinan korupsi, kolusi dan nepotime (KKN). Maka tidak heran ketika lengser, baik dari panggung politik maupun panggung kehidupan, Pak Harto  meninggalkan utang yang menggunung.&lt;br /&gt;Kita tentu masih ingat menjelang lengser, Presiden Soeharto mengutus Menkeu Mar’ie Muhammad dan Ketua Umum Kadin Indonesia Aburizal Bakrie ke AS untuk memohon keringanan pembayaran utang. Bayangkan saat itu bangsa ini terlilit utang dalam jumlah besar, terdiri atas US$80 miliar utang negara dan US$75 miliar utang swasta.&lt;br /&gt;Bapak Pembangunan juga meninggalkan sistem dan kultur bisnis dan perusahaan yang amburadul. Tak perlu malu  mengakui bahwa kesalahan utama Pak Harto dalam meletakkan kapitalisme di negeri ini adalah menghidupkan  crony capitalism  dengan tabiat dasar KKN.&lt;br /&gt;Pasar modal yang mengedepankan transparansi semestinya bisa menjauhkan Soeharto dan Orde Baru dari kesalahan fatal ini. Sayangnya, hal itu tidak sampai terjadi.&lt;br /&gt;Sekarang, setelah Soeharto wafat, kita cuma bisa mengatakan andaikan mantan presiden itu lebih awal dan lebih kuat meninggalkan jejaknya di pasar modal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-8131897651562024098?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/8131897651562024098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=8131897651562024098' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8131897651562024098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8131897651562024098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/jejak-soeharto-di-lantai-bursa.html' title='Jejak Soeharto di lantai bursa'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-3788907910446374322</id><published>2008-01-23T05:56:00.000-08:00</published><updated>2008-01-23T05:58:48.029-08:00</updated><title type='text'>Semilir Surgawi dari Lantai Bursa</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dipahami kalau orang-orang yang taat beragama pada awalnya menaruh curiga pada pasar modal. Menurut mereka, saham itu adalah derivatif terkini dari perjudian. Lebih dari itu, tidak sedikit dari tumpukan kertas-kerta berharga itu mewakili unit usaha yang bukan saja bisa dikelola oleh 'tangan-tangan kotor', tapi bidang usaha yang digeluti pun berada di 'lumpur dosa' yang tentu ditentang oleh norma agama. Kalau demikian, begitu pandangan mereka, 'bertandang' ke pasar modal itu mirip dengan merintis jalan ke neraka.&lt;br /&gt;Tapi, pandangan itu sudah ketinggalan. Yang berpandangan bahwa bermain saham itu identik dengan perjudian pun sudah tinggal segelintir orang. Para penjaga kebenaran itu pelan-pelan mulai menyadari kalau antara keduanya terdapat perbedaan yang mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bursa saham transaksi selalu dilengkapi dengan informasi. Sesuatu yang tidak ada kalau Anda duduk di meja perjudian. Di situlah letak perbedaan antara keduanya. Di perjudian hanya ada untung-untungan. Di sana hanya ada spekulasi yang membuat kalah atau memang seperti sebuah takdir yang harus diterima begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pasar modal tentu tidak. Ada propektus perusahaan, ada riset dan analisa yang dirilis secara rutin dan teratur. Sebagai pelaku, Anda tinggal mendesak agar informasi itu disediakan secara transparan dan dibagikan secara merata kepada semua pihak. Jangan ada informasi yang disembunyikan. Tidak pula ada informasi khsusus yang diberikan kepada orang-orang khusus pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, otoritas bursa, dalam hal ini BEJ, bersama pengawasnya, Bapepam, menjaga agar transaksi yang terjadi di lantai bursa itu adil, informasi yang disediakan akurat dan infrastruktur pasarnya optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan informasi itu , tinggal Anda memutuskan secara bebas untuk membelinya atau tidak. Anda yang menanggung risikonya. Bukan hanya risiko finansial. Tetapi juga risiko spiritual terutama bagi Anda yang meyakini kalau keputusan 'menjual' dan 'membeli' saham tidak hanya beurusan dengan 'duit yang tebal' di kantong, tapi juga berurusan dengan 'jiwa yang tentram' di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pemodal Indonesia yang ingin masuk ke pasar modal sebenarnya masih kuatir kalau risiko surgawi ini tak bisa dikelola secara optimal di sana. Tapi beruntung akhirnya Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan para pelaku pasar cepat tanggap dan segera turun tangan. Lihat saja berkat jasa mereka sekarang sudah ada reksa dana syariah, obligasi syariah dan indeks syariah. Bahkan sedang digodok pula peraturan yang menjadi landasan legal bagi pasar modal syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus mengenai Jakarta Islamic Index (JII), seperti diakui Iwan Pontjo yang ikut membidaninya kalau pebentukan indeks itu secara tidak langsung didorong oleh kepentingan Danareksa Fund Management yang pada saat itu dikomandaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya berawal dari pertengahan 1997 ketika Danareksa hendak meluncurkan reksa dana syariah. Perusahaan sekuritas itu membutuhkan indeks yang menjadi acuan bagi pengelolaan dananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Juni 2000 terbentuklah JII. Tentu saja itu itu hasil kerja sama antara Dewan Syariah Danareksa bersama BEJ. Indeks itu ditopang oleh 30 saham yang diseleksi oleh kedua lembaha tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama mereka mengumpulkan semua saham yang jenis usahanya tidak bertentangan dengan syariah dan sudah dicatatkan lebih dari tiga bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ditakar rasio kewajiban terhadap aktiva berdasarkan laporan kuangan tahunan dan semester terakhir. Yang lolos seleksi adalah saham dari emiten yang memiliki rasio kewajiban terhadap aktiva minimal 90 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, dipilih 60 saham yang lolos dari kriteria di atas dan selanjutnya disusun berdasarkan besaran kapitalisasinya. Terkahir adalah memilih 30 jenis saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas dalam perdagangan reguler selama satu tahun teakhir. Begitulah 30 jenis saham itu dievaluasi setiap enam bulan dan dipilih lagi dengan proses selekesi yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinerjanya menggembirakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan empat tahun, kinerja JII termasuk lumayan dan bergerak mengikuti trend indikator saham gabungan di Bursa Efek Jakarta. Pada 2004 misalnya, JII mengalami kenaikan 42,796 poin dari 122,079 pada awal tahun menjadi 164,875 pada akhir tahun, atau naik sebesar 35,05 persen. Sementara IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) mengalami kenaikan 299,932 atau sebesar 42,57 persen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cacatan kinerja itu cukup menggembirakan.Maklum saja saham-saham yang terjaring di JII adalah jenis saham yang cukup prospektif. Tapi, apakah JII sudah berfungsi optimal sebagai benchmark bagi para pelakunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk soal yang satu ini Iwan Pontjo lebih memilih diam kendati dia ikut membidaninya dari awal. "Saya sudah lama tidak terlibat lagi sehingga tidak bisa memberi jawaban.Itu bisa ditanyakan kepada pelaku pasar. Biar lebih lebih obyektif," ujarnya kepada Bisnis Uang pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iggi H. Ahcsien, Manajer Syariah Unit Investment Banking AAA Secuerities, mengakui kalau para manajer investasi reksa dana syariah merasakan manfaat dari kehadiran JII yang bisa dijadikan sebagai patokan selama ini. "Semakin banyak reksa dana syariah yang diluncurkan maka makin besar pula kebutuhan pelaku pasar akan indeks ini," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini sedikitnya terdapat sembila reksa dana syariah seperti BIG Dana Syariah, BNI Dana Syariah, Dompet Dhuafa-BTS Syariah, I-Haji Syariah Fund, Reksa Dana PNP Dana Syariah Sejahtera. Kelima reksa dana ini termasuk dalam reksa dana pendapatan tetap. Empat lainnya adalah reksa dana campuran, yaitu AAA Syariah Fund, Batasa Syariah, Danareksa Syariah Berimbang dan Reksa Dana PNM Syariah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya lebih lanjut dia mengingatkan bahwa JII akan lebih optimal kalau di pasar modal Indonesia segera dirilis semua jenis saham yang termasuk halal di BEJ. Biar para pelaku pasar tidak hanya membatasi diri pada 30 saham itu . "Biar makin banyak pilihan bagi pemodal dan fund manager yang mengelola reksa dana syariah," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, bila perlu ada indeks syariah lain selain JII. Biar ada pembandingnya seperti yang ada di pasar modal Malaysia. Danareksa atau institusi keuangan lain misalnya, lanjut dia, bisa membentuk indeks syariah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya belum puas dengan JII, seorang manajer investasi reksa dana syariah yang enggan disebutkan namanya meminta agar proses seleksi dalam pemilihan 30 saham yang menopang indeks itu harus dilakukan lebih ketat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena selain tercatat saham-saham yang prospektif seperti Indosat, Telkom, masih ada saham-saham yang kurang atraktif di JII. Bisa karena sektor usaha yang tidak menarik, bisa juga karena kinerja yang kurang optimal. Hal ini, jelas dia, akan menyulitkan manajer investasi reksa dana syariah untuk melakukan diversifikasi dengan menempatkan saham-saham seperti Telkom dan Indosat dalam satu keranjang portofolio dengan sejumlah saham lain yang kurang menarik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dia lebih jauh lagi berpendapat. Dalam kriteria saham-saham itu, perlu dicantumkan juga soal citra publik para pengelola emiten itu. "Dalam daftar yang sekarang ini masih ada satu dua saham yang emitennya dimiliki oleh konglomerat bermasalah. Ini yang harus dievaluasi lagi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan-keluhan para pelaku pasar itu seakan mengakui kalau jalan ke surga melalui pasar modal memang masih berliku. Tapi, tak ada alasan bagi Anda untuk tidak menikmati semilirnya sekarang juga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-3788907910446374322?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/3788907910446374322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=3788907910446374322' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3788907910446374322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3788907910446374322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/semilir-surgawi-dari-lantai-bursa.html' title='Semilir Surgawi dari Lantai Bursa'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-2159734653927409461</id><published>2008-01-23T05:53:00.000-08:00</published><updated>2008-01-23T05:54:52.961-08:00</updated><title type='text'>Dilema Papalele</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papalele adalah sebutan khas orang Flores atau orang Indonesia Timur pada umumnya untuk para pedagang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan itu sinonim dengan kosa kata Jawa untuk menyebutkan para pedagang klontong yang menjunjung dagangannya dari satu tempat ke tempat yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka adalah pedagang lokal yang menjual sembako atau hasil bumi lainnya setelah membeli dari para petani di sekitarnya. Dalam bahasa sosiolog Tilman Schield, papalele itu adalah pedlar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika belum ada kendaraan roda dua atau empat, pelaku pasar tingkat akar rumput ini berjalan kaki dari satu kampung ke kampung yang lain untuk menjajakan barang dagangannya yang sebagian besar adalah hasil bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setingkat di atas pedlar adalah trader, yaitu pedagang untuk tingkat regional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih tinggi lagi adalah merchant, yaitu label yang diberikan untuk pelaku perdagangan antar kawasan atau daerah. Dan level paling puncak adalah pelaku perdagangan tingkat nasional (national economy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, orang lain bisa membuat pembagian dan labelisasi yang lain lagi tentang aktivitas dan pelaku perdagangan. Tak jadi soal. Yang mau disoroti sekarang adalah kehidupan papalele sebagai fenomena sosial yang memang layak disimak. Terutama karena hidup mereka mereka yang statis dan nasib mereka yang tidak lebih baik dari para petani sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal tahu, hidup mereka ditopang dari keuntungan selisih harga hasil bumi yang diambil dari para petani dengan harga yang dijual ke tangan konsumen. Sebuah marjin yang biasanya sangat tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya tidak banyak dari mereka yang berkembang menjadi pedagang besar. Nasib mereka tidak banyak berubah. Sudah puluhan tahun mereka masih saja menempati pojok-pojok pasar tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menjual ke pasar, ada juga yang langsung menjual hasil bumi itu ke gudang-gudang yang dikelola para Baba (sebutan untuk para pedagang China). Baba-Baba inilah yan kemudian mengumpulkan komoditi dalam jumlah besar lalu dijual lagi di Surabaya, Makassar atau Denpasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena jumlahnya banyak dan marjinnya besar, tak usah heran kalau kelompok inilah yang meraup banyak keuntungan. Nasib para Baba ini tentu jauh lebih beruntung dari papalele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kehidupan papalele yang prihatin seperti ini, para sosiolog lalu menjelaskan bahwa mereka terjerat dalam sebuah dilema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama harus ditelusuri bahwa kendati sebagai pedagang, mereka adalah produk dari komunitas petani di sekitarnya. Cara berpikir dan gaya hidup mereka tak jauh-jauh beranjak dari moral petani tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka hidup hanya untuk bertahan supaya tidak mati. Tak ada perencanaan masa depan. Apalagi financial planning yang detil seperti dipraktekan orang berduit di ibu kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para papalele itu mengambil bagian dalam penghayatan etika subsisten para petani. Etika yang oleh Clifford Geertz menjadi alasan terjadinya involusi bidang pertanian. Nilai yang memicu ekploitasi diri sendiri yang berkelanjutan seperti kata Chayanov dalam The Theory of Peasant Economy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berada di komunitasnya, mereka juga harus tetap mengikat tali solidaritas dengan komunitas asalnya. Mereka harus mengikut semua urusan adat istiadat dan ritus sosial yang ada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terang saja, mereka harus membayarnya dengan tenaga dan uang yang tidak murah. Sebuah biaya sosial. Keuntungan dari hasil jual beli yang sudah sangat sedikit itu harus dibagi-bagikan lagi kepada keluarga dan kaum kerabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saat mereka membeli hasil bumi dari para petani di desanya. Harganya adalah harga perdamaian dan hasil kalkulasi tenggang rasa dengan orang-orang sekampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak, mereka akan dicap serakah dan tukang catut yang tidak solider dengan kaum kerabat dan tetangganya. Gempuran yang bertubi-tubi dari dalam kampungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan belum cukup, di luar kampungnya pun, mereka harus menerima tantangan. Saat harus menjual harga barang-barangnya, mereka berhadapan dengan masyarakat anonim yang menawarkan harga seenaknya dan cenderung tidak bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah dilema papalele, yaitu solidaritas dengan orang sekampung dan anarkisme orang-orang di luar komunitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang mampu keluar dari dilema ini, akan menjadi pedagang yang berhasil. Itulah cerita dari sebagian besar para Baba, pedagang Arab, Minang atau Bugis di Flores selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti ditulis Hans Dieter Evers dalam The Traders" Dilemma, keluar dari kampung dan menjadi diaspora adalah salah satu solusi dari cengkraman dilema ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dari kampung halamannya mengikis ikatan emosional dan kultural. Beradaptasi dengan masyarakat setempat tidak harus membuat mereka secara detil mengikuti setiap urusan adat dan tetek bengek kebiasaan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghadapi anonimitas dan anarkisme di perantauan, sebagai diaspora, mereka membentuk ikatan atau jaringan internal di antara mereka. Mereka bukan saja hanya saling membantu dalam berdagang tapi juga saling meneguhkan apabila terjadi pengucilan dari masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga pendekatan 'modal kultural' yang dilakukan para pedagang Arab yang sekaligus berfungsi sebagai 'guru agama'. Lebih dari sekadar menghormati mereka, orang-orang juga percaya pada apa yang dijualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya itu merupakan penjelasan keberhasilan para pedagang diaspora. Jadi tak usah heran kalau di mana-mana sangat banyak para pedagang China, Arab, India atau Yahudi berhasil di perantauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kaget pula kalau papalele di Flores yang belum berhasil keluar dari dilema ini tetap saja keluar masuk kampung dan berkeringat di pasar-pasar tradisional. Entah sampai kapan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-2159734653927409461?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/2159734653927409461/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=2159734653927409461' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2159734653927409461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2159734653927409461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/dilema-papalele.html' title='Dilema Papalele'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-6074833421197661952</id><published>2008-01-22T05:46:00.001-08:00</published><updated>2008-01-22T16:43:13.568-08:00</updated><title type='text'>Ekonomi Alternatif bagi Bangsa yang Retak</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tepi Sungai Donau, dua pekan lalu, Perki (Persatuan Kristen Indonesia) Eropa menyelenggarakan seminar untuk mem-peringati peristiwa Sumpah Pemuda 75 tahun lalu.&lt;br /&gt;Seminar yang melibatkan Kedubes RI di Austria dan Slovenia, Keluarga Kristen Indonesia Austria (KKIA), dan Wadah Pengajian Austria (Wapena) itu menghadirkan pembicara Mubyarto (kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM), Samodra Sriwidjaja (dubes RI untuk Austria), dan Mangara Sihombing (dirjen Deplu dan mantan Ketua Perki Eropa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang hendak dijawab, bagaimana membangun lagi semangat kebangsaan Indonesia yang retak akibat krisis multidimensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ernest Joseph Renan mengatakan kebangsaan adalah prinsip spiritual yang dibangun pada kenangan bersama (masa lalu) dan keinginan atau kehendak untuk hidup bersama lagi (masa depan) berdasarkan situasi saat ini (masa kini). Jadi, kebangsaan bukan sesuatu yang kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, kalau mau eksistensi bangsa tetap ada, perlu harus di-perjuangkan. Perjuangan agar orang tetap berkeinginan dan berkehendak untuk berada dalam kebersamaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah berbagai krisis yang mendera Indonesia menciutkan semangat sebagian orang untuk mengakui Indonesia sebagai bangsanya dan tidak merelakan dirinya untuk diikat dalam kebersamaan sebagai satu bangsa dengan yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu alasan yang hendak disoroti adalah sistem pembangunan dan aplikasi sistem ekonomi yang dipakai Orde Baru yang menyebabkan ketidakadilan sosial. Perbedaan antara pusat dan daerah, Indonesia bagian Timur dan Indonesia bagian Barat, Jawa dan luar Jawa, yang kaya dan miskin makin lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, banyak daerah dan kelompok yang berkehendak melepaskan diri. Pengalaman ketidakadilan membuatnya enggan untuk hidup sebagai warga bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lain ma-sih dalam taraf mempertanyakan, apa faedahnya kita bersatu dalam satu bangsa dan satu tanah air, kalau hal itu membuahkan kemiskinan dan ketidakadilan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan oleh GAM, OPM, dan fundamentalis Islam yang ingin mendirikan negara berdasarkan agama harus dimengerti dalam perspektif demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk jangka pendek, bisa dipahami juga kalau militer sebagai penjaga ideologi kesatuan mengambil jalan kekerasan untuk menumpas kelompok separatis. Tapi, itu solusi sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideologi negara kesatuan adalah sesuatu yang abstrak dan tak berhubungan langsung dengan hak setiap individu untuk hidup layak dan bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, yang lebih fundamental, tercetus pernyataan "mau menjadi anggota warga negara bulan atau matahari, bukan persoalan. Yang penting hidupku layak dan bermartabat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, yang paling penting adalah koreksi terhadap sistem pembangunan, baik sistem pembangunan ekonomi maupun pembangunan bidang lain seperti sosial, politik dan kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inkulturasi ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mubyarto, kekeliruan dalam perekonomian dapat dilihat dari tingkat pengisapan yang dilakukan terhadap daerah baik oleh pemerintah pusat maupun investor asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan membandingkan nilai PDRB (per kapita) dengan nilai pengeluaran konsumsi per kapita, tingkat pengisapan bisa ditakar. Hasilnya memang mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1996, demikian hasil perhitungan Mubyarto, provinsi kaya seperti Kalimantan Timur, Riau, dan Papua, memiliki derajat penghisapan 87%, 80%, dan 78%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya dari setiap 100 nilai PDRB, bagian yang dinikmati penduduk setempat hanya 13% (Kaltim), 20% (Riau), dan 22% (Papua). Selebihnya dinikmati oleh investor asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, DKI Jakarta yang menjadi pusat peredaran uang Indonesia juga dihisap pemodal asing yaitu 72%, atau hanya 28% yang dinikmati warga Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data-data itu menguak bentuk kolonialisme ekonomi. Bentuknya mirip saat bangsa Indonesia masih hidup di era kolonialisme Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda bekerja sama dengan sebagian besar raja dan priyayi zaman itu mengeruk kekayaaan Indonesia. Sekarang, pemodal asing dari negara industri dan para konglomerat besekongkol dengan para pejabat negara melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, ada relevansi semangat kebangsaan dan kemauan untuk merdeka yang dimiliki para pemuda 75 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat yang sama diperlukan untuk menghantam korupsi yang dilakukan pejabat negara dan konglomerat serta mewaspadai sistem ekonomi neoliberal yang datang dari negara industri maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu syarat mutlak kalau bangsa Indonesia ingin keluar dari perbudakan ekonomi. Menggugat sistem perekonomian neoliberal dan kapitalis serta upaya melawan KKN di Indonesia merupakan perjuangan terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada cara lain melawan KKN kecuali melalui penegakan hukum yang serius. Pemerintah terus diawasi dan didorong untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggugat sistem ekonomi neoliberal dilakukan dengan mencari sistem perekonomian yang sesuai dengan kebudayaan Indonesia (inkulturasi ekonomi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inkulturasi pertama dikenal dalam dunia keagaamaan yaitu bagaimana ajaran agama yang berasal dari dunia lain dimengerti dan diaplikasi dengan cara berpikir dan kebudayaan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa inkulturasi, secara tak sadar kita mengakui dominasi kebudayaan di mana agama itu lahir dan berkembang. Karena agama itu lahir dalam konteks kebudayaan setempat dan ungkapan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ekonomi, melakukan inkulturasi berarti mengembangkan ilmu dan sistem perekonomian yang sesuai dengan kebudayaan dan ideologi yang dianut di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya mengembangkan perekonomian alternatif atau ekonomi kontekstual juga sudah dilakukan di tempat lain setelah menyaksikan kegagalan ekonomi sosialis-komunis dan kapitalis dalam menyejahterakan bangsa-bangsa di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerapkan sistem ekonomi neoliberal dan mengajarkan ilmu ekonomi ala Amerika ternyata tidak memberi kesejahteraan bagi bangsa dan negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sistem ekonomi Pancasila yang dipikirkan oleh Mohammad Hatta dan sekarang diperjuangkan Mubyarto sebenarnya bukan ilusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas penjelasannya bisa diuraikan seperti berikut. Ekonomi Pancasila adalah perekonomian dengan sistem pasar yang diterapkan berdasarkan pada sila-sila dalam Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekonomian itu harus berwatak religius dan humanis (sila I dan II), harus mempertimbangkan pemerataan seluruh Indonesia dan manfaatnya langsung dinikmati masyarakat kecil (sila III dan IV), serta tujuannya adalah keadilan sosial (sila V).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai perekonomian yang demikian memang bertentangan dengan ekonomi neoliberal yang berwatak kapitalis dan individualis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu nilai-nilai yang terdapat dalam sistem perekonomian Pancasila bukan khas Indonesia sebagaimana yang dikembangkan Hatta atau Mubyarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran E.F. Schumacher dalam bukunya Small Is Beautiful (Economics as if People Mattered) pada 1973 juga secara jelas berseberangan dengan pemikiran Adam Smith dalam Wealth of Nations tahun 1776 yang menjadi cikal bakal sistem perekonomian neoliberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengambil prinsip budhistis yang tidak terlalu menekankan prinsip kepuasan maksimum, persaingan yang terdorong nafsu untuk menguasai orang lain serta berupaya dengan kekuatan sendiri, banyak komentator mengatakan bahwa dia sebenarnya menjelaskan lebih jauh perekonomian yang dikembangkan Gandhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca pemikiran Mohammad Hatta atau Mubyarto terasa kedekatannya dengan prinsip-prinsip yang dikembangkan Schumacher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bisa dimengerti karena mengembangkan ekonomi Pancasila, berarti kita kembali pada akar kebudayaan Indonesia yang tentu tidak jauh dari unsur-unsur Hindu dan Budha yang meninggalkan jejak sangat kuat di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi Pancasila bisa dicari pendasarannya pada prinsip teologis agama Islam dan Kristen. Kedua agama tersebut juga menolak baik sosialisme marksis maupun kapitalisme liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kapitalisme berkembang di Eropa dan Amerika, tapi hal itu tidak keluar dari penafsiran yang tepat dari pinsip-prinsip kekristenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik Erich Fromm terhadap masyarakat Eropa perlu disimak kembali. Dia mengatakan watak Eropa yang keras dan imperialistis tidak mengambil bentuk dari kekristenan yang mengajarkan kasih dan kelembutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikir Islam Mohammed Al-Saqaf dalam Ethics in Economy juga mengatakan praktik ekonomi yang berciri kapitalistis dan bebas etika itu menurut Islam terlaksana di dunia barat yang diwarnai oleh agama Kristen, akan tetapi praktik itu tidak merupakan penerapan yang tepat atas filsafat ekonomi kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sebaliknya, Paus Pius XI dalam ensiklik Quadragesimo Anno, jelas-jelas menolak liberalisme maupun sosialisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran teologis Islam lebih tegas lagi berseberangan dengan prinsip kapitalisme liberal dan komunisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohd. Najatullah Siddiqi dalam Muslim Ethics in a Modern Economic System menegaskan sikap ekstrim individualisme dan komunisme tak pernah bisa berkembang subur dalam umat Islam yang memang berdasarkan hak milik dan kewiraswastaan, tetapi selalu mengakui hak kaum miskin untuk dibantu dan dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah, baik Islam maupun Kristen lebih jauh bahkan pernah membentuk sosialisme khas Islam atau pun Kristen. Sesudah Perang Dunia II ada usaha untuk membentuk hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah pimpinan Gamal A. Nasser pada tahun 1957, sosialisme demokratis dan koperatif diangkat menjadi ideologi resmi di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, diskusi sekitar Islam dan sosialisme mencapai puncak. Tapi kemudian kembali redup pada dasawarsa tujuh puluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha membentuk sosialisme sendiri tidak menghasilkan berkat yang diharapkan, lalu istilah sosialisme menjadi kurang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, kendati berusaha membangun sosialisme sendiri, baik Islam maupun Kristen tetap mengakui milik pribadi, ekonomi pasar, dan kompetisi sebagai dasar bagi tatanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pengkritik memberi komentar bahwa baik Islam maupun Kristen juga kapitalis karena mengakui ketiga unsur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diajarkan etika ekonomi Islam dan Kristen kelihataan sangat ideal. Hanya kelemahan dalam mengaplikasinya, membuat tawaran-tawaran itu hanya tinggal pada teori dan ajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keragu-raguan yang merupakan ciri khas jalan tengah ini mempersulit para pencetus sosialisme tersebut untuk menemukan formulasi dan pentahapan yang gamblang yang bisa segara diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan sama muncul saat kita membahas ekonomi Pancasila yang sangat berhati-hati pada semangat kompetisi. Bagaimana merumuskan semangat gotong royong dalam perekonomian nasional agar bangsa ini tidak kalah bersaing dalam percaturan internasional?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menempatkan koperasi sebagai soko guru perekonomian? Bagaimana sikap kita terhadap modal asing agar kita tidak dikucilkan negara lain? Bagaimana penerapan UU Monopoli? Bagaimana jaminan sosial dan perlindungan terhadap yang miskin dan terlantar bisa dirumuskan? Masih banyak pertanyaan yang harus dijawab agar Ekonomi Pancasila tidak hanya menjadi mimpi-mimpi Mohamad Hatta dan Mubyarto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekonomi pasar sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak sekeras ekonomi Pancasila, ekonomi pasar sosial yang dikembangkan di Jerman merupakan bentuk protes terhadap pasar bebas (laissez-faire) yang diwarisi dari abad 18 dan 19, serta ekonomi terpimpin ala Adolf Hitler dan ekonomi sistem komunis yang diterapkan negara Jerman Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik terhadap sistem kapitalis merupakan sebuah tradisi yang kuat di Jerman bersamaan dengan munculnya Karl Marx. Selanjutnya sejumlah pemikir seperti Ludwig Erhard dan beberapa yang lain seperti Aleksander Reustow, Walter Eucken, Franz Boehm, Wilhem Roepke, dan Alfred Muller-Armack melalui kajian ilmiah yang panjang berhasil mencetuskan ekonomi pasar sosial sebagai jalan tengah antara sistem sosialis-komunis dan sistem kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kapitalisme, ekonomi pasar sosial menggabungkan daya pasar bebas dengan pembatasan dan perlindungan melalui undang-undang sosial dan memberikan tempat integral bagi intervensi negara untuk mengoreksi daya pasar itu. Itu berarti, sistem tersebut tetap mengakomodir unsur sosialisitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pasar sosial berdiri di atas dua pilar: pasar bebas dan kontrol negara, tanpa memberi peranan dominan kepada salah satunya. Ia menempatkan keduanya di bawah kesejahteraan manusia, masyarakat, dan persekutuan negara dan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala keterbatasannya, ekonomi pasar sosial merupakan penerapan ajaran etika yang sesuai dengan ajaran Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya setelah Perang Dunia II, ekonomi pasar sosial yang diperkenalkan Ludwig Erhard diambil alih oleh ketua Partai Kristen Demokrat (PKD), Kondrad Adenaur, sebagai program utama partainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Pemilu 1949 PKD memenangkan Pemilu dengan menjual ide ekonomi pasar sosial dan Ludwig Erhard diangkat menjadi menteri ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya Jerman menerapkan ekonomi pasar sosial dinilai berani karena saat itu Jerman berada di bawah bayang-bayang kekuasaan sekutu yang adalah penganut sistem ekonomi pasar bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi saat itu Amerika Serikat mengucurkan dana yang luar biasa melalui Marshall Plan guna membantu perekonomian Jerman yang hancur berantakan akibat kekalahannya pada Perang Dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah setengah abad pelaksanaan ekonomi pasar sosial melalui tarik-menarik antara kutub sosialisme dan kapitalisme, Jerman memperlihatkan keberhasilan ekonomi yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan itu adalah peringatan bagi bangsa Indonesia bahwa sistem Ekonomi Pancasila bukanlah mengada-ada. Selain sesuai dengan kebudayaan dan ideologi bangsa, sistem tersebut mendapat pendasaran pada semua agama di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tinggal menunggu partai-partai politik mengambilnya, menjadikannya sebagai program, dan kemudian menerapkanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tahu, itu adalah jalan untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia yang lebih bermartabat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak, gugatan kita terhadap ekonomi neoliberal hanya tinggal wacana. Lalu, Mubyarto tetap menjadi 'nabi' yang kesepian yang terus bersuara, bukan hanya dari Yogyakarta, tapi bahkan hingga jauh dari pinggir Sungai Donau di Austria.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-6074833421197661952?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/6074833421197661952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=6074833421197661952' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6074833421197661952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6074833421197661952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/ekonomi-alternatif-bagi-bangsa-yang.html' title='Ekonomi Alternatif bagi Bangsa yang Retak'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-2193308176811644502</id><published>2008-01-22T05:43:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T05:44:35.742-08:00</updated><title type='text'>Menengok Singapura dan Malaysia</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkin karena letaknya yang terlalu dekat membuat kita lupa menengok atau belajar dari Singapura dan Malaysia, dua negara tetangga terdekat Indonesia. Baragnkali karena begitu sibuknya berkutat dengan persoalan dalam negeri, sampai kita lupa mengangkat muka dan menatap derap langkah yang mereka lalui.&lt;br /&gt;Atau bisa juga karena catatan historis bahwa yang meletakkan dasar kesultanan Malaka dan kota Tumasik (kemudian menjadi Singapura) adalah seorang pelarian politik dari Palembang (Paramesvara, kemudian menjadi Iskandar Shah) membuat kita tetap terlena pada kejayaan masa lalu. Padahal kedua negara itu memang sudah berlangkah jauh di depan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua negera tersebut ternyata meletakan dasar pembangunannya pada apa yang disebut "masyarakat ilmu pengetahuan". Sekurang-kurangnya itulah pesan yang bisa ditangkap dalam diskusi "Asia Forum" oleh Center for Development Research Universitas Bonn bertema "Knowledge Society in Singapore and Malaysia" akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi dengan pembicara tunggal Profesor Hans-Dieter Evers, seorang ahli yang kompeten pada masalah-masalah Asia Tenggara, dan memaparkan hasil penelitiannya di sejumlah negara di kawasan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evers adalah mantan profesor sosiologi Universitas Bielefeld dan University of Singapore yang saat ini mengajar di Universitas Bonn serta bekerja sebagai konsultan menteri Kerja Sama dan Ekonomi dan Pembangunan Jerman, UNESCO dan Bank Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga pernah menulis sejumlah buku, dua diantaranya terkenal, yaitu The Moral Economy of Trade: Ethnicity and Development Markets dan Southeast Asian Urbanism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk Peter Ferdinand Druckers dalam bukunya The Age of Discontinuity (1969) atau Daniel Bell (The Coming of Post-industrial Society, 1973) atau Niklas Luhmann (Die Wirtschaft der Gesellschaft, 1988) atau sejumlah teorisi lain seperti Polany atau George Simmel, pengertian "knowledge society" bisa diringkas sebagai masyarakat yang telah menjadikan ilmu pengetahuan sebagai faktor produksi utama menggantikan tenaga kerja dan modal dalam perekonomia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri khasnya, sebagian masyarakatnya memiliki pendidikan dengan standar yang baik, banyak memiliki pekerja berpengetahuan, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi serta memiliki akses pada sumber pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu berkembang banyak organisasi dan insitusi intelijen yang memiliki informasi dan solusi persoalan dalam bentuk dijital, para ahli dan konsultan menjadi kelompok strategis yang dibutuhkan dalam masyarakat. Ciri khas masyarakat jenis ini dijumpai pada masyarakat yang memiliki industri dan teknologi maju seperti Jepang, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evers mencatat, sejak 1991 PM Malaysia Mahathir Mohammad sudah mencetuskan pentingnya ilmu pengetahuan dalam mendorong pembangunan di negara tersebut. Menurut Mahathir, pengetahuan adalah kunci kesejahteraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya tidak mengherankan kalau dalam Wawasan Malaysia 2020, Mahatir memberi penekanan pada kemajuan teknologi dan informasi. Itu juga alasan mengapa Malaysia berani menginvestasikan dana yang begitu besar untuk membangun "Super Multi Media Corridor". Kendati belum semaju Singapura, Malaysia sudah mengarahkan diri pada jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang Singapura, sebagai sayap pasar ekonomi AS di Asia Tenggara, negara tersebut sudah selangkah lebih jauh. Pengembangan teknologi dan informasi menjadikan negara itu sangat efisien dalam mengelola dirinya sebagai pemain utama di bidang ekonomi jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal arah yang ditempuh Malaysia, sejumlah data berikut bisa memberikan bukti. Sampai dengan 2000, jumlah rata-rata pengguna PC (personal computer) di antara 1000 orang di Malaysia mencapai angka 100. Sementara rata-rata negara lain di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, masih berada di bawah angka 20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dibandingkan dengan negara Eropa, Jepang atau Korea Selatan, apa yang dicapai Malaysia belumlah signifikan. Misalnya saja dalam soal jumlah peneliti. Pada 1995 dan 1996 misalnya, jumlah rata-rata peneliti di Malaysia masih berada di bawah 500 orang per satu juta penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korea Selatan mencatat angka sekitar 2500 per satu juta penduduk, Belanda juga sekitar 2.500 dan Jerman mencapai angka tertinggi, yaitu sekitar 3.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik apa yang dicatat profesor Evers tentang Indonesia. Negara ini, kata dia, masih sibuk dengan penyelesaian konflik dan separatisme. Investasinya untuk mempertahankan negara kesatuan cukup besar sehingga sebagian dana dan perhatian diarahkan untuk menata urusan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengakui Indonesia seperti Vietnam berusaha untuk meningkatkan teknologi. Dia memberikan contoh proyek pembuatan pesawat yang dimotori mantan presiden Habibie. Tapi sayangnya, lanjut Evers, pengembangan teknologi kedirgantaraan itu tidak memiliki basis pada kemampuan teknologi sendiri. Artinya sebagian besar komponennya merupakan bahan impor karena tidak pertama-tama mengembangkan landasan pada teknologi yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelasnya, Indonesia belum meletakan dasar pembangunannya pada apa yang dinamakan "knowledge society." Indonesia juga sudah membangun banyak sekolah dan universitas. Tapi sayangnya juga, institusi-institusi ini tidak memberikan perhatian yang cukup besar pada riset.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait demokrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia dan Singapura tidak hanya berbenti pada visi. Pemerintahan kedua negara ini juga serius membenahi sistem politik yang demokratis, karena demokrasi menjadi syarat untuk mengembangkan ",masyarakat ilmu pengetahuan". Informasi yang transparan pada sebuah masyarakat yang terbuka dan demokratis merupakan basis untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal inipun Indonesia masih perlu membenahi diri. Kebebasan pers, keterbukaan untuk menyatakan pendapat dan keleluasaan menerbitkan buku di negara ini masih menemukan tantangan yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa hukuman mati untuk orang menyatakan pendapat secara liberal dan kreatif serta seruan untuk memberangus sejumlah buku di Indonesia merupakan pertanda bahwa negeri ini belum melihat pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu belajar lagi pada filsuf politik seperti John Stuart Mill dari Inggris. Menurut dia, kebebasan mengeluarkan pendapat sangat signifikan dalam upaya mencari kebenaran yang merupakan faktor penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Sebab kalau tidak ada perbedaan pendapat, banyak pendapat sulit diukur salah atau benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sebuah pendapat yang terus diulang, terutama oleh penguasa akan dianggap benar karena tidak pernah difalsifikasi atau diverifikasikan oleh pendapat lain dalam sebuah perdebatan. Dan perdebatan yang efektif banya mungkin dalam sebuah masyarakat di mana orang bebas menyatakan pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memang masih jauh dari "knowledge society." Padahal kata Evers, peluang memulai hal ini sangat besar di Asia Tenggara. Dia mengatakan perkembangan Cina yang sangat pesat dalam bidang ekonomi mestinya mendorong negara-negara tetangganya, termasuk negara-negara Asia Tenggara untuk mengembangkan "knowledge society. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga ahli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama lagi Cina akan membutuhkan banyak tenaga ahli dan peneliti. Singapura dan Malaysia berpeluang untuk mengekspor tenaga ahlinya ke Cina. Sayang kalau Indonesia hanya puas menjadi pengekspor TKW ke ncgara-negara Timur Tengah dan TKI ke Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya Indonesia tidak perlu malu belajar dari negara tetangga. Jerman pada abad 19 belajar dari Inggris untuk bersaing dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi karena tetangganya lebih dulu meletakkan dasar melalui revolusi industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Jepang belajar dari Jerman dan Korea Selatan belajar dari Jepang. Mudah-mudahan kesibukan mengurusi masalah Aceh dan diskusi soal exit strategy dari IMF tidak membuat bangsa ini enggan belajar dari negara tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab ilmu pengetahuan adalah faktor produksi yang penting untuk sebuah negara maju dan modern, bukan "modal" yang sekarang kita perdebatkan, apalagi "tanah" yang subur dan kekayaan alam yang hanya pantas dibanggakan oleh masyarakat feodal dan tradisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jangan-jangan, bangsa ini sedang merintis sebuah pembangunan tanpa visi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-2193308176811644502?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/2193308176811644502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=2193308176811644502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2193308176811644502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2193308176811644502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/menengok-singapura-dan-malaysia.html' title='Menengok Singapura dan Malaysia'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-3948360441397447406</id><published>2008-01-22T05:25:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T05:32:40.701-08:00</updated><title type='text'>Memahami Kepentingan Jerman dalam Konflik Irak (2)</title><content type='html'>Bush mencoba  bentengi dolar AS dari 'gempuran' euro&lt;br /&gt;(Bag. akhir dari 2 tulisan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Rusia untuk merebut dominasi minyak dunia juga perlu disimak. Pada beberapa tahun terakhir Rusia membangun perekonomiannya dengan mengoptimalkan potensi minyak yang dimilikinya.&lt;br /&gt;Guna mencapai tujuan tersebut, pemerintahan Vladimir Putin harus bisa ikut menentukan harga minyak dunia bersama OPEC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Rusia untuk mendapatkan ladang minyak di Irak tidak terlepas dari sasaran tersebut. Demikian juga usahanya untuk melebarkan sayap melalui aliansi dengan sejumlah negara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan AS pun pemerintahan Vladimir Putin melakukan kerja sama. Setahun setelah peristiwa 11 September, Rusia dan AS menandatangani kerja sama dan Rusia berjanji akan memasok minyak ke Paman Sam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian bisa mengurangi ketergantungan Amerika Serikat pada pasokan minyak dari Timur Tengah yang mulai terganggu setelah peristiwa 11 September. Dengan kerja sama tersebut, sejumlah pengamat memperkirakan bahwa dalam lima tahun Rusia akan memasok minyak sedikitnya 1 juta barel per hari ke Houston. Jepang dan Cina pun tidak luput dari ajakan untuk bekerja sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Jepang misalnya, Rusia akan membangun pipa minyak dari pulau Shakalin yang berjarak sekitar 25 mil dari perbatasan utara Jepang. Untuk memenuhi kebutuhan dunia, Rusia juga membangun sebuah transit minyak di Hamburg, Jerman, yang kemudian dikapalkan ke berbagai negara dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala usaha yang dilakukan Rusia tidaklah sia-sia. Tanda-tanda keberhasilan bisnis minyak Rusia dalam dua tahun terakhir tercermin pada kinerja pasar modalnya. Indeks bursa Moskwa yang pada tahun 2001 dan 2002 meningkat masing-masing 80% dan 37% tidak terlepas dari dukungan perusahaan publik sektor perminyakan. Sebagai misal, kinerja saham Yukos yang diemisikan di bursa-bursa Eropa lainnya sempat meningkat dari 40 euro hingga 200 euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghantam dolar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda tangan kontrak antara pemerintahan Irak dengan sejumlah negara seperti Rusia dan Prancis tidaklah mengakhiri pertarungan ekonomi diantara sejumlah negara. Bahkan kian seru dan memanas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama semenjak Saddam memutuskan untuk menggunakan euro sebagai ganti US$ dalam semua transaksi minyaknya. Sebuah ancaman terhadap dominasi US$ dalam pasar uang internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ketika kekayaan Irak yang berada di bank Prancis, BNP Paribas cabang New York senilai US$10 miliar juga dikonvesikan ke dalam euro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat konversi dilakukan nilai euro masih sekitar 82 sen. Saat ini, Saddam, memetik keuntungan karena nilai euro terus menguat dan berada di atas dolar AS. Tapi, keputusan Saddam saat itu sebenarnya lebih merupakan keputusan politis daripada sebuah langkah investasi. Dengan melepas US$, Irak hendak menarik distansi dan melepas hemegoni AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengamat Timur Tengah yang berbasis di Stprus Shams mengatakan keputusan Saddam saat itu sangat emosional dan tidak bisa dipahami secara ekonomis apalagi dia tidak membeberkan rencananya tersebut secara detil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini adalah urusan politis. Dia bukan ahli investasi dan bukan orang dari bank sentral. Dia hanyalah saudagar minyak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mencemaskan AS bahwa tindakan Irak itu akan diikuti olah tetangganya Iran. Hanya kemudian Iran mengurungkan niatnya karena nilai euro yang masih sangat melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru pada Agustus tahun lalu, Iran kembali mempertimbangkan untuk menggunakan euro dalam transaksi minyaknya. Bahkan, pada saat itu para pengamat memperkirakan, bahwa langkah Saddam Husein akan diikuti oleh negara minyak lainnya, yaitu Venezuelea yang juga mengalami hubungan yang tidak harmonis dengan AS karena presidennya Hugo Chavez menjalin hubungan dengan musuh utama AS dari Kuba, Fidel Castro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa kepentingan Jerman sebagai salah satu negara utama Eropa yang menentang aksi AS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjaga euro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal perburuan minyak, Rusia dan Prancis adalah dua negara yang paling disoroti . Benar, bahwa sebagian minyak Rusia dikapalkan dari pelabuhan Hamburg. Begitu juga Jerman adalah salah satu negara terpenting dalam ekonomi negara Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya 17% investasi asing di Rusia pada 2001 berasal dari Jerman. Sebuah posisi tertinggi. Begitu juga Jerman merupakan tujuan utama ekspor Rusia (10%). Sementara impor Rusia dari Jerman mencapai 12%. Sebuah hubungan dagang yang tidak bisa dianggap sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi, keterkaitan itu diperhitungkan dengan menempatkan posisi Jerman sebagai salah satu negara terpenting di Uni Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar investasi ladang minyak di Rusia, menggunakan pinjaman dari bank-bank anggota Uni Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga saham-saham perusahaan minyaknya juga dicatatkan di sejumlah bursa Eropa. Itu berarti kehancuran ekonomi Rusia merupakan ancaman tersendiri bagi Uni Eropa dan euro-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau perusahaan-perusahaan Prancis juga ikut dirugikan dalam perseteruan minyak dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif ini, kita bisa memahami mengapa Jerman mati-matian berada di pihak Rusia dan Prancis yang menentang serangan militer terhadap Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan lagi, Jerman sebagai penjaga euro terdepan, harus berterima kasih kepada Saddam Husein yang sudah bersedia menggunakan mata uang masyarakat Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik minyak akhirnya mengundang perseteruan euro dan US$ secara terbuka. Sejak 1998, wartawan CNN, Dan Williams, sudah memperkirakan akan terjadi persaingan antara Jerman dan AS untuk membela kedua mata uang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kehadiran euro, lanjut Williams, merupakan ancaman terhadap dominasi mata uang AS tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, Allan Greespan menyatakan keyakinannya bahwa dalam pertarungan itu, euro tidak pernah akan bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya carut-marut pertarungan kepentingan ekonomi itu menjelma pada letupan bom dan ledakan granat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum genderang perang berbunyi, Menlu AS Collin Powel sertamerta mencanangkan agar setelah kekalahan Irak, US$ akan diperkenalkan sebagai mata uang resmi di negara lembah sungai Tigris dan Efrat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah itu pertanda ekonomi AS dan dolarnya akan keluar sebagai pemenang dalam perang Irak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah untuk dijawab. Bush harus mengeluarkan miliaran dolar AS untuk membiayai peperangan dan membangun kembali Irak. Sebuah beban yang tentu akan menggoyangkan pondasi perekonomiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, penguatan euro saat ini dibarengi kecemasan negara-negara Eropa akan kemungkinan terjadinya resesi ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan justru pepatah ini yang benar, "kalah jadi abu, menang jadi arang".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-3948360441397447406?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/3948360441397447406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=3948360441397447406' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3948360441397447406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3948360441397447406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/memamahami-kepentingan-jerman-dalam.html' title='Memahami Kepentingan Jerman dalam Konflik Irak (2)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-8429407832744183907</id><published>2008-01-22T05:19:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T05:24:51.904-08:00</updated><title type='text'>Memahami Kepentingan Jerman dalam Konflik  Irak(1)</title><content type='html'>Mulanya bertikai karena berebut 'konsesi' minyak&lt;br /&gt;(Bag. 1 dari 2 tulisan)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak awal diplomasi Amerika Serikat untuk menggolkan rencana serangan ke Irak, Jerman konsisten menentangnya.&lt;br /&gt;Jerman bertahan dengan sikap tegas itu, kendati menteri pertahanan AS Donald Rumsfeld, yang masih berdarah Jerman, mencap negeri tanah leluhurnya itu seperti Kuba yang selalu menentang kepentingan AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan Rumsfeld ditanggapi dengan sikap cemooh. Negara adikuasa itu dianggap sebagai negara yang masih 'belia' yang tidak memahami arti sebuah peperangan. AS dituding sebagai anak kecil yang tidak memiliki banyak pengalaman baik-buruknya peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap cemooh itu dibarengi seruan agar Bush tidak meneteskan darah untuk mendapatkan minyak ("Kien Blut fue Ol"). "Tak ada darah untuk minyak" adalah salah satu ungkapan paling populer di Jerman, dalam seruan dan aksi menentang invasi AS ke Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi terbetik pertanyaan, mengapa pemerintahan dan masyarakat Jerman bersikap sedemikian tegas menentang AS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah sejak kekalahannya pada Perang Dunia II, Jerman sangat loyal dan bersekutu dengan negara adikuasa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah moralitas pemerintah Gerhard Schroder dan bangsa Jerman sedemikian tinggi sehingga benar-benar tidak mau telibat dalam sebuah aksi yang tidak manusiawi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menentang perang, tentu mudah dipahami. Tetapi, menentang AS sebagai negara adikuasa, tidak cukup dengan menukik pada pendasaran moral. Sikap itu, tidak bisa tidak, mesti lahir dari kalkulasi politis dan ekonomis yang matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perseteruan minyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bukan menjadi rahasia bahwa urusan minyaklah yang menggerakkan AS, Inggris dan sekutu-sekutunya mendongkel pemimpin Irak, Saddam Husein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setali tiga uang, negara-negara lain seperti Rusia, Cina dan Prancis yang paling getol menolak perang di berbagai forum internasional juga memiliki kepentingan yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai upaya diplomasi para pemimpin negara terkemuka untuk meredusir soal Irak hanya pada masalah politik, yaitu perang terhadap terorisme dan sanksi terhadap pengadaan persenjataan terlarang, agaknya sulit dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Irak menarik karena kandungan minyaknya yang sangat besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, kepentingan minyak itu sebegitu besar sehingga muncul spekulasi bahwa peristiwa 11 September 2001 yang sangat dahsyat itu adalah juga rekayasa AS untuk membenarkan petualangan militernya ke Afghanistan dan saat ini ke Irak guna mewujudkan impian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara Perdana Menteri Inggris Tony Blair dengan BBC saat mengunjungi Moskwa untuk membujuk Rusia supaya mendukung perang terhadap Irak awal Oktober tahun lalu, menarik untuk disimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusia, kata Blair, memiliki kepentingan sendiri dalam konflik minyak di Irak. Tapi, lanjutnya, belum pasti apakah kepentingan Rusia itu hanya semata soal harga minyak. Harian berbahasa Inggris Daily Telegraph memperjelas pernyataan diplomasi Blair soal posisi Rusia tersebut. Harian itu menegaskan bahwa Rusia sangat berkepentingan dengan harga minyak dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketergantungan ekonomi Rusia di masa mendatang pada ekspor minyak yang mencapai 50% itu sangat besar. Karena itu, bekas negara komunis terbesar itu berkepentingan dengan minyak di Timur Tengah guna menjaga stabilitas harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 9 Oktober 2002, harian tersebut lebih eksplisit menulis bahwa Rusia menyetujui perang Irak asalkan harga minyak tetap tinggi dan terkendali. Karena, penurunan harga minyak akan menghancurkan perekonomian di negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemasan Rusia beralasan. Karena menurut sejumlah pengamat, setelah Irak berhasil ditaklukkan, AS akan mendorong negara warisan Babilonia itu keluar dari OPEC sehingga bisa memproduksi minyak tanpa terikat kuota. (Lihat tabel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, Irak bisa membangun kembali negara dari kehancurannya dengan biaya dari penjualan minyak tersebut. Tetapi sebaliknya, dengan produksi yang berlebihan, para pengamat memperkirakan, harga minyak akan merosot dari $30-an per barel saat ini menjadi sekitar $15-20 per barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hal itu benar-benar terjadi, maka akan menjadi pukulan yang sangat telak bagi perekonomin Rusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan James A. Paul dari Global Policy Forum, negara keturunan Nebukadnezar itu memiliki kandungan minyak yang menggiurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cadangannya mencapai sekitar 112,5 miliar barel atau sekitar 11% dari kandungan minyak dunia. Bahkan banyak ahli menduga kandungan minyak mereka jauh lebih besar, yaitu sekitar 250 miliar barel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandungan minyak sebesar itu mengundang perhatian yang luar biasa dari perusahaan-perusahaan minyak raksasa seperti Exxon Mobil (AS), Chevron-Texaco (AS), Royal Dutch Shell atau disebut British-Dutch Company (Inggris), British Petrolium-Amoco (Inggris), dan Total Elffina atau French-Italian Company (Prancis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lama, perusahaan-perusahaan minyak AS dan Inggris menguasai hampir seluruh dari produksi minyak Irak. Tapi pada 1972, perusahaan tersebut dinasionalisasi dan dikuasai oleh Iraq Petroleum Company.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nasionalisasi, Irak justru berpaling ke perusahaan Prancis dan Rusia untuk mengoptimalkan produksi minyak di kawasan tersebut. Langkah Irak tersebut tidak mengendurkan niat Inggris dan AS untuk kembali mengukuhkan posisinya di Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan Prancis dan Rusia di satu sisi dengan Inggris dan Amerika Serikat di pihak lain makin seru tatkala negara lain seperti Cina dan Jepang juga mengais rezeki dari ladang minyak di kawasan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tahun 1990-an perusahaan minyak Rusia (Lukoil), Cina (Cina National Petroleum), Prancis (Total FinaElf) melakukan negosiasi dengan pemerintahan Irak untuk menggarap sejumlah ladang minyak di negara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Lukoil mendapat persetujuan untuk menggarap ladang Quma bagian barat pada tahun 1997, sementara Cina pada tahun yang sama menandatangani kontrak untuk menggarap ladang Rumailah di bagian utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prancis melalui Total FinaElf mendapat kesempatan untuk menggarap ladang minyak di lokasi Majnum. Pilihan bisnis Irak yang lebih memihak Rusia, Prancis dan Cina tentu sangat memukul kepentingan AS dan Inggris.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-8429407832744183907?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/8429407832744183907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=8429407832744183907' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8429407832744183907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/8429407832744183907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/memahami-kepentingan-jerman-dalam.html' title='Memahami Kepentingan Jerman dalam Konflik  Irak(1)'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-378529446454239970</id><published>2008-01-22T05:10:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T05:15:14.772-08:00</updated><title type='text'>Kambing Hitang di Balik Krisis Subprime Mortgage</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bag. 1 dari 2 tulisan)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Konon, Bern Bernanke, sebelum menjabat sebagai Gubernur bank sentral AS, sangat akrab dengan buku tulisan jurnalis Inggris, Walter Bagehot. Buku yang dirilis pada 1983 bertajuk Lombard Street itu menulis apa yang harus dibuat saat pasar finansial dilanda kepanikan.&lt;br /&gt;"Panik  adalah spesies neuralgia, dan menurut prinsip ilmu pengetahuan Anda tak boleh menghiraukannya," tulis Bagehot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemegang kas cadangan (saat ini adalah bank sentral), menurut dia, harus siap membantu dengan sukarela menyediakan dana bagi yang lain. "They must lend to merchants, to minor bankers, to this man and that man,  whenever the security is good".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu, saat menghadapi kepanikan akibat krisis subprime mortgage, nasihat Bagehot pun menjadi relevan. Bernanke lalu mengambil langkah penting, yaitu menurunkan suku bunga diskonto dari 6,25% menjadi 5,75%. Keputusan ini memberi peluang bagi bank-bank yang terjerat kredit untuk mendapatkan dana murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah itu tiga institusi keuangan besarJP Morgan Chase &amp;amp; Co, Citi Group, dan Bank Of Americalangsung berunding dengan The Fed soal kemungkinan untuk meminjam US$75 miliar. Uang itu dipakai untuk membeli surat berharga, produk mortgage dan instrumen-instrumen lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, total dana yang diinjeksi oleh bank sentral AS, European Central Bank, dan bank sentral dari negara lain selama krisis ini mencapai lebih dari US$350 miliar. Tindakan bank sentral itu disambut positif pasar, sehingga untuk sementara gejolak finansial pun sedikit mereda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis subprime mortgage memang menjadi momok amat menakutkan dua pekan terakhir ini. Betapa tidak? Gara-gara krisis kredit perumahan di AS, indeks dan pasar finansial global berantakan. Bahkan Indonesia adalah salah satu negara yang mendapat pukulan terburuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta sempat merosot tajam dan rupiah melemah hingga Rp9.500 per dolar AS. Bukan itu saja. Program privatisasi BNImelalui pelepasan sahampun jadi bulan-bulanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target sumbangan BNI untuk penerimaan APBN Rp4,3 triliun kandas. Selain itu, jadwal privatisasi PT Jasa Marga dan PT Widya Karya akan dikaji ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap krisis itu, pelaku pasar modal lokal cuma bisa mengumbar kepanikan. Aksi margin call dan tuduhan bahwa pasar tidak rasional sekali lagi menegaskan kepanikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panik adalah emosi yang mengekspresikan ketaksiapan akan ketiba-ketibaan peristiwa dan ketakpahaman sebab-musabab di balik krisis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah krisis subprime mortgage adalah peristiwa yang serta-merta terjadi? Mari kita menoleh ke belakang. Jarak waktu yang paling pendek untuk diingat adalah kegagalan yang dialami pengelola hedge fund Bearn Stearn pada pertengahan Juni 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman Merrill&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, Merrill Lynch &amp;amp; Co mengancam menjual sekuritas hipotek senilai US$800 juta yang diperolehnya dari hedge fund Bearn Stearns yang sempat menimbulkan gejolak di Wall Street.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, penjualan itu akan memunculkan harga wajar obligasi yang bisa digunakan sebagai patokan pengelola dana tersebut, satu hal yang dihindari oleh bank, pialang, dan investor. Harian ini sempat mengingatkan akan efek bola salju itu (Bisnis, 25 Juni 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini bisa menimbulkan kerugian miliaran dolar bagi investor yang tergabung dalam hedge fund mulai dari dana pensiun hingga bank asing. Bearn Stearns adalah penjamin emisi surat utang hipotek terbesar kedua, yang juga menjadi pialang terbesar bagi hedge fund.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini lebih dari sekadar isu menyangkut Bearn Stearns, tapi juga isu industri. Berapa banyak hedge fund yang memegang sekuritas serupa yang tidak likuid dan esoterik seperti ini? Berapa harga wajarnya? Apa yang akan terjadi bila ini meledak?," uja Brad Hintz, analis di Sanford C. Bernstein &amp;amp; Co di New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjadi analis, Hintz pernah menjabat sebagai chief financial officer di Lehman Brothers Holdings Inc, penjamin emisi hipotek terbesar, selama tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risiko nyata memiliki surat utang ini meningkat seiring dengan kekhawatiran merugi terkait dengan kredit rumah subprime [berbunga lebih tinggi karena lebih berisiko] membesar dari yang diperkirakan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, kalau serius dicermati, sinyal krisis subprime mortgage terjadi sejak Februari 2007. Laporan kuartal keempat 2006 memperlihatkan kerugian peminjam pada instrumen ini dan lembaga sekelas NovaStar dan New Century Financial tampak mulai sempoyongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pada 4 Mei 2007, giliran UBS mengumumkan ketersangkutannya pada subprime mortgage yang melibatkan Dillon Read Capital Management. Lembaga keuangan itu bahkan sempat mengingatkan pasar akan kemungkinan dampak dari krisis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 19 Juni 2007, sejumlah bank mengumumkan telah meminjamkan dana kepada dua hedge fund yang dikelola Bearn Stearns Asset Management. Kemudian menyusul sejumlah fund, seperti Basis Capital (Austrtalia), Chayne Capital dan Cambridge Plaece (London), Bradodock Financial dan United Capital (AS), mengumumkan kerugian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran hedge fund&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan Brad Hintz mestinya memancing kita untuk lebih serius memelototi peran hedge fund. Hal ini karena cukup sering krisis di pasar global melibatkan para pengelola hedge fund. Bukankah krisis yang terjadi di Asia pada 1997 tidak bisa lepas dari peran pengelola hedge fund sekelas George Soros?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di AS, kegagalan Bearn Stearn mengingatkan para pelaku pasar dan regulator pada peristiwa yang menimpa Long Term Capital Management LP pada 1998. Saat itu, pengelola hedge fund menderita kerugian hingga US$4,6 miliar, karena keterlibatannya pada instrumen berisiko tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor finansial Roy Smith dari New York University Stearn School of Business dan mantan pemimpin di kantor Goldman London mengatakan tidak perlulah kita mengherankan efek domino karena krisis di sebuah hedge fund bisa merambat ke tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chairman Securities and Exchange Commission (SEC) AS Christopher Cox pada saat yang sama juga mengatakan divisi regulasi pasar dari institusi yang dipimpinnya itu tengah melacak kekacauan ini di Bearn Stearns. Kepedulian kami ada pada potensi kegagalan sistemik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan Cox dan Smith sudah dilakukan hampir satu setengah bulan lalu. Sudahkah pelaku pasar dan regulator di Indonesia memahami makna pesan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pertanyaan pembelajaran, kalau belum tahu benar tentang apa yang bakal terjadi dengan permainan para hedge fund, mengapa saham BNI nekat di buang ke pasar? Mengapa para pemodal di lantai bursa terbuai dengan kenaikan indeks dan bernafsu menumpuk keuntungan dengan bermain saham dari uang pinjaman melalui fasilitas margin trading?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasarkah yang irasional atau pelaku pasar dan otoritas di Tanah Air yang kurang mau memahami rasionalitas pasar? Atau nafsu meraup keuntungan membuat pelaku pasar lalai dengan berbagai sinyal dan peringatan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal sepak terjang hedge fund memang patut diamati secara serius. Tentu saja terutama karena mereka mengelola dana yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak bangkrutnya LTCM pada 1998, industri hedge fund berkembang sangat pesat. Jumlahnya saat ini diperkirakan mencapai 9.000 dengan total aset yang dikelola mencapai $1,6 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mereka menggelontor dana yang besar di pasar, mereka berpeluang mendistorsi pasar, ujar Marshall Blume dari University of Pennsylvania Wharton School of Business.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan terkait dengan pasar real estat di AS, dia mengatakan, Apabila hedge fund membantu menjaga suku bunga tetap rendah, berlawanan seperti yang dilakukan oleh The Fed, mereka berkontribusi menjadikan booming properti yang diyakini menjadi gelembung yang spekulatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bag. 2 dari 2 tulisan)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para regulator di AS sudah lama mencemaskan soal perkembangan hedge fund. Kevin Warsh pada 11 Juli 2007, memberi kesaksian tentang hedge fund di hadapan Komisi Pelayananan Finansial DPR AS.&lt;br /&gt;Di satu pihak, dia meyakini bahwa peran hedge fund di dunia finansial sangat besar. Tetapi dia mengingatkan sembari menyitir hasil studi President's Working Group on Financial Markets (PWG) bahwa hegde berpotensi menimbulkan risiko finansial secara sistemik. Karena itu, diusulkan untuk lebih mengatur kegiatan para pengola hedge fund ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peristiwa LTCM pada 1998, dilakukan penelitian oleh PWG dan dipublikasikan pada April 1999 dengan judul Hedge Fund, Leverage and The Lessons of Long Term Capital Management.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konklusinya jelas bahwa kejatuhan LTCM karena kreditor dan para pihak yang memberi kesempatan kepada pengelola hegde fund itu melakukan leverage (penggelembungan) secara berlebihan. Maka tidak ada cara lain, regulator harus segera menata ulang manajemen risiko dari kreditor yang mengucurkan dana kepada para hedge fund.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam pertemuan G-8 di Skotlandia, efek buruk kehadiran hedge fund bagi pasar finansial dunia sudah dibahs secara serius. Mereka langsung menunjukkan perhatiannya pada transaksi hedge fund pada kontrak kredit derivatif yang secara global pada Juni 2004 mencapai US$4,5 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertumbuhan CDS [clollateral debt securities] yang eksplosif dan kontrak kredit derivatif lainnya adalah perkembangan yang sangat menakjubkan dalam dunia finansial akhir-akhir ini," demikian kesimpulan dari pertemuan pemerintah negara-negara kaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transaksi derivatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebut dengan subprime mortgage merupakan bagian dari transaksi derivatif ini. Benihnya adalah 6 juta individu di Negeri Paman Sam yang meminjam 100% dari nilai rumah yang dibeli saat properti lagi booming. Bank investasi mengemas pinjaman itu dalam bentuk MBS (mortgage backed securities atau bonds backed by the pool of mortgages) yang merupakan bentuk utang yang dijamin (collaterized debt obligation/CDO).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hedge fund juga meminjam lagi dana dari bank investasi itu dengan menggelembungkan nilai jaminannya. Selama harga rumah sebagai jaminan stabil, tidak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahaya akan tiba, saat harga rumah turun. Lembaga keuangan kemudian akan merevaluasi lagi jaminan. Kalau nilainya turun, para investor pun ramai-ramai menarik dana mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam krisis subprime mortgage sekarang, kerugian bisa mencapai US$50 miliar-US$100 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tidak akan lengkap kalau krisis ini tidak menyebutkan peran lembaga pemeringkatan. Makin kencang suara yang mengatakan bahwa kelalaian tiga lembaga rating besar-yaitu Moodys Investor Service, Standar &amp;amp; Poor's, dan Fitch Rating turut memberi andil dalam krisis kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan lembaga-lembaga rating ini dituduh ikut bermain, karena mereka meraup keuntungan luar biasa dari kegiatan pemeringkatan. Sejak melakukan kegiatan rating dari 2002 hingga 2006, Moodys Investor, misalnya, meraup untung hingga U$3 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya, lembaga rating itu memberikan penilaian yang sangat tinggi dari transaksi subprime mortgage yang mencapai US$1,1 triliun. Dari transaksi yang sangat berisiko itu, yang mendapatkan peringkat tripple A (AAA) hampir mencapai 60%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihitung bersama dengan transaksi yang dinilai AA dan A, hampir mencapai 80% transaksi. "Mereka bermain dengan memberi rating AAA," ujar Frank Partnoy dari Universitas San Diego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pemimpin negara Eropa, seperti Kanselir Jerman Angela Merkel dan Komisi Eropa yang bermarkas di Brussels berjanji akan melakukan investigasi. Investigasi yang bermula dari pertanyaan, mengapa mereka memberi rating tinggi terhadap instrumen ini dan lamban merevisinya ketika mengetahui adanya risiko?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik lembaga rating seperti ini mengingatkan kita pada hasil investigasi Gretcher Morgenson-jurnalis New York Times yang mendapat Pulitzer pada 2002-terhadap sebuah perusahaan rating, Egan-Jones Rating. Lembaga pemeringkatan itu ternyata terbukti menerima pungutan sebelum menjalankan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah modus seperti itu juga terjadi pada lembaga-lembaga pemeringkatan lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tunggu saja hasil investigasi Komisi Eropa. Kalau demikian, siapakah yang mestinya dipersalahkan dalam krisis ini?&lt;br /&gt; Mari kita dengar pendapat Morgenson soal itu. "Wall Street bertanggung jawab. Investor pada tingkatan tertentu juga ikut bertanggung jawab. Mereka terpukau pada keuntungan. Regulator cuma tidur saja. Begitu juga lembaga rating. Mereka yang mengatakan kepada masyarakat, ini per-usahaan solid, ini utang baik atau tidak."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-378529446454239970?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/378529446454239970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=378529446454239970' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/378529446454239970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/378529446454239970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/kambing-hitang-di-balik-krisis-subprime.html' title='Kambing Hitang di Balik Krisis Subprime Mortgage'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-3293104337634577229</id><published>2008-01-22T04:58:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T04:59:46.708-08:00</updated><title type='text'>Merger Bursa Bukan Soal Tren</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di penghujung tahun 2006, sebuah keputusan penting terjadi di industi pasar modal dalam negeri, yaitu merger antara BEJ dan BES. Kendati realisasinya baru tahun depan, keputusan ini merupakan puncak dari sebuah proses yang melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, bahwa bursa di Indonesia tak dapat menghindari tren penggabungan bursa yang terjadi di tingkat global. Tengoklah apa yang terjadi di negara tetangga. Filipina, misalnya, telah menggabungkan dua bursa, yaitu Manila Stock Exchange dan Makati Stock Exchange, pada 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian serupa juga terjadi di Malaysia dengan menggabungkan Kuala Lumpur Stock Exchange dan Kuala Lumpur Options and Financial Futures Exchange, pada 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggabungan bursa antarnegara terjadi di Eropa. Pada September 2000 tiga bursa besar di Eropa saling bergabung, yaitu Stock Exchange of Paris, Amsterdam, dan Brussels dengan membentuk Euronext.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir 2004, Deutsche Bourse AG menghentikan pembicaraan yang sudah berjalan empat tahun untuk melakukan merger dengan London Stock Exchange.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Euronext pada April 2006 sempat terlibat diskusi untuk melakukan merger dengan London Stock Exchange, meskipun rencana itu tidak berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, Deutsche Bourse pada awal November 2006 membatalkan penawarannya untuk membeli Euronext. Hingga saat ini Nasdaq Stock Market Inc diketahui mengincar Euronetx maupun London Stock Exchange (LSE). Pada 21 November, Nasdaq mengajukan penawaran untuk membeli LSE senilai US$5,3 miliar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan soal tren&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, bagi kita, merger BEJ-BES bukan hanya persoalan mengikuti tren. Ada kebutuhan mendasar untuk menciptakan sebuah bursa yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sangat diharapkan agar setelah keputusan merger pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) BES, 5 Desember yang lalu, bursa di tanah air benar-benar bisa menjadi kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menciptakan bursa yang kuat, seperti dilontarkan dalam rapat pemegang saham itu, terdapat beberapa poin yang harus diperhatikan dalam merger, yaitu ada nilai lebih buat karyawan, unit bagi hasil wajib dikembalikan secara maksimal, dan pemegang saham harus mendapat nilai maksimal dari merger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, emiten juga harus mendapatkan pelayanan lebih dari bursa hasil penggabungan dan semua produk yang sudah ada di BES tetap dilanjutkan dan tidak boleh dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, bursa gabungan harus mampu meningkatkan kinerjanya, menaikkan kapitalisasi pasar serta dapat bersaing dengan bursa lain di kawasan regional dan global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menumbuhkan daya saing itu maka rencana untuk menciptakan bursa sebagai institusi yang bermotif profit (demutualisasi bursa) harus segera direalisasikan setelah penggabungan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, demutualisasi tidak bisa dilakukan karena memang tidak diziinkan oleh UU tentang Pasar Modal. Namun hal itu masih bisa terjadi pasca merger, asalkan UU telah menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merger bukan merupakan kata akhir. Dia baru sebuah langkah awal menuju bursa yang kuat. Institusi bursa yang kuat diharapkan bisa mengoptimalkan semua potensi yang dalam negeri. Mulai dengan sosialisasi agar semakin banyak orang paham bahwa pasar modal itu adalah alat yang bisa dipakai untuk membiayai pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan mengada-ada kalau sampai saat ini sosialisasi bursa masih sangat rendah. Lihat saja apa sudah sudah dicapai. Jumlah pemodal lokal masih sangat kecil. Bayangkan saja kalau pemodal lokal yang bermain di bursa hanya berjumlah sekitar 600.000 dari 250-an juta penduduk Indonesia. Hanya segelintir orang ini saja yang mengambil keuntungan dari hingar bingarnya pasar modal dengan indeksnya yang terus meroket.&lt;br /&gt; Begitu juga jumlah perusahaan yang go public dan memanfaatkan dana dari pasar modal pun masih sangat sedikit. Jumlah perusahaan yang listing hanya 344, segelintir dari ribuan perusahaan di negeri ini. Tahun ini saja hanya 12 perusahaan yang melakukan IPO dengan total dana yang diraup hanya Rp3,040 triliun. Masih jauh panggang dari api!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-3293104337634577229?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/3293104337634577229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=3293104337634577229' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3293104337634577229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3293104337634577229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/merger-bursa-bukan-soal-tren.html' title='Merger Bursa Bukan Soal Tren'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-7896081996202339731</id><published>2008-01-22T04:55:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T04:57:12.587-08:00</updated><title type='text'>Soeharto dan Gempa</title><content type='html'>&lt;em&gt;Tulisan ini dibuat pada awal Juni 2006 terkait dengan bencana gempa di Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Merapi, mbah Maridjan, dan Soeharto hingga pekan lalu masih menjadi tema yang hangat. Ketika tema itu belum beranjak pergi, akhir pekan lalu datang peristiwa lain yang tidak kalah dahsyatnya. Prahara dari pantai selatan. Gempa bumi dengan kekuatan 5,9 skala Richter itu datang dan menghancurkan Jogyakarta dan sekitarnya. Ribuan orang meningal, serta tak terhitung kehancuran harta benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menariknya, tema-tema besar itu bersatu dalam satu titik yang sama. Bukan hanya dalam satu titik waktu, tetapi juga dalam satu pemahaman yang bisa menguak sebuah mitos tentang kekuasaan. Sebuah inspirasi dari kosmologi Jawa yang bisa menjelaskan pemahaman politik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aktivitas Merapi terus meningkat, perhatian orang diarahkan kepada mbah Maridjan. Sebagai 'juru kunci' Merapi, penjelasan Maridjan berkompetisi dengan penjelasan resmi dari lembaga pengetahuan dan pemerintahan yang bersumberkan dari perpespektif vulkanologi dengan sejumlah instrumen ilmiah seperti seismograf dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian berpaling pada penjelasan ilmiah, tapi tidak sedikit yang tetap bertahan pada mitos-mitos tradisional. Merapi dipercayai sebagai penunggu yang bernyawa sehingga harus ada orang-orang khusus seperti mbah Maridjan yang bertugas untuk memberi makanan secara ritual sehingga Merapi tidak melampiaskan kemarahannya dengan memuntahkan lava.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lava api dari perut Merapi itu dimuntahkan, banyak pihak-tentu yang percaya pada mitos-mitos itu-mengkaitkan dengan kondisi fisik Soeharto yang saat itu terus melemah. Konon Merapi yang menjadi pengayom spiritual Soeharto mulai berpaling diri. Merapi marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarahan Merapi seakan belum sempurna. Maka datang lagi gempa. Kali ini dari wilayah pantai selatan yang dijaga oleh Nyai Roro Kidul. Tentang Merapi dan Nyai Roro Kidul sudah lama berkepentingan dengan Keraton Mataram. Atau lebih tepat sebaliknya, Keraton Mataram yang justru berkepentingan dengan Merapi dan Roro Kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep mandala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, soal Merapi dan Laut Selatan bisa dirujuk jauh ke belakang sejak kerajaan Hindu dan Budha di wilayah Jawa Tengah. Itu berkaitan dengan konsep kosmologis yang disebut dengan 'mandala'. Kata mandala itu diambil dari bahasa Sanskrit yang berarti lingkaran (circle).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan ini, jagad besar (makrokosmos) itu harus berhubungan dengan mikrokosmos yang bertemu dalam dalam satu titik di lingkaran kosmis itu. Dalam perpsektif ini, sebuah mandala, pusat (center, centrum) itu menjadi sangat penting. Keharmonisan makrokosmos dan mikrokosmos sangat bergantung pada apa yang terjadi di titik pusat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahaman politik dengan perpektif mandala ini, sentralisme adalah jawabannya. Pusat harus kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka terjadilah konstruksi berikut. Merapi dan Pantai Selatan harus memperkuat kedudukan kekuasaan kerajaan dan keraton Mataram. Di Merapi ada seorang Eyang, simbol 'penguasa jagad atas' yang berbentuk seorang pria. Pada masa Islam penguasa jagad atas ini dikenal sebagai Kyai Sapu Jagad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di selatan ada Penguasa Laut Selatan dalam wujud seorang wanita. Keduanya menjaga wilayah yang terbentang dari puncak Merapi hingga ke pantai selatan Jawa Tengah yang terangkum dalam wilayah politis Mataram. Nama wanita itu Nyai Roro Kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dalam konteks keharmonisan dengan alam pemahaman ini memberikan landasan filosofis untuk menjaga kelestarian lingkungan. Karena kesuburan sebagai hasil perkawinan Eyang Merapi dan Roro Kidul adalah 'kehidupan' yang harus dihormati. Sebuah karifan lokal yang mestinya terus ditumbuhkembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita kembali pada konsep kekuasaan. Sosiolog Jerman, Solvay Gerke, yang memberi perhatian besar pada kultur politik Indonesia memberi cacatan menarik tentang penghayatan politik dengan latar belakang politik Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, para pemimpin bangsa Indonesia yang berasal dari Jawa itu membawa pengaruh ini dengan sangat kuat. Mulai dari Soekarno, tetapi yang paling kental adalah Soeharto. Soeharto benar-benar menjadikan Mataram model bagi Indonesia. Maka karakter kepemimpinannya sangat sentralistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, pusatnya bukan hanya Jakarta atau Jawa, tetapi Soeharto sendiri. Maka tak perlu diherani kalau fungsi-fungsi politik dalam pengertian modern untuk mendukung sebuah nation diabaikan. Soeharto harus tampil kuat. Semua harus mendukung dia. Tak boleh ada huru-hara di daerah periferi. Dia harus dalam relasi yang harmonis dengan alam (jagad gede). Bencana alam berarti sebuah pertanda bahwa 'kekuatan' pusat mulai memudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau jujur sebenarnya hingga saat ini Soeharto melalui kaki-tangannya masih berkuasa. Kekuatan uang dan jabatan kroni-kroninya masih mencengkeram arah politik nasional. Lalu, apakah marahnya Eyang Merapi dan Nyai Kidul sebuah pertanda bahwa kekuatan dan pengaruh Soeharto segera berakhir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus rasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang memastikan jawaban atas pertanyaan itu. Bahkan, mengkait-kaitkannya saja sepertinya sebuah pemaksaan yang terlalu dibuat-buat. Tetapi begitulah mitos. Dia menyimpan misteri yang terbuka pada aneka penafsiran. Apapun penafsirannya, banyak pihak mestinya sepakat bahwa untuk kepentingan sebuah negara-institusi yang dibangun secara rasional-mitos-mitos seperti itu harus diminimalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar di sisi lain kalau kearifan lokal harus dipelihara. Tetapi mitos-mitos yang terus direproduksi untuk melanggeng kekuasaan juga tidak boleh dibiarkan. Agen-agen mitos seperti mbah Maridjan dan Soeharto harus terus digugat. Sentralisme harus dibongkar. Pengelolaan bangsa dengan pemikiran magis-mitis harus dikikis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara ini harus dikelola secara rasional. Termasuk ketika kasus Soeharto dipertanyakan lagi. Rasionalitas moral dan politik harus ditegakkan. Atas nama bernegara secara rasional itu, pengadilan untuk mengetahui apa kesalahannya adalah sebuah keharusan. Bahwa setelah mengetahui kesalahan baru dimaafkan, itu urusan lain. Tapi, bukan pemaafan sebagai produksi belas-kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika soal gempa diangkat sebagai sebuah tema pembahasan yang terpisah. Sedapat mungkin kita jangan sampai lagi terjebak pada kerangka magis-mitis Nyai Roro Kidul dan Eyang Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kata lain di sini, selain meningkatkan teknologi untuk mengawasi pergeseran kerak bumi dan membangun rumah-rumah yang tahan goncangan gempa. Benar, manusia tak bisa mengatasi sepenuhnya kekuatan alam. Tapi justru di situlah tantangannya bahwa manusia harus belajar bagaimana menghadapi alam (nature). Karena di sanalah tingkat peradabannya (culture) ditakar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-7896081996202339731?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/7896081996202339731/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=7896081996202339731' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7896081996202339731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7896081996202339731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/soeharto-dan-gempa.html' title='Soeharto dan Gempa'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-3841529137195492025</id><published>2008-01-22T04:49:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T04:52:48.484-08:00</updated><title type='text'>Ada Belcher di Balik Freehold</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tulisan berikut terkait rencana keluarga Bakrie melepas kepemilikannya di Lapindo Brantas, perusahaan yang terlibat dalam pengelolaan sumber alam yang kemudian berubah menjadi sumbur lumpur panas.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu, PT Energi Mega Persada Tbk, perusahaan milik Grup Bakrie, untuk kedua kalinya meneken divestasi kepemilikannya di Lapindo Brantas Inc. Pembelinya adalah Freehold Limited.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca nama ini, serta merta timbul pertanyaan, siapa pemilik perusahaan yang berlokasi di British Virginia Island itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi publik, mengetahui pemilik baru itu sangat penting untuk memastikan apakah dia bisa menjadi 'dewa penyelamat' yang dapat menyelesaikan insiden lumpur panas Lapindo. Sedangkan bagi otoritas pasar modal, mengetahui identitas pemilik Freehold penting untuk menentukan jenis transaksi jual-beli tersebut. Apakah divestasi itu merupakan transaksi berbentur kepentingan atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen Energi Mega begitu yakin Freehold adalah pihak ketiga yang tidak terafiliasi Grup Bakrie. Tetapi tidak demikian dengan Bapepam dan Bursa Efek Jakarta. Hingga kemarin, kedua institusi itu masih menanti klarifikasi, benarkah Freehold tidak terkait dengan Bakrie?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berurusan dengan Freehold, Bapepam-LK sebenarnya pernah membatalkan divestasi Lapindo kepada Lyte Ltd. Berbeda dengan Freehold, Lyte memang terkait dengan keluarga Bakrie. Karena terafiliasi, sebelum menjual Energi Mega harus menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial bagi Energi Mega saat itu, ritual perseroan tersebut harus mendapat persetujuan Bapepam-LK. Karena Energi Mega tidak bisa menjawab pertanyaan siapa yang harus bertanggung jawab atas dampak semburan lumpur panas Lapindo Brantas, Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany dengan tegas menolak permohonan perusahaan itu menggelar RUPSLB. Divestasi pun batal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Energi Mega tidak tinggal diam. Manajemen perseroan berpegang pada keyakinan bahwa pemegang saham minoritas Energi Mega harus diselamatkan. Karena kalau valuasinya terendam lumpur panas, pemegang saham minoritas akan menanggung kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, bagi Energi Mega membela kepentingan pemegang saham minoritas tidak serta-merta berarti membebaskan Grup Bakrie dari tanggung jawabnya atas kasus Lapindo Brantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi Mega mendasarkan keyakinannya itu pada Kepres No. 13/2006 yang mengatur dukungan Minarak Labuan Co. Ltd, anak perusahaan kelompok usaha Bakrie, dalam menyelesaikan insiden lumpur panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan itu, Energi Mega bersikeras menjual Lapindo Brantas. Kali ini kepada pihak ketiga yang tidak terkait dengan Grup Bakrie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan memang jatuh pada Freehold. Karena dijual kepada pihak ketiga-yang berarti tidak terjadi benturan kepentingan-Energi Persada yakin kalau aksi korporasi itu tidak perlu mendapat izin Bapepam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik Freehold&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi lain Energi Mega, lain pula Bapepam-LK. Kemarin Fuad menegaskan lagi sikapnya untuk tidak mengizinkan penjualan Lapindo kepada Freehold. Persoalannya itu tadi, pemilik Freehold masih menjadi sebuah misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pekan lalu, Bisnis sebenarnya sudah mendengar nama James Belcher yang kini disebut-sebut sebagai pemilik Freehold. Dia berdomisili di Amerika Serikat. Tetapi usaha Bisnis untuk menghubunginya via telepon selalu gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam laporan manajemen Energi Mega kepada BEJ awal pekan ini pun, nama Belcher belum juga terungkap. Yang ada pada laporan itu justru Alsace Pte Ltd, pemegang saham Freehold Group Limited. Alsace merupakan perusahaan yang didirikan dan tunduk pada hukum Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Belcher secara ekplisit baru terungkap kemarin ketika Financial Times memuat hasil wawancaranya. Dalam wawancara yang dikutip Detik, Belcher mengakui kalau dia dan delapan rekannyalah yang mendirikan Freehold, special purpose vehicle di British Virgin Island itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati dibantah Aburizal Bakrie, Belcher mengakui kalau dia dan pemilik Grup Bakrie itu sudah berteman selama 25 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang transaksi tersebut, Belcher hanya mengatakan, "Sampai sekarang belum jelas siapa yang akan membayar. Saya mengenal keluarga Bakrie hampir 25 tahun dan melakukan kerja sama dalam beberapa tahun. Saya pikir akan sulit untuk mendapatkan jaminan yang lebih dari apa yang telah kami peroleh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali pengakuan Belcher akan pertemanannya dengan Ical-panggilan Aburizal Bakrie-tidak mudah mendapatkan informasi tentang siapakah orang ini. Hanya dari perburuan dunia maya terungkap bahwa nama yang sama juga disebut dalam skandal Clinton-Riyadi (James Riyadi, pemilik Grup Lipo, dalam skandal politik uang sebagai bentuk dukungan kepada Presiden Bill Clinton saat itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skandal itu, Belcher dikaitkan dengan nama John Huang yang berkontribusi senilai US$50.000. Nama Chris Dodd juga disebut-sebut dalam jaringan tersebut. "The Connecticut businessman, James Belcher, has told two separate sources that Dodd brought him together with Huang," tulis ROLL's Ed Henry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncul bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, nama yang sama tertulis bersama nama Bakrie dalam sebuah dokumen merger tertanggal 31 Oktober 1997 antara InCon Technologies Inc, perusahaan dari Delaware, InConHoldings, LLC, dan Bionutrics Inc dan BNRX Inc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Bakrie dan Belcher juga muncul bersama dalam Lewis &amp;amp; Peat Rubber L.P, perusahaan yang dituntut bangkrut pada 2000. Lewis &amp;amp; Peat adalah sebuah perusahaan trading yang melakuka aktivitas di Singapura, London, dan Conneticut. Dan yang terpenting Belcher juga pernah tercatat sebagai pimpinan anak perusahaan PT Bakrie Sumatra Plantion Tbk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sekilas tentang James Belcher. Apakah dengan rekam jejak seperti di atas sudah cukup bagi Bapepam-LK untuk memastikan Freehold sebagai perusahaan terafiliasi Bakrie? Sebuah pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Sesulit menjawab pertanyaan apakah transaksi itu material atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, menurut peraturan pasar modal No. IX.E.2, transaksi pembelian, penjualan atau penyertaan saham itu material kalau nilainya sama atau lebih besar dari 10% pendapatan perusahaan atau 20% dari ekuitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, fakta insiden lumpur panas Lapindo sangat material. Tetapi transaksi senilai US$1 juta tidak material dibandingkan dengan pendapatan Energi Mega yang per April 2005 mencapai Rp1,055 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapepam tetap bertekad melarang transaksi tersebut. Tetapi bukan tidak mungkin Energi Mega tetap teguh pada keyakinannya. Bagaimana solusinya, silakan Fuad Rahmany menguji kelihaian dengan Mr. Belcher.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-3841529137195492025?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/3841529137195492025/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=3841529137195492025' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3841529137195492025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/3841529137195492025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/ada-belcher-di-balik-freehold.html' title='Ada Belcher di Balik Freehold'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-2703717854646845131</id><published>2008-01-22T04:46:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T04:47:48.333-08:00</updated><title type='text'>Pensiun</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pensiun tidak sama dengan berhenti bekerja. Karena tak ada yang melarang pada saat pensiun nanti Anda harus bekerja. Tapi, tolong dipahami bahwa Anda dikatakan menikmati pensiun, kalau Anda tidak lagi bekerja untuk mendapatkan uang. Anda bebas dari persoalan finansial (financial freedom). Kalaupun bekerja, itu lebih karena hobi, atau sekadar aktualisasi diri. Untuk mencapai itu, tak ada cara lain bahwa pensiun itu harus dipersiapkan. Sudahkah Anda merancangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pembahasan pensiun dilanjutkan, mari kita secara seksama memperhatikan fakta yang diberikan oleh Rhiannon Williamson dalam artikelnya, How to Retire Healthy, Wealthy and Wise. Fakta tersebut diperoleh dari riset tentang bagaimana orang-orang menghadapi usia lanjut dan masa pensiunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, dari 100 orang berusia muda (25 tahun), masa depannya diketahui seperti berikut. Satu orang akan menjadi kaya pada saat pensiun, lima orang tetap bekerja, 12 jatuh miskin, 29 meningal dunia, dan 49 orang menggantungkan hidupnya pada teman, keluarga dan belas kasihan pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data tersebut diketahui rata-rata hanya sekitar lima persen orang yang bisa menikmati usia tuanya dengan tenang. Ketenangan itu tercapai karena mereka tidak diganggu oleh persoalan keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu fakta yang diriset di Inggris, pada bangsa yang sudah terbiasa memulai sesuatu dengan persiapan. Bagaimana dengan kenyataan di sekitar kita? Tentu belum banyak atau tidak ada sama sekali riset yang dilakukan. Tapi, secara kasat mata, kita bisa meraba-raba bahwa sangat sedikit orang yang berhasil di usia tuanya. Lebih banyak yang tetap bercucuran keringat dan membanting tulang hingga ajal menjemput mereka. Atau, banyak yang menjadi beban bagi keluarga dan sanak saudaranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekarang ditanyakan kepada Anda yang berusia 40-50 tahun, bagaimana Anda menghadapi pensiun nanti? Pasti masih banyak yang bingung. Padahal, pensiun dari tempat kerja sekarang adalah kepastian. Maka, tak ada cara lain bahwa pensiun itu harus dipersiapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, dalam disiplin perencanaan keuangan (financial planning), perencanaan pensiun (retirement planning) merupakan satu hal yang harus diberi perhatian, di samping manajemen risiko (risk planning), perencanaan pendidikan anak (child education planning), persiapan pembagian warisan (estate planning), perencanaan investasi (investment planning) dan persiapan dana darurat (emergency fund).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siklus finansial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mike Rini, semua perencanaan tersebut di atas, termasuk perencanaan pensiun, tak terlepas dari siklus finansial seseorang yang selalu beriringan dengan siklus hidupnya. Misalnya, untuk usia TK sampai dengan Perguruan Tinggi (usia 20-an), seseroang masih sangat bergantung pada orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai sekolah, Anda mungkin sudah langsung mendapatkan pekerjaan. Pada saat ini, penghasilan Anda mungkin tidak terlalu besar, tapi mestinya Anda mulai membangun kebiasaan berbelanja dengan mengeluarkan uang sesuai anggaran yang sudah direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat ini pula, Anda mestinya sudah mulai membiasakan diri dengan tabungan untuk dana darurat sebagai cadangan atau siaga bila terjadi sesuatu yang tidak terduga-duga. Juga sangat dianjurkan agar Anda mulai menyisikan sebagian gaji untuk mempersiapan masa-masa tua (pensiun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 30-an, saat Anda mulai dengan kehidupan keluarga, mulai banyak hal yang harus dikerjakan. Misalnya, pada saat ini Anda perlu memiliki asuransi jiwa, karena jangan sampai keluarga Anda menderita secara finansial apabila Anda meninggal lebih awal. Selain asuransi jiwa, asuransi kesehatan dan asuransi kerugian juga perlu mendapat prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain asuransi, sudah saatnya pula Anda mempersiapkan dana pendidikan anak, mulai pembelian rumah dengan cara KPR. Kalau Anda memiliki harta, saatnya sekarang untuk membuat surat wasiat. Ini untuk berjaga-jaga agar kalau Anda meninggal, tidak terjadi perebutan harta di antara keluarga yang ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 40-an, saatnya Anda untuk mengevaluasi lagi semua persiapan dan jumlah tabungan. Pastikan bahwa tabungan dan investasi Anda terus meningkat. Anda juga harus yakin bahwa asuransi jiwa dan kerugian yang diambil seusai dengan kebutuhan. Pada saat ini pula, kesempatan bagi Anda untuk mengevaluasi utang-utang, terutama KPR dan cicilan kredit lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 50-an, sebaiknya Anda mengetahui berapa saldo dana yang sudah dipersiapkan untuk pensiun Anda. Apakah jumlah itu sesuai dengan target dana yang dikumpulkan sebelum memasuki usia pensiun? Pada usia ini Anda harus mereview lagi berbagai jenis investasi. Untuk investasi yang berisiko tinggi bisa mulai dialokasikan ke investasi yang lebih rendah. Sekali lagi pastikan pula bahwa Anda bisa menikmati asuransi kesehatan hari tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semua persiapan di atas, maka ketika Anda merencanakan untuk pensiun di usia 60-an, Anda tinggal mengambil uang pensiun sesuai dengan kebutuhan tiap bulan. Begitu juga investasi Anda bisa dilanjutkan, tapi dilakukan pada instrumen-instrumen yang aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa dipersiapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberan sekilas siklus hidup dan finansial di atas kian meyakinkan kita bahwa untuk urusan pensiun tak bisa tidak harus dipersiapkan. Bahkan, lebih awal lebih baik. Ada beberapa alasan, mengapa Anda harus mempersiapkan program pensiun secara detail dan disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu perencanaan keuangan mengenal sedikitnya empat alasan. Pertama, tingginya biaya hidup saat ini. Kedua, meningkatnya biaya hidup dari tahun ke tahun. Ketiga, ketidakpastian kondisi perekonomian di masa mendatang. Dan, keempat, ketidakpastian kondisi fisik Anda di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja, bagi Anda yang bekerja di perusahaan, program pensiun itu sudah dipersiapkan melalui program Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga Kerja) dan DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). Tapi, pertanyaannya, apakah dana yang dipersiapkan itu cukup untuk menutupi biaya hidup Anda sebagai pensiunan atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui lebih detail, persiapan itu harus langsung menyentuh beberapa persoalan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama yang harus ditentukan pada usia berapa Anda ingin berhenti bekerja dan menjadi pensiunan. Menentukan usia pensiun ini penting untuk mengetahui seberapa lama Anda harus mempersiapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja bukan hanya persoalan jangka waktu. Tapi, juga berapa besar Anda harus investasikan setiap bulan untuk mencapai dana yang diinginkan. Untuk itu perlu dipastikan berapa kekuatan dana yang Anda miliki sekarang dan berapa biaya per bulan yang Anda butuhkan nanti pada saat Anda memasuki usia pensiun. Baru setelah itu, Anda tinggal menentukan instrumen investasi apa yang Anda harus lakukan untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, saat ini pada usia 35 tahun, untuk membiayai kebutuhan hidup Anda, dibutuhkan uang Rp 2 juta. Karena inflasi dan peningkatan biaya hidup, katakanlah pada usia 55 tahun, ketika Anda memutuskan untuk pensiun, biaya hidup per bulan Anda menjadi Rp 6 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui angka itu, tinggal Anda mulai menabung dan melakukan investasi. Carilah investasi yang dalam tempo 20 tahun bisa mendapatkan dana sebesar Rp 6 juta per bulan untuk membiayai hidup Anda dari usia 55 tahun hingga 80 atau 90 tahun. Tidak mudah, tapi harus segera dilakukan. Mulai sekarang juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain soal, kecuali Anda sudah menetapkan bahwa di usia tua nanti Anda akan dibiayai oleh anak atau mertua anda. Atau, lebih mantap kalau Anda sudah tahu pasti bahwa usia Anda tidak akan mencapai 55 tahun.&lt;br /&gt; Atau lebih heroik lagi kalau Anda mau terus bekerja hingga usia tua. Itupun harap Anda tetap berhitung bahwa pada usia setua itu, tenaga Anda sudah loyo dan fisik Anda rentan diserang penyakit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-2703717854646845131?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/2703717854646845131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=2703717854646845131' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2703717854646845131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/2703717854646845131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/pensiun.html' title='Pensiun'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-6185999200080210198</id><published>2008-01-22T04:43:00.001-08:00</published><updated>2008-01-22T04:43:51.699-08:00</updated><title type='text'>Saham</title><content type='html'>abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan jurnalis di bidang pasar modal pernah punya ide menarik. Pada saat melamar calon istrinya, dia memberikan sejumlah lembar saham sebagai mas kawin. Ini bukan hanya sekadar proklamasi kebanggaan pada keluarga sang istri atas bidang liputannya, pasar modal, tetapi juga sebagai salah satu cara ikut ambil bagian dalam mensosialisasikan industri tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang terjadi satu dekade yang lalu ketika kebutuhan untuk memasyarakatkan pasar modal sangat besar. Maklum, basis pemodal lokal saat itu ternyata masih sangat rendah. Dari dua ratusan juta penduduk Indonesia, baru sekitar seratus ribu yang ikut bermain dan mengambil untung dari perdagangan saham. Selebihnya, bursa kita tak lebih dari tempat bagi pemodal-pemodal asing menggandakan uangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, sampai saat inipun kondisi bursa kita tak banyak berubah. Hanya segelintir orang yang mendapat manfaat langsung dari pasar modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara masyarakat pada umumnya hanya mendapat manfaat tidak langsung melalui perusahaan yang mencatatkan sahamnya. Dengan go public dan menjual sahamnya, perusahaan-perusahaan tersebut mendapatkan dana yang besar yang kemudian digunakan untuk operasional dan ekspansi perusahaan. Dengan demikian banyak dari mereka yang terserap sebagai tenaga kerja di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pekerja, saham itu tak banyak manfaatnya. Para buruh atau pekerja itu hanya peduli dengan kinerja perusahaan. Siapa pemiliknya, tak ada urusan, yang penting pemilik memiliki visi dan bisa memilih orang-orang yang bisa mengelola perusahaan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya perusahaan yang baik, demikian pemikiran kebanyakan pekerja, akan memberikan penghargaaan yang layak kepada karyawannya. Sebagai imbalan, para pekerja hanya mendapatkan gaji bulanan. Sementara dividen yang diambil dari sebagian besar laba perusahaan itu dibagikan kepada pemilik saham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin boleh juga kalau sekali-sekali para pekerja itu dianjurkan untuk ikut bermain-main di bursa dengan membeli beberapa lembar saham. Tapi, asal tahu saja, para emiten besar-yang bukan hanya yang empunya saham, tetapi juga memiliki informasi dan biasanya punya perusahaan broker-tidak mau ketinggalan melahap keuntungan (capital gain) di lantai bursa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apa itu saham? Dalam terminologi bisnis dan finansial, saham adalah unit kepemilikan ekuitas dalam suatu perusahaan. Kepemilikan ini diwakili oleh suatu sertifikat saham yang menyebutkan nama perusahaan dan nama pemilik saham. Banyaknya saham yang dikuasakan kepada perseroan untuk diterbit dirinci dalam Anggaran Dasar perseroan. Demikianlah yang terjadi sejak ratusan tahun yang silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan cacatan sejarah, surat berharga (efek) yang tertua adalah saham bertanggal 16 Juni 1288 atas nama perusahaan tembaga Swedia, Storakopparberg. Hanya saja tidak diketahui apa saham itu pernah diperdagangkan. Kemudian pada tahun 1400 beredar saham-saham Bank Venesia dan di Genoa beredar saham Bank St. George. Sekali lagi, tidak diketahui apakah pernah terjadi transaksi atas saham-saham tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada 1606-lima tahun sebelum bursa Amsterdam berdiri-Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) juga menerbitkan saham. Efek tertua ini masih tersimpan di Bursa Amsterdam. Dari sejumlah catatan, sempat diketahui bahwa seorang investor bernama Dirk Petersz Straetmaker sempat mendapat keuntungan sebesar 100 persen selama 14 tahun (1606-1620), atau 7,14 persen per tahun dari partisipasinya dalam permainan di bursa Amsterdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu, penerbitan saham oleh VOC dilakukan sebagai strategi untuk mengumpulkan dana dalam jumlah besar yang dipakai untuk membiayai pembuatan kapal dan operasi perdagangan di tanah jajahan, termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, lebih dari itu VOC tidak hanya pioner dalam urusan penerbitan saham, tapi juga dalam hal perdagangan saham dan surat-surat berharga lainnya. Tidak mengherankan, kalau menurut cacatan para ahli sejarah, bursa tertua di dunia adalah Amsterdamse Effektenbeurs (Bursa Amsterdam) yang didirikan di Dam Square tahun 1611.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diperdagangkan adalah saham dan obligasi yang berkaitan dengan kolonialisme di Indonesia. Artinya dengan uang yang diperoleh dari Bursa Amsterdam itu, Belanda bisa membiayai okupasi dan perdagangan di Indonesia. Bursa itulah yang memungkinkan Belanda menjajah Indonesia selama beraba-abad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati belum memiliki bursa, perdagangan saham dan obligasi di Indonesia sudah berlangsung sejak 1880. Pada tahun 1892, Cultuurmaatschappij Goalpara, perusahaan perkebunan yang bermarkas di Batavia mengeluarkan prospektus penjualan 400 saham dengan harga 500 gulden. Empat tahun kemudian, harian Hat Centrum yang berkantor di Jogjakarta melakukan emisi senilai 105 ribu gulden dengan harga per saham 100 gulden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika makin banyak perusahaan VOC di Indonesia go public, maka diperlukan bursa cabang Amsterdam. Maka pada 14 Desember 1912 berdirilah bursa cabang Amsterdam di Batavia. Untuk tingkat Asia, Bursa Batavia merupakan yang tertua nomor empat setelah Bombay (1830), Hong Kong (1871) dan Tokyo (1878).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memperdagangkan saham dan obligasi perusahaan Belanda yang beroperasi di Indonesia, ada juga surat-surat berharga dari perusahaan Belanda-pemerintah maupun swasta-yang bermarkas di negeri asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga menarik bahwa saham blue chips dari Amerika Serikat seperti Betlehem Steel, American Motors dan Anaconda juga diperdagangkan di Bursa Batavia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya siapakah yang mengambil untung dari transaksi di Bursa Batavia saat itu? Selain VOC yang empunya banyak perusahaan, tentu saja para pemodal seperti Tuan Dirk Pietersz. Masyarakat pribumi, termasuk orang Betawi yang punya kampung di Batavia, pasti tak pernah mendapatkan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang terjadi di Bursa Batavia seabad yang lalu. Bagaimana dengan Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang sebentar lagi akan mencaplok Bursa Efek Surabaya (BES)? Siapakah yang mengambil untung dari melonjaknya harga saham yang luar biasa di pasar modal sekarang? Bisa ditebak bukan? Ah, andaikan saja orang-orang kampung di Simalungun atau Ende sudah mengenal pasar modal. Ceritanya bisa lain. Atau jangan-jangan saham dan bursa-sekurang-kurangnya di negeri tercinta ini-memang dihadirkan hanya untuk VOC, Tuan Pietersz dan orang-orang yang mengabdi mereka? Mudah-mudahan tidak!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-6185999200080210198?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/6185999200080210198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=6185999200080210198' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6185999200080210198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/6185999200080210198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/saham.html' title='Saham'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-7384811509398422200</id><published>2008-01-22T04:38:00.001-08:00</published><updated>2008-01-22T04:39:07.831-08:00</updated><title type='text'>Bermain, antara Bugar dan Uang</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika permainan bola kaki menjadi industri, maka seorang pesepak bola bukan lagi pemain, tetapi pekerja. Mereka dibayar untuk bermain-main dengan si kulit bundar. Begitulah yang terjadi dalam dunia olahraga pada umumnya. Olahraga tak bisa tidak harus dihubungkan dengan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johan Huizinga, profesor sejarah kebudayaan dari Leiden, bisa jadi benar ketika mengatakan bahwa kebudayaan manusia berakar pada permainan. Dalam bukunya Homo Ludens (1938), dia menduga bahwa permainan adalah elemen sentral dari semua aktivitas manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku monumentalnya itu merupakan hasil penelitiannya tentang manusia sebagai makhluk yang bermain (homo ludens). Hasilnya menakjubkan. Dalam semua kegiatan manusia berperan naluri manusia sebagai homo ludens itu, demikian Huizinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai misal, perhatikan hal-hal yang ada dalam permainan bola. Ada kerja sama, ada persaingan, ada peraturan, ada wasit, ada sanksi, ada tujuan (goal), ada pemimpin, ada pelatih dan penasihat dan seterusnya. Begitupun suasana yang terjadi di sana. Ada kememangan, kekalahan, ada keberuntungan dan nasib sial. Apa yang ada dalam dunia sepak bola itu dijumpai dalam bentuk kehidupan manusia yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana hubungan permainan dengan olahraga? Batasnya sangat tipis dan terkadang susah dibedakan. Di satu sisi, dalam semua permainan ada unsur olahraganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di pihak lain, hampir semua cabang olahraga berasal dari permainan. Hanya saja dalam olahraga, kegiatan fisik menjadi unsur yang dominan. Walaupun pada olahraga seperti kartu dan catur, misalnya, unsur gerakan fisiknya sangat minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun penjelasan, pada dasarnya olahraga itu sangat dekat hubungannya dengan permainan. Tapi, itu kalau olahraga mau dilihat hanya sebagai peristiwa kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, olahraga, tidak sekadar itu. Ketika olahraga menjadi sebuah industri, misalnya, hubungan menjadi lebih kompleks. Olahraga bisa lebih dari sekadar permainan lagi. Orang bekerja dan meniti karier di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia emas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, bukan hal yang aneh lagi kalau saat ini banyak orang mendulang uang melalui olahraga. Para pemain bola tingkat dunia seperti Ronaldinho, Ronaldo, David Beckham atau para petenis lapangan seperti Boris Becker menjadi milioner melalui profesinya sebagai olahragawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja bagi Anda yang saat ini meniti karir di bidang olahraga atau mempersiapkan putra atau petrinya menjadi olahragawan profesional, harap mengingat ciri utama profesi ini. Para perencana keuangan selalu menandai profesi ini dengan apa yang disebut sebagai 'usia emas' (golden age).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya karena olahragawan sangat bergantung pada kekuatan fisik, maka profesi ini sangat bergantung pada usia. Seorang pemain bola bisa mengahasilkan uang ketika dia berada pada usia 20 hingga 30 tahun. Jarang yang bisa melewati usia ini seperti Cafu atau Maldini. Dalam atletik, tinju atau olahraga yang lain, usia emasnya bisa jadi lebih pendek lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut perencana keuangan Mike Rini, usia emas ini menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam financial planning seorang olahrgawan. Artinya, dalam waktu yang sangat singkat, seorang olahragawan harus mendapatkan uang untuk bisa membiayai hidupnya yang masih panjang. Kalau tidak, dia harus memikirkan penghasilan alternatif setelah dia berhenti dari karirnya sebagai olahragawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang dan kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda yang bukan olahragawan? Menurut Mike Rini, olahraga tetap bisa dilihat sebagai investasi. Hanya kalau pada mereka yang berkarier di olahraga returnnya adalah uang, tetapi pada yang lain, return dari investasinya adalah kesehatan dan kebugaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ujung dari kesehatan dan kebugaran itu adalah persoalan uang juga. Karena dengan sehat orang bisa bekerja dengan baik dan bisa mendapatkan uang lebih banyak. Dalam konteks yang lebih luas, olahraga itu tetap sebuah investasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau investasi, pertanyaannya adalah berapa dana yang dikeluarkan sebagai modal? Dengan lain pertanyaan, berapa pengeluaran yang diperlukan oleh seseorang atau sebuah keluarga untuk kebutuhan olahraga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena olahraga bukan kebutuhan utama, maka diusahakan agar biayanya ditekan seminimal mungkin. Menurut Mike Rini, pengeluaran yang ideal untuk olahraga berkisar antara 10 % hingga 30 %. Besarnya pengeluaran bervariasi tergantung pada tujuan dari olahraga. "Kalau seroang atlet tentu saja pengeluaran untuk olahraga lebih besar dari yang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain untuk mendatangkan uang dan kesehatan, saat ini olahraga sudah berkembang untuk hal-hal yang lain seperti sosialisasi dan gaya hidup. Seseorang yang mendaftarkan diri menjadi anggota di sebuah fitness centre, misalnya, tidak hanya untuk mencari kebugaran, tetapi juga untuk mengisi pergaulan dengan rekan-rekan kerja atau bisnisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya Anda menjadi anggota Celebrity Fitness yang dalam sebulan dikenai bayaran Rp490.000. Untuk sampai ke tempat ini Anda mengeluarkan biaya yang lain seperti biaya transportasi. Kalau mau makan di tempat itu, Anda harus menyiapkan dana yang lebih besar. Menjadi anggota Celebrity Fitness yang saat ini sudah mencapai ribuan orang tidak hanya sekadar mencari kebugaran. Itu lebih pada gaya hidup.&lt;br /&gt; "Ada juga orang yang berolahraga untuk sekadar gaya hidup. Karena menjadi anggota klub olahraga atau pusat kebugaran adalah prestise, maka seseorang berkeinginan untuk masuk dalam kelompok tersebut. Asal punya uang tentu tak masalah. Tapi jangan dipaksakan agar tidak diperbudak oleh gaya hidup," demikian nasihat Mike Rini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-7384811509398422200?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/7384811509398422200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=7384811509398422200' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7384811509398422200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/7384811509398422200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/bermain-antara-bugar-dan-uang.html' title='Bermain, antara Bugar dan Uang'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-1129335162358734400</id><published>2008-01-22T04:33:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T04:34:37.872-08:00</updated><title type='text'>Paskah</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paskah itu tradisi ritual yang sudah berlangsung ribuan tahun lalu. Menurut cacatan sejarah yang tentu berbaur dengan pengalaman iman orang Israel, peristiwa itu bermula dari penjajahan komunitas Yahudi di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi penindasan di Mesir, mereka menantikan pembebasan. Berdasarkan catatan pengalaman itu, pembebasan itu dikerjakan oleh Yahweh, Yang Transenden, yang hadir dan terlihat dalam tokoh yang bernama Musa. Musalah yang kemudian membawa mereka keluar dari negeri penindasan menuju Israel-Tanah Terjanji-lokasi yang saat ini menjadi daerah perseteruan dengan orang-orang Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tanda bahwa Tuhan lewat untuk membebaskan mereka, orang-orang Yahudi di Mesir, harus mengorbankan anak domba dan menorehkan darahnya pada palang pintu rumah mereka masing-masing. Demikianlah Paskah berarti 'Tuhan lewat untuk membebaskan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang Yahudi, sejak peristiwa di Mesir, ritual Paskah itu diulang setiap tahun sambil mengharapkan seorang pembebas sejati, Mesias. Ritual Paskah dan harapan akan datangnya Mesias itu terus berlangsung hingga kedatangan Yesus. Bahkan, hingga sekarang bagi orang Yahudi yang tidak mengakui Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi murid-murid Yesus, Yesus itu adalah Mesias, Almasih. Sejak kematian Yesus, para pengikutNya merayakan Paskah dengan tanda lain. Kali ini yang menjadi darah, bukan lagi darah domba, tapi darah Yesus sendiri. Darah yang tertumpah dalam peristiwa penyaliban. Dia bukan hanya menggantikan darah anak domba dengan darahNya, tetapi juga menggantikan peran Musa. Maka bagi pengikutNya, Dialah pembebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati, makna pembebasan Yesus lebih dimaknai secara spiritual, konteks sosial politisnya sama dengan yang terjadi pada jaman Musa. Kalau di Mesir, orang-orang Yahudi itu diperbudak oleh Firaun, maka pada jaman Yesus, bangsa Yahudi berada di bawah kungkungan kolonial Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semangat untuk membebaskan ini, Dia selalu memihak orang-orang kecil seperti petani, nelayan, para tukang dan peternak. Karena merekalah orang-orang yang paling menderita akibat kehadiran Roma. Bahkan, bukan hanya dari orang-orang Roma, tetapi juga dari petinggi-petinggi agama Yahudi sendiri yang sering berselingkuh dengan kekuatan politik dan bisnis saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, cara beragama Yahudi yang terlalu institusional dan formalistis dipersoalkan habis oleh Yesus. Dia memborbadir dan membongkar kesalehan pribadi dan menggantikannya dengan semangat berbuat baik dan berkorban bagi orang lain. Man for others.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya Yesus yang dari semula-menurut salah satu penafsiran adalah serdadu yang mempersiapkan pasukan untuk mengusir Roma-kemudian berubah arah. Mungkin saja karena secara politis dan militer, Dia terlalu lemah, tapi mungkin juga karena Dia menangkap persoalan yang lebih substansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tampil dengan sebuah paradigma baru. Yang menindas manusia sebenarnya adalah dosa. Maka manusia harus dibebaskan dari dosa. Dan, akar dosa adalah ingat diri (egoisme). Karena itu tak henti-hentinya dia meneriakkan cinta dan belas kasih kepada orang lain. Manusia harus keluar dari kungkungan cinta dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran itu menjadi spirit dan cara berpikir baru dalam melihat segala macam persoalan. Menurut Dia, semangat baru itulah yang seharusnya menggerakkan sebuah peradaban baru manusia. Itu adalah kunci kebahagiaan manusia. Bukan praktek-praktek agama dan segala macam aturannya yang justru menjadi penindasan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah keyakinan pengikut Yesus saat itu. Mereka yang sebagian besar para nelayan dan peternak sederhana itu berhasil membuktikan, bahwa dengan spirit dan paradigma baru itu, mereka berhasil mengubah peradaban Roma yang keras dan buas. Dari Roma inilah, semangat dan peradaban baru dimulai. Tapi, justru dari kota inilah, ketika nilai-nilai baru itu dikawal oleh kekuasaan dan institusi yang formalistis, cita-cita awal Yesus sering ditelantarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan Paskah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setiap kali peradaban mandek, setiap kali kekuasaan dan semangat mementingkan diri dan kelompok menindas kehidupan, terutama bagi mereka yang kecil, peristiwa Paskah menjadi kenangan yang menguatkan. Paskah selalu memberi harapan untuk keluar dari kekinian yang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak berlebihan, ketika Jurgen Moltman menyaksikan peradaban ala Nazi dan mengalami sendiri keputusasaan-pernah dipenjarakan pada saat Nazi di Jerman-dia kembali mendapat kekuatan dan harapan dari peristiwa Paskah. Pengalaman dan permenungan itu kemudian ditulis sebagai pemikiran teologis yang dikenal dengan Teologi Harapan. (Theology of Hope, 1964).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya harapan Paskah menegaskan harapan eksistensial yang ada pada diri setiap manusia akan 'masa depan' yang lebih baik. Itulah sebabnya Moltman mengakui bahwa dalam menulis bukunya, dia juga diilhami oleh pemahaman yang mendalam tentang harapan seperti yang dipikirkan filsuf marxis, Ernst Bloch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya The Principle of Hope (Das Prinzip Hoffnung), Bloch mengatakan kebudayaan manusia mesti digerakkan oleh harapan yang menggebu-gebu akan masa depan yang melampui semua kerenggangan hubungan masa sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan itu bukan fantasi, tetapi sebuah utopi, dialektika antara pengalaman yang menyesakkan saat ini dengan ekspektasi akan sebuah kehidupan yang lebih baik. Harapan itu memungkinkan manusia melampui (transcending) dan tidak meratapi keadaannya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati dipengaruhi Bloch, Moltman mengatakan pemahamannya akan harapan tentu berbeda. "In Das Prinzip Hoffnung, Bloch speaks trancending, but without transcendence; in Theology of Hope I speak of trancending with trancendence."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain kesempatan Bloch juga menyindir agama dengan berujar bahwa hanya seorang atheis yang tidak menyembah dewa-dewa religius dan ekonomi yang sesat bisa menjadi orang kristen yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas pernyataan itu, Moltman pun berkelit dengan mengatakan bahwa hanya seorang kristen yang percaya pada Kristus yang tersalib bebas dari tekanan untuk menciptakan dewa-dewa bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pernyataan yang harus dibuktikan dalam kehidupan nyata. Karena, tak kurang mereka yang mengakui beragama, banyak kali suka menyembah berhala, mendewakan dan menggantungkan harapan pada banyak hal di dunia. Ya termasuk kepada dewa ekonomi yang dikhawatirkan Bloch.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3491867515656965484-1129335162358734400?l=abraham-runga.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://abraham-runga.blogspot.com/feeds/1129335162358734400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3491867515656965484&amp;postID=1129335162358734400' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/1129335162358734400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3491867515656965484/posts/default/1129335162358734400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://abraham-runga.blogspot.com/2008/01/paskah.html' title='Paskah'/><author><name>abraham</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14614807069450070751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3491867515656965484.post-4362692378815718957</id><published>2008-01-22T04:29:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T04:30:32.072-08:00</updated><title type='text'>Perempuan, Uang dan Dosa</title><content type='html'>Abraham Runga Mali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang tidak memiliki jenis kelamin sebagaimana dia juga tidak mengenal bendera nasional. Mestinya, dalam soal pengelolaan uang prinsip-prinsip yang dianut juga sama, tak peduli perempuan atau laki-laki. Tapi, ada beberapa catatan kecil yang mesti dicamkan para perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda pernah mendengar pesan yang sering diberikan orang tua kepada anak gadis mereka. Misalnya, para gadis itu disuruh untuk menikahi laki-laki kaya karena akan lebih meringankan hidup daripada menikahi laki-laki miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis Nice Girls Don' Get Rich: 75 Kesalahan Perempuan dalam Mengelola Uang, Louis P. Frankel, nasihat seperti sebenarnya adalah salah satu mitos tentang perempuan dalam hubungan mereka dengan uang dan cara pengelolaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan Frankel, kurang lebih separuh pernikahan yang didasarkan pada perhitungan seperti itu berakhir dengan perceraian. Jadi, jelas-jelas, pernikahan dengan kalkulasi demikian tidak pernah menolong perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frankel malah mencatat masih ada sejumlah mitos dan pesan lain yang tidak boleh didengarkan kaum perempuan. Termasuk mitos menyesatkan yang mengatakan bahwa perempuan itu tidak pandai dalam hal angka dan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan pernyataan bahwa uang itu tidak dapat membeli kebahagiaan. Pernyataan itu biasanya berlanjut dengan pesan supaya Anda sebagai perempuan jangan menjadi seorang yang mata duitan, atau jangan jadi 'cewek matre' (baca" materialis). Untuk kebohongan yang satu ini mari kita dengar nasihat Sophie Tucker: "Saya pernah kaya pernah miskin; percayalah, Sayang, kaya itu lebih baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahan hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tanpa harus berpikir panjang kita bisa menderetkan berbagai pesan yang keliru terhadap kaum perempuan. Tapi, setelah mitos-mitos itu dibersihkan, sebagai perempuan, Anda harus berhadapan dengan pekerjaan yang nyata soal pengelolaan uang. Apalagi, dalam kehidupan rumah tangga perempuan lebih banyak diserahkan tugas untuk mengelola keuangan rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Frankel mecatat 75 kesalahan perempuan dalam mengelola uang. Tapi, sebenarnya dari sebagian besar kesalahan itu adalah kesalahan-kesalahan umum yang juga terjadi pada pria. Misalnya pada kesalahan kedua, Frankel mencatat bahwa perempuan tidak menetapkan target finansial. Atau pada kesalahan ketiga, bahwa banyak perempuan tidak mengetahui kekayaan bersihnya. Kesalahan-kesalahan seperti ini juga sering dilakukan oleh pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menurut catatan Frankel kebanyakan perempuan yang sudah mulai bertahan hidup dengan penghasilan mereka sendiri, tetapi tidak benar-benar memberi perhatian pada- cara-cara praktis untuk menjadi sukses. Memang perempuan karena 'perhatian yang besar kepada orang lain' tidak memprioritaskan kemakmuran finansialnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon perlakuan perempuan terhadap kehidupan finansial mirip dengan perlakuan mereka terhadap mobil pribadi. Mereka sering menggunakan mobil, tetapi terkadang mereka kurang perhatikan keadaan oli mobilnya. Perhatian dan konsentrasi mereka sudah tersita untuk urusan yang lain seperti mengambil cucian di 
